Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Menemui Anggi


Setelah puas menemui kekasihnya serta


memberi pelajaran pada wanita yang


sudah berani menggoda Andreas , Anggi


memutuskan untuk pergi ke Toko bunga .


Untuk memenuhi janjinya pada sang nenek,


dia tak mau berlama - lama berada di kantor


Andreas . Karena hari ini di Toko lagi banyak


pesanan rangkaian bunga .


Tepat di depan Kantor , Anggi menghentikan


sebuah taxi , dengan sekali lambaian


Anggi pun berteriak ," taxiiiii..." sebuah


mobil sedan berhenti tepat di depannya .


Satu tangan meraih pintu , dengan sekali


tarikan pintu pun terbuka , Anggi masuk


dan mendudukkan bokong nya dengan


keras , seakan mewakili rasa geram


yang merasuki hatinya sejak di dalam tadi .


" Cepat jalan pak , ke jln Purnama no 7 ,


nanti berhenti di depan Toko bunga ya pak ." Anggi menjelaskan alamat yang menjadi


tujuan nya .


" Baik None ." menginjak pedal gas ,mobil


pun pergi meninggalkan lokasi Kantor


Andreas .


Dengan menaiki sebuah taxi Anggi pergi meninggalkan Kantor tempat seorang


Andreas mengelola perusahaannya .


Masih tersimpan sebuah rasa amarah


di dada Anggi duduk di dalam taxi ,


" Apa sih yang dipandang Andreas dari


wanita itu , tubuhnya saja penuh dengan


renovasi , apalagi wajahnya sudah berapa


kali kena tusukan jarum suntik , sedikit pun


tidak ada manisnya , dari pada dia lebih


manisan aku ."


Mematikan satu panggilan yang tertulis


nama " Andreas gemes " disana .


" Jangan berharap mendapat maaf ku


secepat ini ." memasukkan ponselnya


kedalam tas .


Sepanjang perjalanan Anggi masih


bergelut dengan kata hati dan pikirannya ,


sampai sampai dia tak menyadari jika


taxi yang di tumpangi nya sudah berhenti


dan sampai pada alamat yang di sebutkan


nya tadi pada sang Supir .


" Sudah sampai None ."


" Iya pak ."


Suara sang supir yang menggema berhasil


membuyarkan lamunannya , di tengoknya


kearah jendela , terlihat disana Julia


sedang merapikan rangkaian bunga yang


sudah di hias.


Julia adalah seorang pegawai yang bekerja


di toko bunga untuk membantu nenek


disaat Anggi pergi ke Surabaya tempo hari.


" Cepat sekali ," melihat satuan angka


yang tertera di kemudi menunjukkan


berapa nominal biaya antar naik taxi .


Merogoh dalam tas , di ambilnya satu


dompet berwarna coklat polos , Anggi


memilah isi di dalamnya untuk mengambil


satu lembar uang berwarna merah muda


untuk diserahkan pada pak supir taxi .


" Ini pak , kembaliannya buat bapak saja ."


" Terimakasih none ." memasukkan


uang pemberian Anggi kedalam saku .


Dengan cepat Anggi turun dari Taxi ,


melangkahkan kakinya menuju area Toko , terlihat banyak sekali bunga segar


terjajar rapi di depannya , yang meminta


untuk segera di eksekusi , agar menjadi


sebuah rangkaian bunga yang indah .


Seorang wanita sekitaran berumur dua


puluhan sibuk menata bunga di depan


Toko , hendak mengambil satu keranjang bunga lili dan mawar untuk di bawa masuk .


" Hai Juli , apa aku terlambat ? , Nenek


dimana ?."


Yang di panggil pun menoleh ," embak


Anggi ?, silahkan masuk embak, Nenek


ada didalam bersama tamunya dan embak


Anggi juga dari tadi di cariin oleh salah


satu tamu yang katanya dia temennya


embak Anggi ."


" Tamu ? , temanku , namanya siapa ?."


Anggi bergegas masuk kedalam toko ,


tak sabar menunggu jawaban Julia yang


tak kunjung menjawab , di lewatinya


jajaran bunga yang berserakan tapi


masih tertata rapi , membuat jalannya


masuk kedalam menjadi sempit .


" Siapa ya , apa Joy , apa Oma Ratih


mengijinkan Joy kemari , rasanya tidak


mungkin deh ." gumam Anggi lirih .


Saking tergopohnya Anggi menabrak


seseorang , brukk.. dia terjatuh .


Orang yang di tabrak Anggi pun ikut terjatuh


karena orang itu membawa keranjang


bunga , alhasil bunga di tangannya ikut


terbuang berserakan .


" Eh , maaf ." membantu memunguti


bunga , yang di tabrak pun menoleh.


" Ya elah , ini kamu Mery ?. ternyata yang


mencariku itu kamu , ke sini sama siapa ?."


Mery manyun , merasa kesal sudah


terjatuh malah mendengar ocehan Anggi


yang seperti menyepelekannya .


" Tidak , aku bukan Mery , aku tidak pernah


mencari kak Anggi , ngapain aku repot


repot mencari kakak , kurang kerjaan


sekali , mmm iya sih memang aku tidak


punya pekerjaan , upsss hahaha,,,." Mery menutup bibirnya , tertawa sendiri dengan


apa yang barusan di bicarakan nya .


" Dasar kau , di tanya malah ngomel


apa susahnya sih jawab ." memukul


lengan Mery .


" Kak Anggi sih yang duluan, apa susahnya


sih berkata manis ke aku , gak garing gitu ."


" Garing,,? emang krupuk , dasar bocah


di tanya malah ngajak debat , KAU KESINI


SAMA SIAPA ,,,?."


Anggi menjewer telinga Mery , berbicara


Mery .


" Sudah jelas belum , apa mau aku ulangi ?."


" Apa sih kak Anggi ini , bicara pelan gak


bisa apa , aku kemari bersama kak Joy


dan Oma mereka ada di belakang toko ."


sambil menggosok telinga yang terasa


panas .


" Bilang kek dari tadi ." meninggalkan


Mery .


" Ow , dasar nenek lampir ."


Mery melanjutkan memasukkan bunga


yang masih tersisa , " perlu bantuan Mer ?."


pertanyaan Julia melihat Mery yang sedang


berjongkok memasukkan bunga kedalam


keranjang .


" Tidak usah kak Ju , ini juga dah selesai


kok ."


" Ya sudah kalau begitu, aku mau membawa


ini ke belakang ya ."


" Iy kak ."


Saat Mery hendak berdiri , dia melihat


amplop coklat terselip di sela pot bunga .


" Amplop ?, " mengambil , membaca tulisan


di atasnya .


" O ,, ternyata milik kak Anggi , pasti terjatuh


pas menabrakku tadi , hemm aku umpetin


saja biar dia gelabakan , hahaha."


Memasukkan amplop milik Anggi kedalam


tas yang menggantung di badannya ,


membayangkan jika Anggi nanti mencari amplop yang hilang .


Anggi menghampiri Joy yang duduk di


taman kecil milik Nenek, yang dulu pernah


dirawat oleh nya , Joy menyiram bunga


yang ditanamnya dulu saat membantu


beres - beres di Toko bunga ini .


" Kau sudah besar ya , pasti Anggi merawat


kalian dengan baik ." berbicara sendiri .


" Ya pasti , mereka aku anggap seperti


layaknya anakku sendiri ." sahutan Anggi


yang mendengar ocehan temannya .


Joy menoleh ," Anggi , dari mana saja


kamu ?." menaruh alat penyiram .


" Dari Kantor Andreas ." berjalan mendekat .


" Kalian sudah baikan ?, dari kemarin aku


sudah menduga jika Andreas tidak mungkin


melakukan itu ." mengajak Anggi duduk


di kursi .


" Tidak semudah itu Joy , aku kesana


karena ada orang yang mengirimkan


surat padaku agar aku datang ke Kantor


Andreas ."


" Surat ? kau mendapat teror dari wanita


itu ? lalu hubungan kalian sekarang ?."


Anggi teringat dengan amplop yang


di bawanya , dengan cepat dia membuka


tas miliknya , mencari amplop hendak


ditunjukkan pada sahabatnya.


" Hah , perasaan tadi aku masukkan


kesini , kenapa sekarang tidak ada , apa


aku yang lupa , jangan jangan hilang ."


Memeriksa isi dalam tas , mengeluarkan


semua barang ," mencari apa Nggi ?."


" Amplop Joy , tadi aku memasukkannya kesini , apa jatuh ya atau terjatuh di taxi


tadi ? mampus aku ." memegang kepalanya .


" Seberapa penting nya sih amplop itu


Nggi , sampai kau gelabagan begini ."


melihat temannya yang bingung .


" Bukan begitu Joy , di dalamnya ada foto


wanita jal*ng itu dan mau aku tunjukkan


padamu ." masih mencari , sambil mengingat-ingat dimana amplop itu


sekarang .


" Apa ,,,,, cepat ingat , aku jadi penasaran ."


" Iya Joy sayanggggg,, dari tadi aku juga


berusaha mengingat , dasar ibu hamil ."


" Anggi kenapa hamilku kau bawa - bawa ?."


" Bukan itu maksudku Joy , siapa juga


yang bawa hamil kamu , gak akan bisa


di bawa juga kalau bukan kamu sendiri yang


bawa , repot ."


" Tadi hamil , sekarang repot , aku


merepotkan kamu Nggi ?."


Anggi semakin kesal dengan mood


temannya ini , setiap apa yang dia bilang


selalu disalah artikan .


" Cukup Joy cukup , jangan buat aku


semakin bingung , kau masih mau


lihat foto wanita itu tidak sih ? ."


" Iya Nggi , terus sekarang mana fotonya ?."


Anggi merasa frustasi dengan pertanyaan


sahabatnya ini , " Astaga Joy , kau tidak


melihat aku sekarang sedang mencari ."


Di sela perdebatan Joy dan Anggi , Oma


datang bersama nenek Melati dari dalam


toko .


" Joy Oma ada urusan mendadak , apa kau


masih mau di sini ? , kalau iya kau bisa


tetap di sini biar nanti David menjemputmu ."


Joy berusaha berdiri dengan di bantu oleh


Anggi , melihat cucunya kesusahan Oma


pun mendekat .


" Hati - hati Joy , kau mau kemana ?."


Joy memeluk Oma ," terima kasih Oma ,


Oma selalu mengerti aku ."


" Sudah sudah , mungkin David nanti


datangnya agak terlambat , dia masih


sibuk dengan urusan pekerjaan nya ."


Setelah berpamitan , Oma pergi


meninggalkan Joy dengan di antarkan


oleh nenek Melati sampai di depan .


Oma melarang cucu menantu nya itu


untuk mengantar , tidak tega jika melihat


nya berjalan .


" Susah Mel aku titip cucuku ."


" pasti ku jaga dia juga seperti cucuku


sendiri ."


Oma masuk kedalam mobil , dengan melambaikan tangan , mobil pun


pergi meninggalkan nenek sendiri .