
Di Sebuah ruang tamu duduklah seorang wanita paruh baya yang sedang disidang
oleh seorang lelaki yang sudah puluhan
tahun menjalani hidup bersamanya, menjalin bahtera rumah tangga dalam senang
maupun duka.
Lelaki itu bernama Hariyanto Wijaya, dia
adalah suami dari Rani dan sekaligus ayah kandung Roy, Hari tidak pernah mencampuri urusan rumah tangganya semua dia
serahkan pada istrinya, tapi kali ini dia tidak bisa menuruti dan diam saja jika
menyangkut kebahagiaan anak anaknya.
Hari mendapat aduan dari putrinya setelah kepulangannya dari Jakarta, bahwasanya istrinya pamit ingin ikut ke Jakarta alih-alih untuk menjenguk keponakan tapi pulang
malah membawa berita tak mengenakkan hati.
Hari paling benci jika watak Rani yang suka memaksakan kehendaknya, apalagi jika menyangkut pasangan hidup putri maupun putranya, Hari tak ingin kejadian yang
menimpa istri dan kakak iparnya terulang kembali.
"Bun kita sudah merasakan bagaimana
rasanya jika perasaan cinta kita ditentang
dan hampir dipisahkan oleh restu orang tua, kan?." Hari mencoba memberikan penjelasan.
Rani memberikan anggukan pelan.
"Lalu kenapa sekarang pemikiran ayahmu
mau bunda ulangi lagi?." Merasa bersalah
Rani tak bisa membantah.
"Ayah sudah mendengar semuanya dari
Adinda dan ayah tidak ingin mengulanginya, biarkan mereka mencari kebahagiaannya masing-masing kita sebagai orang tua hanya mampu melihat dan turut merasakan kebahagiaan mereka." Hari menatap istrinya yang diam mulai tak tega.
Hari yang tadinya berdiri sekarang mendekat dan duduk di sebelah istrinya.
"Bun, bukankah lebih mengenakkan hati jika melihat anak-anak kita bahagia?." Rani
menutup wajahnya lalu menangis.
Melihat hal itu membuat Hari ingin memeluk istrinya untuk menenangkan.
"Maafkan aku yah, bunda khilaf, bunda hanya ingin yang terbaik untuk Roy, bunda takut jika dia salah pilih pasangan hidup." Menangis
di pelukan suaminya.
Hari menepuk punggung istrinya sembari menenangkan namun masih meluruskan pemikiran.
"Bun, salah tidak salah dia yang menjalaninya, meskipun bunda mencarikan yang sempurna tapi Roy tidak menyukainya maka itu akan percuma dan malah akan menjadikan bumerang untuk kita, hubungan mereka akan putus ditengah jalan, apa itu yang bunda inginkan?." Rani menegakkan tubuhnya dan menghadap pada Hari, suaminya.
"Tidak, tidak ayah .. Aku tidak pernah memikirkan hal buruk itu." Sangkal Rani
sambil menghapus air matanya.
"Iya ayah tahu, lain kali bunda tidak usah
ikut campur lagi ya." Rani menarik suaminya dalam pelukan.
"Terimakasih, ayah sudah menerima bunda
apa adanya, maafkan semua kekanakan
bunda ya?." Hari tersenyum.
Sepasang suami istri itu tidak sadar jika dari tadi ada seseorang yang sedang menonton adegan mereka berdua.
Dinda yang berdiri di dekat gorden pintu
tengah sambil memakan buah pear sedang diam setia menonton dari awal adegan itu dimulai.
"Ayah, bunda .. disensor dulu ya, sudah belum pacarannya, mataku masih polos jangan sampai ternodai." Bunda kaget melepaskan pelukan.
Keduanya ling lung malu kepergok putrinya.
Hari langsung berdiri, "hus, bicara apa kau ini." Masuk kedalam ruang tengah.
Langkah Hari terhenti ketika daun telinganya menangkap satu suara mobil yang masuk kedalam pekarangan rumah nya. Adinda berjalan keluar dan diikuti juga oleh Rani.
"Siapa Bun?." Rani mengangkat kedua pundaknya.
"Mas Roy ….. ." Teriak Adinda saat melihat
siapa yang keluar dari dalam mobil.
Teriakan itu membuat Rani mempercepat langkahnya, "Bun ajak putramu masuk, dia
pasti lelah." suruh Hari yang menghentikan langkah istrinya.
Adinda berhambur ke pelukan kakaknya, terlihat begitu girangnya saat mendapati kakaknya pulang ke rumah meskipun belum lama berpisah tapi Adinda senang sekali jika bisa bertemu lagi dengan kakaknya, karena
pas pulang kemarin dia dan ibundanya tidak pamit dulu pada Roy.
"Din, ajak mas mu masuk gih."
Rani tidak menyambut kedatangan putranya, dia merasa malu akan apa yang dilakukannya saat di Jakarta.
Adinda bergelayut manja di lengan kakaknya sambil menarik sedikit lengan itu agar kakaknya bisa sedikit memiringkan tubuhnya untuk menunduk.
"Mas Roy tadi ayah udah menasehati bunda lho, mas Roy sudah punya lampu hijau." Bisik Adinda, Roy terkejut dan menatap adiknya.
"Benarkah?."
Adinda senyum senyum mengangguk, "iya bener, tapi jangan lupa uang jajanku
mas Roy tambahin, itu juga dari hasil jerih payahnya lho mas." Berbicara sambil mengangkat satu alisnya.
"Jajan mulu, nanti kau gendut." Berjalan cepat membuat Adinda terseret.
Roy masuk mencari keberadaan ayah dan bundanya, ingin memastikan benar tidaknya apa yang dikatakan oleh adiknya barusan.
Hari menyambut kedatangan putranya dengan merentangkan kedua tangan siap untuk memberikan pelukan.
"Duduklah." Hari berucap untuk putranya.
diam menunggu arahan selanjutnya dari suaminya.
"Bun, lihatlah putramu sudah datang apa kau tidak rindu dengannya." Goda Hari pada istrinya.
Rani mengangkat wajahnya perlahan,
sambil menahan tangis Rani mencoba
memberanikan diri untuk meminta maaf atas kesalahannya.
Rani berdiri dan berjalan ke arah putranya
tapi Roy lebih dulu mendekat untuk berlutut dikaki ibundanya.
"Bun maafkan kesalahan putramu ini, aku
tidak bermaksud ingin menjadi anak
durhaka, tapi aku sangat mencintainya."
Tangis Roy di persimpuhan sujudnya.
Tangisan Rani pecah melihat putranya yang dengan tulus bersujud di kakinya. Padahal
yang bersalah kali ini adalah dirinya tapi bisa-bisanya malah putranya yang meminta maaf.
Rani menarik tubuh putranya sambil bercucuran air mata.
"Berdiri Roy, berdiri!." Roy berdiri.
Rani menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi putra tercintanya.
"Kau tidak bersalah sayang, disini bunda yang terlalu egois." Ucap Rani sambil menangis.
Hari tak tahan melihat kedua orang yang disayanginya menangis didepannya, memutuskan untuk mengakhirinya.
"Sudah cukup diskip dulu adegan tangisnya, sekarang kita buka lembaran baru dan mana yang mau ayah jadikan menantu, ayah sudah siap ini untuk melamarkan." Goda Hari membuat semua tertawa.
"Ayah ini bisa saja." Ibu yang tadinya
menangis jadi tertawa malu.
Dinda mendekat ingin ikut membahas.
"Ayah ini gimana too, laa wanitanya saja
setiap hari di rumah kita kok." Hari bingung, melihat anggota keluarganya secara bergantian.
"Siapa Din, kok ayah tidak tahu?, Apa bik
Inah?." Ayah mulai heran, semua jadi tertawa lagi.
"Ngawur ayah ini." Rani memukul lengan suaminya.
"Astaga." Menggeleng sambil menyentuh keningnya, Roy tak habis pikir dengan
tebakan ayahnya. Seketika membuat Roy tertawa kecil.
"Ayah ih, bukan lah .., masa mas Roy suka
janda yang sudah diatas bunda sih, ayah ngelucu."
"Loh ayah kan tidak tahu Din, terus siapa
kalau bukan bik Inah yang setiap hari di sini?."
"Astaga ayahku .., yang masih muda yah,
bukan yang sudah tua, masa ayah gak tahu
sih." Ayah mengangkat kedua bahu tanda memang dia tidak tahu.
"Yang setiap hari disini? Yang masih muda? Siapa ya?." Ayah mengulang ucapannya
berkali kali.
Rani tertawa saja melihat perdebatan
suaminya dan putrinya, malah asik mengajak Roy duduk untuk menyaksikan perdebatan itu.
"Sudah cukup yah, aku angkat tangan deh, MERY yahh.. ." Ayah terkejut.
"TIDAK BOLEH." Bentak Hari.
Membuat semuanya mematung, Hari
menatap anggota keluarganya dengan serius.
"Tidak boleh lama-lama .. ." Hari menggoda putrinya.
"Ayah … ."
Adinda yang kesal memukul ayahnya berulang kali.
"Tapi itu sudah percuma yah." Ucap Roy lemas.
Semua menatap Roy.
"Kenapa mas?." Dinda duduk disamping kakaknya.
"Mery lusa akan bertunangan dengan David, dan Tante Wulan juga sekarang sedang marah padaku." Roy lesu.
Ayah dan Adinda melempar pandangan pada Rani, Rani heran.
"Kenapa kalian menatapku?."
"Karena bunda adalah biang dari semua permasalahan ini, jadi bunda yang harus membantu mas Roy."
"Benar." Ayah mendukung perkataan Adinda.
"Kenapa harus AKU?." Muka Rani menciut.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
up lagiii...mn jejaknya
Next 😍