
Anggi berlari sekencang-kencangnya menyusuri lorong yang menyambungkan
antara Ruang VVIP dengan tempat dokter
bedah yang menangani Joy berada .
Dengan tanpa memperdulikan perhatian
setiap orang yang di lewatinya , Anggi
tetap berlari .
Mungkin dipikiran mereka Anggi seperti
orang gil* , tapi seorang Anggi tidak peduli .
Hanya sebuah cara bagaimana bisa
menolong sahabatnya lah yang ada
di benaknya kini .
Air matanya menetes berbarengan dengan
nafasnya yang menggebu , hati yang kacau
tak mampu membuatnya berfikir lebih
dalam .
Sampai didepan sebuah ruangan yang
bertuliskan " Dr, Harun Hermawan Sp.B"
Anggi berhenti untuk mengatur nafasnya ,
tanpa berfikir panjang Anggi segera masuk .
" Semoga Dokter ada di dalam ." memegang hendle pintu Anggi masuk tanpa mengetuk
terlebih dahulu .
Seorang pria berkacamata duduk didepan
layar komputer sedang mengotak - atik
papan keyboard nya , serius mengamati
layar komputer nya sampai terkejut
ada seseorang masuk kedalam
ruangannya tanpa mengetuk pintu .
" Astaga ." Dokter itu kaget mengelus dadanya .
Anggi yang ngos - ngosan tak mampu
langsung bicara ," ada yang bisa saya
bantu ?." tanya sang Dokter yang fokus
pada raut muka Anggi yang tak kunjung membuka suara .
" Anu dok , tolong ,,huhh,,huh,, tolong
teman saya , sekarang dia lagi tak
sadarkan diri ." berbicara sambil berjalan mendekati sang dokter .
" Teman nona siapa dan di ruang mana ?,
nanti saya akan kesana , sekarang biar
saya minta asisten saya untuk
menanganinya terlebih dahulu ." ujar
Dokter yang bernama Harun itu enteng ,
belum tahu siapa sebenarnya pasien yang
dimaksud .
Mendengar penuturan sang Dokter , Anggi
murka , bisa - bisanya seorang dokter
menyepelekan keadaan pasiennya , yang
jelas - jelas tahu jika pasien itu sudah
tak sadarkan diri .
" Kelamaan ." pungkas Anggi dengan
menyeret lengan sang Dokter .
Dengan sekuat tenaga Anggi membawa
Dokter itu untuk melihat keadaan joyyana ,
Anggi tak mau mendengar alasan apapun
yang keluar dari mulut sang Dokter , yang
dia inginkan hanyalah joyyana segera
mendapat pertolongan .
Dengan upaya sedikit kekerasan , sampai
juga Anggi membawa Dokter bedah itu
kedalam ruangan joyyana , disana Dokter
itu terkejut ketika melihat siapa pasien
yang baru saja dia sepelekan .
" Astaga , ternyata pasiennya adalah
cucu menantu nyonya Ratih , untung
saja nona ini tadi memaksaku , jika tidak
dan nyonya Ratih tahu aku menyepelekan
nya bisa runyam masa depanku ."
Penyesalan dokter Harun meraup mukanya .
Tanpa menunggu basa - basi , Dokter itu
segera memberi pertolongan pada Joy ,
Anggi dipersilahkan untuk keluar oleh
seorang perawat , karena hanya para
medis yang diperbolehkan didalam .
####
Di luar Anggi duduk dengan gelisah ,
panjatan doa berulang kali dia sematkan
didalam hati , raut muka cemas tak
bisa dia sembunyikan .
Duduk dengan badan setengah ditekuk , menunduk merapal doa sepanjang
menunggu dokter menangani temannya .
Sampai sebuah pukulan dibahu
membuatnya tersadar , " Oma ." Anggi
menoleh memanggil wanita tua yang
berdiri didekatnya .
Dia seketika berdiri dan merangkul tubuh
renta tapi masih terlihat bugar itu ,
rasanya dia ingin berbagi kekhawatiran
yang dia rasakan .
" Ada apa Anggi , jelaskan pada Oma ,
tidak terjadi apa-apa kan pada Joy ?."
Anggi malah menangis .
Mengusap sisa air mata di pipi , Anggi
mendudukkan wanita tua itu , Anggi
menceritakan semuanya pada Oma
kejadian dari awal dia masuk sampai
dia menyeret Dokter untuk memberikan
pertolongan pada Joy .
Oma syok dan cemas , namun masih bisa
di bendung , dengan penuh wibawa dan
anggun , Oma menelfon anak buahnya .
Oma menyuruh anak buahnya untuk
mencari tahu dan menangkap siapa
wanita yang sudah berani berusaha
untuk mencelakai keluarganya .
Ratih tak bisa tinggal diam , jika melihat
orang yang disayanginya tersakiti .
" Kau tenanglah aku akan mengurusnya ,
pasti Harun bisa menangani Joy dengan
baik , jadi kau jangan bersedih ."
Oma mengelus rambut Anggi agar lebih
tenang , tak lama kemudian Dokter Harun
pun keluar , Oma dan Anggi berdiri cepat
menghampiri Dokter Harun .
" Bagaimana keadaan Joy Dok ?."
pertanyaan Anggi dijawab senyuman
oleh Dokter Harun .
Dengan tenang Dokter Harun menjelaskan
jika kondisi pasien sekarang sudah tidak
perlu dikhawatirkan , pasien hanya
mengalami pendarahan akibat gangguan
emosi yang terjadi pada jiwanya .
Sekarang pasien sudah sadar meskipun
kondisinya masih lemas .
Kemarin Dokter sudah menjelaskan pada
keluarga , jika pasien tidak boleh mendapat
tekanan batin , yang nantinya akan bisa
mengakibatkan masalah , dan sekarang
sudah terbukti .
Meskipun masalah itu tidak dilakukan oleh
keluarga , tapi pendarahan pun terjadi .
Anggi lega mendengar penjelasan dari
Dokter Harun , jika sekarang pendarahan
Joy sudah berhenti , dia berterima kasih
pada dokter Harun telah memberikan
pertolongan pada sahabatnya itu .
" Terima kasih Dok , berkat dokter teman
saya terselamatkan ." ucap Anggi sambil
menyalami sang Dokter .
" Iya , iya itu sudah menjadi tugas saya ."
'" Meskipun dengan cara sedikit
pemaksaan , tapi dokter masih mau
yang masih sedikit kesal .
Oma terkejut , mengerutkan keningnya
setelah mendengar apa yang Anggi
ucapkan ," memaksa ?." Dokter Harun
tersenyum getir .
" Ya ampun ,, mulut nona ini , tamatlah
riwayat ku ." getar - getir Dokter Harun
didalam hati .
Dokter Harun mengolah otaknya untuk
siap mencari alasan , sebelum semuanya
berakhir seperti yang tidak ia harapkan .
" Seperti yang aku jelaskan tadi Oma ,
Dokter ini menolak untuk menolong Joy
dan malah menyuruh asistennya untuk
menangani joyyana ." sewot Anggi dengan
kekesalannya .
Berulang kali Dokter Harun membantah
tuduhan yang Anggi berikan , memberi
alasan yang logis agar Oma mengerti
situasinya .
Dia ingin menyelamatkan karier yang
bisa mempengaruhi masa depannya ,
Oma dibingungkan oleh perdebatan
kedua orang didepannya ini , bingung yang
mana yang lebih benar dari keduanya .
Oma menggelengkan kepala , tak mau
menambah berat pikiran , akhirnya Oma menengahi dan mengambil keputusan .
" Cukup , yang terpenting sekarang adalah
kesembuhan joyyana , untuk masalah
maksa memaksa Harunnnn,,, jangan kau
ulangi lagi ." tegas Oma yang berlalu
masuk kedalam kamar .
" Siap ."
Menaruh satu tangan di kepala , sang
Dokter memberi hormat , kemudian
berlalu dari tempat Anggi Berdiri , takut
jika Oma berubah pikiran sekaligus juga
karena merasa dirinya tidak lagi
dibutuhkan disana .
###
Di atas ranjang Joy berbaring dengan
wajah pucat dan tubuh lemasnya , melihat
dua orang sedang berjalan mendekatinya .
" Oma , Anggi kau baru saja menangis ?."
tanya Joy dengan suara samar yang
memaksakan diri untuk berbicara .
Oma segera mendekat dan merangkul
cucu menantunya itu , memberikan
ketenangan yang melihat Joy hampir
menangis .
" Sayang ada Oma disini , tidak ada yang
perlu kau takutkan ." Joy melingkarkan
tangannya di punggung Oma .
" Hiks,, hiks,,, Oma apa benar yang
dikatakan wanita tadi ?." seketika Oma
melepas pelukan .
" Memangnya apa yang dikatakan wanita
itu , dan apakah kau mengenal nya ?."
Mendudukkan dirinya di kursi yang ada
ditepi ranjang , Oma menyiapkan diri
untuk mendengar .
Joy menggeleng , menandakan jika dia
tidak mengenal wanita yang disebutkan .
" Tidak Oma , aku tidak mengenalnya
dia tadi memakai masker jadi aku tidak
bisa melihat jelas wajahnya ." dengan
suara lemas Joy menjawab .
" Lalu ?."
Oma masih menunggu kelanjutan
penjelasan Joy , karena hanya Joy lah
saksi kunci wanita misterius itu .
" Tadi dia bilang , jika dia ingin
membunuhku , niatnya gagal dan tadi
dia mengulanginya lagi , syukurlah ada
Anggi yang datang membatalkan niat
busuk wanita najis itu ."
joy bercerita panjang lebar sampai tak
terasa air matanya menetes ," kenapa Joy
kan sudah gagal , kenapa kau masih
menangis ?."
Membawa tisu , Anggi mengelap air mata
Joy yang ada di pelupuk mata .
" Jika aku yang mau dia bunuh tidak
apa-apa Nggi , tapi dia juga ingin
membunuh anakku , dia tak berdosa Nggi bayangkan saja dia juga wanita , sebegitu teganya dia mau membunuh seorang bayi bahkan belum lahir ."
Joy bercerita dengan menangis histeris ,
tiba-tiba dia teringat dengan anaknya ,
" Oma ,,,, bayiku mana ?, aku tak mau
jika wanita itu membunuhnya , bawakan
dia kemari Nggi , kumohon ." teriak Joy
semakin histeris .
" Tenang Joy , tenangkan dirimu bayimu
aman , aku sudah menyuruh pengawal
untuk menjaganya , kau tidak usah
khawatir ." ucapan Oma seketika
membuat Joy terdiam .
Kesegukan Joy mengatur nafasnya .
Anggi mendekat memberikan segelas air
minum ," minumlah Joy , ini bisa
membuatmu lebih baik ." Joy menerima
dan meminumnya .
" Joy sepertinya wanita itu tak asing ,"
Joy memberikan kembali gelas kosong
pada Anggi .
" Maksudmu wanita tadi , apa kau kenal
Nggi ?." Anggi menggeleng dilanjutkan
dengan cengiran khasnya .
" Tidak juga sih , itu hanya mungkin
jika saja aku masih mempunyai fotonya
pasti bisa membedakan iya tidaknya
wanita itu ."
Dalam hati Anggi mengatakan jika wanita
tadi adalah wanita yang sama dengan
wanita yang bersama dengan Andreas ,
tapi dia tak ingin gegabah , sebelum ada
satu bukti yang memberatkan tuduhannya itu .
Oma mengajak Anggi duduk di Sofa ,
memberikan joyyana waktu untuk
beristirahat agar bisa kembali pulih .
" Apa cuma mungkin , tapi perasaanku
mengatakan jika wanita itu adalah Rosa ,
siapa lagi yang mengejar David kalau
bukan Rosa , hanya dia yang tidak
menerimakan kebersamaan kami ."
Joy bergelut dengan pikirannya , sampai
matanya terpejam , tapi pikirannya
masih bergemuruh kerana memikirkan
wanita najis yang ingin melenyapkan
nyawanya .
Joy dan Anggi tak menyadari jika wanita
yang mereka pikirkan itu sama .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
_
_
Nyicil,,,, bahas apa nihhh,,, biar author
bisa otw up ๐...
Next ๐