Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Dag Dig dug..


Anggi berlari sekencang-kencangnya menyusuri lorong yang menyambungkan


antara Ruang VVIP dengan tempat dokter


bedah yang menangani Joy berada .


Dengan tanpa memperdulikan perhatian


setiap orang yang di lewatinya , Anggi


tetap berlari .


Mungkin dipikiran mereka Anggi seperti


orang gil* , tapi seorang Anggi tidak peduli .


Hanya sebuah cara bagaimana bisa


menolong sahabatnya lah yang ada


di benaknya kini .


Air matanya menetes berbarengan dengan


nafasnya yang menggebu , hati yang kacau


tak mampu membuatnya berfikir lebih


dalam .


Sampai didepan sebuah ruangan yang


bertuliskan " Dr, Harun Hermawan Sp.B"


Anggi berhenti untuk mengatur nafasnya ,


tanpa berfikir panjang Anggi segera masuk .


" Semoga Dokter ada di dalam ." memegang hendle pintu Anggi masuk tanpa mengetuk


terlebih dahulu .


Seorang pria berkacamata duduk didepan


layar komputer sedang mengotak - atik


papan keyboard nya , serius mengamati


layar komputer nya sampai terkejut


ada seseorang masuk kedalam


ruangannya tanpa mengetuk pintu .


" Astaga ." Dokter itu kaget mengelus dadanya .


Anggi yang ngos - ngosan tak mampu


langsung bicara ," ada yang bisa saya


bantu ?." tanya sang Dokter yang fokus


pada raut muka Anggi yang tak kunjung membuka suara .


" Anu dok , tolong ,,huhh,,huh,, tolong


teman saya , sekarang dia lagi tak


sadarkan diri ." berbicara sambil berjalan mendekati sang dokter .


" Teman nona siapa dan di ruang mana ?,


nanti saya akan kesana , sekarang biar


saya minta asisten saya untuk


menanganinya terlebih dahulu ." ujar


Dokter yang bernama Harun itu enteng ,


belum tahu siapa sebenarnya pasien yang


dimaksud .


Mendengar penuturan sang Dokter , Anggi


murka , bisa - bisanya seorang dokter


menyepelekan keadaan pasiennya , yang


jelas - jelas tahu jika pasien itu sudah


tak sadarkan diri .


" Kelamaan ." pungkas Anggi dengan


menyeret lengan sang Dokter .


Dengan sekuat tenaga Anggi membawa


Dokter itu untuk melihat keadaan joyyana ,


Anggi tak mau mendengar alasan apapun


yang keluar dari mulut sang Dokter , yang


dia inginkan hanyalah joyyana segera


mendapat pertolongan .


Dengan upaya sedikit kekerasan , sampai


juga Anggi membawa Dokter bedah itu


kedalam ruangan joyyana , disana Dokter


itu terkejut ketika melihat siapa pasien


yang baru saja dia sepelekan .


" Astaga , ternyata pasiennya adalah


cucu menantu nyonya Ratih , untung


saja nona ini tadi memaksaku , jika tidak


dan nyonya Ratih tahu aku menyepelekan


nya bisa runyam masa depanku ."


Penyesalan dokter Harun meraup mukanya .


Tanpa menunggu basa - basi , Dokter itu


segera memberi pertolongan pada Joy ,


Anggi dipersilahkan untuk keluar oleh


seorang perawat , karena hanya para


medis yang diperbolehkan didalam .


####


Di luar Anggi duduk dengan gelisah ,


panjatan doa berulang kali dia sematkan


didalam hati , raut muka cemas tak


bisa dia sembunyikan .


Duduk dengan badan setengah ditekuk , menunduk merapal doa sepanjang


menunggu dokter menangani temannya .


Sampai sebuah pukulan dibahu


membuatnya tersadar , " Oma ." Anggi


menoleh memanggil wanita tua yang


berdiri didekatnya .


Dia seketika berdiri dan merangkul tubuh


renta tapi masih terlihat bugar itu ,


rasanya dia ingin berbagi kekhawatiran


yang dia rasakan .


" Ada apa Anggi , jelaskan pada Oma ,


tidak terjadi apa-apa kan pada Joy ?."


Anggi malah menangis .


Mengusap sisa air mata di pipi , Anggi


mendudukkan wanita tua itu , Anggi


menceritakan semuanya pada Oma


kejadian dari awal dia masuk sampai


dia menyeret Dokter untuk memberikan


pertolongan pada Joy .


Oma syok dan cemas , namun masih bisa


di bendung , dengan penuh wibawa dan


anggun , Oma menelfon anak buahnya .


Oma menyuruh anak buahnya untuk


mencari tahu dan menangkap siapa


wanita yang sudah berani berusaha


untuk mencelakai keluarganya .


Ratih tak bisa tinggal diam , jika melihat


orang yang disayanginya tersakiti .


" Kau tenanglah aku akan mengurusnya ,


pasti Harun bisa menangani Joy dengan


baik , jadi kau jangan bersedih ."


Oma mengelus rambut Anggi agar lebih


tenang , tak lama kemudian Dokter Harun


pun keluar , Oma dan Anggi berdiri cepat


menghampiri Dokter Harun .


" Bagaimana keadaan Joy Dok ?."


pertanyaan Anggi dijawab senyuman


oleh Dokter Harun .


Dengan tenang Dokter Harun menjelaskan


jika kondisi pasien sekarang sudah tidak


perlu dikhawatirkan , pasien hanya


mengalami pendarahan akibat gangguan


emosi yang terjadi pada jiwanya .


Sekarang pasien sudah sadar meskipun


kondisinya masih lemas .


Kemarin Dokter sudah menjelaskan pada


keluarga , jika pasien tidak boleh mendapat


tekanan batin , yang nantinya akan bisa


mengakibatkan masalah , dan sekarang


sudah terbukti .


Meskipun masalah itu tidak dilakukan oleh


keluarga , tapi pendarahan pun terjadi .


Anggi lega mendengar penjelasan dari


Dokter Harun , jika sekarang pendarahan


Joy sudah berhenti , dia berterima kasih


pada dokter Harun telah memberikan


pertolongan pada sahabatnya itu .


" Terima kasih Dok , berkat dokter teman


saya terselamatkan ." ucap Anggi sambil


menyalami sang Dokter .


" Iya , iya itu sudah menjadi tugas saya ."


'" Meskipun dengan cara sedikit


pemaksaan , tapi dokter masih mau


yang masih sedikit kesal .


Oma terkejut , mengerutkan keningnya


setelah mendengar apa yang Anggi


ucapkan ," memaksa ?." Dokter Harun


tersenyum getir .


" Ya ampun ,, mulut nona ini , tamatlah


riwayat ku ." getar - getir Dokter Harun


didalam hati .


Dokter Harun mengolah otaknya untuk


siap mencari alasan , sebelum semuanya


berakhir seperti yang tidak ia harapkan .


" Seperti yang aku jelaskan tadi Oma ,


Dokter ini menolak untuk menolong Joy


dan malah menyuruh asistennya untuk


menangani joyyana ." sewot Anggi dengan


kekesalannya .


Berulang kali Dokter Harun membantah


tuduhan yang Anggi berikan , memberi


alasan yang logis agar Oma mengerti


situasinya .


Dia ingin menyelamatkan karier yang


bisa mempengaruhi masa depannya ,


Oma dibingungkan oleh perdebatan


kedua orang didepannya ini , bingung yang


mana yang lebih benar dari keduanya .


Oma menggelengkan kepala , tak mau


menambah berat pikiran , akhirnya Oma menengahi dan mengambil keputusan .


" Cukup , yang terpenting sekarang adalah


kesembuhan joyyana , untuk masalah


maksa memaksa Harunnnn,,, jangan kau


ulangi lagi ." tegas Oma yang berlalu


masuk kedalam kamar .


" Siap ."


Menaruh satu tangan di kepala , sang


Dokter memberi hormat , kemudian


berlalu dari tempat Anggi Berdiri , takut


jika Oma berubah pikiran sekaligus juga


karena merasa dirinya tidak lagi


dibutuhkan disana .


###


Di atas ranjang Joy berbaring dengan


wajah pucat dan tubuh lemasnya , melihat


dua orang sedang berjalan mendekatinya .


" Oma , Anggi kau baru saja menangis ?."


tanya Joy dengan suara samar yang


memaksakan diri untuk berbicara .


Oma segera mendekat dan merangkul


cucu menantunya itu , memberikan


ketenangan yang melihat Joy hampir


menangis .


" Sayang ada Oma disini , tidak ada yang


perlu kau takutkan ." Joy melingkarkan


tangannya di punggung Oma .


" Hiks,, hiks,,, Oma apa benar yang


dikatakan wanita tadi ?." seketika Oma


melepas pelukan .


" Memangnya apa yang dikatakan wanita


itu , dan apakah kau mengenal nya ?."


Mendudukkan dirinya di kursi yang ada


ditepi ranjang , Oma menyiapkan diri


untuk mendengar .


Joy menggeleng , menandakan jika dia


tidak mengenal wanita yang disebutkan .


" Tidak Oma , aku tidak mengenalnya


dia tadi memakai masker jadi aku tidak


bisa melihat jelas wajahnya ." dengan


suara lemas Joy menjawab .


" Lalu ?."


Oma masih menunggu kelanjutan


penjelasan Joy , karena hanya Joy lah


saksi kunci wanita misterius itu .


" Tadi dia bilang , jika dia ingin


membunuhku , niatnya gagal dan tadi


dia mengulanginya lagi , syukurlah ada


Anggi yang datang membatalkan niat


busuk wanita najis itu ."


joy bercerita panjang lebar sampai tak


terasa air matanya menetes ," kenapa Joy


kan sudah gagal , kenapa kau masih


menangis ?."


Membawa tisu , Anggi mengelap air mata


Joy yang ada di pelupuk mata .


" Jika aku yang mau dia bunuh tidak


apa-apa Nggi , tapi dia juga ingin


membunuh anakku , dia tak berdosa Nggi bayangkan saja dia juga wanita , sebegitu teganya dia mau membunuh seorang bayi bahkan belum lahir ."


Joy bercerita dengan menangis histeris ,


tiba-tiba dia teringat dengan anaknya ,


" Oma ,,,, bayiku mana ?, aku tak mau


jika wanita itu membunuhnya , bawakan


dia kemari Nggi , kumohon ." teriak Joy


semakin histeris .


" Tenang Joy , tenangkan dirimu bayimu


aman , aku sudah menyuruh pengawal


untuk menjaganya , kau tidak usah


khawatir ." ucapan Oma seketika


membuat Joy terdiam .


Kesegukan Joy mengatur nafasnya .


Anggi mendekat memberikan segelas air


minum ," minumlah Joy , ini bisa


membuatmu lebih baik ." Joy menerima


dan meminumnya .


" Joy sepertinya wanita itu tak asing ,"


Joy memberikan kembali gelas kosong


pada Anggi .


" Maksudmu wanita tadi , apa kau kenal


Nggi ?." Anggi menggeleng dilanjutkan


dengan cengiran khasnya .


" Tidak juga sih , itu hanya mungkin


jika saja aku masih mempunyai fotonya


pasti bisa membedakan iya tidaknya


wanita itu ."


Dalam hati Anggi mengatakan jika wanita


tadi adalah wanita yang sama dengan


wanita yang bersama dengan Andreas ,


tapi dia tak ingin gegabah , sebelum ada


satu bukti yang memberatkan tuduhannya itu .


Oma mengajak Anggi duduk di Sofa ,


memberikan joyyana waktu untuk


beristirahat agar bisa kembali pulih .


" Apa cuma mungkin , tapi perasaanku


mengatakan jika wanita itu adalah Rosa ,


siapa lagi yang mengejar David kalau


bukan Rosa , hanya dia yang tidak


menerimakan kebersamaan kami ."


Joy bergelut dengan pikirannya , sampai


matanya terpejam , tapi pikirannya


masih bergemuruh kerana memikirkan


wanita najis yang ingin melenyapkan


nyawanya .


Joy dan Anggi tak menyadari jika wanita


yang mereka pikirkan itu sama .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


_


_


Nyicil,,,, bahas apa nihhh,,, biar author


bisa otw up ๐Ÿ™ˆ...


Next ๐Ÿ˜