
David sampai di Jogja sekitar pukul sembilan malam, sebelum dia datang ke rumah ibu mertuanya David singgah dulu di sebuah
Cafe. David membuat temu janji dengan Roy, ingin membahas masalah mereka lagi.
Disatu Cafe Roy sudah tiba sejak lumayan lama, menunggu kedatangan teman yang
dulu menjadi sahabat karibnya itu tapi sekarang sudah berubah menjadi musuh dadakannya, yang timbul akibat kesalahan pahaman.
Berjalan dengan gagahnya David menuju tempat duduk Roy, Roy menatap temannya tanpa berkedip.
Berdiri tepat dihadapan Roy, David menaruh kedua tangannya di pinggang.
"Kau ingin memulai dengan taktik licikmu
Roy, tak bisakah kau bermain dengan wajar, hingga kau menyuruh ibumu untuk
menghasut ibu mertuaku." David menyapa temannya sambil mendudukkan dirinya di kursi.
Roy membuang muka ke arah lain, melempar rasa jengah dengan pembahasan yang selalu sama jika bertemu dengan David.
Roy tertawa kecil lalu menatap temannya kembali.
"Tak bisakah kita tidak membahas itu disini, kita cari tempat sepi. Aku tahu pasti ujung-ujungnya kita berkelahi." Dengan santainya Roy mengajak David, dia teringat kejadian yang sebelumnya terjadi.
David menatap pria di depannya, hanya membalas dengan sunggingan senyum tentang semua perkataan Roy.
"Aku tidak akan mengajakmu berkelahi,
karena aku tahu pemenangnya adalah AKU,
dan begitupun dengan Mery pasti aku yang mendapatkannya." David percaya diri sekali,
dia dengan entengnya berkata seperti orang yang dengan mantapnya akan menikahi gadis muda itu.
"Hahahaha .. ." Roy tertawa mendengar keras
ucapan David.
"Kau percaya diri sekali, lalu tujuanmu kemari itu apa, bukannya kau takut jika aku merebut Mery darimu." Roy menggeleng dengan masih tertawa.
David kehabisan kata, memang benar apa
yang di katakan Roy.
"Aku kesini hanya untuk menegaskan
padamu agar kau mundur saja sebelum kau sakit hati."
Omongan David membuat Roy ingin tertawa sekeras-kerasnya, dia menangkap satu kandungan dari semua ucapan David bahwa David takut tersaingi, tidak mungkin untuk
Roy jika harus mundur sebelum berperang.
"Camkan perkataanku ini David, jika nanti Joy datang kepadamu apa kau bisa menjelaskan padanya jika kau menikahi adiknya." Berbicara pelan sambil sedikit memajukan wajahnya.
David malah tertawa dan menjawab dengan entengnya tanpa memikirkan jika apa yang diucapkan Roy bisa terjadi, dia yakin bahwa yang diucapkan Roy itu tidak mungkin terjadi.
"Itu tidak mungkin, tapi jika memang terjadi maka aku akan menjadikan keduanya istriku." Roy menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Kau mulai gila David, tidak semudah itu melakukannya, pasti Joy sangat kecewa padamu." Roy berdiri.
"Terserah kau saja bos, aku tetaplah aku dan begitupun dirimu tetaplah dirimu, kita jalani jalan kita masing-masing, kita lihat saja Mery lebih memilih siapa." Memasukkan ponsel kedalam saku, Roy siap untuk meninggalkan David.
David mengepalkan tangannya, merasa
geram dengan ucapan Roy.
David tidak tahu semua perbincangannya
telah direkam oleh orang suruhan Dicky, yang dikhususkan Dicky untuk membuntuti David.
###
Sekitar pukul sepuluh malam David sampai
di kediaman ibu mertuanya, rumah yang membangkitkan segala ingatan saat dirinya dulu baru menemukan istrinya setelah dalam pencarian berbulan-bulan.
Mobil David masuk kedalam pekarangan, pria itu keluar dari mobilnya. Dia berjalan
mendekati satu kursi yang terdapat di Taman kecil milik ibu mertuanya. David duduk di kursi itu, mengelus tempat duduk disampingnya sambil memejamkan mata.
Dia membayangkan saat melepas rasa rindunya dulu ketika baru menemukan
wanita pujaan hatinya. Cuplikan kenangan itu tak terasa menggugurkan air yang tersimpan
di pelupuk mata. David menangis.
"Sayang kenapa kau cepat meninggalkanku, aku tidak rela jika harus kehilanganmu
dengan cara seperti ini." David menangis sambil menatap langit.
Dari dalam keluarlah Wulan yang masih
terjaga, sang ibu mertua. Dia keluar setelah mendengar deru mobil yang memasuki kediamannya. Ditunggunya beberapa saat
tapi orang yang di dalam mobil tidak juga masuk kedalam rumah, maka Wulan memutuskan untuk keluar memeriksanya.
Terlihat ada seorang pria yang tak ading sedang duduk di kursi, Wulan menghampiri.
"Nak David, apakah itu kau." David terperanjat kaget, mengusap air mata sebelum berdiri dan menghadap ibu mertuanya.
"Iya Bu, ini aku." Mendekati ibu mertuanya lalu memberi salam.
Wulan mengajak menantunya itu masuk, dia berjalan duluan kemudian David mengikuti
dari belakang.
"Ada tujuan apa kau menyusul kami kemari." Pertanyaan Wulan disela berjalan.
"Tidak enak bicara diluar Bu lebih baik kita bicarakan di dalam." Wulan tidak menjawab, hanya anggukan yang diberikannya atas
ajakan menantunya.
Sampai di ruang tamu, Wulan menyuruh bibi pembantu untuk membuatkan teh jahe untuk menantunya.
"Jelaskan apa maksud dan tujuanmu David, aku baru pagi tadi meninggalkan rumahmu, kenapa sekarang kau menyusul kami."
Bertanya setelah keduanya berhasil duduk.
David melepas jas yang dipakainya.
"Aku hanya .., terimakasih." Ucapan David terpotong karena ada kedatangan bibi pembantu yang membawakan secangkir teh jahe panas untuknya.
Meminum sedikit kemudian menaruh di atas meja. Wulan menatap menantunya tanpa berkedip, mengumpulkan semua kecurigaan yang telah merasuki hatinya.
"Hanya apa, hanya merindukan Mery?,
Seorang gadis yang akan kau nikahi."
Duarrrr β¦
Bagai tersambar petir di malam hari, David sudah menduganya, praduga itu pasti akan muncul jika dirinya datang menyusul Mery,
tapi David tetap melakukannya.
"Kenapa ibu berbicara seperti itu, ibu kan
sudah tahu alasan aku bertunangan dengan Mery, kenapa ibu masih saja berpikir jika aku menyukai Mery." David berusaha keluar dari masalah dengan membela diri.
Wulan masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh menantunya, hatinya
masih saja dirundung curiga.
"Jika kau memang tidak mulai menyukai
Mery, kenapa kau marah saat aku
menanyakan itu padamu." Wulan mulai berdiri.
"Aku tidak marah Bu, aku hanya menjelaskan, pasti ibu mendapat hasutan dari orang, ibunya Roy kan?, Aku akan menghancurkannya." Wulan menoleh.
"Cukup David, sekarang sudah malam dan kau pasti lelah, pergilah ke kamar istrimu dan jangan sekali-kali melakukan apa yang kau katakan tadi." Wulan masuk kembali ke kamarnya.
Di Dalam kamar Mery mendengar semua perbincangan yang dilakukan di ruang tamu. Dia merasa sangat kacau telah didudukan
di tengah pertikaian masalah keluarga kakaknya.
Mery mencari hiburan demi mengalihkan kekacauan dalam pikirannya, diambilnya sebuah ponsel miliknya dari dalam tas, lalu dengan segera menyalakan ponsel itu, karena sedari tadi sudah mati.
Mery melihat ada panggilan Bimo berjumlah puluhan, Mery kaget.
"Hah, kak Bimo menelponku. Astaga sampai sebanyak ini." Mery mengamati layar
ponselnya, menerka waktu saat Bimo menghubunginya.
"Apa ada masalah, aku harus menelponnya balik." Menekan tombol telepon balik lalu menaruh ponsel itu ditelinga.
Hal yang sama yang didapatkan Mery, seperti saat Bimo menelfonnya tadi. Mery mematikan telpon, menunggu beberapa saat dan menghubunginya lagi. Mery memberikan senggang sepuluh menit untuk menghubungi Bimo, tapi sambungan itu tidak juga diterima.
Hal itu membuat Mery gusar.
###
Di tempat Bimo.
Minuman yang ditujukan untuk Bimo tak sengaja telah diminum oleh Alina. Kekhawatiran Sonia membuatnya berpikir keras, takut malu jika temannya itu nanti terangs*ng.
Sonia ingin menghalangi namun sudah terlambat, semua isi didalamnya dah terjun masuk ke dalam tenggorokan Alina. Alina
tidak merasa ada yang aneh karena dirinya sangat kehausan.
Bimo juga haus, mengambil minuman
bersoda dalam lemari pendingin untuk melunturkan dahaga.
Sonia mendekati Bimo dan Alina, dengan sedikit berbincang demi mengalihkan kecurigaan Bimo. Dengan hati-hati dan kesigapan, akhirnya Sonia berhasil memasukkan satu butir tablet kecil ke minuman milik Bimo.
"Ternyata kau pantang minuman beralkohol
ya Bim, aku baru tahu." Sonia berbasa-basi.
"Ya, aku pernah meminumnya dulu tapi membuatku terjebak dalam masalah." Jawab Bimo mengimbangi obrolan kekasih temannya.
"Minuman bersoda?, Ok lah mari kita tos." Mengangkat satu kaleng minuman kedepan Bimo.
Bimo pun mengikuti arahan Sonia dan menanggak habis minuman bersoda kesukaan nya.
###
Setelah lama menunggu Mery memutuskan untuk menghubungi Bimo di pagi hari saja, dan setelah Mery melakukan panggilan yang ketiga akhirnya Bimo mengangkat panggilan itu.
Dengan berulang kali mengusap mata yang masih mengantuk Bimo meletakkan ponselnya di telinga.
"Ya Mer, hallo." Suara serak Bimo khas bangun tidur keluar.
Mery melihat layar ponselnya, menggeleng dengan apa yang dilakukan Bimo. Mery mengajak Bimo panggilan lewat via video kenapa Bimo malah menaruh ponsel itu ke telinganya, hal itu membuat Mery tertawa.
"Kak Bimo." Panggil Mery sambil tertawa.
"Ha, maaf aku baru bangun tidur tidak tahu kalau kau menelpon." Bimo belum menyadari yang terjadi pada dirinya.
Rasanya pagi ini tubuhnya terasa remuk
seperti orang baru dipukuli, kepalanya sedikit pusing, Bimo tidak bisa mengingat apa yang terjadi semalam, yang dia lakukan sekarang hanyalah berbicara dengan gadis yang dicintainya.
Mery masih tertawa, melihat kekonyolan Bimo yang belum menyadari kekeliruannya.
"Kak ini video, yang terlihat sekarang hanyalah telinga kakak." Ucapan Mery disela tawanya.
Bimo menarik ponselnya dan terlihatlah wajah Mery yang sedang tertawa menertawakan kekeliruan Bimo.
Bimo ikut tertawa.
Bimo sedikit menjauhkan ponsel, agar bisa melihat dirinya. Mery terperangah melihat tubuh atas Bimo yang tidak memakai baju. Tubuh yang putih mulus tiada bentolan
sedikit pun yang menggangu kekekaran tubuh indah itu.
"Kak Bimo kalau tidur selalu begitu?." Tanya Mery malu-malu.
Bimo mengamati dirinya, dan dia sedikit kaget dengan keadaannya kini. " Hah kok bisa aku lepas baju." Berkata dengan wajah yang kebingungan.
"Sana pakai baju dulu, aku tunggu."
Masih memegang ponsel di tangan Bimo mencari dimana baju yang dipakainya semalam. Bimo membalikkan badan, dia
syok melihat ada seorang wanita sedang
tidur di tempat tidurnya, dalam posisi tubuh yang tertutup selimut.
"Alina." Ujar Bimo saat menatap wanita itu.
Mery mendengar seruan Bimo.
Bimo masih mematung, tak sadar jika Mery melihat juga apa yang terjadi di kamar Bimo. Mery terdiam memikirkan hal yang negatif tentang Bimo dan wanita itu.
Keadaan Bimo yang telanjang dada dan adanya seorang wanita yang terpejam dengan selimut yang membungkus tubuhnya, air mata Mery menetes seketika itu dia langsung mematikan sambungan teleponnya serta memblokir nomor Bimo.
Mery tidak habis pikir dengan kejutan yang diterimanya di pagi hari saat semua masalah menyelimuti hatinya.
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Nyicil up biar g kena semprot π΄π΄π΄