
" Arghhhh....!!"
" Adik ketiga! " Teriak salah satu dari mereka dengan khawatir, lalu segera bergerak untuk menolongnya.
Namun Xu Tian tidak akan membiarkan hal itu terjadi. " Auman Dewa Naga! " Sebuah energi yang menimbulkan gelombang suara yang begitu keras terdengar.
" Arghh..!!!" Teriak para pria bertopeng menahan rasa sakit yang begitu luar biasa memasuki gendang telinga mereka.
Bukan hanya kelima orang tersebut saja, bahkan di seluruh tempat pertempuran, sehingga membuat konsentrasi lawan mulai terganggu akibat teknik Auman Dewa Naga yang di keluarkan oleh Xu Tian.
Untung saja Xu Tian hanya memfokuskan tekniknya kepada lawan, sehingga orang-orang nya tidak mengalami hal yang di rasakan oleh lawan mereka.
Arah pertempuran pun semakin sengit, kini pasukan gabungan Klan Xu dan Kekaisaran Qing mulai mendominasi hingga membuat musuh mulai putus asa.
Xu Yuan pun tidak melewatkan kesempatan tersebut. Dengan gerakan cepat dia menggunakan teknik berpedang yang di kombinasikan dengan energi petir miliknya untuk menebas ke arah leher lawan.
Kelima pria bertopeng pun semakin marah saat melihat pasukannya kini hanya tinggal beberapa orang lagi.
" Kini giliran kalian menyusul mereka semua!" Ucap Xu Tian menatap tajam kelimanya.
" Tombak Naga Penguasa Alam! " Tombak di tangan Xu Tian berdengung kencang.
" Wushhh...." Tombak mulai memanjang dengan energi emas yang menyelimuti mengakibatkan aura di sekitarnya begitu mencekam untuk lawan.
" Roarrrgghhhh....!! " Teriakan seekor Naga terdengar dari dalam tombak yang terus berputar di udara.
" Hancurkan!!!" Teriak Xu Tian, Tombak yang semula berputar mulai melesat ke segala arah, menghancurkan apa saja yang di lewatinya.
" Dhuaaarrrr.....!!! "
" Dhuaaarrrr.....!!! "
" Mengerikan!" Batin pasukan kekaisaran dan lainnya.
Mereka semua hanya dapat menahan nafas melihat hal yang terjadi di depannya, untung saja tombak tersebut tidak menyerang ke arah mereka.
Awalnya Xu Tian begitu bingung saat dia menggunakan Tombak Naga, hingga akhirnya dia menyadari bahwa di dalam tombak terdapat sebuah roh Naga illahi di dalamnya.
" Argh...!!! " Teriakan yang begitu memilukan terdengar di mana-mana.
Satu persatu lawan di hancurkan menjadi kabut darah tanpa adanya perlawanan.
Hingga beberapa saat kemudian, tombak naga telah membunuh semua lawan yang tersisa.
Tombak Naga kemudian kembali melesat ke arah Xu Tian, dengan sisa kekuatannya Xu Tian memasukan kembali ke dalam cincin penyimpanan.
" Brugh...!" Xu Tian terjatuh ke tanah dengan wajah pucat pasi.
Semua orang begitu kaget melihat hal tersebut, untung saja Feng Louzhi segera melesat membantu Xu Tian, sehingga wajah Xu Tian tidak mengenai tanah.
Mereka semua segera menuju tempat di mana Xu Tian dan Feng Louzhi berada, dengan raut wajah cemas dan khawatir.
" Louzhi, bagaimana keadaan putraku?" Tanya Xu Yuan yang baru saja tiba.
" Patriak tenang saja, tuan muda hanya kelelahan dan kehabisan Qi karena terlalu memaksakan diri menggunakan teknik tombaknya." Jelas Feng Louzhi sambil terus mengalirkan energi ke dalam tubuh Xu Tian.
Xu Yuan dan semua orang akhirnya dapat bernafas dengan lega, kemudian Xu Yuan segera memberikan perintah kepada semua orang untuk segera memulihkan diri mereka.
Feng Louzhi segera membawa Xu Tian ke arah Barak yang sebelumnya di gunakan oleh ketua kelompok pasukan berpakaian serba hitam.
Xu Yuan dan Long Hei pun mengikuti nya dari belakang, sedangkan Wuya dan Jingmi berjaga di sekita barak.
Di dalam Barak.
Feng Louzhi masih terus fokus mengalirkan energi nya kedalam tubuh Xu Tian.
" Tuan muda terlalu memaksakan diri, karena jika ingin menggunakan teknik tersebut harus berada di ranah Nirwana terlebih dahulu, Namun sepertinya tuan muda tidak perlu menunggu hingga Ranah Nirwana, jika di lihat dari serangan tadi maka tidak lama lagi tuan muda dapat menguasai dengan sempurna." Batin Feng Louzhi.
Feng Louzhi begitu kaget saat melihat Xu Tian menggunakan teknik tersebut, namun yang membuatnya kagum adalah bagaimana Xu Tian mampu mengendalikan dengan sempurna, meski pada akhirnya harus kehabisan semua energi Qi miliknya.
Di tempat lain.
Kini pertempuran kedua sekte berbeda aliran mulai menandakan akan berakhir, bagaimana kombinasi serta kerja sama yang di perlihatkan oleh mereka terorganisir dengan cukup baik.
Sekte Bunga Persik sendiri begitu luar biasa dengan kombinasi pedangnya bersama dengan Sekte Pedang Tunggal.
Begitupun Sekte Langit Abadi dengan Sekte Awan yang terus menyerang lawan tanpa ampun.
Untuk para Klan dan Sekte Menengah maupun Kecil saling berkerja sama untuk melumpuhkan musuh yang tergolong lemah.
" Tetua, bagaiman ini?" Tanya salah satu murid Sekte Gagak Hitam dengan khawatir.
" Tidak ada pilihan lain, segera pergi!" Ucap tetua Sekte Gagak Hitam mencoba untuk menyelamatkan dirinya.
Melihat anggota Sekte Gagak Hitam mencoba melarikan diri, membuat para Sekte Aliran Hitam lainnya begitu marah.
Bagaimana bisa mereka ingin pergi setelah anggota Sekte Aliran Hitam banyak yang terbunuh.
" Mereka memang selalu menjadi pengecut!" Teriak tetua Sekte Tengkorak dengan marah.
Meski sudah mengetahui jika dirinya tetap bertempur tidak akan selamat, tetapi tetua Sekte Tengkorak tidak akan melarikan diri.
Bagaimana bisa dia kembali setelah salah satu teman dekatnya yaitu, Tetua Tengkorak Merah tewas, bahkan anggota yang di bawanya pun sudah banyak yang tewas.
Kembali pun hanya akan mendapatkan malu dan juga hukuman dari Patriak Sekte.
Tetua Sekte Gagak Hitam segera menjauh dari tempat pertempuran, namun baru saja beberapa ratus meter, dirinya sudah di hadang oleh Patriak Ling Chen.
" Apa kau sudah putus asa? Sehingga pergi begitu saja." Ucap Patriak Ling Chen dengan nada menghina.
" Kalian berasal dari Sekte Aliran Putih tetapi tidak memiliki hati sama sekali!" Teriak Tetua Sekte Gagak Hitam dengan putus asa.
" Oh.. Apakah dirimu sedang mencoba meminta pengampunan?"
Di dalam hatinya, Tetua Sekte Gagak Hitam begitu merasa terhina, namun tidak ada pilihan lain jika ingin tetap hidup.
" Patriak Ling Chen, izinkan aku untuk pergi, aku berjanji akan menjadi lebih baik lagi dan keluar dari Sekte." Tetua Sekte Gagak Hitam memohon dengan raut wajah yang di buat sesedih mungkin.
" Hahahaha... Apa kau kira aku ini bodoh? Aku bahkan sudah banyak mendengar tentang bagaimana liciknya Sekte Gagak Hitam." Patriak Ling Chen tidak ingin tertipu dengan kata-kata Tetua Sekte Gagak Hitam.
Karena dari kabar yang beredar, bagiamana Sekte Gagak Hitam selalu berbuat semena-mena dan juga suka menusuk siapa saja dari belakang.
Bahkan sudah banyak Sekte kecil Aliran Hitam yang menjadi korban kelicikan Sekte Gagak Hitam.
Bagaimana mereka melakukan cara apapun untuk menjadi yang terkuat, maka dari itu Patriak Ling Chen tidak akan mengampuni Tetua Sekte Gagak Hitam.
" Pergilah ke Neraka! " Patriak Ling Chen menghilang dari tempatnya, kemudian segera muncul di samping Tetua Sekte Gagak Hitam.
" Pedang Langit Abadi! "
" Arghhhh..!! Tidak...!!! "
" Boooommmsss......" Tetua Sekte Gagak Hitam terlempar, dengan luka di seluruh tubuhnya.
" Kau tidak layak di berikan pengampunan!" Kemudian Patriak Ling Chen segera mengarahkan ujung pedangnya ke arah bagian dada.
" B*ji..."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Tetua Sekte Gagak Hitam telah tewas terlebih dahulu.
" Hah..!" Patriak Ling Chen menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian segera bergerak kembali menuju pertempuran.
Hingga satu jam kemudian akhirnya pertempuran kini di menangkan oleh Aliansi Sekte Aliran Putih dan Klan yang berada di Kekaisaran Qing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf cuman 1 chapter, karena author lagi kurang enak badan. Insyaallah besok bakal author usahain 2 chapter lagi. 🙏🙏🙏