
Semua orang yang sedang bertarung, segera mengalihkan perhatiannya saat mendengar raungan kesakitan tuan Walikota.
Mereka menatap dengan kaget, saat melihat keadaan tuan Walikota yang begitu memperhatinkan.
" Swushh....." Hingga tidak lama kemudian, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan.
Pemuda yang tidak lain adalah Xu Tian, berdiri di depan Jenderal Kun dengan ekspresi tenang.
Hingga saat melihat para penghianat yang berada di dalam aula istana, kini pancaran matanya menjadi sangat tajam.
" Akhirnya kalian semua menunjukkan jadi diri kalian yang sebenarnya." Ucap Xu Tian dengan menatap ke arah tetua Jun yang kini hanya terdiam.
" Nak, sebaiknya kau jangan mencampuri urusan kami. Pergilah..!!" Ucap Tetua Jun dengan suara tinggi.
Xu Tian tersenyum, menggelangkan kepalanya.
" Apa kau pikir aku orang yang hanya berpangku tangan saat melihat kejadian seperti ini? Harus kalian ingat! Aku bahkan tidak takut sedikitpun dengan kalian!"
" Nak, jangan memancing kemarahan tuanku, atau dirimu tidak akan mampu menahan kemarahannya."
Tetua Jun menggertakan giginya, dirinya berfikir tidak akan mampu mengalahkan Xu Tian.
Maka dari itu, dirinya mencoba mengancam Xu Tian dengan kekuatan yang berada di belakang dirinya.
" Bahkan aku sangat ingin bertemu dengan sosok yang kau panggil tuan itu." Ucap Xu Tian dengan mengangkat tangannya ke atas.
" Swushh..." Tombak berwarna emas muncul, dengan aura yang begitu kuat dan ledakan petir di sekitarnya.
" Namun sebelum itu.." Xu Tian menghentikan kata-katanya, lalu menatap ke arah anggota Sekte Elang Hitam. " Kalian semua harus mati!"
" Tombak Naga Petir! "
Trakk... Trak... Trakkkk..
Gelombang petir yang begitu besar muncul menyelimuti tombak naga.
" Langkah Dewa Naga! " Xu Tian melesat sangat cepat, melebihi kecepatan cahaya.
" Swushh...."
Melihat adanya bahaya yang menghampiri ke arah mereka, anggota Sekte Elang Hitam pun segera membuat perisai pertahanan untuk menghalau serangan tersebut.
" Mati!"
" Dhuaaarrrr....." Namun serangan yang di lancarkan oleh Xu Tian lebih kuat, bahkan perisai yang mereka buat tidak mampu memperlambat sedikit pun serangan tombak yang di baluti petir.
Hingga satu persatu anggota Sekte Elang Hitam terlempar, kemudian berubah menjadi kabut darah.
Melihat hal tersebut, Tetua Jun dan para tetua yang berkhianat pun mulai membasahi diri mereka.
" Oh...tidak, ini sangat mengerikan!" Tetua Jun dan para tetua yang berkhianat membatin dengan lutut bergetar.
" Dhuaaarrrr....."
" Dhuaaarrrr...."
Suara ledakan yang begitu keras terdengar, hingga menarik perhatian para prajurit dan pejalan kaki yang berlalu lalang di sekitar istana kota.
" Swushh...." Xu Tian melesat ke arah Tetua Jun, dengan mengepalkan kedua tangannya.
" Boooommmsss...." Tetua Jun terlempar hingga menghancurkan dinding aula istana.
" Arghh....." Teriaknya kesakitan.
Xu Tian segera menatap ke arah Jenderal Kun.
" Jenderal, aku serahkan penghianat itu kepada dirimu. Untuk yang lainnya, biarkan aku yang menyelesaikan." Ucap Xu Tian memberikan perintah, dengan menunjuk ke arah Tuan Walikota dan Tetua Jun.
" Baik tuan muda.." Jawab Jenderal Kun dengan hormat, kemudian segera melesat menyerang ke arah Tetua Jun dan Tuan Walikota untuk melumpuhkan keduanya.
Xu Tian kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Komandan Ru. " Komandan, siapkan pasukan. Kita akan segera bergerak menuju Sekte Elang Hitam."
" Swushh...." Xu Tian kembali melesat, menyerang para tetua yang menjadi penghianat Kota Chuan, di ikuti tetua yang tidak terlibat dalam penghianat yang di lakukan oleh tuan Walikota.
Hingga tidak lama kemudian, akhirnya para penghianat dan para anggota Sekte Elang Hitam telah tewas terbunuh.
Kini hanya menyisakan dua orang saja, yang tidak lain Tuan Walikota dan Tetua Jun yang kini telah berhasil di lumpuhkan oleh Jenderal Kun.
" Tuan muda.." Ucap Jenderal Kun, yang sedang berjalan ke arah Xu Tian.
Xu Tian membalikkan badannya, kemudian tersenyum hangat menatap Jenderal Kun.
" Jenderal, dan para tetua sekalian mohon maaf karena telah terlambat datang." Ucap Xu Tian dengan ramah.
" Tuan muda, justru tuan muda datang pada waktu yang tepat. Jika saja tuan muda tidak datang, kami semua tidak mengetahui bagaimana nasib kami." Ucap salah satu tetua, menatap Xu Tian dengan hormat serta kagum.
Xu Tian menganggukkan kepala, lalu menatap satu persatu tetua.
" Tuan muda, saya Tetua Hu.." Ucap tetua Hu, lalu memperkenalkan satu persatu tetua lainnya.
Kini Kota Chuan hanya memiliki Jenderal Kun, Komandan Ru, dan beberapa Komandan lainnya.
Sedangkan untuk tetua yang tidak ikut dalam penghianatan yang di lakukan oleh tuan Walikota sendiri hanya tersisa empat orang saja.
" Baiklah... jika begitu pulihkan diri kalian, kita akan berangkat dua jam lagi." Ucap Xu Tian, yang kemudian membagikan pil cidera emas kepada Jenderal Kun.
Jenderal Kun menerimanya, lalu membagikan kepada empat tetua yang lainnya.
" Terima kasih tuan muda..." Ucap mereka semua, kemudian segera mencari tempat untuk memulihkan diri mereka.
Xu Tian kemudian berjalan ke arah Tuan Walikota dan Tetua Jun, yang kini terlihat begitu menyedihkan dengan luka dan darah yang mengotori pakaiannya.
Melihat Xu Tian berjalan ke arahnya, membuat Tuan Walikota dan Tetua Jun sangat ketakutan.
" Tuan muda... ampuni saya.." Tuan Walikota, hal yang sama pun di lakukan oleh Tetua Jun.
Xu Tian menatap tajam keduanya, dengan menggelengkan kepala.
" Apa kalian pantas menerima pengampunan? Bahkan aku masih membiarkan kalian untuk tetap hidup hingga detik ini sudah menjadi kebaikan yang aku berikan kepada kalian!"
" Tap-..."
" Plak... Plak..." Suara tamparan terdengar, yang di ikuti rintihan kesakitan.
" Ayah macam apa yang telah mengorbankan putrinya sendiri demi kepentingan dirinya! Jika kau ingin kuat, maka berusahalah dengan kemampuanmu sendiri!"
" Tuan muda.. saya mengaku salah, mohon tuan muda untuk memberikan satu kesempatan-...."
" Plakkkk..." Suara tamparan kembali terdengar.
" Sudah aku katakan! Jika aku tidak akan mengampuni kalian berdua, meskipun tuan kalian tidak dapat menerimanya sekalipun, maka aku juga akan menghancurkannya!"
" Cihhh.... Kau terlalu sombong!" Ucap Tetua Jun, dengan menatap tajam Xu Tian.
" Sombong? Aku orang yang selalu menempatkan diriku di tempat yang seharusnya. Tidak seperti kalian yang terlalu bodoh dan serakah, hanya demi kekuasaan dan kekuatan, kalian melupakan orang-orang yang seharusnya kalian lindungi."
" Nak...kau memang kuat, tetapi di atas langit masih ada langit." Ucap Tetua Jun, dengan tersenyum tipis.
Xu Tian terdiam setelah mendengar ucapan dari Tetua Jun.
Sedangkan Tetua Jun merasa telah berhasil memprovokasi Xu Tian. " Jika kau ingin keluargamu tetap aman, maka lepaskan kami sekarang juga.." Tetua Jun dengan penuh kemenangan.
Xu Tian tersenyum menatap ke arah Tetua Jun. " Apa yang kau katakan memang benar, namun jika mereka adalah orang-orang seperti kalian. Meski kekuatan yang di milikinya di atas diriku sekalipun, maka aku akan mencari cara untuk menghancurkannya!"
" Kau memang pemuda yang terlalu percaya diri!" Tetua Jun, dengan wajah memerah.
" Aku tidak perduli dengan apa yang kau katakan!" Ucap Xu Tian, kemudian menghancurkan kultivasi milik Tuan Walikota dan Tetua Jun.
" Dhuaaarrrr..."
" Arghh...." Teriak keduanya, meraung kesakitan.