
Tetua Ma yang mendengar ucapan Xu Tian pun menggertakan giginya dengan menatap tajam ke arah Xu Tian.
" Jika begitu." Tetua Ma menatap ke arah pasukannya.
" Gunakan racun terkuat milik kalian semua! Jika kita harus mati, bawa mereka mati bersama kita!" Tetua Ma dengan suara lantang.
Pasukan Sekte Racun yang mendengar hal itu pun sedikit ragu, namun setelah melihat semua yang terjadi, mau tidak mau mereka harus melakukan apa yang di perintahkan oleh Tetua Ma.
" Tunggu apa lagi hah!" Qe Qun menatap tajam pasukannya.
" Baik!" Mereka semua segera mempersiapkan racun terkuat milik mereka.
" Swusshh...., Swusshh...." Energi berwarna hijau, merah dan kuning keluar, kemudian berubah menjadi asap yang cukup pekat.
Xu Tian yang melihat hal itu pun tersenyum dan menganggukkan kepala dengan puas.
" Akhirnya mereka masuk ke dalam jebakanku." Kemudian segera melemparkan kembali api yang ada di tangannya.
Hingga beberapa saat kemudian, saat racun mulai mengganas, Xu Tian segera meminta pasukannya untuk keluar dari dalam formasi.
" Baik!" Jawab Pasukan Naga, yang kemudian bergerak keluar dari formasi.
Tetua Ma yang melihat hal itu pun tidak tinggal diam, dirinya dan beberapa tetua lainnya segera melepaskan serangan ke arah pasukan Naga.
" Swusshh...." Xu Tian langsung bergerak dengan melepaskan Tapak Dewa Naga.
" Dhuaaarrrr....., Dhuaaarrrr......" Tetua yang sedang fokus untuk menyerang pasukan Naga terlempar.
" Arghhhh..... B*jingan!" Teriak Tetua Ma dengan marah.
Xu Tian tidak memperdulikan teriakan Tetua Ma. " Terus bergerak keluar!" Perintah Xu Tian kepada Pasukan Naga.
" Swusshh....., Swusshh....." Satu persatu pasukan Naga akhirnya keluar dari dalam formasi.
Melihat pasukan Naga telah keluar semuanya, Xu Tian segera melesat ke atas langit dengan melewati formasi cincin Naga yang mulai menghilang.
Hingga saat tiba di pembatasan formasi, Xu Tian segera membuat segel tangan.
" Formasi Sangkar Abadi!"
" Swusshh....." Energi berwarna emas kembali muncul, Kemudian membentuk sebuah kubah yang menutupi pasukan Sekte Racun.
Pasukan Naga yang melihat hal itu akhirnya mengerti, bukan hanya bergerak dengan memberikan energi kepada mereka saja, Xu Tian juga ternyata sedang mempersiapkan diri membuat formasi selanjutnya sehingga dia tidak khawatir saat pasukan Naga meninggalkan titik pusat formasi Cincin Naga sebelumnya.
Pasukan Sekte Racun yang melihat hal itu pun mulai putus asa, bukan hanya berada di dalam formasi saja, bahkan saat ini mereka telah mengeluarkan racun terkuat milik mereka semua.
Di tambah dengan api yang sebelumnya di lemparkan oleh Pasukan Naga, maka dengan ini racun milik mereka menjadi lebih ganas lagi.
" Ouh tidak! Ini jebakan." Tetua Ma menggelengkan kepala. " Tidak! ini senjata makan tuan!" Tetua Ma dengan raut wajah yang begitu pasrah.
Qe Qun dan beberapa tetua yang lain pun hanya dapat menyesali apa yang mereka lakukan sebelumnya.
Hingga satu persatu Pasukan Sekte Racun yang sudah putus asa pun terduduk di bawah tanah dengan putus asa. Mereka sudah tidak mampu melakukan apapun lagi.
Andai saja mereka lebih tenang, mungkin mereka tidak akan berada dalam posisi saat ini.
" Siapa sebenarnya dia." Batin Tetua Ma dengan menatap ke atas langit, di mana tempat Xu Tian berada.
Sedangkan Xu Tian yang berada di atas langit segera bergerak ke tempat pasukan Naga.
" Swusshh...."
" Pemimpin.." Pasukan Naga saat Xu Tian tiba di tempat mereka.
Xu Tian menganggukkan kepala. " Pulihkan diri kalian." Xu Tian dengan senyum hangat menatap mereka.
Xu Feng, Xu Han, dan Xu Cang masih berdiri di tempatnya.
" Apa ada yang ingin kalian tanyakan?"
Mereka bertiga menggelengkan kepala.
" Tidak ada saudara." Ucap Xu Feng, dengan tersenyum ke arah Xu Tian.
Di tempat lain.
Bai Luan dan Shang bersaudara yang melihat pertempuran itu pun hanya dapat menggelengkan kepala.
" Sepertinya aku belum dapat mengenali tuan muda secara baik." Shang Gou dengan tersenyum kecut.
" Bukan hanya dirimu saja, bahkan aku yang memiliki tingkat kultivasi lebih tinggi dan memiliki pengalaman lebih banyak tidak dapat menebak apa yang ada di dalam pikiran tuan muda." Bai Luan menimpali dengan tersenyum canggung.
" Hahahaha...." Shang Hai tertawa lepas mendengar ucapan mereka berdua.
" Aku kira hanya diriku yang merasakan apa yang kalian ucapkan sebelumnya."
Awalnya mereka berempat mengira Xu Tian akan membunuh mereka dengan pertempuran yang luar biasa, namun setelah melihat yang terjadi sebelumnya, mereka bahkan tidak dapat berkata-kata lagi dengan rencana yang di buat oleh tuan mudanya.
Bukan pertempuran yang luar biasa dengan teknik-teknik tingkat tinggi, tetapi bagaimana kecerdikan seseorang begitu berperan di dalam pertempuran hingga membuat mereka tidak dapat menebak satu pun arah pertempuran itu sejak awal.
Hal ini juga di rasakan oleh Tuan Walikota beserta orang-orangnya. Melihat pertempuran Xu Tian membuat mereka hanya dapat menahan nafas dengan susah payah.
Bagaimana tidak, Xu Tian bukan hanya menyusun rencana dengan sangat baik, bahkan dia juga masih memikirkan nyawa orang lain dalam pertempuran itu.
Yang membuat mereka semakin kagum, bagaimana Xu Tian melakukan hal yang luar biasa dengan menempa kekuatan tempur pasukannya dengan memposisikan mereka dalam keadaan bahaya, kemudian tiba-tiba pasukannya menjadi begitu bersemangat dengan api yang berkobar di mata mereka tanpa rasa takut sedikitpun.
" Tuan Walikota." Sang Jenderal menyadarkan Tuan Walikota.
" Jenderal, ada apa?" Dengan menatap ke arah Jenderal.
" Bukankah sebaiknya kita menemui tuan muda itu dan berterima kasih kepadanya?"
" Kau benar." Kemudian segera meminta orang-orangnya untuk ikut bersamanya menuju ke arah Xu Tian.
Di Dalam Formasi.
Di dalam formasi, kini pasukan Sekte Racun satu persatu mulai kehilangan nyawanya.
Terlihat dengan bagian tubuh mereka yang menghitam, dan sebagian lagi memuntahkan darah segar dari mulut, mata, dan hidung serta kuping secara terus menerus.
" Tetua Ma." Qe Qun dengan lemah.
" Ini sudah semua sudah berakhir, kita hanya dapat melaporkan hal ini kepada Patriak." Tetua Ma dengan duduk di bawah tanah, kemudian menutup kembali matanya.
Qe Qun dan tetua yang bersamanya pun hampir menangis mendengar ucapan Tetua Ma, dengan sekuat tenaga dirinya berteriak untuk melepaskan kemarahan yang menyelimuti hatinya.
" Mengapa! Mengapa! Selalu saja seperti ini!" Qe Qun dengan begitu menyedihkan.
" Tuan muda." Salah satu Tetua Mendekatinya.
" Tetua Ye, mengapa jadi seperti ini?"
" Tuan muda, jalan yang kita pilih sejak awal sudah salah." Tetua itu menasehati dengan begitu sedih melihat keadaan Qe Qun.
" Tetua benar, semoga saja setelah ini kita dapat bertemu di kehidupan selanjutnya dan membalaskan rasa sakit ini!" Qe Qun dengan menerawang jauh ke masa lalu.
" Tuan muda tidak perlu menyalahkan diri tuan muda, aku yakin mereka juga akan mengalami apa yang kita alami saat ini."
" Semoga saja." Qe Qun yang kemudian duduk di bawah tanah menunggu kematian menjemputnya.