Lahirnya Penguasa Alam

Lahirnya Penguasa Alam
Ch147-Jin Kai


Keesokan harinya.


Xu Tian yang saat ini sedang berkultivasi di istana naga pun segera membuka kedua matanya.


Dirinya merasa jika ada orang yang sedang mengawasi kamarnya dan beberapa aura lain yang selalu berada di sekitarnya.


Xu Tian tersenyum. " Sepertinya mereka telah memberitahukan masalah yang sebelumnya terjadi kepada tuan wali kota."


Xu Tian memang mengancam mereka, tetapi di balik tindakan yang di lakukan oleh Xu Tian sebelumnya, karena Xu Tian sedang menguji mereka.


Dia merasa senang, karena masih ada orang yang lebih mementingkan keselamatan banyak orang, di bandingkan dirinya sendiri.


Mungkin bagi mereka yang tidak memiliki keberanian dan sikap tegas, akan berfikir ulang untuk mengatakan apa yang mereka lihat.


Maka dari itu, Xu Tian merasa senang. Sejak awal saja dirinya pasti akan ikut campur dengan masalah yang sedang di hadapi oleh kota ini, bagaimanapun Xu Tian tidak akan pernah mendiamkan seseorang yang memiliki kekuasaan menindas mereka yang lemah.


Xu Tian pun segera keluar dari dalam dunia jiwa.


" Swushh..." Xu Tian muncul di dalam kamar, lalu segera membersihkan dirinya terlebih dulu, sebelum melanjutkan rencana yang sudah di buatnya.


*********


Di tempat lain.


Terlihat beberapa orang yang terus saja memperhatikan pintu kamar Xu Tian.


" Apa kau yakin dia masih ada di dalam?" Tanya salah satu dari mereka.


" Saya yakin Jenderal, dari apa yang di katakan oleh pelayan, jika pemuda itu belum meninggalkan penginapan ini." Ucap pemuda yang sebelumnya menyaksikan pertarungan Xu Tian dengan anggota Sekte Elang Hitam.


" Apa kau yakin jika pemuda itu memiliki kemampuan yang tinggi? Apa kau tidak salah melihatnya?"


" Komandan, aku sangat yakin, bahkan aku melihatnya dengan kedua mataku secara langsung bagaimana mereka membunuh anggota Sekte Elang Hitam tanpa menyisakan tubuhnya."


" Jend-"


" Komandan Ru, sebaiknya kita tetap tenang. Tidak ada salahnya kita mencoba demi keselamatan banyak orang." Ucap sang Jenderal, memotong ucapan komandan yang sejak awal tidak mempercayai apa yang di katakan oleh pemuda yang sebelumnya melihat pertarungan Xu Tian.


" Baik..."


Mereka bertiga pun kemudian kembali fokus memperhatikan kamar yang di tempati oleh Xu Tian.


*********


Di dalam ruangan khusus manager penginapan, terlihat dua wanita yang sedang berada di dalam ruangan tersebut.


" Nona, sepertinya tuan wali kota sudah melakukan pergerakan. Apa yang harus kita lakukan?"


" Tetap awasi mereka, aku tidak ingin orang-orang yang di perintahkan oleh tuan wali kota membuat masalah dengan pemuda itu."


" Nona benar, apalagi dengan sifat Komandan Ru yang tidak menyukai pemuda yang jenius."


" Itu lah tugasmu, jangan sampai kita memiliki musuh lainnya."


" Baik..."


*********


Satu jam terlewati, namun belum ada tanda-tanda Xu Tian akan keluar dari dalam kamarnya.


" Jenderal, sudah aku katakan jika apa yang di katakan olehnya hanya omong kosong saja!" Ucap Komandan Ru dengan kesal.


" Komandan, aku berani bersumpah, jika apa yang aku katakan benar. Bahkan aku berani mempertaruhkan nayawaku sendiri jika aku berbohong."


" Cihh...., bahkan sudah sejak malam kita berada di tempat ini, namun dia belum juga keluar."


Namun saat mereka bertiga sedang berdebat, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang.


Sang Jenderal dan Komandan pun merasa kaget, sedangkan pemuda yang sebelumnya mengenali suara Xu Tian langsung merasa tubuhnya begitu berat dan sulit untuk di gerakan.


Bahkan hanya sekedar bernafas saja dirinya begitu sulit, hingga saat dirinya merasa begitu takut, tiba-tiba ada yang memegang pundaknya.


" Tenanglah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk denganmu." Ucap sebuah suara, yang tidak lain adalah Xu Tian.


Pemuda itu pun segera berbalik badan, Kemudian ingin bersujud. Namun sebelum dia melakukan hal itu, tiba-tiba ada sebuah energi yang menahan tubuhnya agar tidak melakukan hal itu.


" Jika kau bersujud di depanku, maka kedua tanganmu akan terlepas dari tubuhmu."


Pemuda itu segera menegakkan badannya.


" Tuan muda, maafkan aku.." Ucap pemuda itu dengan suara bergetar.


Sedangkan sang Jenderal dan Komandan hanya menatap bingung.


" Apa dia pemuda yang di maksud." Batin Jenderal, dengan menatap Xu Tian.


Xu Tian tersenyum ramah, " Kau tidak salah, jadi tidak perlu meminta maaf dan melakukan hal yang tidak sepantasnya di lakukan. Aku pun tidak menyukai orang yang bersujud di hadapanku. Karena hanya kedua orang tuamu lah yang pantas mendapatkan hal itu."


Pemuda itu menatap wajah Xu Tian dengan mata berkaca-kaca, dia begitu kagum dengan pemuda yang saat ini berada di hadapannya.


Bagaimana pemuda yang di anggapnya begitu menakutkan, ternyata memiliki hati yang begitu bersih dan pemikiran yang sangat luas.


" Jika tuan muda mengatakan hal itu, maka anggap saja tuan muda menjadi pengganti kedua orang tuaku yang telah tiada." Ucap pemuda itu yang langsung bersujud.


Xu Tian sendiri merasa begitu kaget, dia menatap punggung pemuda yang saat ini sedang bersujud dengan perasaan campur aduk.


Seakan ada beban yang begitu besar menghantam dirinya, apa lagi saat mendengar ucapan pemuda itu, hatinya merasa begitu sakit.


" Apa begitu banyak orang yang telah kehilangan keluarganya? di mana pun aku melangkahkan kakiku, selalu saja menemukan hal seperti ini." Xu Tian membatin dengan sedih.


Xu Tian tidak mengetahui, mengapa begitu banyak anak-anak yang harus kehilangan kedua orang tuanya saat mereka masih membutuhkan kasih sayang dari mereka.


Bahkan saat seseorang sudah beranjak dewasa pun masih membutuhkan kasih sayang dari orang tua, entah mereka berumur ratusan tahun sekalipun.


Menjalani kehidupan tanpa mereka sama saja kita terbang tinggi, namun tidak mengetahui apa yang harus kita tuju dan banggakan.


Menurut Xu Tian, segala sesuatu yang menjadi impian serta tujuan dirinya, akan terasa begitu indah jika dia mampu mencapai hal itu semua bersama dengan orang-orang tersayang nya, terutama kedua orang tuanya.


" Bangunlah..." Ucap Xu Tian dengan ramah, lalu membantu pemuda tersebut untuk bangkit kembali.


" Siapa namamu?" Tanya Xu Tian dengan tersenyum hangat.


" Tuan muda, nama hamba Jin Kai.." Ucap pemuda tersebut dengan hormat.


" Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan sebelumnya?"


" Hamba yakin tuan muda, hamba berjanji tidak akan pernah mengkhianati tuan muda dan selalu mematuhi semua perintah tuan muda, sekalipun harus mengorbankan nyawa hamba." Ucap Jin Kai dengan tegas.


" Bagus..aku menyukai sifat dan kepribadian yang kau miliki, namun kita harus menunda obrolan kita terlebih dulu." Kemudian Xu Tian mengalihkan pandangannya ke arah sang Jenderal dan Komandan yang hanya berdiam diri dengan ekspresi kaget dan penuh tanda tanya.


" Karena ada sesuatu yang lebih penting untuk kita bahas sepertinya." Lanjut Xu Tian dengan tersenyum tipis.


Jin Kai pun segera sadar, dirinya melupakan kehadiran Jenderal dan Komandan yang juga berada di tempat itu.


" Jenderal, Komandan..., pemuda yang sebelumnya aku ceritakan kepada kalian, adalah tuan muda yang saat ini berada di hadapan kita." Ucap Jin Kai, dengan menatap ke arah Xu Tian.


Sang Jenderal Kemudian segera memperkenalkan diri. " Tuan muda, aku Jenderal Kun, dan dia Komandan Ru. Kami berdua di perintahkan oleh tuan wali kota untuk menemui tuan muda."


" Sebuah kehormatan bagiku, karena dapat mengenal seorang Jenderal dan Komandan kota Chuan. Aku Xu Tian..." Ucapnya memperkenalkan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Up tergantung mood yak. tapi bakal aku usahain buat up lebih dari 2 chapter. See You..