
Pria dewasa itu menatap ke arah Xu Tian.
" Apa kau akan percaya jika aku mengatakan, bahwa aku putra kedua dari Kaisar Benua Selatan?"
Xu Tian menganggukkan kepala. " Tentu saja, mengapa tidak." Ucapnya dengan tersenyum.
Pria dewasa itu tersenyum. " Aku Meng Du, putra kedua Kaisar Meng Li Kai."
" Senior Du, aku Xu Tian," Xu Tian memperkenalkan diri dengan hormat setelah mengetahui identitas pria dewasa di hadapannya.
Meng Du menganggukkan kepala, lalu menanyakan mengapa Xu Tian bisa berada di tempat ini.
" Hanya kebetulan, aku juga tidak menyangka ada tempat seperti ini di sini. Jika aku boleh tau, sudah berapa lama senior Du berada di tempat ini?"
Meng Du terdiam mencoba mengingat sudah berapa lama dia di sini. Hingga beberapa saat kemudian, Meng Du menatap kembali ke arah Xu Tian.
" Mungkin sudah lebih dari dua tahun."
" Mengapa senior Du bisa berada di tempat ini?"
" Ini semua terjadi setelah penghianatan yang di lakukan oleh orang yang aku sayangi. Dia menjebakku. Awalnya aku dan dia saling mencintai tanpa rasa curiga sedikitpun. Namun, setiap kali aku menanyakan tentang identitasnya, dia selalu menghindar seakan tidak mau menjelaskan. Karena rasa penasaran, aku mencoba mencari taunya. Hingga akhirnya aku mengetahui jika dia putri dari Patriak Sekte Racun yang berniat buruk terhadap kekaisaran Meng."
Meng Du menghentikan penjelasannya dengan tersenyum miris. " Bodohnya aku yang masih berhubungan dengannya. Awalnya aku mengira mereka tidak mengetahui tentang penyelidikan yang aku lakukan. Namun semua itu salah, mereka dengan sengaja meminta wanita penghianat itu untuk membawaku ke suatu tempat, dan jadilah seperti ini aku sekarang. Tertangkap dan menjadi tawanan selama dua tahun tanpa dapat berbuat apa-apa."
Xu Tian dengan tenang terus mendengarkan cerita Meng Du. Hingga beberapa saat kemudian, Meng Du telah menyelesaikan ceritanya.
" Seharusnya aku mendengarkan nasehat dari kakakku sendiri. Hubungan kita menjadi renggang setelah kehadiran wanita penghianat itu. Aku tidak mengetahui bagaimana keadaan mereka, aku malu untuk menunjukkan diri di hadapan mereka." Ucap Meng Du dengan meneteskan air mata.
" Senior Du, apa senior benar-benar tidak ingin memperbaiki itu semua? Saat ini senior Du memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Bukan hanya itu saja, keselamatan mereka benar-benar terancam. Apa senior akan tetap diam dan menunggu kematian tiba tanpa dapat melakukan apapun?"
Meng Du menggelengkan kepala. " Tidak. Aku bahkan pernah berniat jahat terhadap ayahku sendiri. Aku benar-benar di butakan oleh cinta. Aku tidak berguna, jadi untuk apa aku tetap hidup."
" Tidak ada kehidupan satu orang pun yang tidak memiliki masalah baik kecil maupun besar. sebenarnya hal yang biasa kita memiliki rasa sedih dan penyesalan dalam hidup. Orang lemah akan menjadi kuat jika dia mau belajar, begitu juga dengan orang yang di anggap tidak berguna. Ini lah hidup, kita tidak dapat mengetahui apa yang akan terjadi, tugas kita hanya mempersiapkan diri. Yang patah tumbuh, yang hilang berganti." Xu Tian menghentikan kata-katanya dengan menatap ke arah Meng Du.
" Setiap orang memiliki dua pilihan untuk memperbaiki atau merusaknya. Jika senior memilih merusaknya, bukan hanya senior saja yang merasa tidak berguna. Mereka juga akan merasa tidak berguna, mereka akan di pandang sebelah mata oleh orang lain atas apa yang telah dilakukan oleh senior."
Meng Du terdiam mencoba mencerna kata-kata Xu Tian.
" Apa benar, mereka juga merasakan apa yang aku rasakan." Batin Senior Meng Du
" Senior tau, kesalahan satu orang di sebuah kelompok, akan berimbas kepada yang lainnya. Sama halnya yang dilakukan oleh senior saat ini." Xu Tian tersenyum menatap ke arah Meng Du.
" Sekarang pilihan ada pada senior. Pergi dari sini kemudian memperbaikinya, atau tetap berada di tempat ini menunggu kematian datang." Ucap Xu Tian yang kemudian membalikkan badannya.
" Senang dapat bertemu dengan Senior Du sebelum kematian anda tiba." Xu Tian lalu melangkah kakinya berniat meninggalkan Meng Du.
Xu Tian benar-benar membenci orang-orang seperti Meng Du yang dengan mudahnya menyerah dengan keadaan.
" Setidaknya aku telah mencoba menolongnya." Batin Xu Tian dengan tersenyum kecut.
Meng Du sendiri masih terdiam sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga saat melihat Xu Tian yang hampir menaiki tangga, Meng Du segera memanggil nya.
" Junior Tian..." Panggil Meng Du dengan suara pelan.
" Aku harap Junior Tian mau membantuku." Ucap Meng Du yang kini telah mengubah nama panggilannya.
Xu Tian tersenyum dengan senang. Hal ini dia lakukan bukan tanpa sebab. Dengan membantu Meng Du, artinya dia bisa memanfaatkan ini untuk berkerja sama dengan pihak Kekaisaran secara langsung.
Dengan bantuan pihak Kekaisaran, akan mempermudah rencana selanjutnya.
" Aku tidak dapat berjanji, itu semua tergantung senior Meng Du. Aku hanya membantu sebisaku saja." Ucap Xu Tian dengan tenang
" Itu sudah lebih dari cukup."
Xu Tian kemudian membalikkan badannya, dia mengeluarkan lima pil dari dalam cincin penyimpanan.
" Pulihkan diri senior terlebih dulu, setelah itu kita pergi dari tempat ini."
Meng Du menerima pil tersebut, lalu segera menelannya.
*********
Benua Barat.
Di hutan pinggiran kota yang ada di Benua Barat, terlihat pasukan besar yang sedang berkumpul di tempat tersebut.
Tiga pemuda yang bertindak sebagai ketua, masih duduk dengan tenang, tetapi tidak dengan pasukan yang dia bawa.
" Ketua Mo Lin, kapan kita akan melakukan penyerangan?" Tanya salah satu pasukan.
" Kita tunggu komandan tiba, setelah itu kita akan langsung menyerang mereka." Jawab Mo Lin dengan santai.
Pasukan itu sendiri berjumlah sekitar lima belas ribu, masing-masing dari mereka memiliki tingkat kultivasi Nirwana puncak hingga Mahayana. sedangkan ketiga ketua berada pada ranah Saint awal hingga menengah.
Pasukan besar itu sendiri tidak lain pasukan Istana Xufelong yang akan melakukan penyerangan ke markas Aliansi sekte aliran hitam di Benua Utara.
Saat mereka semua sedang saling berbincang kecil, tiba-tiba angin di sekitarnya berhembus dengan kencang.
Hingga tidak lama kemudian, terlihat tiga pemuda bersama dua orang pria lainnya.
Pasukan Istana Xufelong yang melihat kedatangan mereka segera memberikan hormat.
Terlihat tiga pemuda yang datang adalah Xu Cang, Xu Feng, Xu Han, bersama dengan Tetua Xu Hou ayah dari Xu Han yang datang menemani Bai Mo.
Tetua Xu Hou dan Bai Mo yang sebelumnya mendapatkan perintah dari Xu Tian, telah tiba kemaren.
" Perkenalkan, dia adalah Bai Mo." Ucap Xu Feng memperkenalkan Bai Mo kepada pasukannya.
Mereka semua mulai bertanya-tanya tentang identitas Bai Mo, karena ini awal mereka melihatnya.
Bai Mo sendiri mengenalkan dirinya sebagai bawahan dari Xu Tian. Setelah mendengar hal itu, pasukan Istana Xufelong kini mengerti, dan meyakini jika Bai Mo memiliki kekuatan yang cukup tinggi.
Xu Feng terbang ke atas langit, pandangan matanya dengan tenang menatap pasukan di bawahnya.
" Bersiaplah!" Ucapnya dengan suara yang menggema ke seluruh tempat.