Lahirnya Penguasa Alam

Lahirnya Penguasa Alam
Bab 259. Berakhirnya Pertempuran Di Benua Barat


Benua Barat.


Ledakan keras terus terjadi di tempat pertempuran antara Pasukan Istana Xufelong yang di pimpin Xu Hou bersama Xu Han, Xu Cang, Xu Feng dan Bai Mo melawan Pasukan Aliansi sekte aliran hitam yang ada di Benua Barat.


Tempat itu terlihat sangat berantakan di berbagai sudut pertempuran, terlihat barak Aliansi sekte aliran hitam yang sebelumnya berdiri dengan megah sekarang hancur berkeping-keping.


Pasukan Istana Xufelong sendiri begitu mendominasi pertempuran tersebut, terlihat dari banyaknya pasukan Aliansi sekte aliran hitam yang telah tewas menjadi daging-daging kecil maupun kepala tanpa badan.


Pertempuran puncak kali ini sedang terjadi antara Patriak Sekte bersama Tetua Agung Aliansi sekte aliran hitam melawan Xu Hou, Bai Mo dan Komandan Istana Xufelong.


Bertarung secara total dengan kekuatan penuh yang di miliki, membuat kedua kelompok petinggi itu saling jual beli serangan.


" Swusshh....." Bai Mo yang sebelumnya bermain-main dengan Patriak Sekte Kalajengking, kini mulai serius dengan melepaskan serangan secara terus menerus ke arahnya.


" Dhuaaarrrr...." Patriak Sekte Kalajengking merah terlempar hingga puluhan meter.


" Swusshh...." Bai Mo kembali muncul di belakang Patriak Sekte Kalajengking merah, dengan mengepalkan tinjunya, Bai Mo mengarahkan pada bagian kepala.


" Booms....." Kepala Patriak Sekte Kalajengking merah hancur menjadi kabut darah.


Melihat salah satu Patriak dari pihak Aliansi yang tewas, membuat pasukan sekte aliran hitam yang sedang bertarung melawan pasukan Istana Xufelong menjadi putus asa.


" Benar-benar sial! Rencana awal kita yang akan menyerang mereka, namun sekarang kita yang di serang, bahkan hanya tinggal menunggu giliran kita saja untuk mati!" Teriak salah satu murid.


" Dan saat ini giliran kau!" Ucap sebuah suara yang langsung menebas kepala murid Sekte aliran hitam.


Melihat rekannya tewas, membuat murid lainnya begitu putus asa dengan keadaan nya saat ini.


Pasukan Istana Xufelong yang melihat hal itu, segera meningkatkan serangan dengan melepaskan serangan Tapak maupun mengayunkan senjata miliknya.


Di sisi lain.


Kombinasi serangan yang di lakukan oleh Xu Feng, Xu Han, dan Xu Cang benar-benar merepotkan Tetua Agung Sekte aliran hitam.


" Swusshh...." Ketiganya melesat dengan kecepatan penuh membentuk formasi berbentuk segitiga.


" Dhuaaarrrr...." Dari dalam formasi melesat berbagai teknik tingkat tinggi yang langsung menghantam tubuh para tetua agung.


" Kalian benar-benar lemah!" Teriak Xu Han yang langsung keluar dari formasi dengan menggenggam pedang di tangannya.


" Swusshh...." Xu Feng dan Xu Cang mengikuti Xu Han.


" Dhuaaarrrr..."


" Booms...."


Sekali lagi kerja sama yang di lakukan mereka benar-benar membuat para tetua agung tidak dapat melakukan perlawanan. Di saat Xu Han menyerang, maka Xu Cang akan ikut melepaskan serangan. Sedangkan Xu Feng sendiri bertindak sebagai algojo atau dewa kematian yang akan merenggut nyawa mereka dengan serangan tombak miliknya.


Hingga tidak lama kemudian, terdengar ledakan keras yang menggetarkan tanah di bawahnya dengan hebat.


" Swusshh..." Terlihat Bai Mo yang melepaskan serangan secara terus menerus membuat tempat itu menjadi tempat ladang pembantaian.


Pertempuran terus terjadi, hingga satu jam kemudian, terlihat pihak Aliansi sekte aliran hitam yang kini telah hancur menjadi kabut darah tanpa menyisakan satupun.


" Swusshh...." Bai Mo, Xu Hou, Xu Han, Xu Cang, dan Xu Feng berkumpul kembali.


" Sebaiknya kita segera membersihkan jejak pertempuran di tempat ini. Jangan sampai pertempuran ini di ketahui oleh pihak luar." Ucap Xu Hou menatap mereka semua.


" Baik."


" Swusshh...." Xu Han, Xu Cang, dan Xu Feng segera memimpin pasukan Istana Xufelong untuk membereskan tempat tersebut.


Bai Mo dan Tetua Xu Hou sendiri segera kembali ke markas Istana Xufelong yang ada di Benua Barat.


Namun, sebelum itu mereka memberikan kabar terlebih dahulu kepada Feng Huang untuk menjelaskan situasi yang ada di Benua Barat.


********


Benua Selatan.


Dunia Jiwa.


Xu Tian yang saat ini sedang mengawasi Qing Ling, Xu Mei, dan Han Zishu berlatih, segera memeriksa cincin penyimpanan nya yang bergetar.


" Mereka melakukan dengan baik. Saat ini giliran Benua Selatan." Ucap Xu Tian yang kemudian pergi keluar dari Istana Langit.


Di dalam kamar.


" Swusshh...." Tubuh Xu Tian muncul di dalam kamar.


" Sudah hampir pagi, sebaiknya aku segera mempersiapkan diri."


Xu Tian kemudian keluar dari penginapan, dia berjalan ke arah kamar Meng Du.


Saat Xu Tian baru saja ingin mengetuk pintu kamar Meng Du, datang seorang pelayan yang mengatakan jika orang yang ada di dalam kamar sudah pergi sejak tadi malam.


" Tuan muda, tuan yang berada di dalam kamar sudah meninggalkan penginapan. Dia menitipkan ini untuk di berikan kepada tuan muda." Ucap pelayan yang kemudian memberikan secarik kertas.


Xu Tian menerimanya. " Terima kasih." Ucap Xu Tian yang kemudian menghilang dari tempatnya.


" Swusshh...." Xu Tian muncul atas langit penginapan, matanya yang tenang mencoba mengawasi tempat di sekitarnya.


" Kemana senior Meng Du pergi." Batin Xu Tian dengan membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.


Xu Tian merasa khawatir dengan keadaan Meng Du, meski dia hampir pulih seratus persen, namun Xu Tian mengerti jika saat ini identitas nya tidak terlalu banyak di ketahui di kota ini.


Beberapa saat kemudian, Xu Tian membakar kertas tersebut. " Aku harus segera menuju Istana Kekaisaran."


" Swusshh...." Xu Tian melesat dengan kecepatan tinggi menuju pusat kota di mana Istana Kekaisaran Benua Selatan berada.


*******


Di tempat lain.


Sekte Racun.


Di dalam sebuah ruangan, terlihat dua pria paruh baya yang sedang duduk saling berhadapan.


Terlihat raut wajah cemas yang terpancar dari wajah keduanya.


" Patriak, apa dia sudah kembali?" Tanya Tetua agung sekte racun.


Patriak Sekte Racun menggelangkan kepala. " Sepertinya kita akan menunda penyerangan."


" Tetapi Patriak, saat ini waktu yang tepat untuk kita mulai membuat kekacauan secara besar-besaran."


" Apa yang di katakan Tetua Agung benar Hanya saja, kita akan bergerak jika dia memberikan perintah. Tetua agung tau sendiri bagaimana sifat dia yang akan marah jika kita tidak mematuhi peraturan nya."


" Patriak Benar."


*******


Di tempat lain.


" Swusshh...." Kilatan cahaya melesat dengan kecepatan tinggi.


Bukan hanya satu saja, bahkan di belakangnya terlihat puluhan cahaya yang melesat dengan kecepatan sedang.


Saat ini, Feng Louzhi sedang membawa tahanan yang sebelumnya dia dan Xu Tian selamatkan bersama pasukan Istana Xufelong.


" Mereka sangat lambat." Kesal Feng Louzhi yang sudah tidak sabar untuk menemui Xu Tian kembali.


Saat Feng Louzhi sedang menahan kekesalannya, terlihat Long Hei yang tiba-tiba berada di sampingnya.


" Kau bisa pergi menyusul Tuan muda sekarang, biar aku yang mengurus sisanya." Ucap Long Hei dengan tersenyum.


Feng Louzhi tersenyum senang. " Kau memang selalu dapat di andalkan."


" Cih..." Long Hei mendengus kesal mendengar ucapan Feng Louzhi.


" Baik. Aku pergi sekarang." Ucap Feng Louzhi yang kemudian menambahkan kecepatannya.


" Swusshh....."