Lahirnya Penguasa Alam

Lahirnya Penguasa Alam
Ch191-Menyerang Pasukan Klan Rong


Di tempat lain.


Saat ini di bagian Barat, Timur, dan Selatan gerbang ibu kota kekaisaran Bing, terlihat pasukan besar yang begitu kaget saat merasakan hawa dingin di sekitarnya tiba-tiba menurun.


" Tetua, apa yang terjadi?" Ucap salah satu dari mereka, bertanya dengan tetua yang memimpin pasukan di bagian barat.


Tetua itu pun menggelangkan kepala. " Aku juga tidak mengetahui dengan pasti." Ucapnya dengan lemah, karena sedari tadi tidak ada kabar untuk melakukan penyerangan di ibu kota.


" Hais... apa yang sebenarnya terjadi, bahkan Tetua agung tidak memberikan kabar!" Ucap pemuda dengan kesal.


" Tenanglah, mungkin saat ini Patriak masih mencari waktu yang tepat." Tetua mencoba menenangkan semua orang.


Mereka semua kemudian terdiam tanpa melakukan apapun.


Begitupun di bagian Selatan dan timur yang merasakan hal yang sama, namun salah satu dari mereka seperti menyadari jika telah terjadi sesuatu pada formasi ibu kota.


" Tetua."


Tetua yang di panggil pun mengalihkan pandangannya.


" Ada apa?"


" Lihatlah, aku merasakan jika telah terjadi sesuatu yang tidak beres." Ucapnya dengan menunjuk ke salah satu pohon yang tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.


Tetua dan semua orang yang mendengar hal itu pun segera mengikuti arah yang di tunjukan oleh salah satu pasukannya.


Setelah beberapa saat, tetua itu dapat merasakan sesuatu yang aneh pada pohon itu, namun dirinya belum mengetahui dengan pasti.


" Entahlah.." Tetua itu menggelengkan kepala, dia hanya merasa aneh saja namun tidak dapat mengetahui apa yang sebenarnya ada di pohon tersebut.


Yang tidak mereka ketahui, bahwa fenomena yang terjadi sebelumnya hanya dapat di lihat dari dalam ibu kota.


Maka dari itu pasukan yang bersiap menyerang ibu kota tidak dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Bukan hanya itu saja, karena Formasi yang di pasang oleh Xu Tian juga tidak dapat di tembus melalui batu komunikasi. Hal ini membuat mereka tidak dapat memberikan kabar satu sama lain untuk melakukan pergerakan.


***********


Xu Tian dan Bai Luan yang sedang menuju ke ibu kota pun akhirnya tiba. Dengan segera Xu Tian meminta Shang Hai, Shang Gou, dan Shang Lun untuk bersiap menuju ke arah selatan.


Sedangkan Xu Tian akan pergi menuju ke arah timur, Bai Luan ke arah Barat agar lebih menghemat waktu.


Karena setelah ini Xu Tian akan menemui Kaisar Bing Qing sebelum dirinya melakukan rencana selanjutnya di benua Utara ini.


Xu Tian dan Bai Luan segera berpisah menuju tempat mereka masing-masing.


Begitupun Shang Hai, Shang Gou, dan Shang Lun yang mendapatkan kabar dari Xu Tian. Mereka bertiga segera menuju ke arah selatan sesuai dengan perintah Xu Tian sebelumnya.


*********


Istana kekaisaran.


Kini Jenderal yang sebelumnya bertemu dengan Bai Luan sedang menghadap Kaisar Bing Qing.


Di dalam ruangan juga terdapat Jenderal besar dan Leluhur Bing.


" Bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengannya kembali?" Tanya Kaisar Bing Qing, kepada sang Jenderal.


" Mohon maaf yang mulia, saya tidak dapat menemukannya." Sang Jenderal dengan hormat.


" Hais... kemana dia sebenarnya." Kaisar Bing Qing dengan memijat pelipisnya.


Waktu pun sudah hampir pagi, tapi keadaan ibu kota masih terlihat begitu ramai.


" Sebaiknya kau beristirahat, biar aku yang akan menunggu di sini." Ucap Leluhur Bing, karena sudah beberapa hari ini Kaisar Bing Qing tidak tidur.


Terlihat dari wajah yang kelelahan dan juga stres akibat memikirkan masalah Ibu kota.


" Tap-..."


" Istirahatlah, jangan memaksakan diri." Leluhur Bing memotong ucapan Kaisar Bing Qing dengan tegas.


Kaisar Bing Qing pun menganggukan kepala, kemudian segera menuju kamarnya untuk beristirahat.


" Tetap awasi ibu kota, jika terjadi pergerakan yang mencurigakan segera laporkan kepadaku. Dan ingat, siapapun yang memberontak lakukan dengan cara kalian. Jangan mengecewakan ku!" Leluhur Bing memberikan tugas.


" Baik.." Kemudian keduanya segera pergi dari ruangan untuk melaksanakan perintah.


Leluhur Bing kemudian menutup kedua matanya untuk berkultivasi.


************


Di Gerbang Timur.


Cahaya keemasan melesat dengan kecepatan tinggi.


" Swusshh...." Xu Tian tiba di atas pasukan yang berbaris rapih di bawahnya.


" Sepertinya mereka masih belum mengetahuinya." Ucap pelan, dengan tersenyum tipis.


" Swusshh...." Xu Tian menghilang dari tempatnya, kemudian muncul di tengah-tengah pasukan dengan menghilangkan auranya agar mereka tidak mengetahuinya.


" Permainan di mulai." Dengan tersenyum, kemudian membuat ledakan.


" Dhuaaarrrr....., Dhuaaarrrr...." Ledakan terjadi di tengah-tengah pasukan itu.


" Serangan!" Teriak mereka, yang kemudian segera mengangkat senjata untuk bersiap-siap.


Satu persatu pasukan itu memisahkan diri dengan menjaga jarak dari pusat ledakan. Namun ada beberapa orang yang harus terkena ledakan dan melukainya.


Tetua yang menjadi pemimpin pasukan itu pun segera meminta semua orang membuat formasi.


Mendengar perintah itu, semuanya segera berbaris membuat formasi yang sebelumnya mereka persiapkan jika terjadi sesuatu saat penyerangan di ibu kota.


Semua orang menatap ke arah asap yang menutupi pandangan mereka.


Hingga saat asap itu menghilang, terlihat seorang pemuda menggunakan pakaian berwarna putih berdiri dengan tenang.


" B*jingan! Hanya seorang semut berani memasuki kandang harimau!" Teriak pemuda dengan marah dan arogan menatap remeh Xu Tian.


Xu Tian dengan tenang menunjuk ke arah pemuda itu, kemudian dari ujung telunjuknya keluar petir sebesar kelereng.


" Sampah!" Ucap Xu Tian, yang kemudian melesatkan serangan petir itu.


" Dhuaaarrrr...." Kecepatan serangan Xu Tian tidak dapat di ikuti oleh pandangan semua orang, hingga tiba-tiba pemuda yang sebelumnya berkata arogan kepada Xu Tian meledak.


" Hanya tingkat Kaisar tetapi sudah menganggap diri begitu tinggi!" Ucap Xu Tian dengan melepaskan aura naga miliknya.


Mereka semua segera merasakan tekanan yang begitu kuat, tetua yang memimpin pasukan mencoba menahan aura milik Xu Tian.


Dengan susah payah tetua itu berkata kepada Xu Tian. " Nak, siapa dirimu? Kami tidak mengganggumu." Ucap Tetua dengan nafas yang mulai berat akibat tekanan dari aura naga.


" Katakan padaku, dari Klan mana kalian?"


" Nak, kami dari Klan Rong." Ucap tetua dengan seramah mungkin. Di dalam hatinya dia merasa begitu terhina oleh perlakuan Xu Tian.


Di Klan Rong, semua orang akan menghargai dirinya, namun di hadapan Xu Tian dia harus bersikap sopan dan merendahkan dirinya sendiri.


Xu Tian menganggukkan kepala, dengan tersenyum tipis.


" Jika begitu, maka hari ini Klan Rong akan menghilang!"


" Swusshh...." Xu Tian menghilang dari tempatnya.


" Arghhhh...., Arghhhh..." Teriak kesakitan terdengar begitu memilukan.


Tetua yang melihat apa yang di lakukan Xu Tian pun mencoba meminta bantuan kepada pasukan lainya yang berada di tempat lain.


" Semoga saja ini bukan akhir dari hidupku." Ucap tetua, yang kemudian mundur beberapa langkah dan meminta pasukannya untuk menyerang Xu Tian.


Xu Tian yang sedang bergerak pun terus memperhatikan pergerakan tetua itu.


" Begitu miris perilaku seorang tetua yang memimpin pasukannya sendiri. Demi keselamatan nyawanya dia harus mengorbankan banyak orang!"