Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 963. Putus Asa


"Terima kasih."


Veronica mengungkapkan senyum, tetapi karena usianya yang sudah tua, senyum ini menyebabkan lebih banyak kerutan di wajahnya.


"Jansen, aku ingin menanyakan sesuatu. Apa kamu pernah menyukaiku?"


Dia mengangkat matanya dan menatap Jansen.


Jansen terlihat kaget dan tidak menjawab untuk beberapa saat. Elena sudah menangis terisak dari awal. Dia menyadari bahwa dia bukanlah tandingan Veronica.


Veronica adalah putri dari Keluarga Woodley, yang mana memiliki permusuhan dengan Jansen. Namun, demi cinta, dia rela berdiri di sisi Jansen dan melawan Keluarga Woodley bersamanya.


Sedangkan dirinya?


Semua penuh keegoisan. Demi Keluarga Miller, dia terus-menerus membuat Jansen sakit hati.


"Jansen, aku tahu sulit bagimu untuk menjawabnya, tapi aku hanya ingin mendengar perkataanmu yang paling jujur, bisakah kamu berjanji padaku?" ucap Veronica.


"Tidak, aku selalu berterima kasih padamu."


Jansen tidak berbohong, juga enggan membohongi Veronica.


"Aku tahu itu."


Tanpa diduga, Veronica tersenyum dan berkata seraya mengejek diri, "Sebenarnya, tidak masalah apa pun jawabannya, karena aku tahu bahwa aku menyukaimu, itu sudah cukup."


"Menyukai seseorang dan bisa meninggal demi dia, aku tidak menyesal sedikit pun."


"Lagi pula, tidak semua orang di dunia ini yang perasaannya terbalaskan oleh seseorang yang disukainya."


Seraya berbicara, dia perlahan-lahan menutup matanya.


Saat Jansen mendengarkan perkataannya, hatinya seperti ditusuk keras oleh sesuatu.


Pada saat seperti itu, dia merasakan dengung angin di telinganya begitu keras. Bahkan udara di rumah kayu pun terasa menyesakkan.


Dia tidak tahu, entah itu rasa bersalah atau apa. Yang dia tahu hanyalah saat ini dirinya merasa kesakitan.


"Veronica!"


Jansen meraung dan mencari di ingatan leluhur. Jarum perak muncul di tangannya dan dengan cepat dan mendarat di titik akupunktur Veronica.


Ini adalah jarum kesebelas dari 12 Jarum Yin Yang, yaitu Teknik Api Gunung.


Ini adalah metode akupunktur langka dan jarang digunakan, yang dapat membakar vitalitas pasien, sehingga memungkinkan tubuh untuk mencapai keadaan mati suri.


Teknik jarum ini sebenarnya merupakan jarum terlarang.


Hal ini tidak diperlukan kecuali mencapai fase kritis. Manfaatnya yakni dapat menyelamatkan nyawa seseorang Kerugiannya adalah orang tersebut akan selamanya koma.


"Jansen!"


Menyaksikan Veronica memejamkan mata, hati Elena terasa sangat sakit.


Dia makin membenci dirinya sendiri.


"Veronica, suatu hari, aku akan membawamu naik bianglala di seluruh dunia."


Jansen terus mengayunkan jarum-jarumnya. Jarum peraknya mendarat di Veronica, membentuk pola yang aneh. Apalagi terdapat api yang menyala di atas setiap jarum perak, yang mana api- api tersebut adalah Api Yang.


Api ini membara di atas tubuhnya sebanyak tiga kobaran.


Melihat Jansen seperti orang gila, Elena menggigit bibirnya dan akhirnya pergi dengan tenang. Angin di luar, entah sejak kapan menjadi lebih dingin.


Dia melirik rumah kayu itu untuk terakhir kalinya. Dia tidak memiliki wajah untuk bertemu Jansen lagi, kemudian berangsur menghilang ke dalam hutan.


Saat Jansen mengatakan pada Veronica bahwa dia tidak menyukai Veronica, dia tahu pasti dirinya akan menyalahkan Jansen lagi.


Yang disebut perayu sebenarnya adalah kecurigaannya sendiri. Demi dirinya, Jansen selama ini telah menjaga batasan antara suami dan istri.


Meskipun dengan upaya dan cinta Veronica yang begitu besar untuk Jansen, Jansen tidak pernah melanggar prinsipnya.


Oleh karena itu, dia tidak memiliki keberanian untuk bertemu Jansen.


Waktu berlalu dengan cepat, malam pun tiba, rumah kayu menjadi gelap dan sunyi seakan terisolasi dari dunia.


Jansen duduk di tanah seraya memeluk Veronica. Matanya sendu dan dingin.


Veronica diselamatkan, tetapi seperti menjadi mayat hidup.


Dia teringat saat-saat bersama Veronica.


Di masa lalu, dia telah salah paham pada Veronica berkali-kali, dia juga cuek dan acuh tak acuh terhadap Veronica, tetapi Veronica tidak pernah menyerah. Sifat dingin seperti apa pun, dia selalu mengandalkan waktu untuk meluluhkannya, lagi dan lagi, sampai akhirnya membuat Jansen bisa menerimanya.


Veronica tergila-gila hingga menjadi gila, demi cinta, dia rela melakukan yang terbaik.


"Aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan membangunkanmu."


Jansen bergumam dalam hati.


Pada saat ini, dia baru sadar bahwa Veronica memegang selembar kertas di tangannya, memegangnya dengan sangat kuat.


Jansen mengambilnya dan melepaskan Api Yang, meminjam cahaya untuk melihat catatan tersebut.


Kata-kata di catatan itu tidak rapi, menandakan bahwa itu ditulis oleh Veronica setelah dia tiba di rumah kayu.


"Jansen, aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan kali ini, tapi aku ingin memberitahumu bahwa Elena tidak bersalah. Ketika kakakku akan melakukan sesuatu, aku menjatuhkan kakakku dan membawa Elena pergi. Elena sendiri tidak tahu tentang hal ini, karena dia sudah pingsan saat itu."


"Aku berharap semoga hubungan kalian tidak mengalami konflik karena hal ini. Aku berharap kalian akan selalu saling mencintai, berpegangan tangan dan menua bersama anak-anak kalian nanti."


"Selain itu, aku sudah menjadi makhluk aneh. Kamu, jangan menertawakanku, ya!"


Tidak banyak kata yang tertulis dalam catatan itu, tapi hanya ada satu makna yang tersirat, dia tidak ingin Jansen terpisah dari Elena.


"Gadis konyol!"


Jansen memegang catatan itu, telapak tangannya seberat simpul, air mata diam-diam menetes di atas catatan itu.


Tidak dapat disangkal, dia tidak menyukai Veronica sebelumnya, tetapi dia terharu oleh gadis yang periang ini.


Semua yang dia lakukan adalah demi Jansen, bahkan tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.


"Aku juga makhluk aneh, kita pasangan serasi."


Dia memeluk Veronica, dengan maksud menghargainya.


Sayangnya, gadis yang telah merecokinya di masa lalu, yang tidak pernah terusir oleh kata-kata dingin Jansen, kini tidak bisa bangun.


Melihat sekeliling rumah kayu, sudah tidak ada sosok Elena.


Akan tetapi, Jansen tidak mengejarnya, dia juga tidak ada niat. Bahkan meskipun Elena ternyata tidak bersalah, itu tidak masalah saat ini.


Dia tahu mengapa Elena pergi. Barangkali dia malu melihatnya, atau barangkali dia merasa bersalah.


Di tengah malam, Panah dan yang lainnya tiba. Setelah melihat Jansen berjalan keluar dari rumah kayu, mereka semua terdiam.


Mereka menemukan bahwa Jansen telah berubah.


Perubahannya sangat aneh, membuat orang-orang merasa takut.


Jika seumpama Jansen bergegas mendatangi Keluarga Woodley dan mengamuk di sana, maka Jansen yang sekarang bersikap acuh tak acuh.


Namun, ketidakpedulian lebih sulit diterima daripada mengamuk, karena Jansen yang acuh membuat orang-orang tidak tahu sama sekali apa yang dipikirkannya, seolah-olah dia sedang berada ribuan mil jauhnya.


Setelah sekian lama, Jansen menggendong Veronica dan kembali ke rumah komunitas.


"Jansen, di mana Elena?"


Natasha berlari dengan cemas.


"Dia sudah pergi."ucap Jansen samar.


"Sudah pergi? Pergi ke mana? Kenapa kamu tidak menghiburnya? Dia berada di kondisi terendah saat ini, harusnya kamu menemaninya. Apakah kamu membencinya?"


Natasha tahu apa yang terjadi. Dia menatap gadis di punggung Jansen dan kembali bertanya, "Dia?"


"Dia Veronica!"


Jansen berkata dengan samar, "Mulai hari ini dan seterusnya, dia akan tinggal di rumah kita. Aku akan merawatnya selama sisa hidupku."


Mengetahui nada bicara Jansen cukup datar, Natasha enggan untuk bertanya lagi. Dia segera membantu membereskan tempat tidur.


"Elena, dia tidak bisa melewati fase itu sendirian. Percuma saja aku mencarinya. Dia juga akan menghindari ku. Biarlah berjalan secara alami."


Setelah menempatkan Veronica, Jansen berkata kepada Natasha, "Karena perlindungan Veronica, dia tidak bertemu dengan tangan beracun Aidan. Sebaliknya, Veronica justru tewas karena Elena."


Seluruh tubuh Natasha bergetar, lalu dia mengangguk. "Apa kalian benar-benar harus berakhir seperti ini?"