
"Ini bukan masalah besar!"
Jansen tersenyum dan bertanya, "Apa kalian juga berasal dari pabrik ini?"
"Benar, dulunya ini adalah pabrik traktor, tapi merugi seiring berjalan waktu dan akhirnya ditutup. Para pekerja yang dulu merupakan Karyawan pabrik ini pun jadi menderita. Kami bekerja di perusahaan ini selama seumur hidup kami, tapi tiba-tiba tempat kerja kami ditutup. Kami tidak tahu apa lagi yang bisa kami kerjakan, jadi kami hanya bisa bekerja paruh waktu!" jawab salah satu pria yang berjanggut.
"Oh, bukankah pemerintah membagikan biaya ganti rugi? Apalagi rumah-rumah di sini sangat bobrok, jadi pasti ada dana yang dialokasikan untuk pembongkaran! Setidaknya, ada rumah susun sebagai ganti rugi tempat tinggal!" kata Jansen.
"Hahaha...."
Semua pria itu tertawa dengan getir.
"Ah, gawat!"
Tepat pada saat ini, suara teriakan seseorang pun terdengar. Dua orang pria berlari sambil membawa dipan. Seorang wanita dan seorang anak kecil terbaring di atas dipan itu. Wajah mereka terlihat menghitam dan mereka terbaring diam.
"Ada apa, Rigen?"
Pria berjanggut itu segera berlari menghampiri.
"Aku tidak tahu. Aku baru saja kembali dan melihat istriku sudah seperti ini!"
"Sudah telepon ambulans?"
"Belum! Kalau telepon ambulans membutuhkan banyak uang!"
Pria yang menggotong dipan itu terlihat sangat cemas.
Pria berjanggut itu langsung menegur, "Untuk apa memikirkan masalah uang! Kami semua akan memberikannya padamu kalau uangmu sendiri tidak cukup! Menyelamatkan nyawa manusia itu lebih penting!"
"Aku seorang dokter, biar aku yang periksa!"
Jansen juga berjalan mendekat, lalu memperhatikan sepasang ibu dan anak itu. Dia mengerutkan kening dan berkata, "Mereka keracunan!"
"Keracunan? Mana mungkin mereka yang hidup baik-baik ini keracunan? Anak Muda, jangan bicara omong kosong!"
Suami wanita itu tidak percaya pada perkataan Jansen.
" Rigen, jangan khawatir. Kurasa pemuda ini bisa dipercaya!"
Mereka melihat sendiri bagaimana Jansen yang mengendarai mobil mewah bersedia untuk turun tangan membantu. Sikap Jansen itu membuat orang-orang yakin bahwa dia bisa dipercaya.
"Jangan khawatir, kondisi mereka tidak begitu parah!"
Jansen berjongkok, lalu mengeluarkan obat yang sudah dia siapkan sebelumnya dan meminta seseorang untuk membawakan air.
Tak lama kemudian, suami wanita itu membawakan secangkir air minum.
"Kenapa air dingin?"
Jansen bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Hah Aliran air dan listrik di sini diputus saat siang hari. Tidak akan keburu kalau harus membuat api dulu! Apa boleh buat!" jawab pria itu sambil menghela napas.
Jansen akhirnya terpaksa menggunakan air minum yang dingin itu untuk memberikan obat kepada si wanita dan anaknya. Beberapa menit kemudian, keduanya pun muntah dan wajah mereka perlahan-lahan terlihat lebih baik!
"Anakku! Istriku!"
Pria itu memeluk istri dan anaknya dengan gembira, kemudian mengucapkan terima kasih kepada Jansen.
Jansen mengibaskan tangannya dan bertanya pada wanita itu, "Apakah Kalian habis makan sesuatu yang sudah basi? Kalau tidak, kenapa bisa keracunan?"
"Tidak, aku hanya makan biskuit pagi tadi!"
Wanita itu menggelengkan kepalanya.
"Biskuit? Dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Jansen.
Wanita itu menjadi sedikit salah tingkah dan menunjuk tumpukan sampah di kejauhan, "Dari sana. Kemasannya masih bagus, jadi aku membawanya pulang dan memakannya!"
"Kemungkinan sudah lewat dari tanggal kedaluwarsa!"
Jansen menggelengkan kepalanya, "Kenapa kamu malah memungut sampah dan memakannya? Orang dewasa masih tidak apa-apa, tapi bagaimana jika kamu jadi membahayakan anakmu?"
Wanita itu menundukkan kepalanya dan tidak berani berbicara.
Suami wanita itu merasa sangat malu, "Ini semua salahku! Mereka terpaksa memungut dari sampah karena aku yang tidak bisa mencari uang! Aku benar-benar tidak berguna!"
Dia pun duduk di tanah dengan wajah putus asa.
" Rigen, jangan salahkan dirimu. Memang sulit sekali mencari pekerjaan akhir-akhir ini!"
"Oh ya, aku juga masih punya roti kukus! Kalian tidak akan kelaparan!"
Orang-orang di sekitar mereka terlihat sangat antusias.
Mereka adalah tetangga yang sudah saling mengenal selama lebih dari 10 tahun karena sama-sama tinggal di area pabrik tua yang sudah bangkrut ini. Sudah menjadi budaya bagi mereka untuk saling membantu, berbeda dengan komunitas perkotaan di luar sana di mana tetangga tidak saling mengenal dan berjauhan.
Para tetangga pun segera membawa makanan. Wajah pria itu basah dengan air mata karena merasa sangat terharu sehingga dia tidak tahu harus berkata apa.
Jansen sedikit mengerutkan keningnya dan menatap pria berjanggut itu, "Apa kalian semua biasanya memang hidup seperti ini?"
"Mau bagaimana lagi? Mau ijazah tapi tidak punya ijazah, mau uang tapi tidak punya uang. Kami hanya bisa bekerja sebagai kuli. Rigen bekerja sebagai kuli di sebuah pabrik furnitur yang jaraknya lima kilometer dari sini, tapi keuntungan pabrik tidak begitu baik. Pada akhirnya bisnisnya pun bangkrut dan Rigen terpaksa kehilangan pekerjaannya!" jawab pria berjanggut itu sambil menghela napas.
"Oh ya, bukankah rumah kalian di sini dibongkar? Apa kalian tidak mendapatkan uangnya?" Jansen kembali bertanya.
"Hahaha.... Mendapatkan uang?"
Pria berjanggut itu sontak mencibir, "Uangnya sudah diambil oleh para pengembang. Apa kamu tahu? Kompensasi di sini diberikan senilai 100 Yuan per meter persegi. Daerah di sini luasnya sekitar 60 sampai 70 meter persegi, jadi total kompensasi yang didapatkan hanya sekitar 6000 sampai 7000 yuan. Uang itu akan langsung habis kalau digunakan untuk menyewa rumah, jadi itu sebabnya tidak ada yang mau pergi dari sini!"
Pria berjanggut itu menunjuk ke arah kejauhan dan berkata, "Lihat, di sana! Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari sini, tapi kompensasi yang diberikan senilai 10 ribu yuan per meter persegi! Luasnya sekitar 50 sampai 60 meter persegi, jadi kompensasi yang didapatkan pun senilai 500 ribu sampai 600 ribu yuan Selain itu, di sana juga ada satu perumahan yang dibangun sebagai ganti rugi!"
Jansen mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kenapa perbedaan harganya besar sekali?"
"Bukankah karena pihak pengembangnya? Katanya tempat kami ini dulunya milik Grup Dream Internasional, tapi setelah setengahnya dihancurkan, Miller Real Estate pun mengambil alih. Perusahaan inilah yang menipu, mereka hanya memberikan sedikit kompensasi dan bahkan tidak membangun tempat tinggal untuk ganti rugi!" jawab pria berjanggut itu sambil menghela napas lagi.
"Grup Dream Internasional?"
Ekspresi Jansen sedikit berubah.
"Perusahaan besar itu memang bagus juga, mereka memberikan kompensasi untuk pembongkaran sebesar 11 ribu per meter persegi serta membangun tempat tinggal ganti. Tapi semua itu tidak akan terjadi kalau Miller Real Estate sampai mengambil alih. Lihatlah pabrik Grup Dream Internasional di sebelah sana itu! Kudengar gaji di sana cukup besar!" sahut pria berjanggut itu.
Setelah Jansen mengetahui situasinya, dia pun menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Siapa namamu?"
"Namaku Ferguson, kamu bisa memanggilku Erson!"
"Bawa aku ke gedung pabrik Grup Dream Internasional nanti. Aku akan mencari cara agar kalian bisa bekerja di dalam sana!"
"Kamu ... kamu bisa membuat kami dipekerjakan?"
Pria berjanggut bernama Erson itu menatap Jansen dengan kaget.
Jansen mengangguk sambil tersenyum, lalu menjauh selangkah dan menghubungi sebuah nomor.
"Kak Natasha, apa yang terjadi dengan pembongkaran di dekat pabrik Grup Dream Internasional?"
"Oh, maksudmu yang di sana. Awalnya memang kami berniat untuk menghancurkannya, tapi Elena berbincang denganku dan menyarankan agar tempat itu diberikan saja kepada Keluarga Miller. Aku menyetujui usulannya. Apa yang terjadi di sana?"
"Keluarga Miller hanya memberikan kompensasi senilai 100 per meter persegi dan sama sekali tidak menyiapkan tempat tinggal ganti untuk mereka! Coba bayangkan kalau ini adalah Ibu kota, bagaimana bisa tidak ada rumah? Kamu suruh mereka tinggal di mana?"
Jansen mengerutkan keningnya dan berkata, "Suruhlah orang untuk mengurus masalah ini. Dapatkan kembali lahan ini, lalu bayarkan biaya ganti rugi atas pembongkaran serta dirikan tempat tinggal ganti sebagaimana semestinya!"
"Kenapa Keluarga Miller sangat kikir? Baiklah, aku akan segera mengurus masalah ini. Karena Elena yang angkat bicara, aku juga tidak mengambil uang milik Keluarga Miller atas lahan itu. Jadi, mudah saja untuk mengambilnya kembali!"
Natasha menutup teleponnya dan segera bertindak untuk menangani masalah ini.
"Elena, jangan ikut campur kalau kamu tidak paham dengan harga pasar!"
Jansen merasa sangat kesal. Dia menduga Elena berhasil diperalat oleh Keluarga Miller dan turun tangan untuk membantu tanpa memahami situasi yang sebenarnya!
Selain itu, Keluarga Miller memang kikir. Hanya mereka yang akan terpikirkan untuk membayar 100 yuan per meter persegi!
Sepertinya Keluarga Miller mengalami kesulitan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup karena Jessica menggelapkan dana mereka.
Setelah menjelaskan, Jansen pun berjalan ke sisi Erson dan berkata, "Jangan khawatir, kurasa akan ada orang yang datang ke sini untuk membicarakan tentang biaya pembongkaran yang baru dengan kalian. Setidaknya kalian akan mendapatkan 10 ribu yuan per meter persegi dan akan didirikan tempat tinggal ganti!"
"Apa kamu serius?"
Erson bertanya dengan kaget.
"Tentu saja!"
Jansen mengangguk.
Semua orang terlihat skeptis, tetapi mereka tampak menantikannya. Bagaimanapun juga, mereka tidak bisa pergi dari tempat ini dan merasa sangat tidak nyaman dengan aliran air dan listrik yang sering putus.
Selain itu, bangunan-bangunan yang hampir runtuh itu juga sangat berbahaya. Kalau mereka tidak punya tempat berteduh, mereka harus tidur di bawah jembatan dalam cuaca yang dingin.
"Tolong antarkan aku ke pabrik Grup Dream Internasional!"
Jansen kembali berkata pada mereka.