
Jika orang biasa yang mengalami kejadian ini, bisa dipastikan akan langsung jatuh pingsan karena ketakutan.
Wajah Jansen seketika memucat, terbersit sebuah kalimat di dalam pikirannya saat ini.
Para Arwah tentara Yin!?
Ternyata Gerbang Perunggu yang ada di hadapannya saat ini memang luar biasa.
Tapi, bagaimana bisa muncul sosok para arwah tentara Yin di sini? Apa mungkin karena adanya sebuah medan magnet tertentu?
Tiba-tiba, Jansen menatap ke arah salah satu prajurit yang juga mengenakan baju zirah saat ini. Ada perbedaan yang mendasar pada prajurit itu. Di balik helm perangnya, wajah prajurit terlihat begitu jelas, tidak samar-samar berwarna hitam seperti yang lainnya.
Selain itu, wajah prajurit itu sangat familier untuknya!
"Ayah!"
Tubuh Jansen bergetar hebat dan teringat akan tulisan yang tertulis di dinding gerbang perunggu. Tiba-tiba, terbersit sesuatu di dalam pikirannya saat ini.
Ayah pernah masuk ke dalam gerbang perunggu ini!?
Lagi pula, Paman Yuwa pernah mengatakan kepadanya jika ayahnya pergi ke suatu tempat dan sampai detik ini belum pernah kembali.
Apa mungkin tempat yang dimaksud adalah gerbang perunggu?
Mungkin ayahnya sempat menuliskan sesuatu pada dinding gerbang perunggu, "Aku sudah datang ke tempat ini, tidak ada benda yang kamu inginkan di sini, jangan masuk!"
Apa mungkin di dalam gerbang perunggu tidak ada benda yang dicari oleh ayah?
Saat memikirkannya, pasukan tentara yang membentuk barisan seperti naga pun menghilang secara perlahan di kedalaman pegunungan. Gerbang pun kembali hening.
Jansen menatap gerbang perunggu dengan saksama. Terlalu banyak hal yang dia terima hari ini, untuk sementara waktu, dia terlihat sulit menerimanya.
Brak! Brak!
Tepat pada saat ini, terdengar suara langkah di sekitar. Sebuah mayat hidup nan kering kerontang dengan mengenakan baju zirah perlahan berjalan keluar. Di belakangnya pun muncul makin banyak mayat hidup keluar bersamaan.
Mayat hidup!
Teringat akan para arwah tentara yin yang melintas sebelumnya, Jansen seolah mampu menduga jika sebelumnya ada sekelompok pasukan tentara atau prajurit yang pernah melintas di tempat ini. Mereka mencari keberadaan gerbang perunggu namun justru tersesat dan tak akan bisa kembali lagi.
Kemudian tiap gerbang perunggu terbuka beberapa tahun sekali, jasad pasukan tentara ini seolah kembali menembus gelapnya gerbang menuju tempat munculnya matahari.
Waktu berlalu begitu saja, mayat hidup yang tak terhitung jumlahnya pun memadat di depan gerbang perunggu. Tak berselang lama, gerbang perunggu mulai menutup secara perlahan.
Jansen menghitung jumlah mayat hidup yang ada. Jika ditotal, kurang lebih ada sekitar 300 lebih mayat hidup yang sedang memadati area gerbang perunggu.
"Gerbang Perunggu sudah tertutup, jadi ... tidak perlu ada yang dikhawatirkan lagi dengan mayat-mayat hidup ini!"
Jansen segera mengeluarkan pedang bayangan miliknya dan bergerak menyerang kumpulan mayat hidup.
Cahaya pedang miliknya bagaikan air, tiap kali pedang diayunkan, satu mayat hidup jatuh tak berdaya.
Meski mayat hidup ini lebih kuat jika dibandingkan dengan Zombie ulat parasit, tapi kecepatannya jauh lebih lambat. Dengan begitu, sangat mudah untuk menumbangkan mereka.
Brak! Brak! Brak!
Pembantaian berlalu sekitar satu jam lamanya, mayat-mayat hidup yang ada di depan gerbang perunggu pun habis tak bersisa.
Jansen diam-diam menarik napas dalam-dalam guna memulihkan Profound Qi yang ada dalam tubuhnya. Lalu, dia menatap ke arah Batu minyak mayat yang sudah dia kumpulkan. Diperkirakan, dengan jumlah batu yang sebanyak itu, cabang Gunung Salju Peri tidak akan berada di urutan terbawah lagi.
Tugas yang diberikan sang istri pun akhirnya oleh selesai.
Haiss... menjadi menantu dan menginap di rumah istri membutuhkan kerja keras yang tidak sedikit. Harus bisa memasak, mengobati, mencari uang dan terakhir harus bisa membunuh mayat hidup!
 Tapi sekarang, statusnya telah mengalami peningkatan dengan menjadi seorang ayah. Entah apa si kecil mirip dengan ibunya atau justru mirip dengan dirinya.
Saat Jansen sedang beristirahat, tiba-tiba... suara terompet kembali terdengar dan Gerbang Perunggu kembali terbuka.
"Gelombang kelima?"
Raut wajah Jansen seketika berubah. Meski sempat beredar kabar gerbang perunggu akan terbuka sampai yang kelima kalinya. Hanya saja kemungkinan untuk datangnya gelombang kelima sangatlah kecil.
Jansen lantas menghitung waktu dengan jarinya. Dia pun menyadari jika hari ini adalah hari ke-15 berdasarkan kalender lunar. Itu sebabnya besar kemungkinan akan muncul gelombang yang kelima dalam tugas kali ini.
Jansen menunggu dengan tenang di sana. Namun, saat gerbang terbuka sepanjang tiga meter, tak nampak satu pun mayat hidup yang keluar. Dan ketika menginjak pada lima meter, hanya muncul sebuah sosok besar menjulang tinggi dari arah gerbang perunggu.
Persis seperti hantu dan roh yang kembali dari neraka, tekanan yang menggetarkan jiwa pun mengalir ke tubuh Jansen.
Raut wajah Jansen mulai nampak serius, dia pun mengaktifkan Kesadaran illahinya sekali lagi. Dan tiba-tiba, dia menyadari jika sosok yang muncul keluar itu sangatlah familier untuknya.
Zombie Yin Kebencian!?
Zombie Yin Kebencian tentu saja memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada mayat hidup. Tidak takut api dan air, kebal terhadap pedang dan tombak, kecuali saat Jansen menggunakan Broken Sword yang menghancurkan energi jahat di dalamnya.
Namun, energi Profound Qi yang dia gunakan sebelumnya terlalu banyak, sehingga dia tidak mampu mengeluarkan Broken Sword saat ini.
Setelah memikirkannya, dia segera pergi dari lokasi. Intinya, dia harus bertemu dengan para murid sekte Gunung Salju Peri dan menyampaikan informasi ini. Yang terpenting, saat ini mereka tak lagi berada di urutan yang terbawah.
Melihat dari arah pegunungan yang jauh, murid-murid sekte yang berasal dari empat cabang berbeda berkumpul di sana.
Alasan utamanya adalah tidak ada mayat hidup yang keluar lagi sehingga membuat mereka mengira jika tugas ini telah berakhir!
"Sepertinya memang telah berakhir!"
Sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar. Sumber suara berasal dari mulut seorang wanita yang memakai jubah panjang berwarna merah api.
Semua orang menatapnya dengan penuh kekaguman. Tidak salah lagi, wanita itu adalah Cassia, senior dari cabang Hongland, murid yang mempunyai kekuatan Ranah Celestial tingkat kelima. Tentu saja kekuatannya lebih unggul dari yang lain.
"Penatua Yohan, aku rasa tugas kali ini memang sudah berakhir. Lebih baik kita lihat hasil dari masing-masing cabang!"
ucap seorang pemuda yang tak lain adalah Geofrey dari cabang Rizhao.
Penatua Yohan pun menatap ke arah para tetua dari masing-masing cabang. Mereka semua mengangguk tanda setuju.
"Karena tugas kali ini sudah berakhir, tiba waktunya untuk kita melihat hasil yang kalian peroleh. Hanya cabang yang mendapatkan batu minyak mayat terbanyak-lah yang berhak mendapatkan hadiah dari sekte pusat!"
ucap Penatua Yohan dengan santainya. Tatapan matanya sedikit banyak tertuju pada cabang Gunung Salju Peri.