Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 421. Aku Tidak Punya Waktu!


"Jansen, dasar kamu sampah, kamu masih belum punya hak untuk mengatai Paman Keempat!"


Silvia tiba-tiba berdiri dan menampar wajah Jansen!


Plak!


Namun, Elena datang menghadang tamparan dengan menahan tangan Silvia lalu balas menampar Silvia, "Silvia, kamu hanya seorang adik sepupuku, kamu juga tidak punya hak menampar suamiku!"


Orang-orang keluarga Miller yang Melihat adegan ini merasa sangat terkejut. Elena yang biasanya penurut kini untuk pertama kalinya melakukan perlawanan.


Mata Silvia terbelalak, dan dia pun berkata dengan marah sambil memegang pipinya, "Elena, statusmu memang lebih tinggi dibandingkan statusku, tetapi jangan lupa kalau kamu hanya seorang anak haram, apa kamu punya hak memukuliku?"


Elena tersenyum sinis karena bagi dirinya rumah Keluarga Miller ini bukanlah rumahnya yang sesungguhnya. Rumah Elena yang sesungguhnya adalah rumah Keluarga Lawrence. Karena hal ini pula, Elena tidak bersikap segan lagi.


Kali ini terdengar lagi suara sebuah tamparan.


Silvia kembali mendapatkan tamparan, tetapi kali ini bukan Elena yang menamparnya, melainkan Antonio.


"Elena ini kakak sepupumu, kenapa dia tidak punya hak mendidikmu? Kalau pun dia tidak berhak, aku sebagai ayahmu apa tidak berhak juga?"


Antonio dengan marah menatap Silvia, dan merasa puas dengan tamparan ini.


Semua orang Keluarga Miller yang Melihat sontak terkejut. Antonio biasanya selalu memanjakan Silvia, tetapi kenapa kali ini dia malah tega memukul anaknya sendiri?


"Ayah, kamu, kamu memukul aku?"


Silvia terpukul dengan tamparan ini, air matanya mengucur deras, dia merasa sangat malu dengan orang-orang akibat dua kali tamparan yang diterimanya ini.


"Bu!"


Silvia langsung menatap Martha.


Martha yang kehilangan akal sehatnya sontak marah dan berteriak, "Antonio, kamu berani memukul Silvia. Aku tak tahan lagi hidup bersamamu. Aku ingin menceraikanmu!"


Ketika orang-orang mendengar perkataan ini, mereka terus menyalahkan dan menasihati Antonio agar rumah tangganya tetap tenteram, Antonio pun tidak perlu sampai cerai dengan istrinya hanya karena ingin membela orang luar.


"Cerai, ayo sekarang saja! Dasar kamu wanita ******!"


Tidak ada orang yang menduga bahwa Antonio bisa berteriak marah seperti ini. Mata Antonio merah diliputi kemarahan seperti ingin memukul orang.


Semua orang yang menyaksikan di tempat terdiam.


Martha tidak berani bersuara lagi. Martha memandang Antonio suaminya itu dengan tatapan kosong. Sebelumnya, setiap kali mereka berdua bertengkar, asalkan dia mengungkit perceraian, Antonio pasti selalu mengalah kepadanya. Namun, kali ini Antonio tidak mau mengalah sedikit pun, dan malah bersikeras ingin mengajukan perceraian.


Tiba-tiba, Martha teringat dengan apa yang pernah dikatakan oleh Jansen terakhir kali. Spermatorrhea milik Antonio sudah mengalami tekanan hingga terluka, sehingga mereka seumur hidup tidak bisa lagi punya keturunan.


Antonio jelas masih ingat dengan kejadian ini.


Pada saat yang sama, Jessica, yang sedang berbisnis di luar, mengetahui bahwa Jansen telah menyelesaikan masalah panti asuhan. Wajah Jessica pun menjadi masam seketika.


Jessica tahu lebih banyak tentang latar belakang Jansen dibandingkan orang lain. Meskipun Jansen yang punya perusahaan dengan aset satu miliar yuan itu lebih hebat dibandingkan dengan orang biasa, bagi Keluarga Miller kehebatan Jansen ini tidaklah seberapa.


Pada kenyataannya, Jansen berhasil menyelesaikan masalah Keluarga Miller yang sudah lama tidak terselesaikan ini.


Jessica yang selalu ingin mencari alasan untuk mengusir Jansen, kembali gagal.


Saat ini, suasana di ruang utama masih mencekam, semua orang menjadi semakin benci terhadap Jansen karena orang yang dianggap mereka sebagai pecundang ini malah berhasil membuat mereka semua terdiam malu.


"Semuanya, cepat lihat TV!"


Saat ini, kakak kedua Elena, Irene Miller, menunjuk ke layar TV dan Melihat bahwa berita sedang melaporkan masalah di Distrik utara. Berita juga mengabarkan bahwa Grup Aliansi Bintang berencana meledakkan gunung yang ada di Distrik utara untuk membuka jalan yang lebih representatif menghubungkan Ibu Kota dan Wutan city. Langkah ini didukung oleh pemerintah daerah yang akhirnya menghentikan pembangunan Komersial di wilayah Distrik utara dan berencana mengembangkannya menjadi kawasan wisata.


"Sudah kuduga, masalah panti asuhan bisa terselesaikan dengan lancar ternyata karena pecundang itu lagi beruntung!"


Irene tiba tiba berteriak.


"Bu, Elena memukul ku!"


Silvia merasa tersiksa. Tadinya Silvia tidak berani meluapkan emosi kepada Jansen karena beranggapan Jansen telah berhasil menyelesaikan permasalahan panti asuhan, tetapi sekarang tampaknya Jansen hanya sedang beruntung saja.


"Sudahlah lupakan saja, kelak masih banyak kesempatan untuk membalasnya!"


Martha menghibur Silvia.


Wajah Rowen juga tampak suram. Sebelumnya, dia dimarahi tidak berguna oleh Jansen dan itu sangat memalukan bagi dirinya. Rowen kembali menatap TV dan memuji, "Grup Aliansi Bintang memang punya visi yang luar biasa, mereka tahu bahwa dengan peledakan gunung dan pembangunan jalan baru, kelak wilayah Distrik utara akan semakin ramai dengan wisatawan. Aduh, aku tidak terpikir hal ini!"


"Grup Aliansi Bintang adalah salah satu dari sepuluh grup korporasi papan atas di Huaxia. Kalau kamu terpikir hal ini, tentu kamu sudah menjadi sepuluh orang terkaya di negeri ini!" Istri Rowen menyindir dan mengejek Rowen.


"Bagaimanapun juga, Nona Gracia ini seorang pembisnis yang jenius. Dia punya ide yang cemerlang!" Renata juga ikut memuji kelihaian Nona Gracia dalam berbisnis.


Mereka semua kagum dengan kepandaian Nona Gracia , tetapi tidak menyadari bahwa ide brilian peledakan gunung dan pembangunan jalan baru itu justru berasal dari Jansen.


Di tempat lain, Jansen mendorong kursi roda yang diduduki oleh Paman Ketiga menuju ke halaman kecil.


"Jansen, tunggu!"


Terdengar suara panggilan dari belakang yang ternyata adalah suara Antonio ditemani Naomi.


Naomi baru saja keluar dari ruang tamu dan langsung meremehkan Jansen setelah tahu fakta mengenai masalah panti asuhan itu.


Sebelumnya, Naomi telah mengubah pandangannya terhadap Jansen, dan berpikir bahwa Jansen benar-benar telah menyelesaikan masalah yang lama tak terselesaikan itu, tetapi kini dia juga beranggapan bahwa Jansen hanya sedang beruntung saja.


Masalah utama sekarang adalah Jansen yang kini bisa sombong dan arogan dengan keberhasilan masalah panti asuhan ini, berani memarahi Paman Keempat sehingga konflik pun muncul di Keluarga Miller.


"Paman Antonio, ada apa kemari?"


Elena mengerutkan kening, dan merasa Antonio juga bukan orang yang baik karena ingin mengadu domba mereka.


"Elena, kejadian dulu itu hanya salah paham saja, aku ingin meminta sedikit bantuan kepada suamimu!"


Antonio mengubah sikapnya yang biasa terhadap mereka sambil mengusap tangannya sendiri.


Elena sangat terkejut. Sikap Antonio ini sama saja dengan memberikan pujian kepada Jansen.


Naomi langsung mengerutkan kening dan berkata dengan tidak senang, "Paman Antonio, untuk apa kamu mencari pecundang itu? Jangan sampai ditipu oleh dirinya. Masalah panti asuhan bisa beres karena dia hanya beruntung saja dan sama sekali bukan berkat usahanya!"


Naomi masih berusia muda, latar belakangnya dari keluarga terpandang membuat kecerdasan emosionalnya tergolong rendah, sehingga cara bicaranya pun sangat tidak sopan.


"Aku datang kemari bukan karena masalah panti asuhan, tetapi ini!"


Antonio sedikit ragu mengungkapkan, tetapi akhirnya dia pun berkata terus terang, "Dulu Jansen pernah mengatakan bahwa spermatorrhea punyaku tersumbat. Aku ingin tahu apakah dia punya solusi atau tidak!"


"Hah? Kamu benar-benar percaya padanya!"


Naomi berteriak heran, "Pecundang ini adalah memang seorang dokter, tetapi ada begitu banyak dokter di Ibu Kota. Mengapa kamu tidak mencari dokter lain saja? Jangan lupa, aku ini lulusan Kedokteran Universitas Harvard dan juga anggota WHO. Kamu boleh cari aku!"


Naomi berkata demikian sambil menatap Jansen dengan dingin, "Jansen, hentikan ini semua, sejak kamu datang ke Keluarga Miller, kamu telah menipu banyak orang, bukan hanya Kak Elena saja yang tertipu, bahkan Paman Antonio pun berani kamu tipu!"


"Apakah kamu gila? Kapan aku menipu dia? Atau apakah kamu buta? Paman Antonio yang mencariku, bukan aku yang mencari Paman Antonio!"


Jansen langsung menegur balik, dan berkata kepada Antonio, "Naomi lebih hebat, kamu cari dia saja, aku tidak punya waktu!"


Setelah berkata demikian, Jansen mendorong kursi roda Paman Ketiga lalu pergi.


"Huh, dasar tidak tahu diri! Pergi sana jauh-jauh!"


Naomi memarahi Jansen, dan menoleh ke Antonio lalu berkata, "Paman Antonio, tidak apa-apa, aku akan bantu memeriksa penyakit mu ini!"


Sebelum kata-katanya selesai, Antonio memarahi Naomi, "Naomi, jangan buat masalah lagi, aku tahu sampai mana keterampilan medis yang kamu miliki. Gawat sekarang, susah payah aku memohon kepada Jansen, kamu malah mengacaukannya. Dia sudah marah, kamu ini benar-benar celaka, aduh!"