Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1482. Kamu Tidak Mati


Semua orang terdiam sejenak dan melihat ke gerbang. Mereka melihat seorang pria perlahan masuk dari luar gerbang.


Matanya kejam, seperti Dewa yang sedang memandang dunia Sekuler.


Aura nya sangat dingin, seolah-seolah Dewa Perang telah kembali!


Hal yang paling menakutkan adalah, dia membawa peti mati di bahunya.


Peti mati yang sangat berat!


Melihat ke luar, malam itu sangat gelap dan ada Rasi Tujuh Bintang!


"Sialan, apakah itu peti mati?"


Pada akhirnya, seseorang mengeluarkan suara kepanikan.


Memberikan peti mati pada hari ulang tahun orang lain? Belum lagi itu adalah hari ulang tahun Tuan Roman!


Ini adalah pertama kalinya di dunia!


"Siapa pria ini!"


"Gila!"


Orang-orang mulai terdengar ketakutan, mereka mengira pria itu sudah gila.


"Kamu cari mati!"


Beberapa Master dari Keluarga Vindes sangat marah, orang ini berani mengutuk tuannya seperti ini, mereka tidak bisa menahan emosinya.


Orang yang datang itu adalah Jansen!


Dia melihat beberapa orang yang datang dan niat membunuhnya menjadi makin kuat.


Keluarga Vindes?


Jansen berpikir bahwa dia sudah cukup menyelamatkan harga diri mereka. Mereka telah memprovokasi Jansen dua kali dan Jansen membiarkan mereka pergi.


Mungkin itu adalah dua kebaikan Jansen yang sama sekali tidak dihargai oleh Keluarga Vindes. Ketiga kalinya, Keluarga Vindes bekerja sama dengan Hailey untuk membunuh Jansen. Sekarang, ketika dia melihat suami istri pemilik toko tumisan kerang beserta putra mereka ikut terlibat, kemarahan itu jelas meledak tanpa menyembunyikan apa pun.


Bruk!


Jansen masih membawa peti mati besar itu, ketika salah satu dari mereka mencoba menerkamnya, Jansen hanya berbalik dan mengayunkan peti mati yang berat itu seperti tongkat.


Peti mati itu menghantam pipi salah satu dari mereka, menghancurkan rahangnya dan merontokkan giginya. Kemudian, otak orang itu meledak!


Adegan itu sangat mengejutkan!


"Ah!"


Banyak orang di ruang tamu tanpa sadar mengelus mulut mereka.


"Siapa pun yang menghalangiku akan mati!"


Jansen membawa peti mati itu ke depan. Peti mati yang berat itu terlihat sangat ringan di tangannya.


Brak, brak, brak!


Orang-orang yang baru saja menerkam Jansen semuanya dihancurkan oleh peti mati itu tanpa pandang bulu!


Bruk!


Punggung seseorang dihantam oleh peti mati itu dan semua tulang di tubuhnya hancur.


Seseorang melambaikan tangannya dan mencoba meledakkan peti mati, tapi tangannya malah hancur lebur.


Peti mati itu menghantam perut orang yang lain, perut itu terbelah seolah-olah dipotong oleh pisau dan ususnya berceceran ke mana-mana.


Benar-benar mengejutkan!


"Mati kau!"


Seorang pria tua muncul di belakang Jansen dan meraih bahu Jansen dengan sarung tangan khusus keluarga Vindes dan cakar beracun di telapak tangannya.


Orang tua ini tertawa!


Cakar beracun ini disebut Tangisan Dewa Neraka, nama ini memiliki arti bahwa mereka yang tertangkap akan menangis, tidak peduli seberapa kuat mereka!


Grep!


Tiba-tiba, Jansen meraih cakar beracun di bahunya dengan punggung tangannya, lalu dia mengerahkan Profound Qinya.


Krrk!


Cakar beracun itu digenggam paksa sampai hancur dan telapak tangan pria tua dicengkeram oleh Jansen, ini adalah serangan balasan!


Ssst!


Darah menyembur keluar dan tangan pria tua itu ditarik paksa.


"Ah!"


Pria tua itu berteriak sangat keras karena kesakitan.


Dia tidak menyangka bahwa Tangisan Dewa Neraka bisa dipatahkan seperti ini.


Pada saat itu, Jansen melempar lengan pria tua yang patah itu dan meraihnya dengan telapak tangannya.


Kejadian berlalu begitu cepat!


Pria tua itu hanya merasa pandangannya kabur, dia merasakan sakit yang tajam di jantungnya dan melihat jantungnya berada di tangan Jansen!


Jantungnya masih berdetak kencang.


Blar!


"Ah!"


Pria tua itu berteriak lagi, merasa hancur dan pada akhirnya benar-benar mati.


Aula itu sunyi senyap.


Baru saja Roman memperlakukan ketiga anggota Keluarga Raul dengan keras dan banyak orang yang merasa itu terlalu kejam, tetapi mereka merasa bahwa menjadi kejam terhadap musuh adalah untuk kebaikan diri sendiri.


Sekarang, mereka menemukan bahwa Roman sangat berbelas kasihan jika dibandingkan dengan kebrutalan pemuda ini.


Brak!


Di saat yang sama, Jansen membanting peti mati di pundaknya ke lantai, ada dua orang yang terluka parah di lantai, tapi keduanya masih hidup!


Namun, ketika kedua orang itu tertiban peti mati tersebut, mereka menjadi hancur lebur dan darah mengalir deras dari bawah peti mati.


Mengejutkan sekali!


Orang-orang menatap pria itu seolah-seolah mereka sedang tercekik, pria itu berlumuran darah, tetapi mereka tahu bahwa itu adalah darah milik Keluarga Vindes.


"Tuan Roman, aku memberimu peti mati ini!" ujar Jansen di tengah keheningan.


Roman serta sekumpulan master kuat Keluarga Vindes masih menatap Jansen saat itu.


Pupil mata mereka bergetar, mereka tidak percaya, seolah-olah mereka sedang bermimpi!


Mereka tahu ini adalah Dokter Jansen!


Bukankah dia sudah mati? Kenapa dia kembali hidup-hidup?


Mereka melihat Jansen membunuh orang-orang di sekelilingnya dan memiliki ilusi bahwa Jansen merangkak keluar dari tumpukan mayat Dewa.


"Jansen, kamu belum mati!" teriak Roman.


Saat Roman melihat Jansen, sebenarnya dia merasa takut dan gemetar. Jansen tidak mati dan dia datang untuk menemukan Roman!


Setelah Jansen mengantarkan peti mati itu dan membunuh anggota Keluarga Vindes dengan brutal, akhirnya Roman makin gila!


Bagaimana mungkin Jansen tidak mati?


Beberapa waktu lalu, Jansen, seperti anjing tersesat, dikejar dan dibunuh oleh mereka dan melarikan diri.


Sekarang, ini adalah pembalasan.


"Jansen? Dia adalah Jansen?"


"Dia datang untuk balas dendam!"


"Ya Tuhan!"


Ruang tamu itu benar-benar riuh dan penuh dengan kebingungan.


Beberapa orang kaya gemetaran, mereka pernah mendengar tentang Jansen, dia adalah Presdir Grup Aliansi Senlena yang memiliki koneksi yang luar biasa.


"Jansen, memangnya kenapa kalau kamu belum mati? Kalau kamu berani datang hari ini, aku akan membuatmu sulit untuk kabur!"


Mata Roman memerah, ketika musuh saling berhadapan, mata mereka penuh dengan kobaran kebencian.


Roman tidak bisa menahan diri dan menerkam Jansen, telapak tangannya berubah menjadi hitam pekat dan gas beracun memenuhi udara. Dia meninju peti mati itu dengan keras.


Roman percaya pada fengsui, dia tahu bahwa mengirim peti mati pada hari ulang tahun adalah tanda kesialan!


Roman ingin menghancurkan peti mati itu sesegera mungkin!


Duar!


Sebuah telapak tangan yang berisi energi Qi mendarat di atas peti mati itu, seharusnya itu cukup untuk menghancurkannya, tapi yang terjadi malah sebaliknya karena Jansen juga mendaratkan telapak tangannya pada sisi lain peti.


Setelah mengaum, Roman merasakan bahwa ada umpan balik yang sangat kuat di peti mati itu!


Roman tidak bisa mengendalikannya dan mundur lebih dari sepuluh langkah. Dia merasa jika dia tidak mundur perlahan, tangannya pasti akan patah.


Roman perlahan-lahan menstabilkan dirinya, lalu menatap peti mati itu lagi dan menemukan bahwa peti mati itu tidak hancur sama sekali.


Hatinya tiba-tiba terasa berat.


Bukankah Jansen sudah diracuni? Mengapa dia tampak baik-baik saja saat ini!


Jangankan racun Dr Luke dari Grup Teknologi Global, bahkan racun Keluarga Vindes tidak mudah diobati.


"Jansen, aku tidak percaya kamu bisa mengeluarkan racun dari tubuhmu!"


Roman berkata dengan dingin, "Racun Keluarga Vindes saja seharusnya tidak bisa diobati, apalagi racun Dr Luke!"


Makin banyak Roman berbicara, dia makin percaya diri. Lagi pula, baru seminggu Jansen diracuni.


"Diracuni!"


Semua orang kaget, tidak heran seorang Penguasa Dunia Jianghu juga harus melarikan diri, ternyata dia diracuni.


Jansen sama sekali tidak menghiraukan Roman, dia berjalan ke arah Loki dan orang tuanya, lalu membantu mereka berdiri dan membiarkan mereka duduk di kursi.


"Kak Jansen, ayahku!" teriak Loki lemah.


"Jangan khawatir, ada aku di sini!"


hibur Jansen, dia sangat terharu.


Jansen dan Pak Raul hanya pernah bertemu beberapa kali, tetapi orang-orang ini tidak takut pada kekuasaan dan mereka tidak akan pernah menundukkan kepala sampai mati, hal ini sangat mengagumkan.


Jansen mengeluarkan tiga pil ramuan untuk Loki dan orang tuanya, lalu menyuruh mereka untuk segera meminumnya.


Setelah itu, Jansen menatap Roman lagi. Niat membunuhnya menjadi makin kuat, dia berkata dengan dingin, "Tuan Roman, aku sudah pernah bilang, hal yang sama tidak boleh dilakukan tiga kali berturut-turut, sepertinya kamu tidak mengerti!"