
Akan tetapi, bunyi gemerincing tiba-tiba terdengar begitu tangannya terulur dari peti mati. Mayat yang awalnya terbaring ternyata malah sudah duduk dan menatap lurus-lurus ke arah Jansen. Kuku keledai hitam yang semula diletakkan di mulutnya juga sudah terlepas.
Sepasang matanya masih terpejam, tapi suasana yang aneh menyebar.
Jasmin dan Cheryl menutup mulut mereka dengan ketakutan. Mereka berdua ingin Jansen segera melepaskan slip giok itu dan segera pergi dari sini.
Jansen tiba-tiba menggertakkan giginya. Dia harus membawa pergi slip giok ini!
Duar!
Gelombang aura yang mengerikan tiba-tiba menyembur dari mulut lelaki tua itu. Aura Mayat, Aura Kebencian, Gas Darah, dan Aura Kematian saling bercampur di dalamnya.
Jansen menyadari dia sama sekali tidak bisa bergerak dan mayat itu pun membuka matanya secara perlahan. Kemudian, tangannya terulur dari dalam peti mati dan mencengkeram leher Jansen.
Detik berikutnya, leher Jansen langsung dicekik.
Jansen ingin mengeluarkan Profound Qi miliknya untuk menggerakkan tangan dan kakinya, serta menembakkan Api Yang!
Akan tetapi, dia tidak bisa bergerak!
Rasanya seperti ada kekuatan gaib yang menekannya saat dia sedang tidur.
Napasnya makin lama makin terasa berat.
Jansen pun berseru meminta bantuan dari Jasmin dan Cheryl.
Sesuatu yang aneh terjadi. Jasmin dan Cheryl berlari untuk membantu Jansen melepaskan diri dari cengkeraman kedua lengan itu.
Namun, ketika Jansen mengira dia sudah bebas dan memerhatikan dengan saksama, ternyata Jasmin dan Cheryl belum menghampirinya.
Kedua tangan mayat itu masih mencekik lehernya.
Rasanya sakit sekali.
Tubuh Jansen meronta hebat seolah-olah tangan Raja Neraka sedang berusaha mencabut nyawanya.
Kali ini, Jasmin dan Cheryl akhirnya datang untuk membantu dan menyelamatkan Jansen.
Namun, ketika Jansen hendak melarikan diri, dia tiba-tiba menyadari bahwa lehernya sebenarnya masih dicekik!
Jasmin dan Cheryl masih belum membantunya!
Penglihatan yang aneh ini terus-menerus berulang.
Sensasinya sama persis dengan ketindihan.
Kita pikir keluarga kita akan datang untuk membangunkan kita setiap kali kita meronta dan berteriak, tapi mereka tetap tidak kunjung datang seiring berjalannya waktu.
Argh!
Rasanya sekujur tubuh Jansen seperti terbakar. Darahnya terasa mendidih dan dia berubah menjadi bengis.
Tidak hanya itu, dia tiba-tiba tidak merasakan rasa sakit apa pun lagi! Tubuhnya terasa baik-baik saja!
Sebaliknya, Jansen memiliki hasrat untuk mencabik-cabik semuanya.
Darah Raja Mayat Berdarahnya terangsang.
Duar!
Jansen balas mencengkeram kedua tangan mayat itu dan Profound Qi nya pun meledak keluar.
Jansen berusaha merobek paksa tangan yang mencekik lehernya.
Akan tetapi, tenaga mayat itu juga tidak kalah kuat. Rasanya seperti kekuatan orang yang dimodifikasi secara genetik, bahkan lebih kuat lagi daripada itu.
Di saat napas Jansen sedang terengah-engah seperti seekor lembu, dia tiba-tiba melihat sebuah benda hitam di atas peti mati. Dia segera menarik satu tangannya dan mengambil benda itu, lalu menghantamkannya ke mayat itu.
Bruk!
Mayat itu pun membentur peti mati dengan perlahan, gerakannya seperti air pasang yang surut dan tenang kembali.
Semua kejadian ini berlalu secepat kilat, tapi rasanya seperti satu abad bagi Jansen!
Rasa sakit dan kegentingan situasinya bahkan lebih seperti berjalan berputar-putar di tangan Raja Neraka!
Tubuh lelaki tua itu hampir sebanding dengan Raja Mayat Berdarah. Satu-satunya hal yang lebih lemah dari Raja Mayat Berdarah adalah kurangnya kesadaran dan kecerdasannya.
Jansen menggeleng-gelengkan kepalanya, kesadarannya perlahan-lahan kembali. Dia langsung memanggil Jasmin dan Cheryl untuk melarikan diri.
Bagaimanapun juga, dia tidak yakin apakah mayat itu akan sadar lagi atau tidak. Jika benda di tangannya tidak efektif untuk kedua kalinya, riwayat nya mungkin akan tamat di sini.
"Jansen, kenapa kamu malah melamun? Sudah selesai, belum? Ayo kita pergi kalau sudah!"
"Aneh sekali, tadi aku melihat bayangan dan sekarang tiba-tiba sudah menghilang. Nyala lilin itu juga menjadi makin terang!"
Jasmin dan Cheryl berjongkok di tanah untuk mengurus buku-buku batu itu. Mereka membungkusnya dengan kain putih, lalu menarik Jansen.
Jansen merasa ada yang tidak beres. Saat memperhatikan dengan saksama, ternyata mayat itu masih tergeletak dan sama sekali tidak ada perkelahian. Dia sontak bertanya, "Apa kalian tidak melihatku memanggil kalian barusan?"
"Tidak! Kamu hanya melamun menatap mayat itu setelah mengambil slip giok itu!"
Jasmin menjawab dengan kening yang berkerut.
Raut wajah Jansen nampak suram. Jangan bilang semua itu hanya ilusi?
Tidak mungkin! Dia memiliki aura yang begitu kuat sampai-sampai teknik Ilusi Menara Hua dari Sekte Tersembunyi saja tidak bisa mengelabuinya. Jansen yakin apa yang dia lihat sebelumnya bukanlah ilusi.
Tempat ini benar-benar mengerikan!
"Ayo, kita pergi!"
Tanpa berbasa-basi lagi, Jansen pun membantu Jasmin dan Cheryl untuk membawa buku batu itu. Setelah itu, dia mendorong mereka berdua untuk pergi dari lubang itu.
Jansen adalah orang terakhir yang berjalan pergi. Dia baru saja naik ke bagian
Lubang di sebelah atas makam ketika dia melihat ke bawah dan menyadari bahwa lilin-lilin yang terletak di sudut dinding perlahan-lahan terbakar habis. Cahaya di dalam bagian makam makin meredup dan hawa yang aneh keluar dari peti mati itu.
Bulu kuduk Jansen sontak meremang. Dia segera mendorong Jasmin yang berjalan di depannya dan meminta gadis itu untuk memanjat dengan lebih cepat.
Dia pun bergegas mengejar karena takut ada yang menarik kakinya kembali ke dalam makam.
Untungnya, tidak terjadi apa pun selama perjalanan mereka kembali. 10 menit kemudian, mereka berhasil keluar dari lubang dan menghirup udara segar. Rasanya mereka habis selamat dari bahaya besar.
"Aku tidak akan pernah ke sini lagi selama sisa hidupku! Aku tidak akan menginjakkan kakiku di Mansion Yin lagi meski ada harta karun dunia sekalipun! Dunia manusia lebih nyaman!"
Jasmin berujar dengan ekspresi ketakutan setengah mati.
"Ayo, bantu aku mengubur lubang makam ini!"
Jansen meletakkan buku-buku batunya dan mengukir kertas mantra untuk menyegel lubang makam itu dengan bantuan kompas kunonya, lalu mengubur lubang dengan tanah.
Sebagai Dewa Pencuri, Jasmin sangat berpengalaman dalam menghancurkan barang bukti. Dia bahkan menutupi lubang itu dengan tambahan rumput.
Waktu menunjukkan pukul empat pagi ketika semuanya beres.
Karena sudah tidak bisa mengejar jadwal kereta, Jansen pun membawa Jasmin dan Cheryl ke hotel untuk beristirahat.
"Lelah sekali! Aku tidak bisa berjalan lagi!"
"Aku juga!"
Kedua wanita cantik itu menyeret langkah mereka dengan susah payah dan duduk di atas tanah sambil terengah-engah.
Jansen tahu mereka kelelahan karena energi positif mereka ditekan dan butuh beberapa hari sebelum bisa pulih. Dia akhirnya membawa buku-buku batu di punggungnya sementara masing-masing tangannya menggendong kedua gadis itu.
Meski dipisahkan oleh pakaian, Jansen tetap bisa memandang kulit mereka yang sangat kenyal.
Wajah Jasmin dan Cheryl sontak memerah. Mereka ingin menolak, tapi mereka sudah terlalu lelah. Pada akhirnya, mereka membiarkan Jansen menggendong mereka.
Begitu tiba ke hotel, Jansen pun memesankan kamar untuk mereka, dia langsung mandi dan beristirahat.
Sementara Jansen pergi ke kamarnya sendiri dan meletakkan buku-buku batu di lantai.
Buku-buku batu itu bernilai sangat tinggi karena mencatat teknik dan jurus seni bela diri kuno. Akan tetapi, mana mungkin mereka bisa membawa buku-buku batu sebanyak ini?
Jika orang-orang Sekte Tersembunyi sampai tahu bahwa dia berhasil mendapatkan catatan-catatan ini, mereka pasti akan mencurinya.
Jansen memang tidak takut untuk menghadapi mereka, tapi dia pasti akan kesulitan ke depannya.
Jansen berpikir sejenak, lalu akhirnya membuka satu per satu buku-buku batu dan menyalin isinya. Setelah selesai, dia menghancurkan buku-buku itu dengan Api Yang.
Akan lebih mudah baginya jika dia mengingat semuanya.
Sisanya adalah beberapa lembaran giok.
Tunggu, sepertinya ada sesuatu yang terlupakan olehnya.
Oh ya, benda aneh yang tergantung di peti mati itu!
"Kenapa bisa begini?"
Jansen ingat dia sudah mengambil benda itu, itu sebabnya dia bisa melepaskan diri dari cekikan mayat itu.
Kenapa malah mendadak lenyap setelah dia keluar?
Jangan-jangan benda itu hilang di jalan?
Atau memang dia sama sekali tidak pernah mengambilnya?
Awalnya Jansen tidak berpikir banyak tentang hal ini, tapi sekarang dia merasa ada yang tidak beres.
Dia kembali mencari-cari, tapi tetap saja pada akhirnya dia tidak bisa menemukan benda itu.