Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 1004. Kamu Bertanya Padaku?


"Aku juga belum pernah mendengarnya, tetapi Harry mengatakan bahwa Tiga Monster Gunung Utara ini sangat terkenal di Dunia Jianghu. Mereka tidak ikut sekte, bertindak ceroboh, tetapi seni bela diri mereka sangat terampil. Mereka terkenal saat Konferensi Akademi Jianghu lima tahun lalu!"


Charlie berkata dengan serius, "Apalagi Harry tahu tentang kamu yang pernah bertarung satu lawan satu dengan master Transcedent Aliansi Seni Bela Diri, tapi dia masih tetap percaya diri dengan Tiga Monster Gunung Utara ini, berarti seni bela diri dari Tiga Monster Gunung Utara ini mungkin sudah mencapai tingkat Transcedent menengah!"


"Transcedent juga dibagi tiga tingkatan, jadi tergantung mereka sekarang di tingkat apa!"


Mata Jansen terlihat yakin.


Kali ini, berbeda dengan di Pulau Hongkong. Hakim Denis di Pulau Hongkong mempunyai banyak master. Di antara mereka, Jansen paling takut dengan keturunan pemilik Buku Lu Ban!


Saat itu, dia tidak yakin apakah keturunan ini termasuk ke dalam anak buah Hakim Denis. Jika iya, dia mungkin akan mati, makanya dia lebih memilih untuk melarikan diri saja.


Sedangkan yang disebut Tiga Monster Gunung Utara tidak begitu menakutkan.


Tentu saja, harus bertemu dulu baru bisa tahu.


Baru saja berjalan beberapa langkah, seorang pemuda dengan setelan loreng berjalan ke arahnya, dia didampingi dua orang kulit hitam berbadan kekar yang sudah jelas tukang pukul.


"Hei, bukankah ini Tuan Muda Charlie? Kamu juga datang ke sini untuk bermain?"


Pemuda itu menatap Charlie Lankester, lalu dia dengan hina berkata, "Kamu hanya suka mengambil keuntungan!"


Wajah Charlie redup, seolah-olah takut padanya.


"Siapa dia?"


Jansen bertanya pada Charlie yang berada di sampingnya.


"Dia Tuan Muda Kristan, anak dari raksasa bisnis di luar negeri, bermula sebagai penyelundup, dan sangat terkenal di kalangan orang Huaxia, dia juga anggota Perkumpulan Tuan Muda!" Charlie menjelaskan.


"Perkumpulan Tuan Muda?"


Jansen tahu bahwa yang disebut Perkumpulan Tuan Muda ini sebenarnya adalah sebuah perkumpulan yang didirikan sekelompok tuan muda elit. Mereka bergabung jadi satu, melakukan segala sesuatu yang mereka inginkan, bertindak sesuka hati, dan tidak peduli pada siapa pun.


"Tuan Muda Charlie, pria ini sangat asing. Apakah dia pengikutmu? Aku tidak suka tatapan matanya!"


Pemuda bersetelan loreng itu sontak menatap Jansen dengan tatapan dingin dan kesal.


Jansen tertawa dan berjalan ke hadapan pemuda itu, dan langsung menendang perutnya. Pemuda itu ditendang terbang dan menghantam pohon besar berjarak beberapa meter jauhnya. Pohon besar itu bergoyang seolah-olah akan patah!


"Tuan Muda Kristan!"


Seru kedua pengawalnya yang berkulit hitam, tidak menyangka Jansen akan bertindak secepat itu.


Tanpa menunggu mereka bergerak, Jansen sudah tiba di depan Tuan Muda Kristan, dan dia menginjak-injak Tuan Muda Kristan beberapa kali lagi hingga Tuan Muda Kristan memuntahkan banyak darah dari mulutnya seakan-akan organ dalamnya juga akan ikut keluar.


Lalu dia tampak tak bergerak, tidak tahu apakah masih hidup atau sudah mati!


"Kamu berani membunuh Tuan Muda Kristan!"


Kedua pengawal itu mengamuk, dan salah satunya melayangkan pukulan ke arah Jansen.


"Memangnya kenapa kalau aku membunuhnya?"


Jansen juga balas meninju.


Krak!


Lengan pengawal itu patah. Dia terhuyung mundur dan jatuh terduduk di atas tanah.


Sambil menatap Jansen, dia mulai merasakan sedikit ketakutan.


"Seni bela diri yang bagus, aku mengaku kalau aku bukan tandinganmu, tapi karena kamu telah membunuh Tuan Muda Kristan, mereka tidak akan melepaskan mu!"


Pengawal yang lain tidak berani bertindak. Bisa mematahkan lengan rekannya dengan satu pukulan, dia sadar bahwa dia mungkin telah bertemu dengan seorang praktisi seni bela diri Huaxia.


Mereka berdua berada di posisi teratas dalam lingkup tentara bayaran dan pasukan khusus, tetapi mereka takut bertemu dengan praktisi seni bela diri Huaxia. Kabarnya, orang-orang seperti ini tampak tidak terlalu kuat, tetapi menguasai sesuatu yang disebut Qi, tak ada yang mereka tak bisa.


Setelah selesai berbicara, mereka ingin kabur.


"Apa aku mengizinkan kalian pergi?"


kata Jansen santai.


"Kamu mau apa lagi?"


Keduanya menatap Jansen dengan ketakutan.


Perintah Jansen sambil menunjuk Tuan Muda Kristan yang tidak jelas hidup matinya. Ucapannya tenang, tapi perintahnya itu tidak bisa ditolak.


Kedua pengawal itu saling pandang dan berusaha menahan hinaan. Mereka menggendong Tuan Muda Kristan dan melangkah maju, sementara Jansen dengan malas-malasan mengikuti mereka di belakang.


Charlie Lankester ketakutan, dan akhirnya tahu bahwa Jansen tidak sedang bercanda. Orang ini benar-benar berani bertindak!


Sesampainya di vila milik Harry, dia melihat bahwa vila itu cukup besar dan penghijauannya bagus, ada juga tiga kolam renang dan danau buatan, di dalamnya juga sangat ramai, dan suara bising juga terdengar jelas.


Dua pengawal membawa tas lebar dan berjalan melewati pos penjaga.


Para penjaga memandang Tuan Muda Kristan dengan kaget dan tahu ada yang tidak beres, tetapi mereka tidak panik. Sebaliknya, mereka membuka akses pintu masuk dan membiarkan mereka lewat.


Jansen melihat penjaga berbalik badan dan melakukan panggilan telepon, mungkin mau mengabari Tuan Muda Harry, tapi Jansen tidak peduli. Lagian, dia tidak menyelinap masuk, tak masalah diberitahu.


Menyusuri jalan setapak, hingga ketika mereka tiba di taman depan vila, semburan omelan penuh amarah pun terdengar.


"Bagaimana sih kalian? Cuma seorang wanita saja tidak bisa dijaga dengan becus!"


"Tuan Muda Harry, dia ada di sana sebelumnya, tidak tahu kapan tiba-tiba menghilang, apalagi ruang bawah tanah dilapisi dengan pelat baja, tidak mungkin dia bisa melarikan diri!"


"Cepat cari!"


Suara Harry terdengar marah.


Jansen mendengar sesuatu, sepertinya Jessica telah melarikan diri.


"Dokter Jansen, vila milik Harry ini menahan banyak siswi dari seluruh negeri, khusus untuk dijadikan mainan bagi Perkumpulan Tuan Muda ini!"


kata Charlie Lankester secara tiba-tiba di sampingnya.


Jansen mengerutkan keningnya, "Bukankah mereka sangat kaya? Ketika menghamburkan uang, bukannya sudah termasuk ada berbagai model mulus dan wanita cantik, mengapa harus menahan orang!"


"Mereka mengatakan bahwa yang datang lewat pintu itu membosankan, mereka suka yang bisa melawan, lebih menggairahkan!" Charlie menghela napas. Dia juga seorang ahli waris keluarga kaya, tetapi sulit baginya untuk memahami selera seperti ini.


"Perkumpulan Tuan Muda? Perkumpulan Bajingan lebih tepat!"


Jansen menggelengkan kepalanya. namun dia tidak kaget dengan kelakuan mereka.


"Prok! Prok! Prok!"


Terdengar tepukan tangan, Harry sudah melihat mereka dan berkata sambil bercanda, "Jansen, aku mengagumi keberanianmu. Tidak apa kalau tak menghargai ku, tapi berani datang mendatangi ku, aku ingin tahu apa alasanmu!"


Benar saja, dia sudah menemukan Jansen.


Jansen mengabaikannya, mengamati sekeliling, terlihat banyak tuan muda yang hadir, tetapi tidak banyak yang kuat, kecuali tiga!


Tiga orang ini sedikit aneh, mereka semua berambut putih dan berbeda usia. Yang tertua tampak berusia 60 atau 70 tahun, yang tengah berusia 40 tahun, dan yang muda berusia lebih dari 20 tahun!


Namun, kekuatan mereka bisa dirasakan, mereka semua berada dalam lingkup Transcedent awal.


Terutama pemuda yang berusia dua puluhan, rambut putihnya memesona, dan wajahnya putih mulus. Aura energi Qi sedikit aneh, dan Jansen merasa bahwa dia adalah yang paling berbahaya.


Ketiga orang ini mungkin adalah Tiga Monster Gunung Utara.


"Jansen, tahukah kamu bahwa kamu membuatku sangat tidak senang!"


Pada saat ini, Harry berteriak lagi. Ia tidak terlihat terkejut sama sekali, melainkan sangat tenang.


Karena dia tahu ada Tiga Monster Gunung Utara di sana, tamatlah riwayat Jansen.


"Aku paling suka kamu tidak senang. Jangan omong kosong lagi, di mana Jessica?" kata Jansen santai.


"Kamu bertanya padaku? Harusnya aku yang bertanya padamu!"


Harry berteriak dingin, "Jangan berpura-pura lagi, jika kamu tidak menyerahkan Jessica hari ini, kamu harus mati!"


Sesuai dugaan Jansen, Jessica telah berhasil melarikan diri, Jansen pun mengangguk kecil, "Sepertinya aku datang sia-sia, tapi tidak apa-apa, sudah lama mataku sakit melihatmu, aku juga akan memberimu pelajaran hari ini!"


"Cuma kamu sendiri?"


Harry tertawa seraya menghina, "Kurasa kamu lupa kamu sedang berada di mana!"


"Tuan Muda Harry, untuk apa kamu banyak omong dengan orang kecil seperti itu, biarkan saja kami yang mengurusnya!"


Pada saat ini, pemuda berambut putih termuda di antara Tiga Monster Gunung Utara berjalan keluar dan menatap Jansen sambil berkata dengan menghina, "Aku bisa katakan padamu bahwa Jessica telah berhasil melarikan diri, tetapi dia bukan satu-satunya wanita di vila ini. Keluarkan yang lainnya!"