
Jansen mengangguk sopan, tiba-tiba merasa ada yang tidak beres. Dia sadar kalau orang-orang ini memiliki energi Qi, terutama pemuda berjas putih, yang menurut Jansen. dia pasti sudah mencapai tingkat bumi.
Apa mereka orang-orang dari dunia Jianghu?
"Kebetulan sekali, aku di sini juga untuk kencan buta!"
pemuda berjas putih itu tertawa, "Namun, aku di sini memang untuk kencan buta, sekaligus membantu orang, kuharap para gadis itu tidak jatuh cinta denganku!"
Terkesan sederhana, tetapi kata-katanya penuh percaya diri, seolah-olah dia percaya kalau gadis di kencan buta pasti akan menyukainya.
Hanya saja, Jansen merasa sedikit aneh untuk mewakili seseorang saat kencan buta.
"Kamu sangat tampan dan kaya, pasti kencan butamu akan berhasil. Tidak sepertiku, orang miskin yang malang, meski ikut ratusan kali kencan buta, tetap saja akan gagal!" Jansen tersenyum tak berdaya.
"Hahaha!"
orang-orang yang duduk di meja itu semuanya tertawa. Kemudian, pemuda berjas putih duduk di samping Jansen.
"Namaku Cyril!"
pemuda berjas putih memperkenalkan dirinya sendiri.
"Namaku Bimo Palmer , saudaranya Cyril."
"Keluargaku di Ibu Kota memiliki Mall. Namaku Todd Weil."
mereka memperkenalkan diri satu per satu. Bisa dibilang, mereka semua adalah ahli waris dari
keluarganya.
Jansen masih penasaran, kenapa mereka begitu ramah. Setelah dipikir-pikir, dia sadar kalau mereka ramah karena ingin melihat leluconnya.
Para ahli waris ini sangat membosankan!
"Bro, zaman sekarang kalau mau dapat pacar setidaknya punya tiga hal ini, rumah, mobil, lalu tabungan. Soal penampilan itu nomor dua, selama kamu punya tiga hal tadi, dijamin kamu bisa berhasil seratus persen!" Cyril berkata
dengan sopan tapi, terlihat cukup arogan.
Itu memang hal normal, Jansen hanyalah orang miskin. Sedangkan, latar belakang keluarga mereka luar biasa, apa lagi mereka hebat di dunia Jianghu. Jansen hanyalah pengemis yang tidak bisa dibandingkan dengan mereka.
Mereka berinisiatif untuk mengobrol dengan Jansen, namun obrolan mereka sangat membosankan.
Apa lagi, mereka memiliki banyak wanita yang tak terhitung jumlahnya. Sebenarnya, ini pertama kalinya Jansen ikut kencan buta, untung saja dia bertemu dengan orang yang
akan ikut kencan buta juga. Ini cukup menyenangkan.
Jansen pura-pura tertekan sambil berkata, "Aku tidak punya rumah, mobil, atau pun tabungan."
"Haha, kayaknya kamu akan jadi bujangan!"
Bimo tertawa, "Wanita zaman sekarang sangat realistis, mereka rela duduk di BMW sambil menangis daripada tertawa sambil duduk di sepeda!"
Cyril juga berkata, "Bro, jasmu pasti tidak bermerek, berapa gajimu sebulan? Kamu harus pakai yang lebih keren dong!"
Jansen Jas yang dia pakai, jas itu dibeli oleh kakeknya, mungkin kakeknya tidak mengerti merek terkenal, jadi kakeknya membeli merek lain. Dia sambil tertawa, "Aku masih dikasih makan sama kakekku, aku belum bekerja."
"Ya ampun, malas sekali!"
Semua orang menatapnya dan tertawa, "Sungguh orang yang tidak punya harapan, tapi bisa saja ada pengecualian. Mungkin masih ada wanita yang tidak memandang materi, tapi lebih soal cinta!"
"Itu benar, jangan menyerah bro, cinta pada pandangan pertama pasti bisa terjadi!"
Mereka menghibur Jansen, tetapi mereka tetap terkesan masih ingin melihat lebih banyak drama dari hidup Jansen.
Tidak ada pekerjaan, tidak ada tabungan, tidak ada mobil dan tidak ada rumah, penolakan siap menanti Jansen di depan!
"Kak Cyril juga akan pergi kencan buta nanti. Semoga kalian beruntung dan menggandeng wanita cantik!" kata Bimo
"Hahaha!"
Kerumunan itu tertawa terbahak-bahak, dalam hati penuh dengan penghinaan.
Mana bisa pecundang ini dibandingkan dengan Cyril?
Cyril sangat sukses sedangkan, pecundang ini... sangat memalukan!
Saat mengobrol, pintu lift terbuka lalu wanita cantik muncul dari sana. Wanita itu tinggi dan cantik, terutama kulitnya yang seputih dan selembut bayi, juga ada bunga warna pink
tergantung di saku dadanya!
"Itu si bunga pink, Kakak Cyril, itu dia kencan butamu!"
Semua orang terkejut, wanita itu sangat cantik seperti dewi
Apa lagi kepribadiannya, terlihat seperti sosok yang baik, sangat cantik!
Cyril awalnya ke sini hanya untuk mewakili temannya saja. Tapi, siapa sangka dia matanya tidak berhenti menatap wanita itu, dia terpesona.
Sial, ternyata Kak Aidan berkencan buta dengan wanita yang sangat cantik!
Dia diam-diam malu karena dia merasa kalau dia pasti berhasil berkencan dengan wanita mana pun, karena latar belakang keluarga, penampilan dan bakatnya. Tetapi pertama kalinya dia merasa rendah diri di hadapan wanita cantik itu.
Saat ini, Jansen juga bergumam, dan mengenali kalau wanita yang datang itu adalah Elena.
"Apa kamu juga berkencan dengannya? Bro, kamu yakin layak untuk dia? Eh, salah, maksudku, kamu yakin?"
"Kalau dinilai dari 1 sampai 10, selebgram nilainya bisa 6 poin, artis bisa 7 poin, kalau wanita ini bisa sampai 9 poin, kamu yakin mau berkencan sama dia?"
"Lebih baik lupakan sajalah!"
Semuanya menatap Jansen, lalu menggelengkan kepala.
Cyril hampir tertawa, bahkan pria ini tidak punya keberanian, dari mana si malang ini berasal? Cyril tertawa, "Ayolah, kami akan mendukungmu dari belakang, semoga berhasil!"
Jansen langsung berjalan ke sana sambil membawa bunga.
Cyril menatap Jansen selangkah demi selangkah mengagumi keberaniannya!
"Mari kita saksikan drama yang bagus, aku ingin tahu apa jawaban wanita itu saat dia bilang dia tidak punya mobil dan rumah."
Bimo sangat menantikannya.
Saat ini, Elena juga melihat Jansen, dia tidak terkejut sama sekali. Lagi pula, Kakek Herman sudah mengingatkan dia!
Jika tidak, dia tidak akan datang ke sini untuk kencan buta!
Jansen juga sama, jika bukan karena takut dipukuli kakeknya, dia tidak akan mau datang!
"Kamu pasti kencan butaku!"
Jansen berjalan mendekat dan berkata, "Aku perkenalkan diriku dulu, aku umur 26 tahun. Aku punya banyak teman wanita mereka semua sangat cantik. Yang terpenting adalah aku tidak bisa hanya punya satu istri, karena masih ada satu yang menungguku untuk menikahinya di rumah!"
Meski suaranya tidak nyaring, tapi Cyril dan teman-temannya bisa mendengarnya, dan mereka tercengang!
Sial, luar biasa si pecundang ini!
Jansen melanjutkan, "Sekarang, aku hanya ingin mencari istri yang jujur, harapanku aku ingin istri yang tingginya 1,7 meter, karena aku tingginya 178 sentimeter. Kalau tingginya beda jauh itu kurang bagus menurutku. Lalu tidak boleh pergi
ke diskotik, itu hal yang penting bagiku. Kalau kamu mau ke diskotik, bilang dulu denganku, kalau tidak mau bilang, lupakan saja. Aku ini bukan pria yang mudah di dapatkan!"
Pfffft!
Cyril dan teman-temannya tertawa, tidak lama lagi si pecundang itu pasti ditampar!
Padahal wanita seperti itu susah didapatkan, dasar bodoh, dasar pecundang!
"Oke, Aku mengerti!"
Elena mengangguk. "Sekarang giliranku untuk bertanya padamu."
Cyril dan teman-temannya bingung, kenapa si pecundang tidak ditampar?
Elena bertanya, "Apa kamu punya rumah?"
"Tidak punya!"
"Kalau, mobil?"
"Juga tidak punya!"
"Kalau tabungan?!"
"Tidak juga, sekarang aku hanya membantu kakekku di rumah, uang yang kakek kasih juga tidak banyak!"
Jansen terus menggelengkan kepalanya..
Cyril mengepalkan tangan dengan gugup. Dia tidak punya rumah, tidak ada mobil, tidak ada tabungan. Pasti kali ini akan ditampar, kan?
Rasa ingin tahunya sangat tinggi. Wanita ini bernilai 9 poin, tidak mungkin dia membiarkan pecundang itu mengambilnya!
"Kamu tidak punya apa-apa?"
Lalu, nada bicara Elena terdengar sedikit menghina, "Aku punya rumah, rumahku besar dan terletak di jalan besar Ibu Kota. Aku mengendarai Mercy, dan aku juga punya
tabungan. Gaji bulananku sekitar 30 ribu yuan, aku pekerja kantoran!"
Semua kriteria itu pasti menghancurkan Jansen, dan Cyril sangat senang mendengarnya!
Tidak perlu yang lain, cukup mendengar kalau dia punya rumah besar di jalan besar Ibu Kota saja, itu sudah bisa membuktikannya!
Mereka berdua tidak akan bisa bersatu!
Terutama saat melihat setelan gaya barat wanita cantik yang bermerek itu, dan pecundang yang murahan itu, mereka seperti melihat angsa dan katak!
Elena berkata lagi, "Kamu tidak punya apa-apa, tapi aku yang punya segalanya, kita sangat cocok, kuharap kamu memberiku kesempatan, biarkan aku memiliki pria sepertimu!"
Jansen mengerutkan kening, "Apa kamu yakin ingin memiliki pria sepertiku?"
"Bodoh, tidak punya perasaan!"
Di dalam restoran, Cyril dan teman-temannya seperti tersambar petir!