Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 708. Sekte Wudang!


Nama Wudang pertama kali muncul di dalam buku Sejarah Han Huaxia di mana terletak di Gunung Taiche. Saat Gaozu menjabat sebagai kaisar di tahun kelima, Wilayah


Wudang pun resmi didirikan.


Sejak akhir masa dinasti Han hingga dinasti Wei, Jin, Sui dan Tang, Wudang menjadi salah satu tempat tersembunyi bagi mereka-mereka yang mencari keabadian dan mempelajari Taoisme.


Tidak sedikit orang yang memilih pergi ke Gunung Wudang untuk berwisata. Jansen dan Veronica mengikuti tur wisata dan berangkat secara berombongan. Tentu saja, Jansen tahu jika objek wisata Wudang yang ada di Gunung Wudang ini sejatinya bukanlah sekte Wudang yang sebenarnya!


Sekte Wudang yang asli jauh tersembunyi di belakang gunung Wudang yaitu Taiche dan tidak ada satu pun orang yang tahu.


"Jansen... saat usiaku 16 tahun, aku pernah pergi wisata ke Gunung Wudang. Kalau dilihat-lihat sih, Gunung Wudang hanya sebuah objek wisata yang biasa-biasa saja!"


Pakaian yang dipakai Veronica di dalam bus sangat santai, tapi tetap saja sulit untuk menyembunyikan kecantikannya. Orang-orang di dalam bus sedikit banyak pasti menatapnya.


"Objek wisata kali ini adalah Gunung Wudang, tapi memiliki keaslian yang berbeda dengan sekte Wudang yang sebenarnya. Sebagai salah satu sekte menengah, sekte Wudang mewarisi teknik beladiri dari zaman kuno dan hanya tersembunyi dalam kegelapan!" ujar Jansen mencoba


menjelaskan. Jika saja tidak ada peta yang diberikan Ibu Fadlan Weil, dia tidak akan tahu di mana lokasi sekte Wudang yang sebenarnya.


"Sekte Wudang yang sebenarnya!"


Veronica terlahir dari keturunan keluarga elit. Dia tahu sekte besar, Sekte menengah, dan Akademi Tiga Belas yang sangat misterius. Ayahnya sekalipun, sangat sulit untuk sering bertemu bahkan untuk melihatnya.


Ini merupakan aset seni beladiri tradisional Huaxia!


"Jansen, ada apa?"


Saat memikirkannya, Veronica menatap ke arah Jansen sambil mengatakan sesuatu. Hanya saja, dia justru melihat Jansen sedang menoleh ke arah belakang bus yang mereka tumpangi. Tampak beberapa mobil Land Cruiser di belakang.


"Tidak ada apa-apa... kita sedang diikuti oleh seseorang!" jawab Jansen sembari menggelengkan kepalanya.


Karena pernah mempelajari teknik anti-tracking di departemen kemiliteran, jadi dia bisa mengetahuinya meski hanya sekilas.


"Apa mereka dari organisasi itu?"


"Bukan, tapi Elena!" bisik Jansen.


Elena adalah salah satu kandidat calon Raja prajurit. Cara mengintainya memang sangat hebat, tapi sayang dia berhadapan dengan kandidat no 1 calon Raja prajurit. Jadi,


pengintaian ini bisa dibilang tidak ada gunanya.


"Bapak Ibu wisatawan semua, kita sudah sampai di Gunung Wudang, silahkan turun dan berkumpul di tempat yang sudah ditentukan!"


Pada saat ini, bus berhenti perlahan, suara pemandu wisata pun terdengar nyaring, "Bapak ibu wisatawan semuanya, kami harap jangan pergi ke mana-mana seenaknya, mengingat cuaca kali ini sangat dingin dan ekstrem. Ada


beberapa tempat memiliki kondisi tanah yang gembur dan mudah longsor sehingga sangat berbahaya. Tahun lalu, sempat terjadi kecelakaan di tempat ini. Ada beberapa


wisatawan yang memisahkan diri dari rombongan kemudian tersesat di pegunungan dan terjebak selama sehari semalam sebelum diselamatkan!"


"Oke, siap!"


Para wisatawan pun tersenyum menanggapinya. Memangnya siapa sih yang akan berjalan keluyuran di pegunungan dan hutan terpencil seperti ini!?


Mereka semua mengeluarkan ponsel tak hentinya mengambil foto. Terutama saat melihat Wudang Palace dan Purple Cloud Palace. Ingin rasanya mereka langsung menuju puncak.


Pada saat ini, Jansen dan Veronica telah meninggalkan rombongan tur wisata. Mereka menyusuri jalan sempit menuju tebing.


Tak lama kemudian, turun beberapa orang dari mobil Land Cruiser. Mereka mengenakan kacamata hitam dan jaket kulit seperti orang yang berwisata pada umumnya.


"Senior... sepertinya Jansen telah menghilang!"


teriak salah seorang wanita pada Elena.


Wajah Elena dingin, "Lihat sekeliling perhatikan orang sekitar, ingat, tidak boleh ketahuan olehnya!"


Mereka semua adalah anak buah Elena. Dan Jansen belum pernah bertemu dengan mereka semua. Seharusnya, pria itu tidak akan mengenali mereka.


"Jansen... untuk apa kamu datang ke Gunung Wudang? Dan juga untuk apa mengajak pergi Veronica bersamamu! Sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan!"ucapnya pada diri sendiri.


Elena memakai topinya dan terus berjalan menuju puncak. Namun, tetap saja dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Jansen. Tiba-tiba... dia berdiri di dekat pagar pembatas dan melihat 2 sosok yang sangat familiar di bawah tebing.


Meski jaraknya cukup jauh, tapi dia tetap bisa mengenali wajah Jansen dan juga Veronica.


Apa Jansen juga menyadarinya?


Saat ini, Jansen sedang membawa Veronica bergerak turun menyusuri jalanan pegunungan.


Veronica juga bisa seni bela diri. Jika tidak, dari awal dia sudah tidak mampu berjalan.


Dia mengangkat matanya. Sejauh mata memandang, hanya terlihat pepohonan yang lebat, persis seperti sebuah tempat terpencil.


"Jansen, Elena dan yang lainnya... !" teriak Veronica kemudian.


"Tenang saja, mereka tidak akan bisa mengejar kita!"


Jansen melihat peta sejenak, kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Tanpa terasa, mereka telah melintasi 3 gunung sekaligus. Dan di hadapan mereka saat ini, nampak sebuah


Jansen menghela napas penuh emosional. Betapa luar biasanya Huaxia, entah berapa banyak rahasia yang tersimpan di dalam Huaxia tercinta ini.


Dia pernah pergi ke lop nur, Lembah Cacing dan sekarang the real Wudang Seolah-olah dirinya telah menjelajahi satu persatu rahasia yang ada di tanah Huaxia ini.


"Di depan ada tebing, hati-hati! Lewati gua itu!" bisik Jansen tiba-tiba.


Mereka berdua terus melanjutkan perjalanan. Jalan di depan berada di tepi tebing. Namun, hanya ada 1 jalan untuk menuju gua. Selain itu, gua tersebut dalam kondisi basah dan bersalju. Jansen khawatir jalan yang akan mereka lewati akan sangat berbahaya.


"Baik!


Veronica mendaki gunung dengan membawa tas ransel di punggungnya. Hukumnya wajib untuk mereka masuk ke dalamnya.


Jansen merasa tidak enak hati pada Veronica. Padahal, mereka hanya bertemu beberapa kali saja. Tapi... wanita itu justru bersedia mempertaruhkan nyawanya!


Apa ini yang Dinamakan cinta?


Atau mungkin... ada tujuan tertentu yang dimiliki Veronica?


Setelah keduanya masuk ke dalam gua, senter pun dinyalakan. Kaki mereka terus melangkah masuk ke dalam gua.


Kondisi di dalam gua sangat dingin, gelap nan panjang. Orang biasa-biasa saja tidak mungkin bisa datang ke tempat ini.


Tanpa sadar, Jansen teringat perang yang terjadi kota Asmenia Pulau Ayam. Saat itu, angin topan berhembus dengan kencangnya. Elena tidak takut angin topan dan datang menggunakan kapal untuk menyelamatkannya!


Saat itu, dia juga berada di dalam gua semalaman. Setelah keluar, orang yang pertama kali dia lihat adalah Elena.


Perasaan saat itu sulit untuk diungkapkan.


Setengah jam lamanya mereka terus berjalan. Dan tiba-tiba, raut wajah Jansen seketika berubah, "Cepat keluar dari sini, gua ini akan runtuh!"


Veronica tercengang sejenak dan kemudian mempercepat langkah kakinya.


Duar!


Benar saja, bebatuan besar jatuh dari atap gua. Jansen menggunakan tangga awan Vertikal dan bergerak maju secepat mungkin. Dia menarik Veronica ikut bersamanya.


Meski Veronica memiliki seni beladiri yang cukup lumayan, tapi tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan milik Jansen.


Namun, meski keduanya telah bergerak dengan cepat, tapi... bebatuan gua jauh lebih cepat runtuh ketimbang pergerakan mereka. Salju dengan skala besar runtuh seketika. Dan tiba-tiba... muncul sebuah cahaya di arah depan mereka. Akhirnya mereka tiba di ujung gua.


"Kamu pergi lebih dulu, cepat!"


Saat hendak bergegas keluar, Jansen tiba-tiba mendorong Veronica keluar.


Duar!


Detik selanjutnya, sebuah batu besar runtuh. Jika saja Jansen terlambat mendorong Veronica, sudah pasti Veronica akan celaka.


Tapi... Jansen juga berada dalam posisi yang terpojok. Dia menggunakan kedua tangannya untuk menahan batu besar itu.


Veronica berhasil keluar dari gua dan bisa melihat Jansen menahan batu besar itu. Tapi... dari arah atas masih ada lebih banyak lagi batu yang jatuh. Suasana pun semakin genting.


Veronica merasa ketakutan dan langsung mundur beberapa langkah. Sepertinya, dia telah melupakan kondisi Jansen saat ini.


Jansen bisa merasakan berat batu yang ditahannya semakin bertambah. Dia lantas berteriak, profound Qi terus bergejolak dan mengarahkannya pada batu besar di atas


kepalanya dan melesat keluar melalui celah yang sedikit.


Baru saja pergi, batu-batu besar mulai berjatuhan dan membanjiri mulut gua


Baru saja keluar dari gua, tapi mara bahaya masih belum usai. Dari kejauhan, nampak salju bergulung dengan hebatnya mengarah ke arah dia !


"Gawat!"


Mata Jansen pun terbelalak.


Profound Qi di dalam tubuh baru saja dia keluarkan. Dalam waktu dekat, sulit untuknya menggunakan Profound Qi tersebut untuk melawan longsor itu. Sepertinya dia akan tenggelam di dalam longsor saat ini.


Detik berikutnya, muncul sebuah gambaran di dalam kepalanya. Dan itu sebenarnya adalah gambaran penandatangan surat cerai.


Tapi dengan cepat berlalu. Tiba-tiba, dia mulai teringat Natasha, Gracia, dan terakhir Veronica.


Sungguh cepat kemampuan lari wanita itu!


Ternyata dia lagi-lagi ditipu oleh seorang wanita!


Pantas saja ada pepatah berkata, "Jangan percaya ucapan seorang wanita selamanya, apalagi wanita yang cantik!"


Dan di saat yang bersamaan, seutas tali tiba-tiba mendekat ke arahnya. Jansen saat ini telah tenggelam dalam longsoran salju. Telapak tangannya secara naluriah hanya bisa meraih dan menggenggam tali itu. Kemudian, tali terus ditarik dan ditarik lagi sampai berhasil menariknya keluar.


Jika bukan karena seutas tali itu, mungkin saat ini Jansen telah terkubur jauh di bawah longsoran salju.