
Kenzo terkejut mendengar ucapan Hilton yang sangat langka ini. Hal ini juga membuktikan bahwa Hilton sudah percaya dengan kehebatan Jansen.
"Nah, aku kira saudara Jansen ini hanya seorang pecundang menantu Keluarga Miller dan menikah demi mendapatkan harta mereka. Namun, setelah aku melihat kehebatan saudara Jansen tadi, aku sadar aku sudah salah menilai saudara Jansen. Dengan kemampuan yang dimiliki, saudara Jansen pasti akan terkenal di Ibu Kota!" lanjut Tuan Hilton menambahkan.
Setelah melihat langsung bagaimana Jansen menembus peluru dengan jarum perak, tentu. Hilton tahu Jansen bukan orang biasa.
"Betul, betul!"
Kenzo buru-buru melanjutkan, "Dunia seni beladiri di Ibu Kota sangatlah kacau. Ibu Kota adalah tempat berkumpulnya para master yang jumlahnya paling banyak di Huaxia. Namun, para master ini masih tidak bisa menandingi kehebatan saudara Jansen!"
"Bagaimana status delapan keluarga elit Ibu Kota itu?" Jansen tiba-tiba juga bertanya dengan penasaran.
"Delapan keluarga elite Ibu Kota adalah keluarga elit terkuat di Huaxia. Apalagi, empat keluarga elite teratas itu adalah keluarga seni bela diri. Latar belakang sejarah keluarga mereka bisa ditelusuri sampai Dinasti Ming!" ucap Kenzo menjelaskan, "Di antara delapan keluarga elit Ibu Kota ini, terdapat dua orang Raja Surgawi dan empat orang Vajra Agung. Tuan Hilton kebetulan adalah salah satu Vajra Agung. Tak hanya itu, Taun Hilton juga didukung penuh oleh Keluarga Huton yang merupakan salah satu dari empat keluarga elit teratas!"
Mendengar perkataan ini, Jansen hanya sedikit mengangguk. Dunia seni beladiri di Ibu Kota memang sangat kacau.
Jika Jansen masih berada di Kota Asmenia, dia tidak akan pernah tertarik dengan dunia seni beladiri ini karena dia hanya ingin menjadi seorang dokter di sebuah kota kecil.
Namun, kondisi sekarang sudah berbeda. Jansen harus tahu tentang ini semua.
"Bagaimana dengan Keluarga Miller?" tanya Jansen.
"Keluarga Miller berada di urutan bawah dalam delapan keluarga elit Ibu Kota. Karena itu, mereka masih harus memberi muka kepada Vajra Agung dan Raja Surgawi!"
Tuan Hilton tiba-tiba menyela dengan tegas, "Akan tetapi, generasi tua Keluarga Miller dan generasi sebelumnya semua sangat hebat. Mereka sulit dikalahkan. Sejak munculnya Danial yang juga merupakan seorang tokoh terkenal, generasi penerus berikutnya sudah tidak ada lagi yang bisa meneruskan kejayaan keluarga mereka. Hanya Jessica seorang yang masih tergolong lumayan!"
"Maksud Tuan Hilton, selain generasi tua Keluarga Miller, hanya Jessica seorang yang Tuan Hilton segani?" Jansen kembali bertanya.
Tuan Hilton mengangguk, "Faktanya, empat keluarga elit terakhir , yakni Keluarga Carson, Keluarga Woodley, Keluarga Palmer dan Keluarga Miller, semuanya mengalami hal serupa. Meskipun begitu Keluarga Carson dan
Keluarga Woodley masih punya generasi penerus yang cukup terpandang dan cukup kami segani juga!"
Setelah berhenti sejenak, tuan Hilton memandang Jansen dengan kekaguman, "Keluarga Miller sekarang sudah punya orang hebat selain Jessica!"
"Aku bukan orang Keluarga Miller!"
Jansen membantah pernyataan Tuan Hilton sambil menatapnya, "Aku lihat ada sesuatu di dahi Tuan Hilton, apakah belakangan ini terjadi masalah?"
Raut wajah Tuan Hilton berubah drastis. Awalnya, dia menganggap Jansen sebagai seorang penipu ulung, tetapi kini dia malah sebaliknya meminta bantuan kepada Jansen.
Jansen pun setuju membantu Tuan Hilton. Lagi pula, Tuan Hilton adalah salah satu Vajra Agung di Ibu Kota dan kelak Tuan Hilton bisa berguna bagi Jansen.
Setelah sekian lama, Jansen akhirnya kembali ke rumah komunitas. Jansen sedih karena tidak ada orang lagi di sana. Elena pergi dinas seminggu dan Natasha sibuk mengurus pekerjaan.
Setelah berpikir sejenak, Jansen terlebih dahulu mengirim pesan kepada istrinya, membujuknya untuk mau bekerja sama dengan Keluarga Miller. Jansen juga menurutinya karena bagi Jansen itu hanya kerja sama kecil-kecilan.
Jansen kemudian menelepon kakeknya agar datang ke Ibu Kota keesokan harinya.
Jansen sudah memantapkan kaki di Ibu Kota. Aula Xinglin pun sudah bisa mulai beroperasi.
Setelah menelepon, Jansen bersiap untuk pergi makan di luar karena malas memasak. Saat baru mau keluar rumah, tiba-tiba tercium aroma wangi parfum yang menyengat.
Setelah melihat sekilas, ternyata wangi yang berasal dari kamar sebelah itu adalah wangi parfum seorang gadis yang berpenampilan modis dengan rok pendek hitam.
Karena cahayanya gelap, Jansen tak bisa melihat jelas wajah gadis itu seperti apa. Namun, dari penampilan gadis ini kemungkinan besar adalah seorang pekerja di tempat hiburan malam.
Jansen tidak menghiraukan dan langsung pergi.
Saat ini, Keisha menutup pintu ruang tamu dan menggosok-gosok kakinya dengan stocking, Wajah Keisha tampak lelah.
Keisha baru saja turun dari pesawat dan sekarang harus bekerja lagi.
Keisha terpaksa harus bekerja keras karena keluarganya memang sedang butuh uang.
"Lho, itu dia?"
Tiba-tiba, Keisha melihat Jansen keluar dari halaman rumah dengan cepat. Dia juga bingung seketika.
Bukankah Jansen adalah tentara yang berjumpa dengannya di atas pesawat?
Keisha buru-buru mengejar, tapi Jansen sudah pergi.
Karena Jansen juga tinggal di rumah komunitas ini, Keisha berpikir suatu hari kelak pasti bisa berjumpa lagi dengannya.
Keesokan pagi, Jansen pergi ke bandara untuk menjemput kakek dan lainnya. Tak lama berselang, Jansen melihat beberapa orang akhirnya muncul.
Mereka adalah kakek dan bibi Jansen serta Mulin.
Sayang sekali Melody dan Verrel tidak datang, Mereka sepertinya sedang focus dengan studi mereka.
"Jansen!"
Kakek Jansen dengan penuh bahagia melambaikan tangan. dari kejauhan saat melihat Jansen. Dia membawa barang-barang bawaan dan datang berlari memeluk Jansen.
"Guru!"
Mulin di samping membantu kakek. Dia juga takjub dengan kemegahan Ibu Kota dan ingin mengembangkan keterampilan medis di sana sehingga dia merasa sangat senang.
"Akhirnya datang juga, pasti sangat melelahkan kan?"
Jansen buru-buru membawa koper kakek. Setelah keluar dari bandara, dia memanggil taksi dan mengajak kakek makan malam.
Jansen makan bersama kakek dan keluarganya di Restoran.
"Cuaca di Ibu Kota jauh lebih sejuk!"
Kakek Herman melihat sekeliling dengan penasaran sambil menyantap makanan. Dia masih merasa asing dengan segala sesuatu yang ada di Ibu Kota.
Jansen mengambilkan makanan untuk kakek dan berkata sambil tertawa, "Sebentar lagi hujan akan turun!"
"Dingin sekali, aku tidak tahu bisakah kita terbiasa!"
Sofia tertawa dan berkata, "Oh ya, bagaimana masalah kamu dengan Elena?"
"Jangan khawatir!"
Jansen menceritakan tentang perjanjian enam bulan antara dirinya dengan Keluarga Miller.
Kakek Herman dan Sofia sontak merasa khawatir, tetapi setelah mendengar ucapan Jansen yang penuh percaya diri, mereka pun akhirnya tenang.
"Guru, kapan pembukaan resmi Aula Xinglin?"
Mulin penasaran dan bertanya karena Ibu Kota adalah tempat berkumpulnya dokter-dokter terkenal se-Huaxia. Mulin juga ingin tahu sejauh mana kemampuan para dokter yang ada di Ibu Kota.
"Tenang saja, beberapa hari lagi!"
Jansen mengangguk. Urusan berikutnya adalah pemilihan tempat usaha. Namun, masalah ini bisa diselesaikan oleh Natasha.
Mereka semua makan dengan puas, tetapi makanan di meja masih tersisa. Kakek Herman terbiasa hemat sehingga meminta pelayan untuk membungkus pulang makanan yang tersisa itu.
"Joshua, dasar kamu! Hanya karena harus menunggumu seorang, kontrak senilai 2 juta yuan juga berantakan jadinya. Kamu memang tidak berguna!"
Pada saat ini, seorang pasangan kekasih masuk ke dalam restoran. Si wanita sedang memarahi pacarnya itu.
Badan si pria tidak tinggi dan lumayan gemuk serta selalu tersenyum.
"Joshua?"
Mendengar percakapan mereka berdua, Jansen sontak terkejut karena nama si pria sama persis dengan nama seorang kawan baiknya saat kuliah dulu.
Ketika kuliah dulu, Jansen tidak pandai bergaul sehingga dia hanya punya seorang teman baik, yaitu Joshua .
Joshua ini sangat baik kepada Jansen. Dia sering membawakan makanan ringan untuk Jansen dan membantu Jansen. Selain itu, Joshua juga berasal dari keluarga berada.
Ayah Joshua memiliki usaha bahan obat-obatan di Kota Asmenia. Namun, sejak mereka sekeluarga pindah ke Ibu Kota, Jansen tidak pernah bertemu lagi dengan Joshua.
Awalnya, Jansen juga ingin pergi mencari Joshua, tetapi karena kesibukan dia pun tidak sempat.
"Heh, Jansen?"
Pria gemuk dengan tatapan sangar itu juga melihat Jansen dan segera berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa sambil mengamati Jansen dari atas ke bawah, "Haha, kamu benar-benar Jansen, ini pasti kakekmu. Dulu aku pernah berjumpa!"
"Jansen, ini siapa?"
Kakek Herman sudah tidak ingat lagi siapa Joshua ini.