Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 411. Berantakan!


Tanah panti asuhan dimenangkan oleh group Aliansi Bintang yang merupakan legenda. Mereka ada di kota pedalaman dan bukanlah perusahaan kecil tanpa nama. Tapi di bawah kepemimpinan seorang ketua dewan direksi, perusahaan itu melonjak selangkah demi selangkah dan secara bertahap menjadi sepuluh perusahaan terkaya di Huaxia. Terutama ketua dewan direksinya, dia adalah sosok yang legendaris. Katanya, dia masih sangat muda dan cantik.


Walaupun group Aliansi Bintang tidak terlibat politik atau militer, tapi dengan reputasinya yang besar, Keluarga Miller tetap akan memberi mereka wajah.


Karena itu, Keluarga Miller tidak punya pilihan untuk menyelesaikan masalah panti asuhan ini, karena mereka tidak ingin kehilangan wajah mereka dengan Grup Aliansi Bintang.


Saat ini, Jansen telah datang ke rumah Keluarga Miller dan baru mau memasuki gerbang. Tiba-tiba, ada sosok yang keluar. Pria ini mengenakan jas, kacamata dan tas Louis Vuitton. Penampilannya keren, seperti seorang Presdir.


Dia adalah Paman Keempat yang bernama Rowen Miller, yang mengembangkan nama Keluarga Miller menjadi lebih besar. Setiap orang memiliki posisinya sendiri. Ada yang berpolitik, ada yang menjadi tentara dan ada yang berbisnis!


Paman keempat adalah penguasa bisnis yang sangat hebat!


"Jansen?"


Setelah Melihat Jansen, Rowen mengerutkan keningnya. Menurutnya, Jansen menolak untuk bercerai karena menginginkan uang Keluarga Miller. Intinya adalah keserakahan. Bagaimanapun, Keluarga Miller juga berencana memberinya uang, tetapi menantu laki-laki itu malah menyulitkan diri sendiri!


"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu pikir kamu bisa keluar masuk ke rumah Keluarga Miller dengan sesukamu? Kamu tidak sadar siapa dirimu? Apa kamu datang untuk meminta uang!" kata Rowen menegurnya dengan wajah serius. Melihat Jansen dengan pakaian murahan, dia semakin memandang rendah Jansen.


Mengenai Jansen adalah seorang dokter? Di dunia ini penuh dengan dokter. Apakah sulit untuk menemukan dokter lain yang lebih baik?


Jansen agak terkejut. Pria ini sepertinya adalah paman keempat Elena. Nada bicaranya sombong sekali!


"Aku ini, orang yang paling menghargai orang-orang yang sederhana, paling benci Melihat orang yang suka berfoya-foya. Apa ada pria yang berlutut di depan istrinya demi uang? Apa masih bisa disebut sebagai seorang pria!" kata Rowen yang terus memakinya.


Jansen tersenyum. Perkataan Rowen ini bagus sekali. Kalau dia bukan dari Keluarga Miller, mungkin dia akan menjadi tukang. Walaupun Jansen tidak memiliki latar belakang keluarga yang baik, tapi di kota Asmenia dia bisa berhasil.


Dia juga tidak berdebat dengan Rowen, karena dia meremehkannya!


"Lebih baik aku pergi saja!"


Jansen berbalik dan pergi.


Melihat Jansen pergi, Rowen merasa sedikit bangga. Terakhir kali Jansen membuat keributan di Keluarga Miller, tapi akhirnya dia ketakutan sendiri!


"Rowen, kenapa kamu mengusirnya!"


Tiba-tiba ada seorang pria keluar dengan duduk di atas kursi roda, itu adalah Paman Ketiga, Lucky.


"Kakak ketiga, anak ini pasti datang ke Keluarga Miller karena menginginkan uang!" Rowen berkata.


"Kamu bodoh, kamu lupa apa yang ibu katakan? Ibu menyuruhnya menangani masalah panti asuhan. Kalau kamu mengusirnya, bagaimana jika dia melaporkan masalahnya kepada Ibu?" kata Lucky memarahinya.


Rowen terdiam sesaat. Memang ada masalah seperti ini, tapi tadi dia pikir itu hanya sebuah candaan saja!


"Dia mau tidak mau pergi dan mengatasi kekacauan yang terjadi di panti asuhan. Tapi kamu malah memarahinya dan membuatnya pergi!"


Kata Lucky berpura-pura marah, tapi diam-diam dia membantu Jansen.


Wajah Rowen sedikit berubah. Jansen jelas tidak akan bisa menyelesaikan masalah panti asuhan itu, tapi jika tidak menyelesaikan masalah panti asuhan karena dia diusir itu adalah hal yang berbeda.


Ketika nanti orang-orang bertanya, kenapa Jansen tidak mengurusi masalah panti asuhan itu, Jansen juga yang akan menyalahinnya!


Setelah Rowen memikirkannya, lalu berkata dengan buru-buru, "Jansen, berhenti!"


Jansen sepertinya tidak mendengarnya dan tetap berjalan pergi.


"Jansen, apa kamu mendengarku?"


"Bagus, sampah ini berani menghiraukanku!"


"Kamu ... kamu cepat kembali ke sini!"


Awalnya, Rowen menganggap Jansen seperti bawahannya dan memarahinya, tetapi lama kelamaan dia memohon kepadanya!


Cuih!


Jansen memuntahkan air liur ke tanah dan berkata, "Bisakah air liur yang dimuntahkan ini kembali?"


Rowen menjadi sangat marah, tetapi saat ini dia tidak berani menyinggung Jansen. Bagaimanapun, ini ada hubungannya dengan ibunya, nenek Keluarga Miller.


"Tidak bisa, oke, aku salah, oke?


Rowen mengigit giginya menahan amarah, menundukkan kepala dan mengakui kesalahannya!


Aku pikir aku adalah presdir dari Grup Miller. Tapi meminta maaf kepada seorang pecundang, memikirkannya saja sudah membuatku malu!


"Kamu benar, aku datang ke Keluarga Miller untuk mendapatkan uang. Aku sangat senang karena bisa naik tingkat dalam sekali melangkah. Aku berlutut untuk mendapatkan uang Keluarga Miller, aku bukan seorang pria!" kata Jansen dengan suara pelan.


"Huh, Jansen, aku salah, aku benar-benar minta maaf kepadamu dan cepatlah selesaikan masalah yang nenek berikan kepadamu!" Amarah Rowen perlahan mereda dan berubah menjadi rendah hati.


"Lalu katakan, apakah aku seorang pria?" Jansen bertanya.


"Iya, kamu seorang pria!"


Kata Rowen yang hanya bisa mengikuti keinginan Jansen!


Jansen hanya mengangguk, berbalik dan berjalan masuk ke rumah Keluarga Miller, sambil berjalan dia berkata, "Jika aku seorang pria, maka kamu yang bukan pria!"


"Kamu!"


Rowen sangat marah hingga ingin membunuhnya, tetapi dia tidak berani melakukannya. Dia hanya bisa membalasnya ketika Jansen gagal menyelesaikan masalah panti asuhan itu!


"Paman ketiga!"


Jansen berjalan ke pintu masuk, lalu mendorong Lucky dan pergi bersamanya. Diantara Keluarga Miller, dia hanya berhubungan baik dengan Lucky. Keluarga Miller yang lain sombong dan kasar, membuatnya ingin memukulnya satu per satu.


"Jansen, Paman sangat mengagumi keberanianmu berbicara seperti itu kepada adikku, kamu tahu dia memiliki posisi yang tinggi, selama ini tidak ada yang berani berbicara dengannya seperti


ini"


Pandangan Lucky tentang Jansen berubah lagi. Semua orang mengatakan Jansen adalah seorang pecundang, tapi dia tidak berpikir seperti itu!


"Hehe, itu karena dia sudah lama berada di posisi tinggi, jadi perlu ada seseorang yang membuatnya sadar. Bagaimanapun, seluruh Keluarga Miller tidak mau menyerah pada Elena, semuanya menunggu masalah panti asuhan ini. Walaupun Paman keempat memiliki kekuatan yang besar, tapi dia juga tidak akan berani merusak hal baik untuk Keluarga Miller!" kata Jansen yang mengetahui maksud Rowen.


"Kamu ini pintar juga, tapi bagaimana kamu menyelesaikannya masalah panti asuhan itu?"


Kata Lucky khawatir, "Di balik layar tanah panti asuhan itu sekarang milik Group Aliansi Bintang, yang merupakan gabungan dari beberapa kelompok bisnis. Dia memiliki reputasi tinggi di Huaxia. Bahkan Keluarga Miller ingin berbisnis dengan mereka. Sekarang ada orang ingin mengambil tanah mereka, Keluarga Miller tidak ingin kehilangan wajahnya sehingga tidak berani menyelesaikannya!"


"Tenang saja, aku pasti bisa menyelesaikannya!"


Kata Jansen dengan percaya diri, "Tunggu sampai aku menyelesaikan masalah ini, aku akan memasak detoksifikasi dengan rebusan tulang untukmu!"


"Penyakitku ini penyakit lama, menunggu satu atau dua hari pun tidak apa!"


Walaupun perkataan Lucky terdengar sederhana, Jansen masih Melihat tubuhnya sedikit gemetar.


Setelah memasuki halaman Keluarga Miller, Jansen Melihat Silvia dan Naomi sedang mengobrol dengan Elena. Tampaknya, hubungan mereka cukup baik!


Setelah Jansen datang, wajah Naomi dan Silvia menjadi serius, terutama Naomi yang wajahnya terlihat jijik.


Jansen mengabaikan mereka dan melambai ke arah Elena!


"Jansen, kamu datang!"


Setelah Elena Melihat Jansen, dia tersenyum lebar dan Naomi diam-diam kesal. Dia tidak paham kenapa kakak yang cantik ini bisa menyukai pecundang seperti itu?