
Di dalam pikiran Jorell saat ini penuh dengan ucapan Jansen kepadanya. Dia merasa ragu, apa dia memang harus mati sekarang? Bukankah dirinya adalah pemimpin sekte akademi Tiga Belas!
Dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya dan menabrak peti mati yang dia letakkan sendiri di pinggir jalan.
Bagaimanapun dia tidak pernah membayangkan. Peti mati yang dia bawa sebenarnya disiapkan untuknya sendiri.
Dia menatap Jansen sekali lagi yang saat ini sedang berjalan sendiri di kegelapan malam. Pemuda itu nampak mengeluarkan sebuah daftar nama, tangannya pun seolah sedang mencoret sesuatu di atas daftar nama itu.
"Masih ada 14 lagi yang menanti giliran!"
Meski dia adalah seorang dokter yang berprinsip untuk menyembuhkan yang terluka dan menyelamatkan yang sekarat!
Tapi... dunia Jianghu tetaplah dunia Jianghu!
Selain itu, Jorell bukanlah orang baik. Dengan
membunuhnya termasuk melenyapkan sampah masyarakat.
Di sisi lain persimpangan jalan, Matthew dan Tuan Dean sedang bersandar di sisi mobil, menatap dengan panik ke arah jalan yang ada di depannya. Di bawah kaki Tuan Dean, penuh
dengan puntung rokok. Dia merokok sebatang demi sebatang.
Mereka tahu, jika Jansen kalah, itu artinya nasib mereka juga akan tamat.
Jorell juga memiliki kekuatan untuk membuat mereka lenyap dari dunia.
"Menurut ketua apa master Jansen bisa menang?" tanya Tuan Dean tak lagi bisa menahannya.
Matthew menghela napas panjang sembari menggelengkan kepalanya, "Aku melihat sendiri master Jansen berhasil mengalahkan monster tua lembah darah. Bukankah dia juga
termasuk salah satu dari pemimpin sekte akademi Tiga Belas? Hanya saja, berdasarkan yang aku tahu, Jorell jauh lebih kuat dari pada monster tua itu. Terutama ilmu ringan badan dan ilmu pedangnya, benar-benar mematikan!"
"Dulunya, di dunia Jianghu pernah ada kejadian 4 pemimpin sekte yang bersatu melawan Jorell. Dan hasilnya, hanya dalam waktu semalam, mereka berempat tewas di
tangan Jorell. Sekte mereka pun diambil alih begitu saja olehnya!"
Mendengar penjelasan Matthew, puntung rokok yang ada di tangan Tuan Dean pun terjatuh, "Itu artinya master Jansen akan kalah? Dan kita juga pada akhirnya akan mati!?"
Matthew menggelengkan kepalanya, "Kalau soal itu, aku sendiri tidak bisa memastikan dan tidak berani berandai-andai. Seandainya, aku mengatakan ini seandainya!"
Saat mengatakannya, mata Matthew tiba-tiba melotot. Di jalanan yang gelap, kini muncul sebuah sosok yang datang mendekat secara perlahan. Jika bukan Jansen, lalu siapa lagi!
"Sepertinya tidak akan ada seandainya!"
Seluruh tubuh Matthew gemetar dan berlari penuh semangat menyambut kedatangan Jansen.
Alhasil hasil pertarungan malam ini kembali membuatnya terkejut.
Melihat kondisi pakaian yang Jansen kenakan tanpa robek dan noda darah sedikitpun, tidak ada sedikitpun tanda-tanda telah mengalami pertarungan yang sengit.
"Tuan Dean, bantu aku mengirimkan peti mati Jorell ke Sekte Awan. Oh iya, anggur Baimo ini aku beri khusus untukmu!" ucap Jansen sembari berjalan mendekatinya.
"Baik, siap master!"
Tuan Dean terus mengangguk, hatinya seolah membara saat ini. Setelah adanya Jansen yang menjadi back up untuknya, maka bisa dipastikan posisinya akan aman kali ini.
Dia pun bergegas menghubungi seseorang untuk menghandle masalah ini. Selanjutnya, dia melanjutkan perjalanan untuk mengantar Jansen pulang.
"Master!"
Matthew membukakan pintu mobil dan rasa penuh hormat.
Ini adalah kali kedua untuk Jansen mengalahkan salah satu pemimpin sekte Akademi Tiga Belas. Kekuatan semacam ini ini pasti setara dengan keberadaan pemimpin sekte menengah
di dunia Jianghu.
Dia mampu melewati semua halang rintang ini.
Tak lama kemudian, Jansen sampai di rumahnya. Begitu membuka pintu, sebuah kehangatan pun dia rasakan.
Kondisi di luar sangat dingin. Memang rumah tetap menjadi yang terhangat.
"Sudah pulang!"
Layaknya seorang istri yang menunggu suami tercinta pulang, Natasha pun segera membawakan sandal rumah untuk Jansen.
Jansen melihat raut yang ekspresif di wajah Natasha.
Sepertinya, wanita itu sangat mengkhawatirkan dirinya karena telah menghilang tak ada kabar selama beberapa hari.
"Kak Natasha, beberapa hari ini maaf ya sudah membuat kakak kerepotan!" ucap Jansen sembari tertawa.
"Kerepotan apa sih? Aku tahu kamu pasti sangat sibuk!"
Natasha sudah tidak asing lagi dengan perangai Jansen, penyayang dan jujur. Terkadang, mulutnya berkata tidak, tapi hatinya terus mengatakan iya demi orang tercintanya.
Hanya saja, Natasha tidak ingin terlalu bertanya lebih dalam, dia tidak ingin menambah beban Jansen.
"Oke kak, boleh juga! Sepertinya enak."
Kebetulan Jansen memang sedikit lapar. Setelah Natasha selesai memanaskan kembali makanannya, dia akan makan sembari menonton TV.
"Aku sudah menemukan pembunuh kakek Miller!" ucap Jansen setelah kenyang sembari tersenyum.
Natasha yang sedang merapikan meja makan pun nampak gemetar setelah mendengar perkataan Jansen. Dia tahu jika Jansen sibuk karena hal tersebut.
Tapi media sering memberitakan masalah ini sangatlah rumit. Sampai detik ini, tidak ada yang bisa menyelesaikan kasusnya. Terlebih lagi saat mengetahui keluarga Carson tidak bisa berbuat banyak pada kasus kali ini.
Tiba-tiba dia merasa ada yang berbeda dari Jansen. Sekembalinya Jansen ke Ibu kota, entah kenapa kemampuannya menjadi lebih hebat, mampu menyelesaikan sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh keluarga Carson.
"Terus, bagaimana kelanjutannya?" tanya Natasha penuh antusias.
"Masalah ini sedikit rumit, implikasinya sangat luas, jadi aku hanya bisa membunuh pembunuhnya untuk mewakili kakek
Miller mencari keadilan!" ucap Jansen sekenanya.
Terdengar begitu sangat sederhana. Tapi Natasha tahu jika tidak akan sesederhana, masalah ini pasti menyimpan banyak bahaya. "Apa mungkin akan menarik perhatian organisasi itu!?" tanya Natasha sedikit khawatir.
Jansen pun tersenyum mencoba menenangkan Natasha, "Tidak perlu khawatir, aku hanya menangkap pembunuhnya, organisasi itu seharusnya tidak akan berani melakukan
sesuatu padaku!"
Sebenarnya Jansen sendiri merasa tidak yakin akan hal ini. Tapi sekarang tidak ada pilihan lain. Jika musuh datang, dia akan menghadapinya.
Natasha menghela napas panjang. Pada akhirnya dia tak lagi mengatakan sepatah kata pun.
Dia tidak tahu alasan sebenarnya kenapa Jansen sampai seserius ini dalam menyelesaikan masalah pembunuhan kakek Miller. Demi mencari keadilan untuk kakek Miller?
Atau demi menjelaskan sesuatu pada Elena!
Atau mungkin justru keduanya!
Setelah mengobrol santai dengan Natasha, Jansen pun pergi untuk beristirahat. Dia merasa cukup lelah setelah melakukan perjalanan panjang akhir-akhir ini!
Di tengah malam, sebuah telepon berdering membangunkan Jansen. Setelah menerima panggilan itu, terdengar suara dari balik telepon, "Tuan Jansen, selain Jorell, kita juga sudah menemukan ke-14 orang lainnya. Mereka semua bagian dari dunia Jianghu. Setengah dari mereka memiliki kekuatan Peringkat Surgawi!"
"Oke, selesaikan apa yang kalian bisa selesaikan. Sisanya.... biar aku yang mengurusnya!"
"Beritahu Michelle dan yang lainnya agar siap beraksi. Tapi ingat, jangan terlalu membuat kegaduhan. Selesaikan masalah ini dalam waktu tiga hari!"
Selesai memberikan tugas, Jansen pun kembali melanjutkan tidurnya.
Keesokan harinya tepat pukul 12, Jansen baru terbangun. Dia ambil ponselnya dan terlihat sebuah pesan yang menuggu dia buka. Di dalamnya, terdapat beberapa nama yang tertera.
Jansen mengambil daftar nama miliknya dan kemudian mencoretnya sesuai dengan keterangan yang ada di dalam pesan.
Nama-nama yang dicoret Jansen merupakan orang-orang yang berhasil Panah selesaikan lebih awal. Sedangkan sisanya, harus menunggu Jansen sendiri untuk melakukannya.
Yaaah...karena memang sedikit rumit.
Bagaimanapun, masing-masing nama yang tertera dalam daftar merupakan pemimpin sekte akademi Tiga Belas yang memiliki kekuatan bukan abal-abal. Michelle dan yang lain tidak akan sanggup untuk mengatasinya.
Jansen mengambil daftar nama dan mengunci satu target. Lalu, dia menghubungi pembunuh Panah, "Beri aku semua informasi mengenai Maverick secepatnya!"
"Baik!"
Panah pun segera mengirim informasi yang diminta.
Jansen mempelajarinya dengan saksama. Dia pun menyadari jika ternyata Maverick merupakan bos pemilik tambang batu bara di Provinsi Kinsia.
"Sepertinya harus melakukan perjalanan panjang sekali lagi!"
Selesai menyantap makan siangnya, Jansen pun bergegas menuju bandara. Sore menjelang malam, dia pun tiba di Provinsi Kinsia. Dan melalui pelacakan yang dilakukan oleh Panah, Jansen tahu di mana kemungkinan Maverick berada saat ini.
"Ke tambang Grasberg!"
Dan begitulah, Jansen menaiki taksi pergi menuju tambang Grasberg.
Tambang Grasberg merupakan tambang yang secara resmi telah ditutup. Kondisi sekarang sangatlah berkabut, polusi di mana-mana, banyak area pertambangan yang ditutup. Tapi penduduk setempat tahu jika masih ada kegiatan menambang di area pertambangan Grasberg itu.
Orang-orang ini secara khusus menculik para gelandangan untuk dijadikan penambang ilegal. Hari-hari mereka dikurung dan dipaksa bekerja, menjalani kehidupan yang tidak seharusnya mereka miliki.
Setiap tahunnya, banyak orang meninggal di area pertambangan ini. Tapi karena identitas yang tidak jelas, jadi selalu tidak terjadi masalah.
Pada saat ini, di kedalaman tambang Grasberg, sebuah lampu menyala dengan terangnya. Mobil-mobil pertambangan nampak keluar masuk area pertambangan. Jika dilihat dari kondisi peralatan pekerja, bisa dibilang sudah cukup tua. Tapi hasil yang diperoleh, benar-benar mengejutkan.
"Bos, kita menangkap seorang wanita!"
Terlihat beberapa orang preman menangkap seorang wanita berjaket bulu warna merah.
Seorang pria dengan perut buncit nampak keluar dari sebuah kamar. Dia mengenakan mantel kulit, berdahi lebar dengan cerutu di mulutnya. Dia tampak seperti orang yang berkantong tebal alias berduit.