
"Sial, dokter ini sangat beruntung karena berhasil melarikan diri!"
Sesosok orang asing berjenggot itu marah dan berbalik untuk melihat kolam yang tidak jauh dari sana, matanya berbinar, "Ada buaya?"
Sambil mengatakannya, dia mengangkat senapan sniper di tangannya.
"Elang Malam, jangan lakukan apa pun untuk mengekspos jejakmu!"
Orang di sebelahnya menegur.
Si orang asing itu diam-diam kesal, dia terpaksa membatalkannya. Tadinya dia ingin mengeluarkan guci anggur dan menyesap anggur, tetapi setelah ditatap oleh semua orang, dia terpaksa batal melakukannya.
Ketika seorang master bertarung dengan master yang lain, setiap celah akan diperhatikan dan bisa mengakibatkan kekalahan.
Menyesap anggur mungkin tampak sepele, tetapi bau alkohol dapat mengungkapkan keberadaan seseorang.
"Terus bergerak!"
Pria yang memimpin mengangkat tangannya dan meminta semua orang untuk menyebar dan mencari.
Di saat itu juga, suara tembakan terdengar dan kepala pria yang memimpin itu pecah tertembak oleh peluru yang kuat.
Satu tembakan memecahkan kepala!
Semua orang tercengang kurang dari sepersepuluh detik dan mereka semua langsung bereaksi.
Mereka tahu bahwa mereka berhadapan dengan seorang penembak jitu!
Namun, mereka berpengalaman dan memiliki detektor paling canggih, mengapa mereka tidak bisa mendeteksi penembak jitu itu?
"Di dalam kolam!"
Tiba-tiba, seseorang menunjuk ke kolam dan berteriak, terlihat sepasang mata dari dalam kolam, awalnya seperti mata buaya, tetapi saat dia melayang keluar secara perlahan, akhirnya terlihat ternyata adalah seorang manusia.
Keterampilan menyamar yang mengerikan, bisa-bisanya dia menyamar menjadi seekor buaya. Bahkan kamera termal inframerah dibutakan.
Bagaimanapun, semua orang telah melihat kolam itu sebelumnya dan melihat gambar yang dihasilkan oleh kamera termal inframerah. Itu memang bentuk seekor buaya.
"Ingat, aku dipanggil Dokter!"
Orang itu berdiri di lumpur kolam. Dengan sekali tarikan tangan kanannya, lumpur terciprat keluar dan senapan sniper berat yang panjangnya 1,8 meter muncul di tangannya.
Dor! Dor! Dor!
Beberapa tembakan beruntun dilepaskan dan setiap tembakannya menghancurkan kepala.
Masih ada satu orang yang linglung dan lupa mengambil senjata. Hanya ada satu pertanyaan di benaknya, terlalu persis, sebenarnya bagaimana cara dia menyamar?
Dor!
Suara tembakan terakhir terdengar, meledakkan kepalanya.
Unit Kelima Harmoni Kegelapan, Regu Keempat, sepuluh orang tewas.
Jansen segera menghilang ke dalam hutan purba lagi. Hatinya terasa sangat hangat saat ini, seakan-akan dia kembali lagi ke masa ketika dia menangkap gembong narkoba di luar negeri hidup-hidup dan seorang diri membantai sekelompok resimen tentara bayaran.
Tapi yang berbeda dari yang dulu adalah saat itu dia melakukan pengejaran dengan mati-matian!
Sedangkan sekarang hanya melepaskan umpan dan menangkap semuanya sekaligus.
"Ada suara tembakan!"
Pada saat ini di dalam hutan, Resimen Tentara Bayaran Harmoni Kegelapan melihat ke arah tempat di mana tembakan dilepaskan.
Suara ini sangat keras, menandakan bahwa itu berasal dari senjata berat.
Sedangkan Alastor, dia masih mengikuti orang asing itu, tetapi orang asing itu sepertinya mendengar suara walkie-talkie dan terdengar suara murung, "Sepuluh orang dari tim kita telah mati!"
"Baru berapa lama!"
Alastor tampak serius.
Peperangan hutan tidak lebih baik dari pertarungan antar praktisi seni bela diri. Yang diuji adalah psikologi, ketekunan dan semangat juang. Terkadang bahkan belum ada yang mati walau peperangan sudah berlangsung selama tiga hari tiga malam. Biasanya, begitu penembak jitu bersembunyi, sebulan pun tak jadi masalah.
Namun, dalam waktu kurang dari setengah jam saja, sepuluh dari dua ratus orang telah tewas.
"Jangan khawatir, Tim Keempat adalah yang paling dekat dengan si Dokter dan sudah pergi untuk mengepungnya. Yang memimpin tim adalah Anjing Malam!"
Orang asing itu tersenyum, "Mari kita lanjutkan perjalanan dan tunggu kabar baiknya!"
Orang-orangnya bukan hanya hebat dalam hal menembak, tetapi keterampilan melacak mereka juga hebat. Meskipun sepuluh orang telah tewas, tetapi kejadian itu juga mengekspos jejak keberadaan si Dokter.
Saat ini, di jarak lebih dari 5.000 meter dari Jansen, sejumlah besar orang sedang mengendap-endap seperti karpet untuk melakukan pencarian.
Karena mereka adalah tim penembak jitu.
Ini berarti bahwa setelah jejak Jansen ditemukan, tim ini tidak akan bertarung secara tatap muka. Sebaliknya, mereka akan memasang perangkap untuk menjebaknya, lalu menembaknya.
Belum lama Jansen berjalan, tiba-tiba langkahnya terhenti. Kesadaran illahi nya merasakan ada yang mendekat ke arahnya.
"Lokasiku ditemukan!"
Jansen sudah pernah berpartisipasi dalam beberapa latihan maupun misi dan dia sudah belajar secara sistematis, ditambah dengan seni bela dirinya, betapa kaya pengalaman yang dimilikinya.
Dia tidak mengejar lagi. Dia melintasi semak di depannya, lalu berlari melewati sebuah cekungan. Akhirnya, dia memanjat ke atas sebatang pohon besar dan melanjutkan penyamarannya.
Dia menunggu mangsanya masuk ke perangkap.
Selang 15 menit lagi, di atas sebatang pohon besar, mata Jansen berkedip saat kesadaran illahi nya merasakan ada yang masuk ke dalam area cekungan.
Namun, orang-orang ini berpengalaman dan tidak mengekspos diri mereka. Mereka juga ikut bersembunyi seperti Jansen dan bersiap menunggu kesempatan untuk bergerak.
Tim sniper berbeda dengan yang lainnya. Saat bertarung dengan mereka, yang diadu adalah kesabaran.
Kali ini, situasinya tidak diragukan lagi sangat tidak menguntungkan bagi Jansen.
Pertama, dia tidak punya banyak waktu, Alastor bisa melarikan diri ke luar negeri.
Kedua, jika terus-terusan begini, lambat laun dia akan terkepung. Nantinya senapan sniper akan berada di mana-mana dan dia akan berada dalam bahaya.
Meskipun Profound Qi Pelindung Diri Jansen sangat kuat, Resimen Tentara Bayaran Harmoni Kegelapan menggunakan senjata paling canggih dengan peluru logam, itu pasti akan bisa mencederainya.
"Apa kamu melihatnya?"
"Tidak, informasi menunjukkan bahwa Jansen juga merupakan penembak jitu yang hebat. Dia menyembunyikan dirinya dan diduga ada di sekitar sini!"
"Kemampuannya lumayan. Dengan penglihatan ku, aku benar-benar tidak bisa menemukan di mana dia bersembunyi!"
"Jangan khawatir, orang-orang kita secara bertahap sampai ke posisi masing-masing. Nantinya, daerah sekitar akan terkendali. Ketika Jansen menembak, maka puluhan senapan sniper akan diarahkan padanya!"
"Dokter, hehe, Cuma segitu!"
Kedua penembak jitu top itu berbicara dengan suara pelan sambil menunggu penembak jitu lainnya sampai ke posisi masing-masing.
"Kalian berdua, Huaxia bukan tempat yang kalian bisa datangi!"
Tiba-tiba, suara sedingin es muncul di belakang salah satu dari mereka.
Pria itu terbaring di tanah, tidak berani bergerak. Dahinya berkeringat dingin.
Sebuah telapak tangan tiba-tiba menutup mulutnya dan seberkas cahaya pedang melintas di belakang lehernya, pria itu merasakan nyawanya memudar. Pupil matanya melebar, tetapi dia tidak bisa melawannya.
Akhirnya, dia menoleh ke belakang dan melihat seorang pria Huaxia berdiri di belakangnya.
Ini adalah pandangan terakhir dalam hidupnya.
Dewa Penembak lainnya berjarak 20 meter darinya dan melihat pemandangan ini dengan jelas. Ia sangat takut hingga seluruh tubuhnya berkeringat dingin. Tanpa mengatakan apa pun, dia memutar senjatanya dan ingin menembak.
Beberapa berkas cahaya perak berkilau mendarat di kepalanya. Ia membuka matanya lebar-lebar dan kepalanya perlahan terjatuh.
Sebuah pertanyaan menjelang kematian, bukankah si Dokter adalah seorang penembak jitu? Mengapa menggunakan pedang dan jarum!
Tidak mengikuti aturan!
Sedangkan Jansen, dia lanjut mengendap-endap setelah dengan cepat membereskan keduanya.
Dia tahu bahwa tujuan tim ini adalah untuk menunggu semua penembak jitu berada di posisinya dan kemudian mengepungnya, jadi dia mengambil inisiatif untuk menyerang. Agar tidak mengekspos dirinya, dia menggunakan metode pembunuhan secara diam-diam.
Selanjutnya, kesadaran illahi nya memindai lagi dan menemukan para penembak jitu yang sudah berada di posisinya. Dia pun diam-diam mengendap-endap ke sana dan membunuh mereka.
"Mustahil, bagaimana kamu bisa ke sini, kenapa kami tidak bisa melihatmu!"
"Di posisi kita ini, kita saling menjaga, kepala dan ekor terhubung, bahkan jika seekor lalat terbang melintas pun bisa dideteksi, kecuali kamu bisa menghilang!"
Orang-orang yang terbunuh semuanya tidak percaya, sudah di luar imajinasi mereka.
Bagaimanapun, mereka semua termasuk Dewa Penembak. Dengan melaporkan posisi mereka satu sama lain, mereka tahu di mana posisi rekan satu tim mereka dan posisi apa yang harus mereka pilih.
Pada akhirnya, situasi saling mendukung pun akan terbentuk. Selama arahnya telah dikunci, tidak mungkin ada yang bisa menyelinap masuk.
"Kamu benar, aku benar-benar bisa menghilang!"
Jansen mencabut nyawa orang terakhir, lalu menghitung dengan teliti. Sekitar 20 orang dibunuhnya, ditambah 10 orang sebelumnya, berarti total sekitar 30 orang.