
"Ada yang ingin Anda pesan, Tuan?"
Ketika Jansen sedang merenung, terdengar sebuah suara manis menyela dan setelah melihat sekilas, ternyata suara itu adalah suara seorang pramugari cantik yang sedang menawarkan makanan dan minuman di atas pesawat.
"Air mineral!"
Jansen tersenyum dan berkata, pramugari ini sangat cantik dan memiliki kepribadian yang sangat baik.
Namun, jika Elena atau Kakak Natasha juga mengenakan setelan pramugari seperti ini, pasti mereka akan lebih cantik daripada pramugari ini!
"Baik!"
Pramugari cantik menyerahkan air mineral. Setelah Jansen mengambilnya, dia menemukan selembar kertas dengan nomor telepon di air mineral.
Jansen langsung terdiam, dia pernah mendengar bahwa jika saat menaiki pesawat terbang dan ada pramugari yang menyukai kita, maka terkadang mereka akan berinisiatif mengajak kencan. Namun, Jansen sendiri tak menyangka hal ini akan terjadi pada dirinya.
Jansen melihat ke pakaiannya sendiri, yang masih saja pakaian yang sederhana yang sama seperti biasanya, dan tak ada sedikit pun keanehan.
Sambil menggelengkan kepalanya, Jansen membuang kertas catatan itu ke kantong sampah, dia masih pusing memikirkan Elena, sehingga tidak sempat lagi mengurusi masalah asmara seperti ini.
Selanjutnya, Jansen melirik sekilas ke kabin pesawat, dan menemukan semua masih normal. Namun, ada beberapa orang yang menarik perhatiannya, wajah mereka tampak sangar, karena meski sedang menutup mata mereka tetap bisa waspada dengan kondisi di sekeliling mereka. Cara duduk mereka juga cenderung mirip dengan cara duduk milter, terutama posisi duduk dari salah seorang pria paruh baya. Di bagian dahi pria paruh baya itu, terpancar aura pembunuh bertangan dingin.
Orang-orang ini sepertinya bukan orang-orang biasa.
Jansen juga tidak terlalu memikirkannya. Bukan hal yang aneh dapat berjumpa dengan tentara di dalam pesawat. Selain itu, Jansen sendiri sekarang juga telah menjadi anggota Tim Operasi Khusus dan termasuk separuh tentara.
Tak hanya itu, ada seorang lainnya yang juga menarik perhatian Jansen. Orang ini berusia sekitar 30 tahun, dengan kacamata dan penampilan yang terpelajar, tetapi di samping tempat duduknya terdapat kotak medis, sehingga sudah jelas dia adalah seorang dokter.
Sekedar informasi, sebelum pesawat lepas landas, semua bagasi harus dimasukkan ke dalam kompartemen bagasi kabin, tetapi pria ini tetap menaruh kotak medis di samping tempat duduknya. Ini menunjukkan bahwa dia merupakan seorang dokter yang sangat profesional.
"Pesawat akan segera lepas landas, silakan kenakan sabuk pengaman Anda!"
Saat ini, terdengar suara dari pramugari pesawat.
Jansen mengencangkan sabuk pengamannya dan beristirahat. Butuh waktu perjalanan tiga setengah jam untuk mencapai Ibu Kota dari Kota Asmenia. Kebetulan juga, Jansen bisa memanfaatkan waktu ini untuk memikirkan masalah yang dihadapi, dan langkah apa yang akan dia ambil setiba di Ibu Kota nanti.
Sambil berpikir, tanpa sadar Jansen sudah tertidur, tetapi dalam keadaan separuh sadar, dia mendengar suara berisik.
"Para penumpang yang terhormat, seorang penumpang di kursi nomor 41K sedang merasa sakit. Bolehkah saya bertanya apakah ada dokter di antara para penumpang sekalian? Silakan datang untuk membantu memeriksanya, terima kasih!"
Suara itu samar-samar datang membuat Jansen tanpa sadar terbangun, setelah melihat sekilas ternyata kursi nomor 41K adalah tempat duduk para tentara tadi.
Sebagai seorang dokter, Jansen secara alami tidak dapat mengabaikannya, sehingga dia pun segera pergi melihat ke sana.
Pasien yang sakit ternyata adalah pria paruh baya itu. Jansen memeriksa bagian dada pria itu yang kelihatan sedang sesak napas dan terus mengucurkan keringat sebesar kacang.
Di samping, beberapa orang lainnya merasa cemas, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa, dan hanya bisa melihat pramugari memasangkan masker oksigen di hidung pria paruh baya itu.
Pada saat ini, pria paruh baya berkacamata itu berjalan kemari, melirik ke atas dan ke bawah, kemudian berkata dengan datar. "Ini adalah serangan jantung. Tekanan udara akan naik turun untuk sementara waktu. Orang yang jantungnya buruk akan kesulitan bertahan dalam kondisi ini, apakah ada yang bawa obat?"
"Aku sedang terburu-buru saat keluar, jadi aku lupa membawanya!"
Seorang pria di dekatnya menjelaskan dengan tergesa-gesa.
Pria berkacamata itu mengangguk dan meletakkan kotak medis yang dibawanya. Pertama, dia merasakan denyut nadi pria paruh baya itu, lalu dia mengeluarkan jarum peraknya untuk melakukan akupuntur.
"Tuan, Anda ini?
Melihat pria ini hendak melakukan akupuntur, ada orang di samping bertanya kepadanya dengan cemas.
"Aku Abian Colev"
Pria berkacamata itu tidak banyak bicara.
"Aku dengar, dia adalah murid dari Dokter Azura!"
"Sepertinya orang ini sudah bisa terselamatkan. Beliau ini adalah seorang dokter yang sangat terkenal di Ibu Kota!"
Terdengar suara ribut dari orang-orang yang heboh dengan kejadian ini.
Abian Colev?
Jansen sedikit terkejut. Dia tidak terlalu akrab dengan nama itu, tetapi dia pernah dengar nama Sanatorium Ibu Kota. Kabarnya, tempat itu merupakan tempat para jagoan seni bela diri memulihkan cedera mereka.
Dokter Azura ini, yang dikenal sebagai Dokter Hantu, memiliki sekolah pengobatan tradisional Huaxia sendiri di Huaxia. Ia dikenal sebagai duta nasional dan juga mewakili Akademi Lembah Hantu, salah satu dari empat sekolah utama pengobatan tradisional.
"Ya, saat itu Dokter Azura adalah Kepala Dokter Nasional yang mengkhususkan diri dalam merawat para kepala negara, tetapi saya mendengar bahwa gaya pengobatannya yang cenderung di luar prosedur membuat para kepala negara merasa tidak puas, sehingga mengganti jabatannya itu dengan dokter lain."
"Aku pernah mendengar berita ini. Dokter Hantu, seperti namanya, agak terlalu horor. Para kepala negara tidak menyukai gaya pengobatannya ini, jadi jabatannya pun diganti dengan dokter lain!"
Mendengar percakapan ini, Jansen sedikit tertarik.
Dokter Hantu?
Mendengar namanya saja sudah bisa merasakan ada yang tidak beras. Entah hantu atau dewa, dia sulit diprediksi. Apalagi, gaya pengobatan yang sesuka hati dan di luar prosedur pengobatan membuat para kepala negara tidak suka dengannya.
Namun, tidak dapat disangkal bahwa kemampuan medis Dokter Hantu tidak diragukan lagi. Selain itu, memang ada Akademi Lembah Hantu dalam pengobatan tradisional. Konon mahaguru dari akademi ini adalah Hantu Lembah yang legendaris.
Melihat pria paruh baya itu adalah seorang dokter terkenal, beberapa orang itu pun tidak mencurigainya dan buru-buru memohon bantuan Abian Colev.
Abian Colev perlahan-lahan menancapkan jarumnya, dan terlihat juga teknik akupuntur yang dikuasainya sungguh luar biasa, metode yang digunakan beraneka ragam, tetapi jarum yang ditancapkan tidaklah banyak.
Tiga jarum di hidung, tiga jarum di telinga, dan tiga jarum di jantung, orang awam tidak akan paham tentang hal ini, tetapi Jansen paham dan dengan terkejut berseru, "18 Jarum Jalan Hantu?" bagaimana bisa Jansen tidak melihatnya?
"Kamu tahu juga sedikit, tetapi ini bukan 18 Jarum Jalan Hantu, ini adalah 32 Jarum Lembah Hantu!"
Kemudian Abian Colev menatap Jansen dengan wajah sombong, dia lalu mengeluarkan sekantong bubuk obat dan berkata kepada beberapa orang itu, "Larutkan bubuk obat ini dengan air dan berikan kepada dia untuk diminum!"
Jansen bisa mencium bau bubuk obat itu, sehingga dia langsung maju keluar, "Bubuk obat ini tidak berguna baginya, dan jumlahnya juga terlalu banyak. Obat ini beracun, dan dia tidak akan baik setelah memakan obat ini, bahkan bisa saja terkena racun!"
Wajah Abian Colev tampak kesal dan mengerutkan kening sambil menatap Jansen, "Kamu ini siapa?"
"Aku juga seorang Dokter tradisional!"
Jansen berkata pelan.
"Kamu juga seorang Dokter tradisional? Tahukah kamu siapa aku? Dan dari sekolah mana aku belajar?" Abian Colev tertawa karena merasa seorang dokter kecil pun berani menentangnya. Perlu diketahui, di Ibu Kota, dokter seusia Jansen hanya bisa menjadi murid magang.
"Tidak usah banyak omong kosong, bubuk obatmu itu tidak berkhasiat untuknya, selain itu, teknik akupunturmu pun tidak akan membantunya!"
Jansen terlalu malas untuk berbicara omong kosong. Dia berjalan ke depan pria paruh baya itu dan memegangnya dengan tangan kanannya. Jarum perak yang ditancapkan Abian Colev sebelumnya ditarik keluar dengan satu tangan.
Abian Colev sangat marah, tetapi ketika dia melihat Jansen mengobati, ekspresinya langsung terpaku!
Karena pencabutan jarum akupuntur juga tergantung presisi, jika ditarik dengan sembrono akan mudah berdarah. Jansen mencabut 9 jarum akupuntur sekaligus dengan mudah seperti itu, semudah memetik sayuran.
"Jika kamu tidak percaya padaku, rasakan denyut nadinya lagi!" Jansen berkata lagi.
Abian Colev buru-buru meraih pergelangan tangan pria paruh baya itu untuk merasakan denyut nadinya. Setelah memeriksa dengan cermat, raut wajahnya akhirnya berubah drastis, karena kondisi denyut nadi pria paruh baya itu menjadi lemah dan kondisinya tidak kunjung reda sama sekali.
"Dua dokter ini, mohon lakukan sesuatu!"
Para tentara itu menjadi semakin cemas. Salah satu dari mereka memandang Jansen dan berkata, "Dokter, apakah kamu punya cara menolongnya?"
Jansen melihat sepertinya Abian Colev tidak punya cara apa pun, sehingga terpaksa memohon bantuan pemuda ini.