
Pada saat ini, Jansen akhirnya berbicara perlahan, dan dia tidak menyapa lalu langsung berkata, "Aku pikir hanya ada dua solusi untuk masalah panti asuhan saat ini. Pertama, aku akan menguasai Grup Aliansi Bintang milik kalian, sehingga aku punya kekuasaan untuk menentukan keputusan dan mempertahankan panti asuhan ini!"
Mendengar perkataan ini, pengawal wanita itu menggelengkan kepalanya. Pemuda ini berani bicara besar, apakah dia ingin mengincar Nona Gracia ?
Sayangnya, Gracia sudah sering menghadapi siasat seperti yang dilakukan Jansen ini!
Gracia sama sekali tidak menanggapinya.
"Solusi kedua, Grup Aliansi Bintang dengan sukarela melepas lahan ini!" ucap Jansen menambahkan.
"Kamu masih punya waktu empat menit dua puluh detik!" Gracia akhirnya berbicara dengan nada menghina.
Jansen mengabaikannya dan melanjutkan, "Sembilan puluh sembilan persen tanah di Ibu Kota harganya melonjak, dan Grup Aliansi Bintang ingin membangun daerah komersial di lahan ini karena pemerintah daerah telah memiliki rencana khusus untuk mengembangkan kawasan ini!"
Nona Gracia masih tidak bergeming dan terus Melihat ke jam tangannya.
Jansen juga mengabaikannya, dan menggambar peta sederhana lalu menunjuk ke peta dan berkata, "Di kawasan ini ada tiga wilayah, yaitu Distrik utara, Distrik Hambalang, dan Distrik Amerta. Distrik Amerta sudah menjadi kawasan perindustrian dan berkembang dengan baik, sedangkan Distrik Hambalang masih merupakan kawasan hutan hijau, dan menjadi perhatian khusus dari pemerintah daerah untuk dukungan memerangi kabut asap. Kawasan yang tersisa untuk ruang kosong hanya tinggal Distrik utara, sehingga di sini kelak akan menjadi wilayah yang dikembangkan."
Mata Nona Gracia terbelalak menatap Jansen karena merasa pemuda ini cukup pandai.
Pemerintah daerah tidak akan mengumumkan dengan jelas hal yang berkaitan tentang perencanaan tata kota maupun pergesaran wilayah pengembangan, sehingga ini hanya bisa diketahui dengan insting dan naluri dari para pengusaha.
"Kamu lanjutkan bicaramu!"
Nona Gracia akhirnya bersuara, dan membuat pengawal yang ada di sampingnya itu terkejut.
"Lagi pula, aku yakin diriku ini sanggup melakukan ini semua, yaitu membuat pengembangan wilayah Distrik utara gagal sehingga pemerintah daerah mengurungkan niat untuk mengembangkan wilayah ini!" Jansen lanjut berkata.
"Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan, sehingga pemerintah daerah bisa mengubah rencana pengembangan wilayah!" tanya Nona Gracia .
"Sangat sederhana, dengan meledakkan gunung dan membangun jalan baru!"
Jansen menunjuk ke peta sederhana dan berkata, "Ada sebuah gunung besar di timur laut Distrik utara. Pemerintah daerah sudah lama ingin membangun jalan baru di sini, tetapi upaya pemerintah daerah terus tertunda. Sekarang, aku sudah mendapat izin untuk meledakkan gunung itu, jadi selama aku meledakkan gunung dan membangun jalan baru, pihak pemerintah daerah pasti akan mengurungkan rencana pengembangan di wilayah Distrik utara ini. Selain itu, jalan yang akan dibangun nanti merupakan jalan terusan yang tembus sampai Wutan city, dan pastinya pemerintah daerah tidak akan melakukan pengembangan di wilayah ini."
"Kenapa kamu begitu yakin!"
Gracia mengerutkan kening dan menatap Jansen. Awalnya, Gracia begitu meremehkan Jansen. Setelah mendengar perkataan Jansen yang penuh dengan logika, Gracia semakin penasaran dengan kepercayaan diri yang dimiliki Jansen. Kepercayaan diri seperti Jansen ini sudah sangat jarang ditemui dalam diri anak muda zaman sekarang.
"Karena, kebijakan pemerintah!"
Jansen mengeluarkan setumpuk koran yang sudah menguning dari sakunya dan memberikannya kepada Gracia .
Gracia membaca koran itu satu per satu dan raut wajahnya yang dingin pun berubah.
Koran itu berisi tentang segala berita yang berkaitan dengan wilayah Distrik utara dalam lima tahun terakhir ini. Di dalamnya terdapat berita yang mengatakan bahwa setelah proyek pembangunan jalan terusan Distrik utara-Wutan city selesai, maka wilayah Distrik utara tidak akan dikembangkan menjadi daerah komersial, apalagi karena daerah komersial lain yang ada di Ibu Kota dan Wutan city sudah cukup untuk menopang kebutuhan bisnis.
Hanya saja, entah kenapa kebijakan pemerintah tertunda begitu lamanya.
Sekarang, Jansen sudah mendapatkan izin untuk meledakkan gunung. Selama Jansen sudah mulai bekerja, wilayah Distrik utara tidak akan dikembangkan lagi oleh pemerintah daerah, dan fokus proyek ada pada pembangunan jalan terusan kedua kota.
Setelah Gracia menebak jalan pikiran Jansen, dia mengadahkan kepalanya ke atas, dan menatap Jansen dengan tajam seakan tahu isi pikiran Jansen.
Gracia saat ini pula tak mampu berkata apa-apa. Jansen memang seorang pemuda yang memiliki kecerdasan bisnis tinggi.
Bukan hanya cerdas, Jansen juga jenius. Dia adalah seorang visioner dan punya pengamatan tajam. Gracia pun baru pertama kali menemukan orang seperti Jansen ini dalam beberapa tahun belakangan.
Tidak berlebihan bila mengatakan keberadaan Jansen ini bahkan lebih penting daripada wilayah Distrik utara tersebut.
"Itu tadi hal pertama. Nah, hal kedua, aku lihat gelang yang dipakai Nona Gracia sudah cukup lama usianya, aku rasa itu adalah peninggalan leluhur. Kalau menurut saranku, lepaskan saja gelang ini." Jansen menambahkan.
"Kurang ajar, beraninya kamu mengomentari apa yang dipakai oleh Nona Gracia ?"
"Tidak apa-apa, biarkan dia bicara!"
Pengawal wanita terkejut mendengar Nona Gracia menyela dan membiarkan Jansen lanjut berbicara, "Apakah ada yang salah dengan gelang ini?"
"Begini, Nona Gracia memiliki Tubuh Unsur Yin Dingin. Kondisi ini sudah bawaan lahir, sehingga sejak kecil Bu Nona Gracia sering sakit-sakitan. Gelang ini sudah mengandung energi negatif, dan membuat unsur yin berkumpul semakin banyak di gelang ini. Gelang ini memang kelihatan bagus untuk melindungi tubuh, tetapi tidak cocok dipakai Nona Gracia , dan jika terus dipakai bukan hanya membuat peruntungan memburuk, kesehatan Nona Gracia pun akan semakin memburuk!" ujar Jansen.
"Konyol sekali ucapanmu itu, kalau saja peruntungan Nona Gracia tidak bagus, kenapa beliau bisa begitu sukses membangun kerajaan bisnis?" balas pengawal wanita itu sambil tertawa geli.
"Dia benar, kesehatanku semakin buruk setiap tahunnya!" Ucapan Gracia sontak membuat pengawal wanita itu terdiam.
"Maaf, siapa namamu?"
Nona Gracia awalnya tidak ingin tahu apa nama Jansen, tetapi kali ini dia ingin bertanya dengan jelas, dan mengulurkan tangan menyalami Jansen.
Tangan Nona Gracia putih bagaikan salju, jari tangannya panjang dan sangat indah.
Jansen berjabat tangan sejenak dengan Gracia lalu tersenyum karena menyentuh tangan yang begitu indah dan berkata, "Namaku Jansen!"
"Apakah Tuan Jansen seorang ahli fisiognomi?"
"Bukan, aku hanya seorang dokter dan punya sedikit pengetahuan tentang metafisika. Jika gelang ini sangat berarti bagi Nona Gracia , aku bisa membantu mengubah energi peruntungan di gelang ini, sehingga Nona Gracia bisa tetap memakainya!"
"Kalau begitu, coba bantu aku!"
Nona Gracia sepertinya percaya pada Jansen. Dia melepas gelang itu dan menyerahkannya kepada Jansen.
Jansen menggambarkan beberapa Jimat Pelindung di atas gelang tersebut dan menyerahkannya kembali kepada Nona Gracia .
"Terima kasih, Tuan Jansen, perkataanmu tadi telah membuatku tersentuh. Aku putuskan untuk membatalkan rencana pengembangan wilayah Distrik utara ini!"
Setelah Nona Gracia mengenakan gelang itu, dia Melihat waktu, "Bagus sekali, kamu hanya menggunakan waktu empat menit dan tiga puluh detik untuk meyakinkan aku. Di seluruh Huaxia ini, hanya sedikit orang yang bisa melakukannya!"
"Itu semua hanya kebetulan saja!"
Jansen menjawab dengan rendah hati.
"Tuan Jansen bekerja di perusahaan mana? Apakah Tuan Jansen mengelola perusahaan sendiri?"
"Iya!"
"Baiklah, aku akan bekerja sama dengan Tuan Jansen terlebih dahulu, dan masalah kerja sama kita secara spesifik dapat didiskusikan lebih lanjut. Sebagai ketulusan kerja sama kita ini, aku akan mengalihkan hak atas lahan panti asuhan ini kepada Tuan Jansen, besok aku akan suruh orang antarkan kontrak, dan soal harga terserah Tuan Jansen saja!"
Elena tiba-tiba terdiam di tempat, dia heran kenapa masalah ini begitu mudah diselesaikan.
Jansen menatap Gracia yang berjalan pergi. Dia diam-diam menganggukkan kepala tanda salut kepada Gracia yang memang layak dicap sebagai sepuluh orang terkaya di Huaxia. Kemampuan pengamatan dan sifat terus terang yang dimiliki Gracia sungguh istimewa.
Jansen tahu maksud Gracia yang sebenarnya bukan ingin bekerja sama dengan dirinya, melainkan secara tidak langsung merekrutnya menjadi bawahan. Gracia bahkan rela mengorbankan tanah panti asuhan sebagai gantinya.
Orang yang dipimpin oleh bos seperti ini tampaknya merupakan orang-orang elit yang berprestasi.
"Kamu masih menatap dia, orangnya pun sudah pergi, Jansen, aku lihat kamu suka memandang wanita cantik!"
Elena Melihat Jansen menatap kosong ke pintu gerbang lalu tiba-tiba menjewer telinga Jansen.
"Aduh, Istriku, aku tidak memandang wajahnya, benar-benar tidak ada!"
Jansen melambaikan tangan dengan wajah murung.