Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 857. Lihat Apa Yang Dokter Jansen Katakan!


Levana dan yang lainnya tersentak. Pantas saja Keluarga Yiwon bagaikan pohon kuno di Huaxia. Ternyata sejarah keluarga mereka sangat hebat.


Ekspresi Harry berubah drastis. Sebagai anggota muda Keluarga Yiwon, dia sama sekali tidak tahu tentang ini. Dia ingin bertanya kepada kakeknya, tapi Penatua Yiwon menggeleng, Matanya memicing menatap Jansen dengan


penuh maksud.


Tanah milik para kaisar bukanlah sesuatu yang bisa dilihat siapa pun dengan mudah!


Hal ini menunjukkan bahwa ilmu metafisika Dokter Jansen lebih hebat daripada Master Azura!


Penatua Yiwon pun bertanya lagi, "Dokter Jansen, leluhurku dimakamkan di tempat ini, tapi makamnya kemudian dipindahkan karena suatu alasan. Apa ada sesuatu yang buruk di sini?"


Setelah pertanyaan itu terucap, semua orang sontak merasa ada yang tidak beres.


Bagaimanapun juga, Master-lah yang mengatakan bahwa Feng shui di sini bagus. Akan tetapi, Penatua Yiwon malah mempertanyakannya kepada Dokter Jansen.


Bahkan tepat di hadapan Master Azura!


Pria tua yang dipanggil Master itu diam-diam mendengus dingin, ekspresinya menjadi agak suram.


Dia adalah orang hebat yang reputasinya sudah tersohor di Huaxia, tapi pendapatnya malah diabaikan seperti ini.


"Yang disebut Feng shui itu mengacu pada aliran udara, angin, dan air yang bergerak seiring tahun. Dulu tempat ini memang adalah tanah para kaisar, tapi setelah aliran angin berubah menjadi air, tempat ini ikut berubah


menjadi tanah bagi tujuh roh jahat. Akibatnya, keluarga jadi sering berseteru sehingga jumlahnya menjadi tidak bagus. Tempat ini tidak cocok dijadikan tempat pemakaman!" jawab


Jansen santai.


Penjelasan Jansen membuat semua orang mengaguminya, terutama Levana dan yang lainnya.


Cindy tersentak. Dia tidak menyangka Jansen memiliki keahlian pengobatan dan ilmu metafisika yang sangat hebat.


Dia tiba-tiba merasa makin penasaran dengan Jansen.


"Omong kosong!"


Sebuah seruan dingin tiba-tiba menyela. Lelaki tua yang dipanggil Master itu mendengus dingin, "Penatua Yiwon, aku adalah Ketua Asosiasi Feng shui Huaxia. Meskipun Feng shui bisa dibilang adalah ilmu teologi, dari sudut pandang ilmiah, ilmu ini juga mempelajari pengaruh lingkungan geografis terhadap orang-orang. Ilmu ini memiliki dasar ilmiah yang jelas! Lagi pula, tempat ini sangat indah


karena terlihat seperti aula yang dikelilingi naga! Tempat ini memiliki berkat yang sangat baik, mana mungkin malah menjadi tempat tujuh roh jahat!"


"Master Azura, tenanglah dulu dan coba kita dengar apa yang akan Dokter Jansen katakan!" hibur Penatua Yiwon.


"Dia hanya seorang dokter. Pendapatnya tidak bisa diperhitungkan!" sahut si Master dengan sangat tidak puas.


Tuan Yiwon menggelengkan kepalanya. "Master Azura, bukankah kamu juga pernah menjadi dokter?"


Satu kalimat itu membuat Master menjadi tidak bisa berkata-kata.


Jansen terkejut. Ternyata Master ini juga seorang dokter?


Jansen memang bisa melihat bahwa pria tua itu memiliki kekuatan yang luar biasa, energi Qi nya saja terasa kuat. Karakternya yang tidak peduli dengan ketenaran dan kekayaan juga bukanlah sebuah kepura-puraan!


Jansen tidak tahu mengapa Master itu mengincarnya. Dia merasa seolah mereka saling mengenal.


"Ikut aku!"


Tanpa menjelaskan apa-apa, Jansen mengeluarkan kompasnya untuk melihat arah, lalu memimpin semua orang menuruni gunung.


"Lihat bagaimana dia pura-pura menjadi sok misterius!"


Harry berjalan mengikuti sambil bergumam kepada Master-nya. Dia tidak percaya bahwa seorang menantu laki-laki pecundang lebih hebat dalam metafisika dibandingkan Master-nya.


"Aku akan merobek topeng kemunafikannya!"


Tidak ada ekspresi apa pun di wajah si Master. Dia hanya menatap punggung Jansen dengan sorot penuh provokasi.


Sepanjang jalan menuruni gunung, mereka menemui beberapa kuburan yang menyendiri.


"Dokter Jansen, kalau kamu begitu hebat, coba ceritakan tentang Feng shui yang ada di sekitar makam itu dan apa yang terjadi pada keluarganya!"


Tiba-tiba, Harry berseru sambil menunjuk sebuah kuburan di depannya.


Makam itu mencakup area yang luas dan dihias dengan baik, tapi sepertinya sudah lama tidak dikunjungi. Rumput liar tumbuh subur di sekelilingnya.


"Bukankah ini makam kakek keenam?"


Harry tersenyum dan mengangguk, "Ya! Karena kita kenal baik dengan kakek keenam, jadi coba kita lihat apa yang akan dia katakan!"


Jansen tahu Harry memang sengaja mencoba untuk menjebaknya, jadi dia berkata, "Master-mu itu katanya adalah Ketua Asosiasi Feng shui Huaxia, kan? Bagaimana kalau meminta pendapatnya?"


Pria tua yang dipanggil Master itu langsung memelototi Jansen. Menatap kuburan yang menyendiri itu dan mencari tahu kondisi keluarganya? Bukankah itu terlalu misterius?


Dia terdiam selama beberapa saat.


"Master, kenapa kamu diam saja?"


Jansen terus bertanya tanpa menunjukkan belas kasihan.


Master itu balas mendengus dingin, "Huaxia sangat luas, bagaimana bisa setiap makam memiliki Feng shui? Menurutku, makam itu sangat biasa!"


"Sebenarnya, makam ini biasa dan juga tidak biasa. Kenapa kamu tidak mencoba membaca keadaan keluarga pemilik makam?" Jansen kembali bertanya.


Amarah si Master pun tersulut, "Feng shui itu hanya bisa menghitung makam yang berdiam di dunia manusia! Makam biasa semacam ini sama sekali tidak bisa dihitung dan tidak ada yang aneh darinya!"


"Kalau begitu, berarti Master tidak bisa memahaminya!"


Jansen menggelengkan kepalanya dan tersenyum, membuat pupil mata si Master menjadi bergetar. Jansen pun melanjutkan, "Pemilik makam ini sebenarnya adalah seorang wanita!"


"Kamu ini bicara omong kosong apa!"


Harry langsung menegurnya dan menarik Penatua Yiwon, "Kakek, lihat itu! Dia hanya bicara omong kosong. Sebentar bilang tanah kaisar, sebentar bilang tanah tujuh roh jahat! Sekarang dia bahkan mengatakan bahwa pemilik makam


kakek keenam adalah seorang wanita! Dia pikir kita ini bodoh, ya!"


Penatua Yiwon pun menyipitkan matanya. "Dokter Jansen, kami kenal baik dengan pemilik makam ini. Kenapa kamu bilang seperti itu?"


Ekspresi Levana dan yang lainnya juga menjadi sedikit berubah. Bukankah ucapan Jansen itu sama saja dengan menampar dirinya sendiri di saat Penatua Yiwon dan yang lainnya mengenal pemilik makam ini?


Harry terus menghina Jansen, "Kamu itu hanya sok misterius dan bicara omong kosong! Ilmu metafisikamu itu sampah!"


Raut wajah Jansen berubah dingin. "Kalau kamu pikir metafisika itu sampah, kenapa kamu mengundang Master ini? Bukankah itu sama saja menelan ludah sendiri?"


Harry sontak tertegun.


Jansen melanjutkan, "Kamu bisa menghinaku, tapi kamu tidak bisa menghina metafisika. Itu adalah ilmu yang diturunkan dari nenek moyang kita dan juga merupakan ilmu pengetahuan. Aku juga punya bukti kenapa bisa berkata begitu!"


"Di Feng shui, ada istilah 'dikelilingi awan saat berada di gunung. Kalau rumput di sekitar kuburan sama rapuhnya seperti sutra, itu berarti pemiliknya mati muda. Kalau rumputnya berwarna hijau tua dan subur, berarti pemiliknya


mati tua. Kalau rumputnya halus dan rapuh sementara warnanya tidak gelap atau terang, berarti pemilik kuburannya adalah seorang wanita. Mungkin kamu pikir itu sangat


misterius, tapi setiap orang memiliki aura yang tidak akan hilang bahkan setelah mati. Aura itu dapat memengaruhi hewan dan tumbuhan di sekitar makam!"


Setelah mendengar apa yang dikatakan Jansen, Cindy tiba-tiba menatap kuburan dan berteriak, "Kakek, lihat! Rumputnya benar-benar halus dan rapuh!"


Semua orang pun ikut memperhatikan.


Pria tua yang dipanggil Master itu menggeleng jijik, "Hmph, memangnya bisa mengatakan bahwa itu adalah kuburan wanita hanya dengan melihat rumputnya?"


Jansen tersenyum dan melanjutkan, "Makam ini memiliki keistimewaan lain. Ada istilah 'wanita cantik yang naik ke surga'. Orang yang dimakamkan di sini memiliki keluarga yang makmur, tapi memiliki satu kesialan besar. Siapa pun yang menjadi nyonya rumah tidak akan menikah dan hidup melajang selamanya!"


Master dan Harry makin mencibir begitu mendengarnya.


Namun ekspresi Penatua Yiwon berubah drastis begitu teringat sesuatu, "Ya, ucapanmu memang benar, Dokter Jansen!"


Semua orang pun sontak menjadi bungkam begitu mendengarnya.


Harry segera berkata dengan panik, "Kakek, jangan dengarkan bualannya! Keluarga kakek keenam kan sangat kaya!"


Penatua Yiwon menggelengkan kepalanya. "Istri kakek keenam meninggal lebih awal, 'kan? Meskipun anak-anaknya hidup dengan baik dan keluarga mereka telah mendirikan beberapa


pabrik, apa kalian sudah lupa tentang Tsalsa? Dia belum menikah sampai hari ini!"


"Kak Tsalsa?"


Cindy pun menjelaskan, "Sekarang dia menjadi kepala keluarga kakek keenam. Dia sudah berusia 50 tahun lebih, tapi masih belum menikah. Kupikir dia mengambil keputusan


itu karena ingin mendedikasikan seumur hidupnya untuk mengurus bisnisnya!"


Penatua Yiwon berkata lagi, "Aku juga ingat, waktu itu istri kakek keenam meninggal karena wabah. Kakek keenam yang takut wabah itu akan menyebar di desa pun akhirnya menguburkannya secara diam-diam di tengah malam. Mungkin saja ini adalah makamnya?"