
Setiba di Aula Xinglin, Jansen melihat dua orang sedang sibuk di depan pintu gerbang. Mereka berdua adalah Sofia, bibi Jansen dan Mulin, yang sedang menyimpan bahan ramuan obat herbal yang selesai dikeringkan.
Jansen melihat keanehan di antara mereka berdua, tapi dia tidak mau mengganggu.
"Ah, kamu!"
Sofia terkejut, seolah tangannya telah disentuh Mulin.
Mulin merasa malu, namun dia tetap nekad memegang tangan Sofia.
"So... Sofia, aku menyukaimu!"
Wajah Mulin memerah.
"Jangan pegang tanganku, kita... aku takut hamil, cepat lepaskan tanganku!" Sofia gugup tak karuan.
"Aku tak akan melepaskan tanganmu. Lagi pula, berpegangan tangan tidak akan membuatmu hamil!" Mulin menggertakkan gigi dan tatapan matanya serius.
Mulin adalah mahasiswa berprestasi lulusan luar negeri. Dia tak akan mungkin mau bekerja di klinik kecil seperti Aula Xinglin kalau bukan karena Jansen.
Namun, setelah lama bekerja di sana, Mulin perlahan mulai menyukai wanita yang sederhana seperti Sofia. Perasaan ini semakin lama semakin tak terbendung.
"Mulin, cepat lepaskan tanganku, jangan sampai orang lain melihatnya!" Sofia merasa takut, "Kamu jangan sembarangan! Aku akan lapor kepada Jansen!"
Wajah Mulin berubah takut dan segera melepaskan tangan Sofia, "Jangan, kalau Guru tahu, dia pasti akan menghajarku!"
Mulin memang tidak takut kepada siapa pun, dia hanya takut kepada Jansen seorang, Kemampuan dan keterampilan medis yang dimiliki oleh Jansen telah membuat Mulin begitu kagum dengannya. Bagi Mulin, Jansen bukan lagi seorang anak muda, melainkan seorang praktisi yang benar-benar jenius.
Namun, tak lama berselang, Mulin kembali memegang tangan Sofia, "Lapor saja kepada Guru, aku tetap tidak akan melepaskan tanganmu!"
"Jansen akan menghajarmu. Apa kamu masih ingat dengan orang tua beberapa hari yang lalu itu? Dia dihajar sampai babak belur oleh Jansen!" Sofia berkata dengan marah.
Mulin menggertakkan gigi dan tetap menolak melepaskan tangan Sofia.
Jansen kaget melihat adegan ini, tapi dia juga senang karena Sofia usianya sudah cukup matang dan seharusnya sudah punya pacar.
Jansen tiba-tiba teringat dengan kejadian saat beberapa orang ahli bela diri datang membuat keributan. Saat Sofia hendak ditampar para pengacau itu, Mulin datang menghadang tamparannya.
Sepertinya, Mulin sangat menyukai Sofia.
"Tidak usah malu-malu, aku sudah melihat semuanya tadi!"
Jansen berjalan melewati dan menyindir mereka.
"Ah, Jansen!"
Sofia tersipu malu seolah telah melakukan kesalahan.
Mulin terkejut, tapi dia masih memberanikan diri untuk berkata, "Guru, aku yang memaksa Sofia, ini bukan keinginan Sofia!"
Jansen tidak bersuara, hanya menyipitkan mata menatap Mulin.
Wajah Mulin langsung pucat. Dia berkata dengan suara gemetar, "Guru, aku menyukai Sofia. Aku ingin memberinya kebahagiaan seumur hidupku. Mohon restui aku!"
"Untuk masalah ini, tanya saja ke Kakek!"
Jansen tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Apalagi, ini juga urusan kalian berdua, apa urusannya denganku? Kamu seharusnya tanyakan langsung kepada Bibi!"
Tubuh Mulin gemetar dan matanya terbuka lebar. Dia berkata, "Guru, kamu... kamu tidak keberatan?"
"Kenapa aku harus keberatan? Lagi pula, Bibi sudah berusia tiga puluh tahun, sudah jadi perawan tua. Seharusnya dia sudah menikah!" Jansen berkata sambil mengangguk.
Mulin sontak merasa sangat gembira karena sebelumnya dia khawatir Jansen tidak akan merestuinya.
"Apa maksudmu perawan tua? Jansen, jaga bicaramu! Aku pukul kamu ya!"
Sofia yang awalnya tersipu malu malah berubah memarahi Jansen.
"Mulin, cepat urus wanita galak ini, aku mau pergi menemui Kakek!" Jansen buru-buru kabur.
Mulin akhirnya bisa tersenyum dan bernapas lega karena urusan ini sudah beres.
Mulin tahu bahwa meskipun kakek Herman memiliki kedudukan paling tinggi di dalam Keluarga Scott, tapi sebenarnya yang punya wewenang dalam pengambilan keputusan adalah Jansen.
Mulin terus menatap Sofia dan berkata, "Kelak kita akan menjadi satu keluarga. Saat aku berjumpa dengan Guru, dia harus panggil aku Paman!"
"Dasar tak tahu malu! Siapa sih yang bilang mau menikah denganmu!"
Sofia menatap Mulin dengan kesal.
Jansen pasti tidak keberatan jika bibinya pacaran dengan Mulin. Awalnya, Mulin memang memiliki karakter yang angkuh, tetapi sejak bekerja di aula Xinglin, karakter angkuhnya itu telah hilang dan berubah menjadi rendah hati.
Mereka berdua memang memiliki karakter yang biasa-biasa saja, tapi setidaknya mereka berdua saling menjaga dan melengkapi. Mulin pasti bisa memberikan kebahagiaan untuk Sofia.
Jansen memperkenalkan Chris dan yang lainnya kepada kakek. Mereka datang untuk berguru kepada Jansen. Jansen kemudian pulang ke rumah komunitas dan menemukan ternyata Natasha masih belum pulang juga setelah sekian lama.
Jansen diam-diam merasa bersalah. Bisnis Grup Dream Internasional berkembang semakin pesat sehingga Natasha juga semakin sibuk.
Suasana rumah yang kosong melompong ini sangat sunyi tanpa kehadiran Elena.
Keesokan paginya, telepon dari Naomi masuk.
"Kakak Ipar, Paman Kedua sudah naik jabatan sebagai dosen di Universitas Amerta. Siang ini ada acara makan-makan di Restoran Amerta, kamu wajib datang!"
"Panggil aku Guru!"
Jansen masih setengah tertidur dan menjawab dengan malas.
Mendengar jawaban Jansen, Naomi sangat kesal.
"Guru, apa kamu bisa datang?"
"Tidak ada waktu!"
"Sialan, aku sudah panggil kamu Guru, kamu mau mempermainkan aku, kan? Seharusnya, Kak Elena yang datang, tapi karena dia sedang ada perjalanan dinas, kamu yang wajib datang. Kalau kamu juga tidak datang, mau ditaruh di mana muka Kak Elena?"
"Kalian ini Keluarga Miller memang sungguh merepotkan!"
Jansen menjawab dengan kesal karena dirinya sendiri juga tidak akrab dengan Leimin, Paman Kedua. Selain itu, dia merasa kenaikan jabatan Leimin tidak ada hubungan apa pun dengan dirinya.
Apalagi, saat bertemu dengan Paman Kedua yang merupakan seorang akademisi, Jansen pasti akan selalu dikritik olehnya.
Janse akan merasa terhina jika disindir oleh Paman Kedua.
"Ayo datang, jika kamu tidak datang, aku akan menelepon Kak Elena!"
Naomi masih membujuk Jansen.
"Ya, aku tahu! Waktu? Tempat?"
Jansen menjawab dengan dingin. Jansen terpaksa pergi menghadiri acara makan demi Elena.
Setelah diberitahu waktu dan tempat acara, Jansen pergi ke aula Xinglin di pagi hari untuk membantu pekerjaan. Siang harinya, dia berangkat dengan santai naik taksi ke tempat
acara makan.
Dalam perjalanan, Jansen tiba-tiba teringat bahwa leimin memiliki kedudukan yang tinggi di dalam Keluarga Miller. Selain itu, dia termasuk orang yang paling berambisi menjadi pemimpin Keluarga Miller.
Jansen terpikir untuk berkoalisi dengan Leimin sebagai bekal di masa depan.
Setelah turun dari mobil, Jansen memandang gedung tua Restoran Amerta yang sangat unik. Dari luar, restoran ini terlihat sangat mewah.
Keluarga Miller selalu mengadakan jamuan makan di tempat berkelas seperti hotel bintang lima.
Saat Jansen hendak berjalan masuk, tiba-tiba sebuah mobil Rolls Royce berhenti di pinggir. Beberapa orang berpakaian jas turun dari mobil itu. Mereka terlihat sangat elegan.
Ternyata, mereka adalah kenalan Jansen. Orang yang berjalan di depan adalah Darius Palmer.
Darius juga melihat Jansen. Namun, Darius tidak menyapanya dan langsung masuk ke dalam restoran.
Meskipun Darius sangat membenci Jansen, tapi dia tidak berani cari perkara dengan Jansen yang telah menyembuhkan penyakit Kakek Palmer.
Jordie mengikuti Darius di belakang, tetapi dia menatap Jansen dengan penuh kebencian.
Jordie pernah mendekam sehari di penjara karena Jansen. Saat itu, jordie mengalami wasir yang membuatnya kesakitan luar biasa. Jordie masih dendam dengan Jansen karena hal ini.