
" Bukankah ada panah ? Keterampilan seni bela dirinya juga lumayan , kamu kan bisa berlatih dengannya ! " Jansen berkata dengan raut wajah yang agak aneh .
Seluruh tubuh Liam gemetar , lalu dia buru - buru menggelengkan kepadanya , " Tuan Jansen , panah adalah seorang pembunuh . Mau dia bergerak atau tidak , tetap akan merenggut nyawa seseorang . Mana bisa dibandingkan , aku tidak ingin bertarung dengannya ! "
Jansen juga merasa sangat lucu ketika melihat perawakan Liam yang bergidik ngeri hanya karena seorang wanita .
Setelah kembali ke vila , Jansen mulai mengobati Jhonny serta meninggalkan ramuan obat untuknya . Tak lupa , Jansen juga menyuruhnya untuk mengganti balutannya setiap hari , setelah itu Jansen pun bergegas pergi . Setelah satu malam yang sibuk Jansen juga merasa sedikit lelah . Karena terlalu malas untuk naik taksi , jadi dia mengendarai mobil Lamborghini - nya , lalu bersiap pulang .
" Pak Jansen , tunggu ! "
Tiba - tiba Elissa mengejarnya .
Tanpa menunggu Jansen setuju , dengan lancangnya dia langsung menaruh pantatnya di kursi samping kemudi .
"Gadis ini"
Jansen menggelengkan kepalanya tak berdaya dan segara mengantar Elissa Kembali ke Universitas Kota Asmenia . Namun begitu dia memarkir mobilnya dekat Universitas Kota Asmenia , ada sepasang mata yang menatapnya dari kedai teh susu yang persis berada di dekatnya .
Ternyata itu adalah Diana , dia tengah asyik meminum segelas teh susu dengan teman - temannya , lalu langsung merasa familiar saat melihat mobil sport itu .
" Kakak , apakah itu kamu ? " Dia segera berlari keluar dan berpapasan dengan Elissa !
Tentu saja Elissa juga melihat Diana . Dia pun langsung memiringkan bibirnya dan memasang wajah sombong .
Seketika emosi Diana langsung meledak , " Elissa , kenapa kamu bisa ada di mobil kakak iparku ! "
Kemudian dia menatap Jansen lagi dan merasa kalau Jansen pasti tidak akan berinisiatif untuk mengajak Elissa . Gadis ini pasti yang dengan tidak tahu malu menggoda kakak iparnya !
" Aku baru selesai makan , lalu langsung melihat Pak Jansen . Lalu pak Jansen mengajakku menonton bioskop tetapi malah kemalaman jadi tentu saja Pak Jansen akan mengantarku pulang ! " Elissa membual tanpa berkedip .
Jansen tidak punya pilihan selain menepuk dahinya dan melerai dua gadis kecil yang menyebalkan ini . Huh kenapa hidup ini begitu sulit !
" Omong kosong , kakak iparku mau menonton film denganmu ? Kamu pikir aku bodoh apa ! Apakah kakak iparku akan menyukai wanita yang mirip potongan daging babi sepertimu ? " Diana tidak bisa menahan diri untuk memakinya .
" Diana , bersihkan mulut baumu itu ! "
Elissa dengan geram keluar dari mobil dan tiba - tiba tertawa lagi , " Aku tahu , kamu pasti cemburu kan . Hahah siapa suruh kamu jelek ! Aku beritahu ya , tempat duduk samping kemudi di mobil ini akan selalu menjadi milikku ! "
" Tinggi sekali mimpimu itu ! "
Dua gadis itu bertengkar di jalan yang membuat pejalan kaki yang lewat terkejut . Apa yang diributkan kedua gadis ini ? Namun begitu melihat Jansen keluar dari mobil , akhirnya mereka tahu mengapa , pasti karena cemburu . Tak disangka ternyata dua gadis cantik seperti ini bertarung hanya demi seorang pria . Hanya karena modal mobil mewah langsung pemuda hebat!
" Sudah kalian jangan bertengkar , jika kalian benar - benar menyukai tempat duduk ini , sekalian saja bawa mobilnya pergi . Aku juga tidak minat lagi ! " Jansen melerai pertengkaran itu dengan tidak berdaya .
" Tidak mau , aku ingin Pak Jansen yang menyetir dan aku duduk di kursi sampingnya . Orang lain tidak boleh ! " Elissa buru - buru memeluk lengan Jansen .
Diana yang tidak mau kalah juga langsung memeluk lengan Jansen yang lain , " Elissa , jangan terlalu banyak bermimpi , kursi samping itu adalah milik kakakku seorang , kamu cari saja yang lain ! "
" Cih , apakah kakakmu secantik aku ? Aku adalah wanita tercantik di negeri ini , kakakmu bukan tandinganku ! "
Elissa dengan sengaja meraih lengan Jansen , lalu mendekatkan ke tubuh Jansen sambil tersenyum , " Pak Jansen aku cantik kan ? Aku adalah salah satu dari empat bunga kampus utama se - Kota Asmenia ! "
" Pak Jansen , coba lihat ini adalah sweater yang aku rajut untuk Bapak , Bapak harus memakainya ya ! " Elissa mengeluarkan sebuah sweater baru dari tasnya .
" Kamu bisa merajut ? Kamu pasti Membelinya ! "
Jansen menghela napas , kemudian menatap Elissa , berkata , " Elissa , kamu masih belajar jadi jangan seperti ini . Aku juga tidak bisa menerima sweater ini . Karena jika masalah ini sampai keluar , maka akan berakibat buruk pada reputasimu ! "
" Pak Jansen , Bapak ! "
Tiba - tiba mata Elissa menjadi lembab , bagaimanapun , dia masih seorang gadis remaja dan ini adalah pertama kalinya dia membeli sweater untuk orang lain . Namun ditolak begitu saja . Tentu saja , ini merupakan pukulan berat baginya .
" Kamu layak mendapatkannya ! "
Diana terkekeh dengan sangat senang , " Memang kamu layak untuk kakak iparku , kamu tidak punya ayah dan ibu , anak liar , kamu pasti tidak cebok saat buang air kecil ! Berkacalah ! "
" Diana , kamu ! "
Elissa menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal , kemudian meninggalkan sweaternya dan langsung menangis sambil berlari .
Jansen buru - buru berteriak memanggilnya tetapi mana mungkin Elissa mendengarkan kata - katanya , setelah itu Jansen juga menegur Diana, " Diana , apa yang kamu bicarakan ! Orang tuanya sudah meninggal tapi kenapa kamu malah mengejeknya seperti itu ! "
" Eh iya maaf , aku hanya terlalu impulsif tadi ! "
Sekarang Diana baru sadar kalau dia sudah keterlaluan .
" Uh , lupakan saja , besok coba kamu cari kesempatan untuk meminta maaf kepadanya ! " Jansen benar - benar takut dengan gadis - gadis kecil ini .
Tak lama kemudian dia segera menyalakan mobil dan membawa Diana pulang . Ketika mereka sampai di rumah , menyapa kedua orang tua Elena , Jansen pun langsung masuk ke dalam kamar , dan mendapati Elena sudah mandi dan tengah mengeringkan rambutnya sambil memakai jubah mandi . Jansen menjilat bibir bawahnya , lalu dengan cepat memeluknya dari belakang !
" Kamu cari mati ya ! "
Wajah Elena bersemu merah , tangan Jansen ini juga nakal . Kemudian dia tertawa sambil memarahi , " Cepat mandi sana ! Kenapa badanmu bau mesiu begitu , habis dari mana kamu ! "
Jansen langsung teringat dengan insiden di kapal pesiar itu kemudian terkekeh , " Mana ada bau mesiu , kamu salah cium ! "
Jansen bergegas mandi . Beberapa saat kemudian dia telah berbaring di ranjang , lalu mengoleskan obat ke bekas luka Elena . Sekarang sebagian besar bekas luka di punggung Elena telah hilang , hanya menyisakan area kecil saja .
" Sepertinya akhir - akhir ini kamu cukup santai , tidak banyak luka lagi ! " Jansen tersenyum dan tangannya mulai nakal . Selanjutnya Jansen membaringkan Elena dan meregangkan tubuh Elena .
" Dasar bajingan ! "
Seluruh tubuh Elena terasa lemas , dia merasa jika dia terus seperti ini , cepat atau lambat dia akan dimakan oleh pria jahat ini . Tetapi entah kenapa , dia tidak memiliki rasa ingin melawan dengan Jansen , bahkan ada secercah rasa harapan di dalam hatinya .
" Akhir - akhir ini aku sudah jarang latihan , karena sudah memasuki waktu ujian . Entah apakah aku dapat dipromosikan menjadi pasukan itu tergantung pada tes ini . Kalau aku bisa lulus , maka aku akan bisa bergabung dengan Tim operasi khusus ! " Elena bercerita .
Jansen yang merasa tidak puas menggelengkan kepalanya , " Apa bagusnya Tim operasi khusus itu ! Hanya membuat lelah saja"
Seketika dia teringat dengan Felicia di dalam hutan , dalam hati dia merasa tertusuk karena Jansen tidak ingin istrinya bekerja sekeras Felicia.
Elena juga tahu kalau Jansen tidak suka dia melakukan hal - hal berbahaya , kemudian dia memelet dan berseru , " Oh iya ngomong - ngomong di daerah Pantai Pasir Putih terjadi kasus pembunuhan . Korbannya adalah seorang sopir taksi , kematiannya cukup janggal . Dia seperti mati karena ketakutan , selain itu , setelah diperiksa kami tidak dapat menemukan sesuatu yang salah . Kasusnya agak aneh ! "
" Daerah Pantai Pasir Putih , cukup jauh juga sepertinya ! " ujar Jansen .
" Iya , awalnya karena dekat dengan laut , matahari terbenam di sana akan terlihat sangat indah. Tempat itu adalah tempat yang terkenal , lambat laun mulai terdengar cerita angker yang mengakibatkan semakin sedikit orang yang datang ke sana ! "
Elena mengangguk , " Tapi itu cukup lucu , sudah umur berapa aku sekarang , mana mungkin ada hantu ! "
Namun Jansen tidak membantah atau setuju . Meskipun sekarang pengetahuan dan teknologi telah berkembang , tetapi ada , banyak hal yang tidak dapat dijelaskan oleh pengetahuan dan teknologi .