
Pantas saja mereka semua sombong. Kekuatan yang mereka miliki sama sekali tidak sebanding dengan apa yang bisa uang beli.
Misalnya, jika Jonathan ingin membunuh seorang pebisnis minyak yang kaya raya di luar negeri, dia hanya perlu mengutus salah satu Master itu. Bahkan sekelompok tentara bayaran yang dipekerjakan oleh si pebisnis minyak tidak akan
sanggup melawan!
Bagi Jonathan yang sudah memiliki status sekuat ini, uang hanya sekedar menjadi alat baginya. Pondasinya justru terletak di kekuatan seni bela diri.
Jansen terkejut melihat serangan pedang itu dan dia melakukan kesalahan saat menghindar. Jansen sedikit terlambat sehingga bagian bahu kausnya tertusuk.
"Kamu tidak bisa membaca seni bela diri kami, 'kan? Bagi Pembela Diri kuno seperti kami, ilmumu itu sama lemahnya dengan kertas!"
Penghinaan demi penghinaan dilontarkan.
Esther dan Bos Leonardo hanya tertawa di kejauhan. Berani-beraninya seorang dokter memprovokasi Jonathan!
Belum pernah melihat bagaimana Jonathan menghadapi musuhnya di luar negeri, ya? Dia menggunakan bom dan tank! Memangnya Jansen pikir dia berhak memandang rendah Jonathan?
"Berani-beraninya membuatku bangkrut?"
Bos Leonardo tertawa terbahak-bahak, "Aku memang tidak berani menyentuh Tuan Muda Charlie, tapi menghajar mu bukan sebuah masalah!"
"Jansen, apa sekarang kamu mengerti kehebatan Jonathan?!" seru Esther.
Jansen yang berada di ruang terbuka dikepung oleh para Master yang menggunakan pedang-pedang itu untuk menyilaukan matanya.
Bahkan Tai Chi miliknya sama sekali tidak efektif.
Kedelapan pedang itu pun datang dari semua sisi secara bersamaan. Energi Qi mereka seperti air, lenyap dari pandangan dan langsung bergerak membunuh!
Anehnya, semua orang yang berada di luar melihat bagaimana kedelapan orang itu memegang pedang untuk menyegel Jansen!
Jansen sendiri tidak memiliki ruang untuk menghindar!
"Jansen!"
Cindy berteriak dengan cemas.
"Matilah!"
Esther tersenyum menghina dan menghibur si anak kecil, "Tuan Muda Leo, kamu pasti senang karena orang itu sudah mati!"
"Ya! Sekarang, cabut rambut wanita itu!"
Anak kecil itu mengangguk dan menatap Cindy lagi.
Wuuush!
Kedelapan pedang itu melesat menembus tubuh Jansen di saat yang bersamaan. Jansen membeku di tempatnya, ekspresinya terlihat sangat tidak percaya.
"Empat Aliansi Seni Bela Diri yang merupakan tempat kelahiran Seni Bela Diri kuno bukanlah sesuatu yang dapat kamu pahami!"
Si pria paruh baya yang menjadi pemimpin pun
menampakkan dirinya dan menggelengkan kepalanya dengan penghinaan.
Dia pikir Dokter Jansen ini cukup hebat, ternyata dia harus menelan pil kekecewaan. Pria itu terbunuh dengan formasi Delapan Tai Chi mereka. Rasanya seperti membunuh ayam dengan golok jagal sapi.
"Harus kuakui, penyelidikan kalian tentangku kurang menyeluruh sekali!"
Tepat pada saat itu, suara Jansen yang datar pun terdengar.
Kedelapan Master itu sontak membeku dan melihat ke tengah. Ternyata sosok Jansen yang sebelumnya hanya sekedar bayangan!
"Gawat!"
Pria paruh baya itu menoleh ke belakang dan menebaskan pedangnya ke arah luar.
Gerakannya cepat sekali, bagaikan merkuri yang jatuh ke tanah!
Trang!
Bunyi yang menusuk telinga pun terdengar. Tebasan horizontal itu terhalangi!
Yang lebih mengejutkan lagi, sebuah jari menghentikan tepat di ujung bilah pedang pria paruh baya itu!
Padahal ayunan pedangnya cepat sekali, tapi pihak lawan sanggup menggunakan telunjuknya untuk menghentikan ujung bilah pedang. Hal ini membuktikan seberapa hebat kemampuan lawannya!
"Membahas seni bela diri di hadapanku itu sama saja dengan mempermalukanku!"
Jansen bergumam, dia berdiri di belakang beberapa Master itu dengan sebelah tangannya memegang pedang si pria paruh baya.
Esther, Bos Leonardo, dan lainnya tercengang.
Beberapa Master Tai Chi itu sontak menjadi gemetaran. Ini.... Bagaimana ini bisa terjadi?!
Perlu diketahui, bahkan seseorang yang sudah mencapai peringkat Surgawi tinggi saja tidak akan sanggup melawan mereka jika mereka sudah bersatu.
"Bocah ini pasti curang! Bunuh dia!"
Ketenangan si pria paruh baya pun kembali dan mereka melancarkan formasi pedangnya lagi.
Beberapa orang itu menyerang Jansen secara bersamaan, cahaya pedang mereka berkelebat.
Namun, kali ini mereka sama sekali tidak bisa menyentuh Jansen!
"Kalian terlalu lambat!"
Jansen bergerak seperti hantu. Ke mana pun dia lewat, asap justru memenuhi udara.
Kecepatan ini tidak bisa diikuti oleh mata telanjang. Setiap gerakan Jansen terlihat seperti bayangan yang tertinggal.
Delapan Diagram Wandering Cloud Step!
Formasi pedang mereka memang kuat, tapi ada satu cara untuk mengalahkan mereka, yaitu dengan menghabisi salah satu. Begitu formasi mereka terpecah, mereka hanya akan menjadi Pembela Diri kuno peringkat Surgawi menengah.
Carrrrt!
"Ah!"
Esther menjerit kaget. Salah satu dari pengguna formasi Delapan Tai Chi meninggal?!
Perlu diketahui, aliansi telah menggelontorkan sumber daya yang tidak sedikit demi melatih kedelapan Master ini. Seorang peringkat Surgawi menengah membutuhkan modal sebesar 100
juta!
Namun, sekarang satu dari mereka sudah meninggal!
Bagaimana Esther harus melaporkan hal ini kepada Jonathan?!
"Cari mati!"
Pria paruh baya itu menjadi marah dan dia menatap Jansen sambil mengibaskan pedangnya!
Akan tetapi, tebasannya berhenti di tengah jalan. Pupil mata si pria paruh baya menjadi bergetar. Dia bisa merasakan bilah pedangnya yang dicengkeram!
Yang paling menakutkan, orang yang mencengkeramnya justru ada di belakangnya!
Jansen!
Sejak kapan Jansen ada di belakangnya?
"Coba beritahu aku orang seperti apa Jonathan itu!"
Terdengar suara Jansen yang dingin dari belakangnya.
Pria paruh baya itu tidak berani bergerak, pupilnya terus bergetar.
Jleb!
Sebuah pedang menembus jantung si pria paruh baya dari punggungnya. Dia bahkan bisa melihat ujung pedang yang mencuat keluar dari dadanya!
Aku sudah mati?
Hanya kalimat itu yang terlintas dalam benaknya!
Bruk!
Dua orang pun meninggal!
"Bukankah Jonathan melihatku sebagai rakyat jelata?"
Suara Jansen menggema di tempat terbuka itu!
Bruk!
Seorang Master lainnya pun tewas.
"Bukankah kalian ke sini untuk memberiku pelajaran?"
Bruk!
Satu korban lagi berjatuhan!
"Kalian semua dipanggil Master, tapi kalian justru mati di tanganku! Jangan bersikap sok di depanku!"
Bruk!
Setiap kilat pedang yang melintas mencabut nyawa satu orang!
Semua Master Tai Chi yang hebat itu mati terbunuh hanya dalam beberapa menit!
Darah yang kental menggenang di tanah terbuka itu.
Pupil mata Esther, Bos Leonardo, dan yang lainnya tidak bisa berhenti gemetar. Mereka sontak merasa bahwa mereka sama sekali tidak tahu tentang Jansen.
Bukankah pria itu adalah seorang dokter?
Bukankah Jansen hanya kandidat Raja Prajurit?
Kenapa dia bisa menghancurkan formasi Sihir Delapan Tai Chi seorang diri?! Itu adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah mencapai peringkat Surgawi tinggi!
"Anak ini menderita kanker paru-paru stadium menengah!"
Suara Jansen tiba-tiba terdengar. Ketika mereka semua menoleh ke arah sumber suara, pria itu sedang menyalakan rokok dan mengembuskan asapnya ke langit.
"Dia kehilangan semua rambutnya karena kemoterapi. Kasihan sekali! Dia tidak seharusnya mengalami penderitaan seperti ini di usianya yang masih begitu belia! Seharusnya penyakit itu tidak muncul di usianya yang masih semuda ini!"
"Tapi, aku bisa menyembuhkannya!"
Jansen menyahut dengan santai.
"Jonathan pasti akan mengampuni nyawamu selama kamu bisa menyembuhkan Tuan Muda Leo!"
"Hahaha!"
Jansen sontak tertawa, "Meskipun aku, Jansen, memegang teguh misi seorang dokter untuk menyembuhkan yang terluka dan menyelamatkan yang sekarat, ada tiga hal yang tidak akan kusembuhkan. Salah satunya, aku tidak akan mengobati penjahat! Lalu, kamu bilang dia akan mengampuni nyawaku?
Sepertinya kamu lupa kalau hidupmu sekarang ada di tanganku. Tidakkah menurutmu kata-katamu itu konyol?"
Tubuh Esther gemetar ketakutan. Jansen memang benar. Meski Jonathan sangat menakutkan, sekarang nyawanya berada di tangan Jansen!
"Dia hanya seorang anak kecil!" Esther berkata lagi.
"Lalu kenapa? Dia tidak menghargai kehidupan manusia! Kurasa sampai sekarang sudah banyak orang yang meninggal demi kebahagiaannya dan memuaskan amarahnya!"
Jansen berkata dengan dingin, "Kamu tidak bisa menggunakan usianya yang masih muda sebagai alasan. Membunuh orang adalah kejahatan besar. Walaupun tentu saja, bukan hanya dia seorang yang salah. Keluarganya juga. salah besar karena sudah mendidiknya menjadi seperti ini!"
"Berani-beraninya kamu menegur Jonathan! Apa kamu tidak tahu siapa dia?!"
Amarah Esther menjadi tersulut. Dia bisa menahan rasa marahnya seandainya Jansen bersedia menyelamatkan Tuan Muda Leo, tapi pria itu malah mengomeli Jonathan! Itu adalah bentuk pelanggaran!