
"Kamu meremehkanku?"
Suara pria Negara Matahari itu pun terdengar berat. Sebagai pejabat tinggi di negaranya, dia bahkan mampu mengerahkan beberapa pasukan ke semua negara yang dia mau. Dan hari ini, dia berinisiatif untuk mengajak Jansen bergabung bersamanya. Tapi, orang Huaxia ini justru menolaknya dan bahkan sampai menghinanya.
Melihat wajah pria itu berubah menjadi dingin, Alice yang berada di sampingnya pun merasa khawatir. Diam-diam dia menarik Jansen perlahan.
Alice tahu siapa pria dari Negara Matahari itu. Identitasnya pun bukan abal-abal, yaitu seorang pejabat tinggi dari Grup Teknologi Global.
Dan Grup Teknologi Global ini dibentuk oleh beberapa plutokrat besar yang mempunyai wewenang besar di seluruh dunia. Di beberapa negara kecil, mereka bahkan mempunyai kewenangan dalam menentukan ekonomi negara dan juga mengeluarkan sebuah kebijakan resmi.
"Maaf sebelumnya, aku bukan meremehkanmu!"
Tepat pada saat ini, Jansen kembali angkat bicara.
Pria dari Negara Matahari itu pun menyipitkan matanya. Dia pun menganggap selera humor orang Huaxia tidaklah buruk. "Ada pepatah yang mengatakan, siapa pun yang mampu memahami situasi dan kondisi, maka dia termasuk orang yang hebat dan bijaksana!"
"Mungkin ada kesalahpahaman di sini!"
Jansen pun memotong ucapan pria itu, "Memang aku tidak meremehkanmu! Melainkan sedang menghinamu!"
"Kamu!"
Orang-orang dari Negara Matahari pun melotot menatap Jansen.
Tentara bayaran yang ada di belakang mereka pun mulai mengangkat senjata.
Pria yang berasal dari Negara Matahari itu pun menjadi lebih percaya diri saat ini.
"Aku berasal dari Grup Teknologi Global!" ucapnya dengan nada ancaman.
"Aku tidak suka orang lain menodongkan senjata ke arahku!" ucap Jansen kemudian.
"Sebaliknya, saat orang lain tidak suka, aku justru lebih suka menodongkan senjata!"
Orang-orang dari Negara Matahari pun mulai mencibir, terlihat begitu sangat mendominasi.
Wus, wus, wus!
Baru saja mereka selesai mengatakannya, sejumlah jarum perak pun menyasar tangan para tentara bayaran Flying Wolf. Mereka semua pun berteriak kesakitan. Senjata yang mereka genggam pun mulai berjatuhan ke lantai.
Terlebih lagi saat mereka memegang lengan mereka. Rasa sakit yang berlebihan membuat mereka merasa kebas alias mati rasa. Yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah melihat jarum perak yang tertancap di lengan. Gerakan apa pun yang mereka buat, pasti akan membuat mereka merasakan sakit di sekujur tubuh.
Mata beberapa orang Negara Matahari pun terbelalak. Hanya dengan menggunakan jarum perak saja Jansen mampu menjatuhkan semua senjata anak buahnya?
Jarum perak ini ternyata jauh lebih tajam dan cepat ketimbang senjata api mereka!
Apalagi kondisi di tempat ini sangat redup, minim daya penglihatan. Tapi bidikan Jansen sangat tepat dan akurat. Bagaimana Jansen melakukannya!?
"Apa lagi yang bisa kamu katakan tanpa adanya senjata api!?" ucap Jansen dengan santai.
Orang-orang Negara Matahari pun hanya bisa terdiam. Martabat dan harga diri mereka seperti sedang diinjak-injak saat ini.
"Layaknya anjing tak bertuan!"
ucap Jansen kemudian.
"Kalau kalian tidak mengerti apa yang dimaksud dengan seekor anjing tak bertuan, aku akan menjelaskannya pada kalian! Anjing tak bertuan menggambarkan seorang anjing yang tak lagi mempunyai majikan. Jadi, dia hanya bisa mengibaskan ekornya dan mengeluarkan suara merengek!"
"Bagaimana, sudah mengerti?"
Orang-orang Negara Matahari nampak kesal, tapi mereka tidak berani membalas ucapan yang Jansen ucapkan.
Anjing yang tak bertuan?
Tanpa adanya senjata api, mereka tak lagi berani mengeluarkan kata-kata arogan.
"Ayo kita pergi!"
Jansen membawa Alice dan bersiap untuk pergi meninggalkan lokasi.
"Mr. Allen!"
teriak Alice buru-buru pada pelayannya itu. Kemudian, barulah dia mengikuti Jansen menyusuri sepanjang aula.
Melihat kepergian Jansen dan yang lainnya, raut wajah pria dari Negara Matahari itu pun nampak makin suram. "Aku akan mencari tahu siapa dirimu sebenarnya! Ingat... aku akan membuatmu menyesal, aku akan membuatmu bangkrut dan aku ingin keluargamu hancur!" ucapnya dingin.
Meski dikenal angkuh, tapi dia tahu jika situasi saat ini sedang genting. Kata-kata yang barusan dia ucapkan pun hanya ditujukan pada dirinya sendiri. Hanya saja, dia tidak tahu seberapa tajam pendengaran Jansen.
Angin kencang pun menyambar. Detik berikutnya, pria dari Negara Matahari itu pun merasa lehernya dicengkeram oleh sesuatu. Dan perlahan, kedua kakinya mulai melayang di udara!
Dia lantas membuka matanya. Apa yang terjadi? Ternyata Jansen orang Huaxia yang baru saja pergi sedang mencengkeram lehernya.
Karena lehernya tercekik, dia pun tak bisa mengatakan sepatah kata pun. Wajahnya pun mulai berubah menjadi biru keunguan.
Dia melirik tentara bayaran yang ada di belakangnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bergerak. Serangan pertama yang Jansen berikan adalah jarum perak, mereka semua tak mampu menghalaunya. Dan sekarang, kecepatan luar biasa yang Jansen tunjukkan benar-benar mengerikan. Mereka semua pun merasa bukan lawan sepadan untuk Jansen.
"Kamu masih belum mengerti juga apa yang dimaksud dengan anjing yang tak bertuan!"
ucap Jansen dengan nada yang berat sembari mengangkat leher pria dari Negara Matahari itu makin ke atas.
Pada akhirnya, muncul rasa takut dan gemetar pada hati pria Negara Matahari itu. Sebagai orang yang angkuh, tentu saja dia tidak bisa menerima perlakuan Jansen kepadanya barusan. Tapi siapa sangka jika kalimat yang diucapkannya dengan suara rendah didengar oleh Jansen!
Pada saat ini, dia ingin memohon belas kasihan dan meminta maaf.
Tapi Jansen tengah mencengkeram lehernya. Dia bahkan tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun.
Ada rasa penyesalan di hatinya saat ini.
Di istana misterius semacam ini, dia bertemu dengan beberapa pria misterius. Seharusnya dia bisa menurunkan egonya dan selalu bersikap rendah hati.
"tempat yang kamu pijak saat ini adalah Bumi Huaxia, bukan Grup Teknologi Global. Tidak akan ada orang yang memedulikanmu!"
"Berani-beraninya anjing yang tak bertuan menggonggong dengan liar seperti ini!"
bentak Jansen dan kemudian membanting tubuh pria itu ke lantai.
Brak!
Lantai itu pun bergetar hingga muncul beberapa retakan di atasnya. Pria itu memuntahkan darah hingga dua meter jauhnya.
Tentara bayaran yang ada di sekitar pun tanpa sadar mengangkat senjata mereka. Tapi, tetap saja mereka tidak ada yang berani bergerak.
Prak!
Jansen kembali menyerang pria Negara Matahari itu. Kali ini, dia menggunakan kakinya menginjak punggung pria itu dan mematahkannya.
"Kalau lain kali kamu masih berani bersikap arogan di Huaxia, maka aku tak segan-segan melakukan hal yang lebih daripada sekarang ini!"
Selesai mengatakannya, Jansen menendang pria itu menjauh dan kemudian berjalan menghampiri Alice.
Suasana di dalam aula nampak sunyi akibat tekanan yang diberikan oleh Jansen.
Bahkan makhluk-makhluk aneh yang ada di kegelapan pun mulai menjauh dan menghilang pada saat ini.
Setelah Jansen benar-benar pergi menjauh, barulah para tentara bayaran berlari menghampiri pria Negara Matahari itu dan memapahnya.