
"Aku rasa tidak ada gunanya bertanya."
Meskipun tahu tidak ada gunanya, Jansen tidak mencegah Naura.
Tidak lama kemudian, Naura datang ke tempat tinggal Sheila dan menekan bel.
"Siapa? Naura, ternyata kamu."
Sheila membuka pintu dengan mengenakan pakaian yoga. Dia memiliki bentuk tubuh yang bagus. Kebetulan, dia sedang melakukan yoga.
Wajah Naura terlihat berat. Dia Melihat ke sekeliling dan bertanya, "Sheila, berkaitan dengan masalah PT. Senlena, bagaimana pendapatmu?"
"Naura, kenapa kamu menanyakan pertanyaan ini?"
Sheila mengerutkan kening dan menghela napas, "Tentu aku tidak senang. Aku juga pegawai PT. Senlena."
"Sheila, jujur padaku, apakah beberapa hari yang lalu kamu memasuki ruang bahan?" Naura bertanya langsung.
Wajah Sheila langsung berubah menjadi dingin. Dia menjawab dengan marah, "Naura, apa maksudmu? Kamu mencurigaiku? Dari awal, bahan baru yang dibeli memang sudah bermasalah. Untuk apa kamu bertanya kepadaku?"
Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan, "Aku tahu, kamu ingin mencari orang untuk disalahkan."
Naura bertanya dengan datar, "Kalau begitu, di mana kamu pada tanggal 11 malam? Oh iya, di mana sweater hitam yang aku belikan untukmu tempo hari? Selain itu, kenapa tiba-tiba rekeningmu bertambah 30 juta?"
Sheila seperti kucing yang diinjak ekornya. Tubuhnya gemetar dan wajahnya muram, "Kamu memeriksaku? Aku menganggap mu sebagai saudara, aku memedulikanmu, tapi kamu malah memeriksaku?"
"Jawab pertanyaanku!"
Naura berkata dengan dingin.
"Aku tidak tahu, aku tidak punya Kewajiban untuk
menjelaskannya padamu. Kalau kamu ada bukti, tangkap saja aku. Kalau tidak ada bukti, silakan pergi!"
Suara Sheila berubah menjadi dingin, seolah-olah tidak mengenal Naura..
Tiba-tiba, hati Naura terasa sangat sakit. Dia tahu karakter Sheila. Dia tahu bahwa Sheila marah karena malu. Selain itu, Sheila juga merahasiakan sesuatu.
Yang membuatnya sulit menerima adalah Sheila tidak mau mengakui dan tidak merasa bersalah.
Apakah dia benar-benar menganggap Naura sebagai saudara?
Harus diketahui, saat Sheila dikhianati oleh kekasihnya, dia tidak mempunyai apa-apa. Naura yang mengajaknya bekerja di PT. Senlena. Naura tidak hanya memberikannya gaji yang tinggi, tapi juga mengajarinya.
Naura bahkan yang membayar uang muka rumah yang sekarang Sheila tempati.
"Sheila, uang haram adalah maut. Kamu membantu orang melakukan hal seperti ini, hati-hati, jangan sampai malah dikhianati. Kalau semuanya terbongkar, kamu harus mati untuknya. Aku sarankan, lebih baik kamu menyerahkan diri."
Naura merasa Putus asa, dia berkata dengan nada dingin, "Sebagai saudara, aku sudah mengingatkanmu."
"Konyol. Apakah menurutmu dengan menyerahkan diri maka akan ada jalan keluar?" Sheila menggelengkan kepala.
"Kalau kamu menyerahkan diri, aku akan membantumu berbicara. Tuan Jansen akan Melindungi Mu."
Naura menasihati.
Sheila malah tertawa dan berkata dengan menghina, "Sebelumnya aku sudah bilang, masalah ini tidak ada hubungannya dengan aku. Andaikan masalah ini benar berhubungan denganku, memangnya Tuan Jansen pasti bisa Melindungiku? Tuan Jansen tidak tahu betapa rumitnya kehidupan di Ibu kota. Dia tidak tahu siapa yang sedang menyerangnya."
"Kamu menyia-nyiakan kesempatan terakhirmu!" Naura menggertakkan giginya.
"Naura, pergilah! Jangan melakukan hal yang tidak berguna. Sekarang, Tuan Jansen sendiri juga sedang kesusahan. Tapi, terima kasih atas peringatanmu. Oh iya, kamu juga pernah berjanji kepadaku, kamu tidak akan pernah memercayai pria mana pun lagi. Hanya saja, ada apa dengan Tuan Jansen? Aku merasa, setelah kamu bertemu dengan Tuan Jansen, tatapan matamu berubah, semuanya berubah!" Sheila berteriak, "Pergi! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku selamanya!"
Naura menghela napas. Setelah berpesan, dia pergi dengan marah.
"Sheila, aku tahu kamu menyukai seseorang. Apalagi, orang yang kamu sukai adalah seorang wanita. Aku ingatkan, kamu tidak boleh mencari masalah dengan wanita itu. Dia sama seperti mantan kekasihmu, dia hanya sedang
memanfaatkanmu."
Mendengar hal ini, wajah Sheila menjadi muram. Tatapan Naura yang pergi meninggalkannya membuatnya sakit hati.
Sejak pacarnya menggunakan narkoba, dia tidak lagi memercayai pria. Naura memiliki pengalaman yang sama dengannya, jadi dia memiliki hubungan yang baik dengan Naura.
Hubungan adalah hal yang berbeda. Di hadapkan pada pilihan saudara dan uang, akhirnya dia memilih uang dan cinta.
Setelah pergi, Naura keluar dari gerbang komplek dan Melihat Jansen dari kejauhan.
"Pak Jansen, sama seperti yang kamu katakan. Dia pasti tidak akan bilang dan tidak akan mengakui." Suara Naura terdengar sedih.
Jansen sedikit terkejut. Dia bisa Melihat hubungan Naura dan Sheila sangat baik. Dia pun menghiburnya, "Sebenarnya, untuk masalah ini, mau dia menyerahkan diri atau tidak, semua sama saja. Karena PT. Senlena mempunyai kekuatan di belakangnya. Cepat atau lambat, perusahaan pasti akan dibuka kembali. Berkaitan dengan Sheila, setiap orang punya hak memilih, tapi juga harus bertanggung jawab dengan konsekuensinya. Bagaimana konsekuensinya, hanya dia sendiri yang tahu."
"Terima kasih, pak Jansen!"
Naura berkata dengan penuh terima kasih. Maksud Jansen adalah, dia tidak akan meminta pertanggungjawaban Sheila.
Jansen melakukan ini demi menjaga muka Naura.
Mereka berdua berjalan sambil mengobrol. Setengah jam kemudian, sebuah BMW meninggalkan komplek itu. Tidak lama kemudian, Sheila muncul di sebuah bar malam. Dia sangat tegang sampai telapak tangannya berkeringat.
"Cantik, sudah tidak sabar?"
Saat ini, sebuah sosok yang cantik masuk dengan mengenakan cheongsam. Dia memiliki bentuk tubuh yang ramping seperti ular, setiap gerakannya memiliki pesona seorang wanita.
Namun, alisnya mendominasi bak seorang ratu.
Dia adalah Jessica Miller.
"Jessica."
Melihat wanita cantik ini, hati Sheila berbunga-bunga. Dia menggenggam tangan Jessica dan duduk.
"Begitu merindukanku?"
Jessica mengangkat dagu Sheila. Wanita itu sangat menggairahkan, tatapan matanya sangat unik, dia selalu memberikan perasaan yang menggugah.
Di dalam bar, mereka berdua mulai bertingkah tidak senonoh.
Setelah beberapa saat, Sheila berkeringatan. Dia bersandar di bahu Jessica dan berkata, "Jessica, Naura mencurigaiku. Sepertinya, dia telah menemukan bukti. Tampaknya dia juga tahu bahwa aku sudah memiliki seseorang."
"Apa?"
Tiba-tiba, wajah Jessica berubah. Kelembutan yang tampak sebelumnya langsung sirna. Dia berkata dengan dingin, "Kamu yang memberi tahu dia?"
"Bukan aku. Aku juga tidak tahu bagaimana dia tahu. Jessica, kamu jangan marah." Sheila seolah sangat takut kepada Jessica.
Plak!
Jessica mengangkat tangannya dan melayangkan sebuah tamparan, "Dasar, tidak berguna!"
Jessica marah dan menuangkan segelas anggur. Dia berjalan mondar-mandir. Wajahnya tampak sangat muram. Sebuah nama muncul di dalam benaknya, Jansen!
Kalau begitu, Jansen sudah menebak bahwa Jessica yang melakukannya?
Jansen, pintar juga dia.
Di hari pembukaan klinik, bos besar Departemen Kesehatan membantunya. Dokter negara Alfred juga mendukungnya. Bahkan kemiliteran berada di sana.
Dia sulit membayangkannya, hanya dalam waktu sebulan, Jansen telah mengenal begitu banyak orang di Ibu kota. Apalagi, semua orang itu memiliki jabatan yang tinggi.
Dia penasaran, bagaimana Jansen bisa melakukannya?
Keterampilan medis?
Konyol Keterampilan medis Jansen memang bagus. Namun, mengandalkan keterampilan medis untuk mengambil hati orang-orang besar itu, sepertinya sedikit mustahil.
Di dalam masyarakat ini, kalau ingin orang lain bekerja sama dengan tulus, maka harus ada uang dan kekuasaan.
Semakin dia memikirkannya, semakin dia marah. Dia mencari cambuk dan memukul Sheila dengan kejam. Dia memukul sampai Sheila berteriak kesakitan.
"Jessica, bukankah kamu paling mencintaiku?"
Sheila meringkuk dan menangis seperti kelinci yang ketakutan. Dia tidak menyangka, temperamen Jessica akan berubah begitu drastis dan begitu kasar. Kata-kata manis yang pernah diucapkannya di atas tempat tidur hanyalah omong kosong belaka.
Adegan ini sangat mirip dengan kejadian bersama mantan kekasihnya.