
Wajah Brandon seketika berubah saat mengetahui bahwa itu merupakan kemampuan Jansen.
"Di mana Elena!"
Jansen mengangkat telapak tangannya ke atas. Tanpa banyak bicara, dia sudah berniat membunuh seseorang saat ini juga.
"Jansen, apa gunanya menanyakan pertanyaan semacam ini pada kami?"
Brandon berteriak dingin. Nyatanya, dia juga sangat dirugikan. Setelah terakhir kali Jansen mencakarnya, kali ini dia berani menginjaknya di gerbang kediaman Woodley.
Sebagai kepala keluarga, dia tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tidak berani bertindak apa pun. Ini sungguh sangat memalukan.
Dengan melambaikan lengannya, Jansen mengumpulkan Profound Qi miliknya dan kembali membunuh master yang ada di samping.
Bugg! Bugg!
Satu demi satu sosok pun terjatuh, seolah-olah pertahanan kediaman Woodley yang besar ini terus-menerus runtuh.
Di kejauhan, para petugas keamanan gemetar. Mereka telah bekerja untuk Keluarga Woodley selama bertahun-tahun, dan ini adalah pertama kalinya mereka melihat Keluarga Woodley diinjak-injak seperti ini.
"Jansen!"
Brandon tidak mampu menahannya lagi, tapi begitu kata-kata itu jatuh, sebuah lengan menghantam leher Brandon. Itu adalah Jansen.
Brandon juga merupakan seorang praktisi seni bela diri, tapi setelah bertemu dengan Jansen, kekuatan bela dirinya lemah seperti tikus.
Saat lehernya dipegang, Brandon akhirnya teringat perihal peringatan dari Madison. "Jansen, kenapa kamu tidak bisa dikalahkan!"
"Kamu punya satu kesempatan terakhir!"
Suara Jansen terdengar dingin. Dia tidak lagi terlihat seperti dokter yang menyelamatkan nyawa dan menyembuhkan yang terluka, melainkan lebih seperti Dewa Perang Huaxia yang sedang melawan tentara bayaran.
"Jansen, lebih baik kita berdamai saja. Kamu membuat keributan di Keluarga Woodley, tanpa memikirkan kami."
Pada saat ini, beberapa orang tiba dipimpin oleh seorang pria tua, yang merupakan Kakek Woodley.
Di belakangnya, terdapat rekan-rekan dari Keluarga Woodley. Saat melihat pemandangan di depan, mereka langsung ketakutan.
Darah mengalir seperti sungai dan mayat ada di mana-mana.
Berani sekali ada orang yang menggebrak pintu kediaman keluarga elite Woodley seperti ini.
Apalagi saat mengetahui bahwa Jansen datang untuk Aidan, di benak mereka langsung mengeluhkan soal Aidan, mereka tahu bahwa hal ini akan menyebabkan masalah.
"Siapa kamu!"
Jansen menatap pria tua itu dengan tajam.
"Aku adalah Kakek Woodley!"
Pria tua mendengus dingin, alisnya tampak penuh amarah. "Entah apa yang membuatmu menggila seperti ini, tetapi jika kamu pikir Keluarga Woodley bisa ditindas, aku akan membuatmu menyesalinya!"
"Aku datang ke sini hanya untuk Elena. Serahkan Elena dan Aidan, lalu aku bisa pergi."
Jansen menghormati Kakek Woodley sebagai seorang yang lebih tua, tentu dia menyampaikan dengan sedikit rasa hormat atas perkataannya.
"Elena? Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."
Kakek Woodley mengerutkan kening.
"Aidan menculik istriku dan ingin melakukan sesuatu yang tidak senonoh padanya, jadi aku datang untuk mencarinya."
"Apa!"
Jika itu masalahnya, tentu merupakan kesalahan dari pihak Keluarga Woodley. Dia berbalik dan berteriak, "Seseorang, bawa Aidan keluar!"
Segera, seseorang membawa Aidan keluar. Aidan yang sudah tahu bahwa Jansen datang ke pintu pun tak kalah ketakutan. Yang membuatnya bingung adalah siapa yang memberi tahunya?
"Aidan, kutanya padamu, apakah kamu menculik istri Jansen?"
tanya Kakek Woodley seraya menatap Aidan.
"Tidak!"
Aidan buru-buru menggelengkan kepalanya.
"Benarkah tidak?"
Kakek Woodley masih mempertanyakan.
"Kakek, terakhir kali 'kan sudah mengingatkanku, jadi aku tidak pernah mengusik Jansen lagi setelahnya. Tanyakan pada Ayah jika kamu tidak percaya padaku." Aidan berkata sambil menatap Brandon.
Meski Brandon masih dalam kondisi lehernya diinjak oleh Jansen, dia tetap mengangguk.
Kakek Woodley akhirnya berhenti meragu dan menatap Jansen dingin. "Jansen, aku tahu bahwa kamu sosok terkenal dan memiliki keahlian yang begitu hebat, tapi keluargaku tidak berhak untuk ditindas seperti ini."
Dia tentu saja tahu jika Jansen-lah yang menyebabkan Keluarga Woodley bangkrut. Dia sendiri sebenarnya memiliki banyak keluhan terhadap Jansen.
Hanya saja ada kuasa di atasnya, jadi dia tidak berani menyentuh Jansen dengan seenaknya.
Tapi sekarang, Jansen bersikap tidak masuk akal dan mengambil kesempatan untuk membunuh orang.
Jansen sama sekali tidak memercayai penjelasan mereka. "Aku akan bertanya untuk terakhir kalinya, di mana Elena!"
"Kakek, kita tidak membuat masalah, dia saja yang berulang kali bicara bohong dengan sangat angkuh."
Aidan tiba-tiba berteriak.
Pupil mata Jansen seketika membeku. Dia menculik istrinya dan berani memintanya mematahkan lengan?
"Kalian benar-benar cari mati!"
Suara Jansen menjadi makin dingin. Awalnya, dia ingin meminta pertanggung jawaban dengan mencari Aidan, tapi saat ini dia tidak lagi berpikir begitu.
Elena adalah istrinya, demi Elena dia berani melawan seluruh dunia.
"Jansen, kami sudah memberimu kesempatan tetapi kamu tidak tahu cara menghargainya. Apa kamu sungguh berpikir keluarga kami takut padamu?"
Seorang penatua Keluarga Woodley berteriak, "Tuan, patahkan lengannya sekarang juga!"
Krek! Krek!
Begitu kata-kata itu jatuh, kepala Brandon miring dan lehernya dipatahkan dengan paksa oleh Jansen.
Mata Brandon dipenuhi dengan kebingungan, ketakutan, dan bahkan keputusasaan.
Dia jelas tidak menyangka bahwa Jansen benar-benar berani membunuhnya.
Keluarga Woodley hanya terdiam, tak lama dari itu jantung orang yang tak terhitung jumlahnya berdetak dengan kencang dan napas mereka pendek.
"Patriak, tewas!"
Jansen sama sekali tidak memiliki rasa takut. Jika dia mengatakan bunuh, maka dia akan membunuh, meskipun di depan mereka semua.
Sebuah kemurkaan, demi wanita cantik.
Pada saat ini, di luar kediaman Woodley, berbagai kekuatan sedang berkumpul, mulai dari Panah berserta anak buahnya, ada juga Vajra Agung, dan masih banyak lagi. Setelah mengetahui kabar tersebut, mereka sangat terkejut.
Bagaimanapun juga, itu merupakan seorang pemimpin dari keluarga elite, yang mana hanya dengan menggerakkan kakinya saja, akan menjadi sosok yang bergejolak di Ibu Kota.
Pada saat yang sama, keluarga Carson juga menerima kabar tersebut, mereka hanya diam tanpa kata.
"Jansen, kali ini aku benar-benar marah!"
Kakek Woodley menghela napas. Ini bukanlah hasil yang ingin dilihatnya, tapi dia percaya bahwa Jansen melakukan ini pasti ada alasannya.
Hanya bisa dikatakan bahwa Keluarga Woodley sedang menghadapi bencana.
"Ayah!"
Pada saat ini, suasana hatinya berkecamuk Aidan saat menatap Brandon dengan leher yang miring.
Dia sudah lama mengetahui bahwa Jansen segila itu, tapi masih saja meremehkannya.
"Jansen, kamu dan Keluarga Woodley akan tetap bermusuhan!"
Dia meraung, suaranya dipenuhi amarah, bahkan melebihi suara hancurnya kapal.
"Jansen!"
Semua Keluarga Woodley terkejut dan mereka pun juga meraung-raung. Suasana hati mereka saat ini hanya bisa dijelaskan oleh satu kata, yaitu kaget.
"Beraninya kamu membunuh anakku!"
Kakek Woodley menghela napas panjang. Dia menyaksikan anaknya lebih dulu meninggal sebelum dirinya. Pengalaman semacam ini sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Dia benar-benar membenci Jansen.
Tidak masuk akal, jika berkata bunuh maka akan benar-benar membunuh. Apakah toleransi yang berulang-ulang diberikan oleh Keluarga Woodley membuat Jansen merasa Keluarga Woodley bisa ditindas seenaknya?
"Siapa pun yang membunuh Jansen akan mendapat hadiah satu miliar!"
Kakek Woodley mengubah ketenangan pensiunnya dari dunia Jianghu, seperti singa yang terbangun.
Masih banyak para master yang ada di pihaknya. Satu miliar tentu menggerakkan hati orang-orang, satu per satu dari mereka mulai menyerang Jansen.
"Jika kamu tidak menyerahkan Elena, aku akan menghancurkan seluruh keluargamu!"
Jika menyangkut istrinya, Jansen juga seperti orang gila. Profound Qi dikerahkan, beberapa bilah melesat ke arah Keluarga Woodley.
Sat! Sat!
Bilahnya setajam alat pemotong mesin, yang bisa memotong semuanya.
Bruk! Bruk!
Lagi-lagi, para master lainnya jatuh.
"Bunuh!"
Kakek Woodley, seperti tokoh penguasa negeri, dia hanya melambaikan tangannya tanpa bergerak.
"Bunuh dia!"
Aidan meraung marah. Dia tidak percaya bahwa Jansen mampu melawan hanya seorang diri.
Sat! Sat!
Namun, sebelum para master ini bergerak, pedangnya lebih dulu menebas, yang membuat banyak orang kehilangan nyawa.
"Camerald, aku perintahkan kamu segera datang untuk bala bantuan!"
Tidak ada perubahan dalam ekspresi Kakek Woodley. Selama dia melewati badai, belum pernah melihat kejadian seperti ini sebelumnya. Hanya Jansen-lah yang mampu mengguncang Keluarga Woodley!