Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 646. Kecelakaan!


Seketika, Cindy tersipu dan melirik Jansen.


"Terima kasih!"


Cindy kembali mengeluarkan setumpuk uang dan ingin melemparkannya ke dalam kotak amal.


Jansen menggelengkan kepalanya dengan tak berdaya. Memang ada biksu terkemuka di Kuil Bulan, tapi bukan berarti semuanya hebat.


Kalau dilihat, biksu ini adalah penipu. Biksu ini melihat Cindy berpakaian mewah dan mudah mengeluarkan uang. Jadi, biksu pun mengatakan bahwa Cindy memiliki takdir yang berkelimpahan. Biksu ini juga melihat Jansen datang bersama Cindy. Jadi, biksu menebak mereka adalah pasangan.


Bila mereka datang dengan mengenakan jas, biksu ini pasti akan mengatakan bahwa karir mereka menanjak.


Kalau orang yang datang memiliki kharisma yang kuat, biksu ini akan mengatakan bahwa dia telah berada di jalan yang benar.


"Aku saja."


Jansen mencegat Cindy.


Biksu itu tersenyum dan menatap Jansen, "Tuan, yang penting ada niat dan kebaikanmu."


"Aku paham, aku paham!"


Jansen mengangguk dengan sopan sambil mengeluarkan uang satu yuan dari celananya, lalu memasukkannya ke dalam kotak itu. Kemudian, Jansen melipat kedua tangan dan berdoa.


Biksu hampir muntah darah. Melihat wanita yang begitu dermawan, awalnya biksu berpikir bahwa pria ini tidak akan mempermalukan dirinya sendiri dan akan menyumbang lebih banyak. Namun, ternyata pria ini hanya menyumbang satu yuan saja.


"Jansen, kamu cuma menyumbang satu yuan?"


Cindy tidak dapat berkata-kata.


"Biksu sudah bilang, yang penting itu ketulusan." Setelah bicara, Jansen menatap biksu tersebut.


Biksu tersenyum dan menjawab dengan ramah,


"Benar, benar."


Sebenarnya, biksu ini merasa kecewa.


"Ayo, kita berkeliling."


Jansen pun membawa Cindy pergi agar dia tidak tertipu lagi.


Sekeliling kuil ini sangat cantik. Terdapat batu sepanjang 100 meter yang berbentuk ukiran naga, pagoda enam lantai, serta lonceng di sekeliling yang akan berbunyi setiap tertiup angin.


Bila berdiri di tepi puncak gunung sambil melihat ke kejauhan, yang tampak adalah pemandangan tak berujung.


"Elena, akhir-akhir ini kamu terlihat resah. Apakah terjadi sesuatu di rumah?"


Saat mereka berdua sedang menikmati pemandangan, terdengar sebuah suara dari kejauhan.


"Tidak, kok."


"Apakah Kamu bertengkar dengan suamimu?"


Terlihat dua wanita cantik nan ramping yang sedang menikmati pemandangan di puncak gunung. Mereka tidak hanya tinggi, tapi juga cantik. Mereka berhasil menarik perhatian banyak pasang mata.


"Kamu tidak menjawab pertanyaanku. Sepertinya kamu memang sedang bertengkar dengan suamimu. Bagaimanapun, suamimu adalah orang yang hebat. Mengalahlah sedikit. Kamu harus tahu, pria seperti suamimu banyak yang menginginkannya. Kalau kamu tidak menginginkannya, masih banyak orang yang mau bersamanya."


Yang sedang berbicara ada seorang wanita modis berusia sekitar tiga puluh tahun. Dia mengenakan sepatu bot selutut, sutra hitam dan lipstik berwarna merah.


Antusias, kata ini adalah kata yang paling cocok untuk menggambarkannya.


"Cih, dia? Kalau bukan aku yang menerimanya, di dunia ini, wanita buta mana yang mau bersamanya?"


Wanita di samping Elena memiliki kharisma yang berbeda. Wanita ini memesona bagaikan seorang bidadari.


Jansen mendengar suara yang tidak asing. Begitu menoleh, raut wajahnya langsung berubah jadi aneh.


Ternyata Elena!


"Jansen!"


Elena sedang mengobrol. Tiba-tiba, dia melihat Jansen yang sedang bersama Cindy.


Wajah Elena langsung muram.


Setelah menangkan diri selama beberapa hari ini, Elena merasa bahwa dia terlalu jahat. Dia tidak cukup memaklumi Jansen. Namun, situasi saat itu membuatnya bingung. Jadi, dia pun menyetujuinya dengan gegabah.


Elena sedang memikirkan cara untuk mengajak Jansen mengobrol.


Alhasil, Elena malah bertemu dengan Jansen yang sedang menggoda wanita lain.


Apalagi, wanita yang sedang bersama Jansen adalah seorang wanita cantik. Sebelumnya, Elena juga tidak pernah bertemu dengan wanita ini.


Elena berjalan menghampiri dan berkata dengan ketus, "Jansen, banyak sekali waktu luangmu. Bukannya pergi ke Aula Xinglin, malah membawa wanita lain berjalan-jalan di kuil?"


Diam-diam, Jansen mengeluhkan nasibnya yang buruk. Dengan merasa bersalah, dia pun berkata, "Hanya teman biasa, kok."


"Haha, kamu selalu mengatakan semua wanita yang dekat denganmu hanyalah teman biasa." Elena tersenyum dingin.


"Tissa, kalian juga jalan-jalan di sini?"


Dari wajahnya, pria ini terlihat berkharisma. Dia seperti seorang CEO yang arogan.


Jansen melirik nya, "Aidan Woodley?"


Elena juga sangat terkejut.


Begitu melihat Jansen, Aidan langsung mengernyitkan matanya. Aidan merasakan dorongan membunuh yang kuat.


Beberapa hari yang lalu, mereka bertemu di lembah cacing. Pada waktu itu, Jansen telah merusak rencana dan membunuh adik Aidan. Awalnya, Aidan mengira kalau Jansen sudah terkubur hidup-hidup pada saat gua yang runtuh. Siapa sangka, ternyata Jansen masih hidup.


Panjang umur juga bocah ini.


"Aidan, akhirnya kamu sampai juga."


Wanita seksi yang berada di samping Elena berkata sambil tersenyum, seolah dia yang meminta Aidan untuk datang.


Elena langsung menatap Tissa dengan tatapan aneh.


Elena juga sangat terkejut.


"Elena, kita semua adalah kandidat calon Raja prajurit. Jadi, sepertinya aku sudah tidak perlu memperkenalkanmu.”


Tissa tersenyum, sepertinya dia juga kandidat calon Raja prajurit, tentu saja dia mengenal Jansen. Tissa pun memperkenalkan Jansen kepada Aidan, "Ini adalah dokter yang menjadi kandidat pertama sebagai Raja prajurit."


Sebenarnya, Tissa tidak perlu memperkenalkan Jansen. Mana mungkin Aidan tidak mengenal Jansen. Meskipun Jansen menjadi abu, Aidan tetap mengenalnya.


Kalau bukan karena keraguan Keluarga Woodley, Jansen sudah dibunuh sejak lama.


"Dokter, salam kenal."


Aidan bersikap ramah dengan mengulurkan tangannya.


Namun, Jansen tidak menghiraukan ajakan Aidan untuk bersalaman. Mereka adalah musuh bebuyutan, untuk apa bersikap munafik? Kalau bukan karena di sini banyak orang, Jansen bahkan ingin membunuh Aidan.


Aidan menurunkan tangannya dengan canggung, lalu menatap Tissa, seolah menyiratkan bahwa sepertinya Jansen tidak tahu sopan santun.


"Haha, jangan dimasukkan ke dalam hati. Bagaimanapun, Dokter Jansen adalah kandidat pertama sebagai Raja prajurit. Wajar kalau dia sedikit angkuh." Tissa malah membantu Jansen bicara.


Dalam sekejap, beberapa orang ini tidak tahu harus berkata apa. Suasana terasa sedikit canggung.


Melihat kejadian ini, Cindy merasa ada yang aneh. Cindy bisa merasakan ada yang janggal di antara Jansen dan orang-orang ini.


Cit!


Di saat bersamaan, terdengar suara rem yang berasal dari depan pegunungan. Tampak sebuah mobil yang menyebrangi jalan, mobil itu melaju dengan cepat dan bertabrakan dengan sebuah bis wisata. Bis wisata membanting setir, supir kehilangan kendali dan bis langsung terjatuh ke sebuah sungai besar yang ada di samping.


"Ah! Gawat!"


"Cepat tolong!"


Kecelakaan menyebabkan kericuhan di kaki gunung.


Raut wajah Jansen pun berubah, dia melompat dari puncak gunung, lalu menuruni lereng yang curam dan bergegas ke kaki gunung.


Elena adalah orang kedua yang merespon.


Selanjutnya, disusul oleh Tissa. Tissa juga bergegas turun untuk membantu, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti, "Aidan, kamu tidak pergi membantu?"


Aidan terlihat angkuh, dia menjawab dengan nada yang aneh, "Kenapa harus membantu?"


Aidan adalah kandidat calon Raja prajurit. Dia pernah berada di medan perang. Jadi, dia sudah terbiasa dengan kematian. Kenapa dia harus membantu orang-orang yang mengalami kecelakaan itu?


"Bodoh sekali kamu!"


Tissa memarahi Aidan. Tissa tidak punya banyak waktu untuk basa-basi, dia pun bergegas menuruni gunung.


Aidan mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti maksud ucapan Tissa.


Saat ini, Jansen sudah sampai di kaki gunung. Tanpa ragu, dia langsung terjun ke aliran sungai.


Orang-orang berseru ketakutan. Jangankan mempermasalahkan hanyut tidaknya, cuaca hari ini sangatlah dingin. Siapa yang bisa bertahan di air sedingin ini?


Setelah melompat ke dalam air, hawa dingin terasa menusuk sampai ke tulang. Jansen segera menggunakan energi Qi, lalu mencari ke dalam sungai. Alhasil, Jansen melihat sebuah bis yang tenggelam. Orang-orang di dalam bis memukul-mukul jendela dengan cemas.


Jansen bergegas berenang mendekati bis, lalu memberi isyarat kepada orang-orang di belakang jendela untuk menyingkir. Kemudian, Jansen menghantam jendela dengan menggunakan telapak tangannya.


Jendela pecah dan air sungai yang dingin mengalir ke dalam bis, dan saat jendela dibuka, semua orang di dalam langsung berenang keluar.


Hanya saja, air sungai terlalu dingin. Beberapa orang yang fisiknya lemah, sama sekali tidak bisa berenang melewatinya.


Jansen sedikit cemas. Terlalu banyak orang, dia tidak bisa menyelamatkan semuanya sendirian.


Di saat cemas, seseorang menepuk Jansen. Jansen menoleh dan melihat kemunculan Elena.


Jansen tidak bisa memedulikan terlalu banyak, dia segera memberikan isyarat untuk menolong orang.


Jansen dan Elena bekerja sama untuk menyelamatkan orang tua, orang lemah, wanita dan anak-anak. Beberapa orang yang memiliki tubuh kuat juga turut membantu.


(Selamat Tahun Baru 2023 para reader sekalian, mohon maklumi dalam update kali ini, tanggal 03 kita normal lagi)