
"Bagaimana jika aku tidak mau!?" momentum Lorry sedang bergejolak.
Jansen tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia mengambil pisau kecil dari sisi Tuan Dean dan tiba-tiba lenyap begitu saja.
Saat dia kembali, sudah ada tetesan darah di pisau itu!
"Ah!"
Pria jangkung itu kembali berteriak. Kini sudah dua jari di tangannya yang terpotong.
Ck... ck...
Tuan Dean pun dibuat merinding. Bagaimana tidak? Jansen memotong jari anak buah Bos Lorry langsung di hadapan Bos Lorry sendiri! Bukankah ini sama saja mempermalukan Bos Lorry!
Mata Lorry seolah bergetar melihat pemandangan ini. Dia sama sekali tidak bereaksi saat Jansen tiba-tiba melancarkan serangannya, "Tidak heran jika Tuan Dean sangat menghargaimu, ternyata kamu cukup tangguh juga. Begini saja, datanglah ke Perguruan Tinju Elang malam ini, kita akan bertarung satu lawan satu. Jika kamu menang, anggur ini akan aku kembalikan padamu. Masalah keluarga Miller pun aku anggap selesai. Bagaimana? Berani atau tidak?"
"Baiklah! Sesuai keinginanmu. Malam ini tepat pukul delapan, kita akan bertemu!"
Ucap Jansen dengan tenang. Dia lantas berbalik dan pergi dari lokasi.
Lorry langsung mengerutkan keningnya. Jansen begitu cepat menyetujuinya. Selain itu, ketenangan Jansen membuat perasaan Lorry sangat buruk.
Seolah-olah badai berdarah juga pertempuran hidup dan mati dalam dunia Jianghu hanyalah kejadian biasa-biasa saja bagi pemuda itu!
Namun, karena terlalu percaya dengan latar belakang dan seni bela dirinya, Lorry sama sekali tidak memiliki kekhawatiran. Tunggu saja malam ini, dia akan membunuh pemuda itu.
"Master Jansen, apakah tidak salah menyetujuinya?"
Tuan Dean mengikuti Jansen pergi dari lokasi. Wajahnya tampak begitu pucat.
Dia tahu Jansen memiliki seni bela diri yang sangat mumpuni. Tapi sepertinya, barusan dia sengaja mencari gara-gara di hadapan Lorry.
Memang seni bela diri Lorry bukan apa-apa. Tapi jangan salah, di belakangnya ada Sekte Awan yang mendukungnya. Seni bela diri ayahnya juga sangat luar biasa.
Meski sebelumnya dia pernah mendengar Jansen berhasil mengalahkan pemimpin Sekte Akademi Tiga Belas, tapi Sekte Awan jauh lebih kuat dari mereka. Dan yang terpenting, tidak seharusnya Jansen memprovokasi seseorang.
"Aku datang ke tempat ini memang untuk menemui mereka!"
Dari daftar nama yang ada di tangan Jansen, memang terdapat nama pemimpin Sekte Awan.
Meski malam ini adalah pertarungan antara dirinya melawan Lorry, namun sejatinya tujuan utama Jansen adalah melawan pemimpin Sekte Awan, Jorell Ortega.
Tubuh Tuan Dean bergetar. Dia merasa Jansen bak Dewa Perang, siapa pun yang membuatnya kesal, maka akan berakhir tragis
.
Kedatangan Jansen apa hanya untuk melawan mereka?
Apa mungkin Master Jansen ingin membantu Keluarga Miller?
Seharusnya memang seperti itu. Mengingat Keluarga Miller telah berutang pada Perguruan Tinju Elang. Dengan Jansen ******* habis Perguruan Tinju Elang, maka otomatis hutang-hutang keluarga Miller tak perlu lagi
dibayarkan!
Tapi, bukankah Jansen dan Keluarga Miller bermusuhan satu sama lain? Kenapa Jansen malah membantu mereka secara diam-diam?
Penuh keraguan dan tanda tanya besar di kepala Tuan Dean saat ini. Hanya saja, dia tidak berani menanyakannya.
Pada saat ini, Rowen bersama anaknya telah tiba di kediaman Keluarga Miller. Suasana hati mereka tampaknya sedang baik.
Semua anggota Keluarga Miller sedang makan saat ini.
"Sudah pulang? Apa kalian sudah mendapatkan uang dari perusahaan Northwest?" tanya Renata tampak senang.
"Belum, mereka tidak menepati janji!" jawab Rowen sembari menaruh nasi di atas piringnya dan makan dengan gembira.
"Uang belum kalian dapat, tapi kenapa kalian begitu bahagia?"
Maia mendadak kesal. Jika terus seperti ini, mereka, seluruh anggota Keluarga Miller tidak akan bisa makan mewah. Nantinya, yang bisa mereka lakukan hanyalah pergi bekerja paruh waktu.
"Haha. Hari ini kita bertemu dengan Jansen. Dia kebetulan berkonflik dengan Bos Lorry dari Vajra Agung!" jawab Ricky sembari tertawa.
Seluruh anggota Keluarga Miller pun terkejut saat mendengarnya.
Paman kedua, Leimin, justru terlihat bersukacita, "Huh! Ini akibatnya, Jansen terlalu sombong jadi orang. Bos Lorry saja berani dia provokasi. Orang seperti Jansen, baiknya memang dihajar sampai mati!"
Begitu kalimat itu terlontar dari mulut Leimin, mereka semua pun langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka merasa Jansen menjadi angkuh dan meremehkan siapa saja
semenjak menjadi seorang dokter yang terkenal.
"Kapan Jansen kembali?"
Elena tampak mengerutkan keningnya. Terakhir kali, dia kehilangan jejak Jansen dan membuatnya sangat kesal.
"Halah!"
Kakak kedua, Irene, buru-buru menjawab, "Dia tidak suka mencari masalah? Jangan bercanda, dia memang jahat orangnya!"
"Seperti ini inti permasalahnya!"
Ricky menceritakan semuanya dari awal hingga akhir. Begitu selesai, rasa bangga di hatinya memuncak. "Awalnya, Bos Lorry ingin berurusan denganku, tapi yang terjadi adalah
Jansen justru bersikap arogan. Itu sebabnya Bos Lorry mulai mengincarnya. Hahaha. Aku menyebut ini sebuah kemalangan!"
"Haha, Ricky... Ricky... trikmu kali ini benar-benar luar biasa!"
Semua anggota keluarga yang hadir pun semakin dibuat bahagia mendengar cerita Ricky.
Naomi masih saja mengerutkan keningnya. "Menurut kalian, apa mungkin Jansen sengaja mencari masalah untuk membantu keluarga kita?" tanyanya penuh dengan rasa ingin tahu.
Begitu kalimat itu terlontar, Keluarga Miller langsung terdiam!
Mereka yang makan menghentikan gerak sendoknya. Mereka yang minum menghentikan gerak gelasnya. Tapi segera serangkaian cacian dan hinaan langsung keluar dari mulut mereka.
"Dia tidak menyakiti kita saja sudah untung, boro-boro mau bantu! Mimpi!"
"Setuju! Naomi, jangan lupakan dendam ayah dan kakekmu yang masih dalam!"
"Lihat saja! Saat kejayaan Keluarga Miller kembali, kita pasti akan membunuh Jansen untuk membalaskan dendam kakek!"
Mereka sama sekali tidak memercayai kata-kata Naomi, mengira Jansen yang sekarang telah berubah menjadi angkuh dan ingin melenggang bebas di Ibu kota. Itu sebabnya Jansen sengaja membuat masalah pada siapa pun.
"Jansen... Jansen... kamu benar-benar berubah banyak sekarang!"
Elena juga tidak merasa Jansen akan membantu Keluarga Miller. "Jika terus seperti ini, entah masalah apa yang nantinya akan kamu lakukan. Kamu sudah lupa dengan takdirmu sebagai dokter!" ucap Elena dingin.
Di sisi lain, Jansen telah tiba di Aula Xinglin untuk membantu.
Kakek Herman dan yang lainnya tentu saja sangat senang dengan kedatangan Jansen. Tapi, mereka tidak mengungkit masalah Elena sedikit pun. Bagi mereka, perceraian sudah terjadi, meski sedikit menyayangkannya, tapi mereka tahu perasaan Jansen pasti juga sedang tidak karuan.
Jansen menyibukkan diri sejenak, lalu dia menuju lantai tiga untuk sekedar berbaring. Di tangannya, muncul sebuah daftar nama-nama seseorang!
Ada 15 nama yang tercatat dalam daftar. Dan kebetulan, malam ini bisa diselesaikan salah satunya.
"Masalah dunia Jianghu! Orang-orang dunia Jianghu sudah mencampuri urusan orang biasa. Ini jelas melanggar aturan. Karena hukum tidak bisa menjerat mereka, maka biarkan aku yang menghukumnya!"
Jansen pun menaruh daftar nama tersebut dan kemudian mulai memejamkan matanya. Tepat pukul tujuh malam, dia terbangun dan memakan sesuatu. Baru kemudian pergi meninggalkan Aula Xinglin.
Di jalan, sebuah mobil mewah sedang terparkir di dekat sana. Begitu melihat Jansen, terdengar suara teriakan dari dalam mobil, "Master Jansen!"
Di dalam mobil, sedang terduduk Tuan Dean dan Matthew. Terlihat jelas jika mereka sangat ingin menemani Jansen pergi ke Perguruan Tinju Elang.
Jansen pun mengangguk, dia masuk ke dalam mobil dan kemudian melaju ke Perguruan Tinju Elang.
"Master Jansen, orang dibelakang Perguruan Tinju Elang adalah Sekte Awan. Dengar-dengar, pemimpin Sekte Awan sangat hebat, terkenal dengan pukulan telapak delapan diagramnya dan tak terkalahkan. Dan yang lebih menakutkan lagi adalah ilmu meringankan badan yang dimiliki Sekte Awan. Lima tahun lalu dalam Konferensi Dunia Jianghu, dia bersinar terang. Tidak ada satu pun orang di dunia Jianghu yang tidak menghormatinya!"
Di dalam mobil, Matthew tampak ragu-ragu dan mencoba memperingatkan Jansen, "Pertarunganmu melawan Lorry, aku khawatir akan menimbulkan amarah dari pria tua itu!"
Jansen menggelengkan kepalanya, "Mana mungkin aku akan benar-benar melawan Lorry. Tujuan utamaku adalah pemimpin sekte itu!"
Matthew tersentak kaget, pada akhirnya dia hanya bisa terdiam.
Sejak awal, Tuan Dean mengetahui tujuan Jansen sebenarnya. Dia pun hanya bisa mengemudikan mobilnya dengan baik saat ini.
Setengah jam pun berlalu, akhirnya mereka tiba di Perguruan Tinju Elang.
Perguruan Tinju Elang memang sangat luas. Dekorasi di dalamnya menganut gaya Huaxia kuno. Di sekelilingnya terdapat barbel yang terbuat dari batu, boneka kayu untuk latihan, serta orang-orang berseragam Perguruan yang sedang berlatih.
Tampak sebuah ring di bagian tengahnya. Pada saat ini, banyak orang-orang yang sudah berkumpul di sekitarnya. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang jalanan.
Mereka semua mendengar jika ada pertarungan hidup dan mati antara Lorry dan seseorang. Tentu saja mereka penasaran dan ingin melihatnya.
Sebenarnya, Lorry adalah orang jalanan, sedikit banyak dia telah melihat pertarungan antara hidup dan mati.
Namun, terlepas dari siapa orang itu, bos atau raksasa luar negeri, begitu berani bertarung dengan Bos Lorry sampai mati, nasib orang itu pasti akan mati tanpa terkecuali.
"Apa ini pertarungan memperebutkan wilayah atau semacamnya? Besar juga nyalinya, berani menginjakkan kaki di markas Bos Lorry!"
"Aku rasa tidak, dengar-dengar orang itu sengaja memprovokasi Bos Lorry!"
"Sengaja memprovokasi Bos Lorry!? Sialan! Sudah gila orang itu!"
Pertarungan masih belum dimulai, tapi orang-orang sudah mulai membicarakannya