
Brak!
Sekali lagi dia menghantam tembok rusak dan lebih banyak puing yang hancur. Jansen mundur beberapa langkah. Dinding akhirnya roboh karena hantaman dan mereka dapat melihat air terjun di sebelah kolam itu.
"Jansen!"
Gracia menggali bebatuan dan mengeluarkan Jansen. Tidak tahu dari mana asal kekuatan itu, Gracia menggendong Jansen di punggungnya.
dan kembali ke tempat semua datang.
"Jangan mati, Jansen! Kita telah sampai di ujung!"
"Jansen, ini tangki oksigen, gigitlah! Aku akan membawamu pergi!"
"Ayo semangat!"
Dalam keadaan linglung, Jansen mendengar suara khawatir Gracia yang samar-samar. Dia dengan kesulitan membuka matanya dan melihat Mayat berdarah berdiri di kejauhan.
Berdiri di sana seperti iblis ganas tanpa ada keinginan untuk datang.
Jansen melihat mayat berdarah itu melihat dan menertawakan dirinya.
Sangat menyeramkan dan aneh!
Setelah itu semua menjadi tidak jelas.
Selamat tiga hari, Jansen berada dalam kondisi kritis dan demam tinggi yang tidak kunjung turun. Pikirannya kosong. Terkadang dia memimpikan ayahnya, kadang dia memimpikan saat dia mempelajari keterampilan medis untuk mengikuti kakeknya pada saat dia masih kecil.
Sepertinya dia kembali ke Kota Asmenia dan selama satu setengah tahun hidup menjadi menantu yang tinggal degan mertuanya.
Elena Lawrence, wanita yang pertama muncul di hidupnya.
Natasha yang muncul kembali.
Sedikit demi sedikit mimpi-mimpi itu menghilang.
Ketika Jansen membuka matanya, dia merasakan seluruh tubuhnya lemah dan sangat sakit.
Rasa ini sangat familier karena dia juga merasakannya saat berperang dengan Organisasi Pembunuhan Malam.
"Jansen, Kamu sudah sadar!"
Suara muncul di sebelahnya, terlihat Gracia yang sedang berdiri dengan bersemangat di sana.
Beberapa dokter terkenal yang berada di sebelah Gracia terkejut karena melihat Jansen yang sudah sadar.
"Sungguh ajaib! Bagaimana bisa siuman secepat ini saat tekanan jantungnya sangat lemah dan demam yang tidak kunjung turun!"
"Lihat! Demamnya sudah turun dan tekanan jantungnya sudah kembali normal!"
Mereka semua berkomentar karena pertama kali menemukan pasien seperti ini.
"Baiklah, kalian semua keluar!"
Gracia juga paham jika mereka semua terkejut tapi dia juga paham bahwa energi Qi yang membuat Jansen bertahan hidup.
Begitu dokter itu pergi, Gracia dengan bersemangat menatap Jansen, "Apakah kamu baik-baik saja?"
"Rasanya tidak ada masalah. Oh iya, berapa hari aku beristirahat?"
Jansen juga seorang dokter, jadi dia mengetahui kondisinya dengan merasakan denyut nadinya.
"Tiga hari!"
"Sedikit lebih singkat daripada yang terakhir kali. Sepertinya aku benar-benar tidak bisa mengalahkan mayat darah itu sampai mati"
"Kamu masih memiliki waktu untuk bercanda? Saat kamu dibawa ke rumah sakit, semua tulangmu remuk, semua organ dalammu berpindah tempat dan mengalami pendarahan hebat. Rumah sakit menyuruhku untuk menyiapkan pemakamanmu!"
Gracia memutar bola matanya dan berkata, "Jika bukan karena memiliki kesempatan, aku hampir saja Kirim ke Ibu Kota!"
"Tidak apa-apa, pengalaman seperti ini, aku sudah pernah mencobanya. Anggap saja ini sebagai mimpi,"
Jansen tidak bisa menahan diri untuk tertawa, pada saat teknik kaisar manusia nya sampai pada tahap lima, kemampuan untuk pulih dibandingkan dulu menjadi lebih kuat.
Gracia menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Dia tahu bahwa Jansen seharusnya bergantung dengan hasil dari energi Qi nya tapi menggunakan teknik xuan untuk menyembuhkan cedera, ini sangat aneh!
Meskipun Gracia tidak mempelajari seni beda diri tapi setelah berinteraksi dengan dunia Jianghu, dia baru menyadari bahwa tidak ada orang yang memiliki energi Qi seluas itu sebelumnya.
"Apakah benar seperti itu?"
Jansen melototkan mata. "Lupakan soal Keisha, tapi apa masalahnya Veronica? Mana mungkin aku meneriakkan namanya?"
"Itu yang aku ingin tanyakan padamu, bukankah Veronica adalah musuh bebuyutan dari keluargamu? Apa yang kamu lakukan sehingga meneriakkan namanya?"
Gracia meremehkannya, "Ini masih belum terhitung, kamu meneriakkan Natasha enam ratus empat puluh tujuh kali. Yang terakhir adalah Elena, coba tebak berapa kali!"
Jansen tersipu dan menjawab dengan pelan, "Tidak mungkin sampai seribu, 'kan?"
"Benar, seribu dua ratus kali!"
Gracia menganggukkan kepala, "Setelah kamu datang ke rumah sakit, kamu demam dan mulutmu berbicara tanpa henti!"
"Di mulutmu, kamu mengatakan bahwa melupakannya tapi sebenarnya di dalam hatimu kamu tidak bisa melupakannya."
"Hati seseorang selalu menipu dirinya sendiri."
Raut wajah Jansen menjadi suram saat mendengarnya, apakah dirinya masih belum melupakan Elena?
"Kamu tahu, aku telah berhubungan dengan pria luar biasa yang tak terhitung jumlahnya. Beberapa dari mereka tidak bisa tidur karena bisnis, beberapa karena penelitian ilmiah dan beberapa karena menjelajahi seluruh dunia tapi orang sepertimu adalah satu-satunya!" Gracia menambahkan, "Aku belum pernah melihat sebelumnya bahwa ada pria yang begitu kuat dan isi pikirannya dipenuhi dengan wanita cantik!"
"Mereka semua adalah orang penting. Aku yang bukan orang penting ini jika tidak dianggap wanita cantik, lalu kamu anggap apa?"
Jansen terkekeh dan menjawab, "Itu dinamakan iri kepada mereka yang bersama seumur hidup dan akan melakukan sampai mati jika diberi kesempatan untuk melakukannya. Dengan kata lain, sekarang mencari istri sangat sulit!"
"Kamu sangat terlihat seperti pecundang!"
"Dan juga, kamu sangat plin-plan karena tidak bisa melupakan semua wanita cantik itu!" ucap Gracia remeh.
Sebenarnya dia juga merasa aneh, orang hebat seperti Jansen ini bukankah harusnya cepat-cepat mengejar kariernya?
Tapi kenapa malah tidak bisa melupakan istrinya?
"Plin-plan apanya? Aku mengenal mereka jadi sangat wajar jika aku memimpikan mereka!" Jansen mengelak, "Oh iya, aku juga meneriakkan nama Gracia beberapa kali!"
Raut wajah Gracia tidak berubah dan dengan marah berkata, "Tidak ada sama sekali! Aku berpikir, apakah aku bukan wanita cantik?"
"Benarkah? Aku juga tidak mengira akan seperti itu,"jawab Jansen dengan canggung.
Gracia masih dengan marah berkata, "Kamu ini! Bukannya memikirkan rencana masa depan yang besar tapi malah dibutakan oleh seseorang!"
Jansen harus mengubah topik pembicaraan, "Oh iya, saat itu bagaimana aku bisa kabur keluar?"
"Aku menggendongmu keluar. Untung saja makhluk itu tidak datang mengejar, sangat menyeramkan!" ucap Gracia dengan wajah pucat.
Jansen terkejut, sepertinya dia berutang nyawa kepada Gracia. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Bukannya ia tidak mau mengejar tapi dia memang tidak ingin membunuh kita. Aku melihatnya sebelum aku tidak sadarkan diri."
"Benarkah?"
Gracia merinding, seumur hidupnya dia tidak akan bisa melupakan makam bawah laut itu.
Dan juga tiga hari kemarin dia sama sekali tidak meninggalkan Jansen dan tidak berani tidur karena takut akan mimpi buruk.
"Pada akhirnya itu makhluk apa? Sangat melampaui pengetahuan alam!" ucap Gracia lagi.
"Sebenarnya itu tidak dihitung sebagai melampaui."
"Itu adalah orang kuno yang menelan pil kuno, lalu di dalam tubuhnya tumbuh sebuah virus baru yang membuat dirinya bangkit dari kematian dan menjadi lebih kuat." jelas Jansen.
"Akan tetapi pil itu sangat langka dan ilmu pengetahuan belum melakukan penelitian, jadi orang biasa akan menganggapnya sebagai melampaui ilmu pengetahuan."
"Sebenarnya banyak hal di seluruh dunia yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah, tapi tidak berarti itu tidak ilmiah."
"Sama halnya seperti orang kuno yang melihat televisi, mereka akan merasa bahwa itu tidak ilmiah dan merasa seperti mitos. Akan tetapi orang modern akan menjelaskan bahwa itu adalah hal yang normal."
Gracia menganggukkan kepala saat mendengar jawaban darinya, "Benar juga. Lalu virus yang berada di tubuhnya, kita tidak tahu apakah itu bisa menular atau tidak, jika menyebar ke masyarakat pasti akan merepotkan."
"Itu tidak akan menular tapi aku rasa virus yang berada dalam tubuhnya telah terbawa keluar." ucap Jansen dengan wajah suram.
"Itu tidak mungkin!"
Gracia ketakutan dan wajahnya memucat.