
"Kamu berani menyentuh orang Tuan Dean?"
Wanita itu tampak tertegun, lalu disusul dengan tawa. Saking marahnya, wanita itu sampai gila, "Aku sudah bilang, kalian pasti akan menyesal. Kalian akan sangat menyesal."
"Mungkin kalian memiliki latar belakang yang tidak biasa. Jadi, kalian tidak takut dengan Tuan Dean. Tapi, biar aku beri tahu, Tuan Dean adalah Vajra Agung. Kalian tidak bisa membayangkan orang sebesar apa yang ada di belakangnya."
Tiba-tiba, wanita itu berdiri, lalu menunjuk Jansen dengan angkuh.
"Bibi, berikan dia tiga tamparan!"
Jansen tidak lanjut mendengarkan ucapan wanita itu.
Sofia beranjak keluar. Sebelumnya, wanita ini telah memukul suaminya, Mulin. Sofia sudah menahan cukup lama.
"Kamu sudah gila?"
Wanita itu melotot. Gila juga pemuda ini, beraninya tidak mendengarkannya selesai bicara. Wanita ini pun berteriak, "Yang berada di belakang Tuan Dean adalah Sekte Gunung Hitam!"
Setelah bicara, wanita itu menunggu Jansen untuk memohon ampun.
Plak!
Namun, wanita itu malah disambut dengan tamparan Sofia.
Sofia tidak tahu menahu dengan Sekte Gunung Hitam. Yang Sofia tahu adalah wanita ini telah memukul suaminya.
"Apakah kamu tahu, berapa banyak pasien yang terganggu dengan keributan yang kamu timbulkan?"
Plak!
Sofia tidak berpikir panjang dan kembali melayangkan sebuah tamparan.
"Kami bukanlah bos besar. Kami hanya ingin memberikan manfaat bagi rakyat biasa. Kenapa mengganggu kami?"
Plak!
Tamparan terakhir membuat wanita ini tercengang.
Begitu tiga tamparan dilayangkan, suara sorakan terdengar dari luar Aula Xinglin.
Aula Xinglin dan Tuan Dean tidak saling berhubungan. Aula Xinglin hanya ingin melayani rakyat biasa. Kenapa Tuan Dean ingin membunuh mereka?
Ketiga tamparan ini sangat bagus!
"Dokter Jansen, Tuan Dean adalah ..."
Wajah Dokter Ernest Alfie dan yang lainnya seketika berubah. Akhirnya, mereka pun memastikan kebenaran rumor yang beredar. Dokter Ernest Alfie berkata dengan tegang, "dibelakang mereka, Sekte Gunung Hitam, bukanlah orang yang bisa diprovokasi."
Orang bisa mungkin tidak mengetahui Sekte Gunung Hitam, tapi dokter Ernest Alfie dan yang lainnya tahu.
Bagaimanapun, hanya beberapa lingkaran tertentu yang punya hak untuk mengetahui hal di dunia Jianghu.
Dokter Alfred adalah Dokter negara dan merupakan orang dunia Jianghu. Jadi, tidak ada yang berani mencari masalah dengannya.
Dokter Alfred segera berkata pada wanita itu, "Kalian mencari masalah di sini. Wajar saja Aula Xinglin memberikan kalian pelajaran. Sekarang, kembalilah dan beri tahu Tuan Dean, kami, Aula Xinglin dan Tuan Dean, tidak saling mengganggu sama lain."
"Benar. Tidak saling mencampuri urusan satu sama lain."
Dokter Timothy menganggukkan kepala. Dia juga mengetahui hal-hal di dunia Jianghu.
Misalnya, Empat Sekte Pengobatan Tradisional terbesar di Huaxia. Dia dan Ernest Alfie mewakili dua sekte. Namun, dua sekte yang lain didukung oleh perguruan dunia Jianghu yang mengintimidasi. Bahkan dokter Ernest Alfie mereka tidak berani melawannya.
"Sudah takut sekarang?"
Akhirnya, wanita itu tersenyum lega dan berkata dengan arogan, "Tidak saling mencampuri urusan satu sama lain? Cih! Sekarang kami mau ikut campur. Kenapa?"
"Kita belum tahu siapa yang akan menang dan kalah."
Tiba-tiba, Jansen menjawab dengan suara dingin.
Cit!
Di saat bersamaan, terdengar suara rem mobil. Sejumlah mobil mewah berhenti di tepi jalan. Tampak sekelompok pria berjas yang angkuh turun dari mobil tersebut. Kemudian, mereka menyingkirkan tanaman dan bunga-bunga di tepi jalan untuk membuka jalan.
Seorang pria tua yang mengenakan mantel berwarna hitam dan memegang tongkat, berjalan dengan didampingi sejumlah pria berjas. Pria tua ini tampak arogan dan mengintimidasi.
Pria tua ini tidak berbicara dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, setiap gerakannya terlihat menakutkan.
Tanpa sadar, orang-orang di sekitar Aula Xinglin pun melangkah mundur. Mereka takut terkena imbasnya.
"Tuan Dean, akhirnya kamu datang!"
“Mereka memukulku. Lihat, aku ditampar tiga kali dan ditendang satu kali. Kamu harus membelaku."
"Oh iya, mereka juga tidak menghormatimu, Tuan Dean."
Melihat pria tua yang datang, wanita itu segera berlari dan mengadu.
"Tuan Dean."
Ekspresi orang-orang di sekitar tampak serius. Pria tua ini terlihat galak dan ambisius. Semua tempat hiburan di Ibu kota wilayah timur laut, berada di dalam kendalinya.
Kekuasaannya membentang jauh. Wilayah timur laut adalah miliknya.
Dia juga memiliki murid yang tak terhitung jumlahnya dan mahir dalam hal tipu daya.
"Kamu adalah Dokter Jansen? Pemilik Aula Xinglin?"
Tuan Dean berbicara dengan tenang.
Suaranya yang rendah terdengar seperti seekor singa yang mengaum.
Wajah dokter Ernest Alfie dan yang lainnya langsung berubah drastis. Dia takut akan terjadi konflik di antara mereka dan orang yang mengerikan ini.
"Dokter Ernest Alfie dan Dokter Timothy, 'kan? Aku pernah mendengar tentang kalian."
Tuan Dean berkata, "Aku akan menjaga reputasi kalian. Lupakan saja masalah hari ini. Tapi, aku akan membalas tiga tamparan yang dilayangkan kepada istriku. Oh iya, aku juga menginginkan anggur itu."
Tuan Dean berhenti sejenak, lalu memandang Jansen dan berkata, "Kamu tidak punya hak untuk menolak, tapi kamu punya kesempatan untuk membuatku menarik kembali kata-kataku barusan. Tapi, semuanya bergantung pada kemampuanmu."
"Selain itu, aku ingatkan. Aku menjaga reputasi Dokter Ernest Alfie dan yang lainnya karena mereka telah menjaga reputasiku. Kalau tidak, semuanya tidak akan sesederhana mengambil anggur."
"Yang terakhir, jangan kira karena kamu mengenal Tuan Hilton, lantas aku akan menjaga reputasinya."
"Aku dan Tuan Hilton tidak saling berhubungan. Meskipun Tuan Hilton berada di sini, aku tetap tidak mempedulikannya"
"Katakan, kamu hanya punya waktu satu menit."
Ucapannya begitu singkat dan arogan.
Ditambah, Tuan Dean juga mengurus masalah dengan cekatan. Dia tidak memedulikan alasan, dia hanya memedulikan hasil akhir.
Beginilah gaya Tuan Dean.
Semua orang memandang Jansen, sangat gugup.
"Jansen, menurutmu?"
Kakek Herman menarik Jansen. Sebenarnya, Kakek Herman ingin berdamai sejak tadi, tapi Jansen tidak mau.
"Tuan Dean, 'kan? Orangmu datang dan langsung membuat keributan di Aula Xinglin. Apalagi, mereka juga meminta anggur tanpa alasan yang jelas. Kalau aku tidak memberikannya, mereka akan main tangan. Apakah seperti ini gayamu?" kata Jansen sambil tersenyum.
"Aku, Dean, terkadang memang seperti ini."
Tuan Dean seolah sedang membicarakan hal yang biasa, "Kamu masih punya empat puluh detik."
"Baik."
Jansen mengangguk, lalu menatap Mulin.
Mulin mengertakkan gigi dan berkata, "Baik, aku akan mengambil anggurnya."
"Anggur? Aku memintamu mengambil tongkat penumbuk obat."
Jansen menegur, lalu memandang Tuan Dean dan berkata, "Aku juga akan memberikanmu satu jalan. Bersujud tiga kali kepada rakyat yang hadir atau aku patahkan kakimu dengan menggunakan tongkat penumbuk obat."
"Apa?"
Semua orang membuka mulut dengan lebar.
Beliau adalah Tuan Dean, Vajra Agung! Dia memimpin ratusan ribu orang dan merupakan penguasa Wilayah Timur Laut. Bisa-bisanya Jansen mau mematahkan kakinya?
Tuan Dean melotot, ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan pemuda segila ini.
"Bos Jansen!"
Di saat bersamaan, sebuah mobil mewah datang. Tuan Hilton terlihat buru-buru keluar dari mobil dan berlari menghampiri.
"Tuan Hilton, tidak ada gunanya memohon untuk dia.”
Jansen telah mengambil tongkat yang dibawa oleh Mulin.
"Omong kosong! Apakah kamu mabuk berbicara seperti itu?"
Tuan Dean marah besar, "Berikan dia pelajaran!"
Para pria berjas yang ada di sekitar bergegas menyerang Jansen. Yang mengerikan, semua orang ini adalah ahli bela diri sabuk hitam.
Apalagi, di antara mereka juga terdapat beberapa master tingkat tinggi.
Itulah kenapa Tuan Dean sangat percaya diri.
Itulah kenapa Tuan Dean berani merendahkan Tuan Hilton.
Semua bawahan Tuan Dean lebih hebat dibandingkan Tuan Hilton. Jika bukan karena orang di belakang yang menyuruh Tuan Dean untuk bersikap rendah hati, sejak awal Tuan Dean pasti sudah menelan wilayah kekuasaan Tuan Hilton.
"Jangan mengurusi urusan satu sama lain? Tuan Dean, sekarang aku akan mengurusmu!"
Wajah Jansen sangat dingin. Dia segera mengambil tongkat dan menyerang.
"Dokter Jansen, hati-hati!"
Ernest Alfie dan yang lainnya berteriak.
Wanita di samping Tuan Dean malah mendengus dingin, "Patahkan kakinya. Biar dia tahu, siapa yang memimpin di sini!"
Prang!
Begitu wanita itu selesai bicara, suara pukulan terdengar.