
Reno sekeluarga merasa lega. Mereka sepertinya memang memiliki hubungan kerabat. Ini berarti bahwa Jansen memang mendekati Paman Randy dengan maksud tertentu.
"Sekarang, modus mereka telah terungkap. Kita lihat apakah mereka masih tidak tahu malu!"
Elena menggertakkan giginya dan lanjut berkata, "Paman, ketika itu, ayahku mencampakkan ibuku. Aku tahu kamu pasti sangat marah. Aku pun mengerti bila kamu masih tidak sudi memaafkan diriku!"
Hati Paman Randy jelas sangat galau. Ketika Danial terluka, dia dirawat di rumah Keluarga mereka dan jatuh cinta dengan Alisha, adik perempuannya Paman Randy. Namun, Danial berpaling hati dan akhirnya pergi meninggalkan Alisha yang kemudian mati karena jatuh sakit. Danial bahkan membawa anak Alisha pergi.
Ini adalah rasa sakit terbesar di hatinya.
Jika Danial muncul di hadapan Paman Randy, maka Paman Randy pasti sangat ingin membunuh Danial dan bahkan siap mati bersamanya.
"Huh!"
Paman Randy kembali menghela napas dan berkata, "Meskipun aku membenci Danial dan anaknya, masalah ini tidak ada hubungannya denganmu. Jika Alisha masih hidup, dia pasti tidak akan menyalahkanmu!"
"Paman!"
Mata Elena basah berlinang air mata saking merasa terharu. Tak disangka, Paman Randy ternyata sama sekali tidak menyalahkan dirinya.
Meskipun masalah ini tidak ada hubungan dengan dirinya, Elena adalah orang Keluarga Miller. Karena itu, Elena pasti merasa bersalah.
Bagaimanapun juga, satu nyawa manusia telah hilang. Jika saat itu Danial tidak keras kepala, ibu Elena juga tidak akan mati.
"Karena kita adalah satu keluarga, aku percaya dengan kalian!"
Paman Randy kembali menatap Jansen sambil berkata demikian.
Reno sekeluarga pun langsung terdiam.
Mereka mengira bahwa setelah maksud kedatangan Jansen dan Elena terungkap, Randy pasti akan mengusir mereka berdua pergi. Namun, pada kenyataannya, Jansen dan Elena malah makin akrab dengan Randy.
"Jangan khawatir, aku bisa menyelamatkan bibiku!"
Jansen pun merasa senang melihat Elena akhirnya dapat berjumpa kembali dengan Paman Randy.
"Apa yang kalian lakukan? Ini rumah sakit, bukan pasar!"
Dokter itu menyela ucapan Jansen, "Apa kamu tahu bahwa kamu telah melanggar peraturan?"
Jansen juga tahu bahwa pihak rumah sakit pasti keberatan jika dia mengobati pasien di rumah sakit itu. Akan tetapi, kondisinya sudah sangat darurat. Dia pun tidak bisa berpikir panjang lagi dan langsung menjelaskan, "Kalian tidak bisa menyembuhkan penyakit ini!"
"Kamu ini siapa? Sembarangan! Panggil satpam kemari!"
Dokter itu tidak percaya dengan ucapan Jansen.
"Aku Dokter Jansen dari Aula Xinglin di Ibu Kota. Aku memiliki izin praktik dokter!"
"Omong kosong! Cepat keluar dari sini! Kalau tidak, aku akan lapor polisi!"
Dokter itu mengusir Jansen, tetapi saat itu juga, seorang pria yang sepertinya adalah dokter utama masuk ke dalam ruangan lalu mengerutkan kening sambil berkata, "Ada apa ribut-ribut di sini?"
"Dokter, orang ini bilang bahwa dia ingin memeriksa pasien. Dia bertindak sesuka hatinya. Aku sudah memanggil satpam datang kemari!"
Dokter itu langsung melaporkan kejadian tadi.
Wajah dokter utama tampak murung. Dia menatap Jansen dan tiba-tiba berteriak, "Ah, ternyata kamu!"
Jansen akhirnya sadar bahwa dokter utama itu adalah Abian Colev.
Dia adalah seorang dokter tradisional dari Akademi Lembah Hantu.
Jansen pernah berjumpa dengannya saat pertama kali naik pesawat menuju Ibu Kota. Setelah itu, Abian juga membawa para dokter dari Akademi Lembah Hantu untuk membuat keributan di Aula Xinglin.
Kenapa orang ini bisa ada di sini?
"Rupanya kamu!"
Jansen pun tertawa sinis dan berkata, "Biar aku saja yang mengobati pasien ini. Semua orang yang tidak berkepentingan silakan keluar dari ruang perawatan ini!"
"Kamu!"
Abian sontak marah besar. Kenapa dia selalu berjumpa dengan Jansen? Apalagi, Jansen juga selalu menghina dirinya.
"Aku sudah bilang, kalian semua keluar!"
Jansen kembali berteriak dengan keras, "Kamu sendiri tentu tahu siapa yang lebih hebat dalam hal keterampilan medis antara aku dan kamu?"
Abian ingin membantah ucapan Jansen, tetapi dia sendiri juga tidak bisa membalas saat ditegur oleh Jansen. Abian lalu menatap Paman Randy dan berkata, "Kamu adalah keluarga pasien. Kamu percaya dengan pihak rumah sakit atau dokter abal-abal seperti dia ini?"
"Dia adalah suami keponakanku, aku tentu saja percaya padanya!"
Abian pun makin murka. Dia memarahi Jansen, "Jansen, kamu sengaja ingin mempermalukan diriku, 'kan?"
"Abian, kamu sendiri yang tidak tahu malu!"
Jansen pun tidak bersikap segan lagi terhadap Abian. Jansen berkata dengan sinis, "Kamu bilang dia adalah pasienmu. Kalau begitu, coba jelaskan gejala apa saja yang dideritanya dan bagaimana kamu bisa menyembuhkan penyakitnya. Selain itu, tolong jelaskan cara apa yang akan dipakai sampai harus menghabiskan biaya pengobatan senilai dua ratus ribu yuan!"
Abian tampak tertegun. Dokter seperti mereka bisa saja menipu orang awam, tetapi tidak mungkin menipu seorang dokter profesional.
Pada kenyataannya, setelah Aula Qinsi di Ibu Kota ditaklukkan oleh Jansen, Abian sengaja menghindar dari Jansen dan datang ke kota kecil untuk melanjutkan praktik penipuan. Namun, Abian tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan Jansen si pembawa sial ini.
"Baiklah, kamu mau dia yang mengobati penyakit, bukan? Kalau begitu, cepat urus administrasi keluar rumah sakit!" Abian tidak berani menentang Jansen. Dia ingin Jansen segera pergi menjauh dari dirinya.
Jansen menggelengkan kepalanya dan menolak, "Situasi sekarang sudah sangat mendesak. Aku harus menggunakan ruang perawatan ini. Kalian semua silakan keluar!"
"Jansen!"
Abian pun tampak sangat kesal. Dia tidak berani melawan Jansen, sehingga dia terpaksa menghindar dari Jansen. Namun, Jansen telah bersikap keterlaluan karena memeriksa penyakit pasien di rumah sakit tempat Abian bekerja.
Saat ini, Paman Randy pun langsung memarahinya, "Keponakanku sudah bilang, kamu sendiri bahkan tidak tahu penyakit apa dan bagaimana cara menyembuhkannya. Atas dasar apa kamu menginginkan biaya pengobatan sebesar dua ratus ribu yuan? Lagi pula, istriku sampai saat ini juga telah menghabiskan biaya lain-lain hingga dua ratus ribu yuan. Penyakitnya pun belum sembuh, tetapi kamu masih berani meminta biaya pengobatan lagi!"
Keringat dingin mengucur di tubuh Abian yang ketakutan setelah dimarahi Jansen.
Jansen melihat bahwa Abian masih belum memiliki etika profesi medis. Dia pun menegurnya, "Abian, jangan kira dengan bersembunyi di sini, aku tidak akan punya cara untuk menghukum dirimu! Silakan saja jika kamu tidak percaya! Aku juga kenal dengan orang-orang di Departemen Kesehatan Provinsi."
Abian merasa panik dan hanya bisa diam. Dia benar-benar ingin segera pergi melarikan diri dari sana..
Reno sekeluarga pun ikut tercengang. Abian sebenarnya juga merupakan orang suruhan mereka. Mereka bahkan berjanji akan memberikan uang sebesar lima Juta yuan kepada Abian jika rencana mereka ini berhasil terlaksana.
Akibatnya, dokter terkenal itu malah lari ketakutan dibuat oleh Jansen, dokter muda tersebut.
"Randy, apa kamu percaya dengan ucapan pemuda ini?"
Reno marah besar dan kembali menatap Jansen, "Anak Muda, aku sarankan kamu lebih baik segera meninggalkan Kota Sion. Jangan sampai kamu membuatku marah! Kalau tidak, aku pasti akan membuatmu menderita!"
"Apa kamu tahu apa yang terjadi pada orang terakhir yang mengatakan hal serupa kepadaku?"
Jansen menatap Reno dengan dingin sambil berkata dengan datar.
Tatapan matanya yang dingin seolah membuat suhu di dalam ruang perawatan menjadi dingin.
Rasa dingin seketika muncul di dalam hati Reno. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa dia bisa merasa ketakutan. Dia pun segera membawa Nelly dan yang lainnya keluar dari ruangan tersebut.
Setelah mereka keluar dari ruang perawatan dan menunggu di lorong depan, Nelly pun berkata dengan kesal, "Ayah, kenapa kamu keluar? Kalau kita keluar lalu bagaimana dengan rencana kita?"
"Aku ..."
Setelah merasa agak tenang, Reno baru merasa heran kenapa tadi dia sendiri bisa ketakutan. Dia pun mengalihkan topik pembicaraan dan berkata, "Pergi cari ke pabrik gula. Asalkan kita menemukan sertifikat tanah itu, Randy pasti akan menuruti permintaan kita untuk menjual tanah itu!"
Di dalam ruang perawatan, Jansen berjalan mengitari ranjang pasien dengan wajah sinis.
Jansen mengeluarkan Kompas Feng Shui Leluhur lalu mengerahkan Profound Qi. Cahaya samar muncul di kompas itu. Namun, cahaya itu perlahan berubah makin silau.
Siu!
Begitu disinari cahaya, wanita itu mengeluarkan suara aneh. Gumpalan asap muncul di sekitar tubuh wanita itu lalu menghilang.
Wanita yang sedang tidur itu tampak kesakitan.
"Kurang ajar!"
Jansen menegur dengan keras, "Aku mau lihat ke mana kamu bisa melarikan diri!"
Jansen menulis jimat dengan menggunakan Profound Qi. Setelah itu, Jansen menempelkan jimat tersebut ke kompas dan membuat cahaya yang terpancarkan makin silau. Jimat itu kemudian berubah besar hingga berukuran satu meter dan terbang melayang di atas wanita itu.
Cahaya silau yang terus bersinar ditambah dengan kekuatan jimat membuat wajah wanita itu tampak makin beringas.
"Cepat perlihatkan wujud aslimu!"
Jansen memarahinya.
Siu!
Kabut hitam muncul dari tubuh wanita itu dan perlahan berubah menjadi sesosok anak laki-laki berusia tujuh tahun yang kemudian terbang menggantung di atas tubuh wanita itu.
"Siapa kamu?"
Wajah anak laki-laki ini sangat pucat dan menakutkan.