Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 533. Bermain Petak Umpet!


"Mana ayahku? Aula Xinglinmu ini, sudah membunuh orang. Apa kamu juga akan menghancurkan tubuh ayahku?"


Pada saat ini, sejumlah besar orang masuk ke gerbang Aula Xinglin, dari pakaiannya sepertinya mereka berasal dari pedesaan. Seorang pria paruh baya berjalan di depan, diikuti oleh istri dan ibunya.


Mereka membuat keributan dan menarik perhatian banyak orang!


"Semuanya lihat, ini Aula Xinglin. Pengobatannya tidak bagus, mereka telah membunuh ayahku. Sekarang mayatnya dihancurkan dan jejaknya dimusnahkan. Dokter palsu itu membunuh orang!"


Pria itu berteriak pada kerumunan orang itu.


"Ada apa?"


Kakek Herman berlari keluar dengan Mulin dan yang lainnya.


Membunuh orang, bukanlah masalah sepele. Jika tidak diselesaikan dengan baik mungkin bisa digugat!


"Aku bertanya padamu, dimana ayahku?"


Pria itu berjalan menuju Kakek Herman dan meraih kerahnya, wajahnya penuh dengan amarah.


Jansen buru-buru datang dan menurunkan tangan pria itu, lalu berkata dengan dingin, "Ada masalah apa dibicarakan dengan baik, kenapa kamu menggunakan kekerasan?"


"Kamu Jansen, kan? Pas sekali!"


Pria itu memandang Jansen dan berkata dengan marah, "Pagi ini, ayahku datang ke Aula Xinglin untuk berobat. Aula Xinglin memberinya obat dan membiarkannya beristirahat di lantai dua, tetapi sekarang orangnya tidak ada!"


"Siapa nama ayahmu?"


Tanya bibi Sofia sambil mengerutkan kening.


"Rafael!"


"Kamu tunggu dulu!"


Bibi segera memeriksa catatan dan menemukan rekam medis Rafael. Dia mengangguk dan berkata, "Setelah ayahmu meminum obat tradisional, dia bilang dia merasa pengap dan ingin istirahat sebentar. Saat itu, dia baik-baik saja!"


"Tapi sampai sekarang ayahku belum pulang!" teriak pria itu.


"Apa mungkin dia sedang jalan-jalan?"


"Tidak mungkin, tulang ayahku tidak begitu baik, dia pasti akan pulang setelah selesai berobat. Aku curiga dia belum keluar dari Aula Xinglin!"


"Jangan menuduh orang sembarangan, kami memiliki CCTV di gerbang Aula Xinglin, semua bisa melihatnya sendiri!"


Bibi Sofia merasa cemas dan marah. Dia meminta Mulin untuk mengirimkan video CCTV itu, lalu memutarnya di komputer.


Para pasien di sekitar ikut menontonnya. Jika Aula Xinglin membunuh orang, mereka tidak akan berani lagi berobat di sini.


CCTV itu memperlihatkan setiap orang yang memasuki Aula Xinglin, tetapi sampai sekarang ayah pria itu belum terlihat meninggalkan Aula Xinglin.


"Kau lihat, ayahku belum meninggalkan Aula Xinglin. Apa dia sudah mati? Lalu kalian memusnahkan tubuhnya? Aku dengar ada banyak klinik yang tidak bermoral sekarang ini. Menganggap penyakit ringan sebagai penyakit serius, kalau itu penyakit serius mereka menahannya di rumah sakit hanya untuk mengambil uangnya. Aula Xinglin kalian pasti juga klinik semacam ini!"


Pria itu marah dan menampar bibi.


Plak!


Pada saat itu, Mulin tiba-tiba berdiri di depan Sofia dan menerima tamparan itu.


"Mulin!"


Seru Sofia dengan tergesa-gesa.


"Tidak apa-apa!"


Mulin menggelengkan kepalanya ke arah Sofia dan menatap pria itu dengan marah, "Beraninya memukul seorang wanita, pria macam apa kau, ayahmu mungkin masih beristirahat di lantai dua!"


"Apakah sedang Istirahat? Kalau begitu cepat cari dia. Jika sesuatu terjadi padanya, aku akan menuntut kalian sampai bangkrut!"


Pria itu berbicara dengan keras, lalu berkata kepada orang-orang di belakangnya, "Kalian berjaga-jagalah di gerbang, jangan sampai mereka kabur!"


Selesai berbicara, dia ikut Mulin ke lantai dua!


Jansen juga ikut dengan mereka, dia mengerutkan keningnya dan merasa kalau masalah ini sangat aneh.


"Jansen, aku rasa orang-orang ini sudah merencanakan masalah ini sebelumnya!"


Bahkan Elena juga merasakan hal yang sama. Bagaimanapun mereka bersikeras kalau ayahnya menghilang, seolah-olah mereka sudah mengetahuinya dari awal.


"Tidak apa apa!"


Jansen menghiburnya dan naik ke lantai dua.


Di lantai dua, ada tempat tidur untuk pasien beristirahat. Dan hanya ada tiga pasien yang sedang beristirahat. Mereka mencari-carinya kemana-mana, sebenarnya di mana ayah pria itu?


"Dimana ayahku? Dia tidak ada di lantai dua. Sudah kubilang, kamu membunuhnya, lalu menghancurkan mayatnya kan?"


Pria itu kehilangan kesabarannya, lalu menunjuk ke arah Kakek Herman dan yang lainnya serta memaki-maki mereka.


Mulin dan Sofia sama-sama mengerutkan kening. Mereka tidak melihatnya keluar dari gerbang, itu berarti orang itu masih ada di dalam Aula Xinglin. Tetapi dia tidak ada di lantai dua.


Sedangkan di lantai tiga dikunci dengan gerbang besi. Kecuali punya kuncinya, kebanyakan orang tidak bisa naik ke sana.


"Apakah mereka benar-benar telah membunuh orang itu? Kenapa mereka menyembunyikan orang tua itu!"


"Sepertinya mereka ingin membunuhnya dan menghilangkan buktinya. Lagi pula, tidak baik jika Aula Xinglin dikabarkan membunuh orang!"


"Bagaimana bisa Aula Xinglin melakukan hal seperti ini!"


Melihat Kakek Herman dan yang lainnya tidak bisa berkata-kata, para kerumunan orang-orang itu mulai membicarakan mereka.


"Jika kamu tidak bisa menemukan ayahku hari ini, aku akan membunuh kalian!"


Pria itu mencari lagi, sampai kesabarannya pun habis. Dia menarik kerah Mulin dan ingin memukulnya, "Kamu sudah membunuh ayahku, aku akan mematahkan kakimu!"


"Tunggu!"


Saat ini, terdengar suara Jansen.


"Jansen, hati-hati!"


Elena sedikit cemas, bagaimanapun pembunuhan bukanlah hal yang sepele, takutnya masalah ini tidak akan habis.


"Yang harus berhati-hati itu mereka!"


Kata Jansen mencibir, lalu dia berjalan keluar.


Dia bisa melihat kalau orang-orang ini adalah praktisi seni bela diri!


Apalagi ada terlalu banyak permainan dalam masalah ini. Misalnya, ketika mereka datang, mereka tahu kalau mayatnya telah dimusnahkan, seolah-olah mereka sudah menebaknya, dan pada saat itu, mereka belum pergi ke lantai dua untuk mencarinya!


Kenapa mereka bisa begitu percaya diri?


Kecuali mereka tahu, kalau mereka tidak akan bisa menemukan pria itu di lantai dua!


Sungguh menarik, apakah mereka mau main petak umpet?


Jansen berkata kepada pria itu, "Kalian tenang dulu, beri aku waktu sepuluh menit, aku janji aku akan menemukan ayahmu!"


"Sepuluh menit?"


Pria itu memandang Jansen dari atas hingga ke bawah, lalu mengangguk, "Bagaimana jika kamu tidak bisa menemukannya?"


"Sesuai keinginanmu, aku akan menutup Aula Xinglinku. Dan aku Jansen akan masuk penjara, kehilangan uang dan selamanya tidak akan pernah menjadi dokter lagi, bagaimana?" Jansen berkata perlahan, "Tapi jika aku tahu ada yang sedang mempermainkanku, aku akan mematahkan tangan dan kakinya!"


"Baiklah, aku akan memberimu waktu sepuluh menit!"


Pria itu langsung setuju dan mencibir di dalam hatinya. Lalu mengancamnya dengan suara tegas, "Jangan main-main denganku atau aku akan menghancurkan Aula Xinglinmu. Lalu aku akan membunuh kakekmu dan kerabatmu!"


"Coba katakan lagi?"


Wajah Jansen langsung terlihat marah. Orang boleh membicarakannya, tetapi tidak ada yang boleh membicarakan kakeknya!


Jansen menatapnya, di dalam hatinya pria itu merasa ketakutan dan tidak berani berbicara!


Tapi dia juga merasa aneh, Jansen jelas-jelas seorang dokter, tapi kenapa matanya begitu seram?


Melihat tatapan matanya tidak seperti dokter, malah lebih seperti pembunuh!


"Jansen, ayo kita cari di lantai tiga. Kadang-kadang orang tua tidak bisa berpikir dengan baik dan suka tersesat. Mungkin dia naik ke lantai tiga!"


Kakek Herman memandang Jansen dengan perasaan cemas. Dia tidak menyangka, Aula Xinglin yang baru saja dibuka, sudah memiliki begitu banyak masalah.


"Tenang saja, masih ada sepuluh menit!"


Kata Jansen menghiburnya dan memeriksa ke lantai dua dengan harapan.


Jika pria itu adalah orang biasa, mungkin mereka tidak akan menemukannya dalam waktu sepuluh menit, tetapi karena pria itu belajar seni bela diri, itu akan jauh lebih mudah!


Aura orang yang melakukan seni bela diri berbeda dengan aura orang biasa. Sangat mudah untuk menemukannya dengan melihat Qi nya!


"Aku memberimu waktu sepuluh menit, tapi kamu malah bengong?"


Pria itu melihat Jansen tidak bergerak, memegang ponsel sambil melihat jam dan berkata, "Aku rasa kamu hanya mengulur-ulur waktu. Kamu berpikir untuk melarikan diri kan!"


Kerumunan orang itu juga tidak percaya. Sepuluh menit sudah berlalu, kenapa Jansen malah bengong dan bukannya mencarinya?


"Waktunya belum habis, jangan terburu-buru!"


Kata Jansen sambil tertawa, akhirnya dia menemukan orang tua itu.


Yang membuatnya terkejut, ternyata lelaki tua itu bersembunyi di tong besi, di ujung sana!