
Jigen berdiri di depannya dengan angkuh. "Tuan Muda Alastor mau tahu dari mana pil ini berasal. Kamu bisa tetap hidup jika kamu menjawabnya. Bahkan Tuan Muda Alastor bisa menyembuhkanmu juga. Kalau kamu tidak mengatakannya, hidupmu akan lebih buruk dari neraka!"
"Jigen Han, kalau memang berani, bunuh saja aku. Jangan banyak omong kosong!"
Fiscal berbaring di tanah dan mencibir balik. Ia sangat keras kepala.
"Apa kamu benar-benar berpikir aku tidak berani membunuhmu?"
Jigen sangat marah dan hampir ingin membunuh putranya yang pemberontak ini, tetapi mengingat pesan Tuan Muda Alastor, dia pun menahan diri.
Sambil mencibir, dia mengentakkan kakinya di tempat di mana tulang belakang Fiscal patah dan terus mengerahkan tenaga.
"Kamu masih saja keras kepala, setelah kesabaran Tuan Muda Alastor habis, aku akan menjadi orang pertama yang membunuhmu!"
"Jansen adalah ahli tiga besar dalam Daftar Peringkat Awan Badai, tapi tahukah kamu bahwa Tuan Muda Alastor sudah melampaui peringkat di daftar itu?"
"Kali ini dia kembali ke Huaxia tidak bergantung pada keluarga Gibson sama sekali. Mengandalkan kekuatan pribadinya saja sudah cukup untuk membunuh Jansen."
Wajah Jigen tampak sangat bengis, telapak kakinya terus bergerak di punggung Fiscal. Dahi Fiscal berkeringat dingin karena menahan rasa sakit.
Tapi dia menggertakkan gigi dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Pada saat itu, pintu tiba-tiba dibuka, kemudian seorang wanita berlari masuk. Melihat Fiscal yang tergeletak di tanah, dia berkata dengan cemas, "Kakek, kamu gila!"
Perempuan itu adalah Ava Han.
Dia juga satu-satunya orang dari seluruh Keluarga Han yang telah memasuki Sekte Tersembunyi. Setelah dia mengikuti Kakak senior Mahadhi kembali ke Sekte Tersembunyi terakhir kali, dia juga diam-diam mencari informasi tentang Jansen.
Hasilnya membuat dia sangat terkejut!
Jansen ini memiliki reputasi yang hebat di luar sana.
Kak senior Mahadhi diam-diam memberitahunya rahasia para petinggi. Belum lama ini, Jansen telah memberikan kontribusi besar terhadap Gunung Kunlun di Istana Awan.
Orang seperti ini tidak boleh sembarang diprovokasi, bahkan oleh Keluarga Gibson sekalipun. Apalagi mereka hanyalah Keluarga Han Kota Kuno yang tidak ada apa-apanya.
Mereka bukan berasal dari dunia yang sama, yang satu berada di langit dan yang lainnya berada di tanah.
"Ava, kamu pulang tepat pada waktunya. Fiscal sudah gila, dia mengabaikan keluarga dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Sekarang dia telah memprovokasi orang besar, bagaikan melangkah satu kaki ke kediaman Raja Neraka. Tapi, untung saja keluarga kita sangat pintar. Mulai sekarang, posisi kita akan melesat ke langit."
ujar Jigen sambil tersenyum dan menatap Ava, yang juga dia anggap sebagai harapan seluruh Keluarga Han di masa depan.
Mendengar ini, Ava merasa sangat kesal, apanya yang melesat ke langit?
Keluarga Han akan mengalami bencana besar.
Ia cemas dan beberapa kali ingin memberi tahu rumor mengerikan Jansen, namun Sekte Tersembunyi memiliki aturan tersendiri. Tanpa izin dari Sekte Tersembunyi, dia tidak bisa mengatakan rahasia itu kepada siapa pun, apalagi ke orang dari dunia sekuler. Jika ada yang mendapatinya membeberkan rahasia, dia bisa saja dikeluarkan dari sekte atau bahkan dibunuh.
"Kakek, cepat lepaskan Paman Fiscal, lalu minta maaf. Selama kamu tulus, keluarga kita akan bisa bertahan dari bencana ini."
Ava tahu bahwa waktu tidak menunggu siapa pun. Makin dia menyia-nyiakan waktu, keselamatan Keluarga Han akan makin terancam.
"Ava, apa yang kamu bicarakan."
Jigen menatap Ava dengan cermat, berpikir bahwa dia salah mengenal orang.
"Cepat lepaskan Paman Fiscal, lalu jangan ikut serta dalam perselisihan dunia Jianghu. Semuanya untuk kebaikan keluarga kita!" Ava berkata dengan cemas.
"Ava, ini adalah kesempatan yang sangat langka. Mana mungkin kita bisa melewatkannya!"
Jigen mengerutkan kening dan mendengus dingin, "Kamu takut pada Jansen, 'kan? Biar kuberi tahu sebuah kabar baik. Seseorang ingin mengincar Jansen. Orang ini tidak hanya memiliki latar belakang yang besar, tetapi juga memiliki keterampilan seni bela diri tertinggi di Huaxia. Jansen hanya berada di urutan ketiga dalam Daftar Peringkat Awan Badai. Dibandingkan dengan orang hebat itu, Jansen bagaikan belalang sembah yang menghalangi mobil!"
"Apakah kamu tahu Daftar Peringkat langit dan bumi Se-Huaxia?"
"Apakah kamu tahu orang termuda di Ranah Celestial?"
"Apakah kamu tahu seberapa kuatnya orang hebat itu?"
Jigen berbicara makin keras, seolah-olah dialah yang memiliki semua pencapaian itu.
Ava merasa sangat marah. Ia tidak tahu siapa pria ini, tapi semua yang dikatakan kakeknya tidak bisa dibandingkan dengan Jansen.
Jika Jansen bisa memasuki Sekte Tersembunyi, dia pasti di Ranah Celestial. Bahkan lebih dari itu, murid-murid inti Sekte Tersembunyi telah mendengar namanya. Kekuatannya paling tidak sudah pada tahap Ranah Celestial tingkat keempat dan punya teknik rahasia yang hebat. Dengan kekuatan seperti itu, dia sudah bagaikan tuan di dunia Jianghu.
Ava tidak ingin mendengarkan omong kosong Jigen sekarang. Dia hanya ingin semua orang yang disandera oleh kakeknya langsung dibebaskan.
Teringat lagi kunjungan terakhir Jansen di kediaman mereka serta berbagai legenda tentangnya dari Sekte Tersembunyi, dia merasa Jansen tidak hanya kuat, tapi juga sangat berbahaya.
"Membebaskan mereka? Yang benar saja!"
Jigen mendengus dingin. Bagaimana sandera bisa dibebaskan pada saat seperti ini? Ia bingung. Ada apa dengan Ava hari ini? Dia tampak panik. Bukankah biasanya orang bilang bahwa orang-orang yang kembali dari Sekte Tersembunyi telah melihat dunia, jadi bersikap lebih tenang dan berwibawa?
Apa yang membuatnya menjadi panik seperti itu?
Bum!
Suara gemuruh tiba-tiba terdengar seperti mengguncang bumi.
"Apa yang terjadi?"
Wajah Jigen berubah, berpikir bahwa seseorang telah mengendarai excavator untuk menghancurkan rumahnya.
Raut wajah Ava juga berubah drastis, dan dia akhirnya menghela napas, "Sudah terlambat!"
Ia mengerti bahwa sekarang Jansen telah menjadi bagian dari Sekte Tersembunyi. Sekte Tersembunyi tidak dapat diganggu gugat, cara kerjanya juga sangat kejam. Jika ada yang berani memprovokasi dia, bahkan Bapak Raja Surgawi pun akan dia lawan.
Gajah tidak peduli dengan hidup atau matinya semut, dia juga tidak akan mengganggu semut, karena semut terlalu kecil untuk dapat dilihat gajah.
Namun, jika semut melampaui batas dan memprovokasi gajah, maka dia tidak akan keberatan mengambil inisiatif untuk menindas dan menginjak-injak semut.
Itulah prinsip orang yang kuat.
"Siapa yang begitu berani? Ayo ikut aku!"
Jigen berjalan menuju ruang tamu bersama beberapa orang.
Di lantai, Fiscal masih terbaring di sana, tapi matanya lembap. Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi, dia menduga bahwa Tuan Muda sudah ada di sini.
"Paman Fiscal, bisakah kamu membantu kami? Bagaimanapun juga kami adalah kerabatmu."
Ava tidak menyusul keluar, tapi menatap Fiscal dan berusaha membujuk.
"Ava, ketika mereka ingin membunuhku, mereka tidak memperlakukanku sebagai kerabat. Selain itu, urusan pribadi aku cuma hal sepele, yang membuatnya besar karena mereka berani menyinggung martabat Tuan Muda!" Fiscal berkata dengan tenang, "Ava, kamu juga baru kembali dari Sekte Tersembunyi. Kamu harus tahu bahwa di mata yang kuat, dunia sekuler bagaikan cecunguk kecil."
Mendengar jawabannya, Ava menghela napas panjang. Tentu saja dia mengerti yang dimaksud oleh Fiscal.
Di ruang tamu, terlihat ada dua tubuh yang terhempas ke tanah, dada mereka ditinju dan tampak hampir tertembus.
Tidak ada orang di sekitar yang berani mendekat. Mereka menatap dua orang yang berjalan perlahan dengan ekspresi khusyuk.
Kedua orang ini beriringan, berjalan masuk dipimpin oleh yang ada di depan. Ia memakai kaos biasa dan tampak acuh tak acuh.
Dia berjalan maju dengan tangan di punggungnya, aura yang kuat menemaninya seperti angin.
Di antara aura tersebut, bisa dirasakan adanya kemarahan yang besar.
Karena merasakannya juga, semua orang di sekitar tidak berani bergerak, seperti mati lemas.
Mereka tahu jika orang ini adalah Jansen!
Sebenarnya, semua orang di Keluarga Han Kota Kuno mengetahui tentang Jansen. Sebelumnya, Jigen mengingatkan mereka bahwa Keluarga Han telah memiliki seseorang yang mendukung mereka, dan rasa malu yang mereka derita di masa lalu akan dikembalikan sepuluh kali lipat.
Semua orang cukup senang setelah mengetahui berita itu. Mereka bahkan tak sabar melihat Jansen berlutut dan menjilati sepatu mereka.
Namun, di saat Jansen muncul, keyakinan dan harapan dalam hati mereka hanyut terbawa angin.
Aura Jansen terlalu kuat!
Jansen berhenti berjalan dan menyapukan pandangan ke seluruh orang.
"Jigen Han, keluar!"
Suaranya tenang, tapi meledak di hati orang-orang bagaikan guntur.
Tidak ada yang berani berbicara, dan suasananya menjadi makin mencekam.