
"Apa kamu juga ingin membunuhku? Ayolah, kamu sudah berubah. Kamu berdarah dingin dan kejam seperti Jessica. Kamu bisa mengorbankan semua orang demi ambisimu!"
Elena berteriak lagi, "Datang dan bunuhlah aku. Kamu adalah calon pertama Raja Prajurit. Aku jelas bukan lawanmu!"
Jansen mengertakkan giginya, melirik Paman Bonnie dan akhirnya berjalan ke arah pintu keluar.
Dia tahu bahwa sangat sulit untuk membunuh Paman Bonnie di sini, kecuali Elena tidak ikut campur, tetapi itu tidak mungkin terjadi, kecuali bila dia membunuh Elena!
Dia jelas tidak bisa melakukannya.
"Mau ke mana kamu?"
Melihat Jansen yang berjalan pergi, Elena kembali mengarahkan pistol ke arah pria tersebut, "Saat di Kota Asmenia, aku sudah bilang jangan melakukan hal yang ilegal. Jangan sampai harus aku sendiri yang menangkapmu!"
Jansen tampak sedikit gemetar dan berkata dengan dingin, "Kalau kamu memiliki bukti, tangkap saja. Kalau tidak, jangan banyak omong kosong!"
Dia pun pergi dengan perlahan.
Mendengar jawaban itu, Elena pun tertegun. Dia ingin menangkap Jansen, tapi sebenarnya tidak ada bukti. Bagaimanapun, dia hanya berasumsi mengenai pelaku kematian Kimberly dan sekarang pun Paman Bonnie
masih baik-baik saja!
Untuk kasus Kakek Miller, Jansen hanyalah orang yang memiliki kemungkinan terbesar untuk menjadi tersangka.
"Nona Ketiga, dia terluka, ayo bunuh dia sekarang!"
Di saat itu, suara Paman Bonnie pun terdengar, "Dia sangat licik dan cerdas. Barang bukti pasti sudah dihancurkan sejak lama dan dia juga bisa memanfaatkan celah dalam hukum. Kamu tidak akan bisa menangkapnya sama sekali. Jadi,
sekarang adalah kesempatan terbaik!"
Elena ragu-ragu dan mengarahkan pistol ke arah Jansen, tapi pada akhirnya dia tetap tidak bisa menembaknya.
Paman Bonnie tidak bisa menahan diri untuk mengutuk, merasa kesal karena melewatkan kesempatan terbaik!
Jansen pergi menelusuri jalan pegunungan. Begitu telapak tangannya menepuk bahunya, pelurunya langsung melesat keluar. Dia dengan santai menuangkan bubuk giok es pereda
radang dan berjalan menuju rumah komunitas.
Sesampainya di rumah komunitas, Natasha menjadi sangat khawatir karena melihat bahu Jansen yang berlumuran darah.
Namun, Jansen segera menenangkannya, berkata bahwa lukanya sudah kering dan mulai sembuh, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
Natasha yang masih khawatir pun langsung memeriksa lukanya, memang terlihat bahwa lukanya sudah kering. Dia pun akhirnya lega.
"Jansen, mungkin sebaiknya jangan ikut campur lagi masalah mereka!"
Dia takut Jansen akan terluka lagi,sehingga Natasha mulai membujuknya.
Jansen tersenyum dan menjawab, "Sudah beres semua kok. Jangan khawatir. Aku akan memberikan penghormatan kepada Kakek Miller di hari pertama tahun baru. Setelah itu,
apa pun yang terjadi di masa depan tidak ada hubungannya lagi denganku!"
"Aku mandi dulu, ayo istirahat lebih awal hari ini!"
Setelah mengatakan itu, dia pun berjalan menuju kamar mandi.
Natasha menggelengkan kepalanya. Dia merasa hal ini tidak akan berakhir begitu saja, cinta pertama adalah yang paling sulit untuk dilupakan, tentu tidak akan dilepaskan begitu saja.
Lagi pula, jika Jansen benar-benar bisa melupakannya, mengapa dia harus begitu repot mengurus masalah keluarga itu selama ini?
Setelah selesai mandi, Jansen berbaring di atas tempat tidur sambil memikirkan kejadian sebelumnya.
Dia merenung agak lama, sebaiknya dia tidak bertemu dengan Elena lagi di masa depan. Lupakan saja!
Keesokannya adalah dua hari sebelum tahun baru. Jansen tidak pergi ke mana-mana. Dia hanya pergi berbelanja dengan Natasha dan berencana menghabiskan tahun baru di kediaman Kakek Herman.
Bahkan Aula Xinglin pun sudah libur. Tidak akan dibuka sampai hari ke 6 tahun baru, terkecuali ada pasien darurat.
Natasha tampak sedang membantu Kakek Herman untuk mengurus dekorasi rumah. Dibuat seindah dan semeriah mungkin. Meskipun hanya ada lima orang yang merayakan tahun baru, orang
Huaxia biasanya lebih menjunjung kebersamaan dalam reuni keluarga selama tahun baru. Walau orangnya sedikit, yang penting semuanya masih bisa berkumpul.
Kakek Herman juga menyempatkan diri untuk bertanya pada Natasha tentang Elena.
Namun, Natasha hanya menggelengkan kepalanya, hal itu membuat Kakek Herman diam-diam menghela napas.
Jansen sedang membantu menyiapkan hidangan untuk besok, tapi tiba-tiba sebuah panggilan masuk.
"Master Jansen, aku Ernest Alfie. Besok sudah tahun baru. Aku mau mengucapkan selamat tahun baru terlebih dahulu!"
Tak lama kemudian, Tuan Timothy juga menelepon, bahkan dia membuat janji untuk datang memberi salam tahun baru di hari pertama.
Selanjutnya, Tuan Hilton dan Tuan Dean juga menelepon dan mengatakan bahwa mereka akan datang pada hari pertama tahun baru.
Jansen jadi merasa sedikit tidak enak. Padahal di hari pertama tahun baru dia berencana untuk memberi salam tahun baru kepada kakeknya, kemudian langsung pergi ke kediaman Keluarga Miller.
Setelah mengobrol sebentar dengan mereka, Jansen juga menelepon Kakek Carson untuk mengucapkan salam tahun baru.
Hari berikutnya datang dengan tenang, satu hari sebelum tahun baru.
Seluruh Ibu kota tampak seperti kota kosong. Tidak terlihat mobil di jalanan, tapi di dalam setiap rumah tampak ramai dan meriah, terlihat orang-orang yang juga sibuk mempersiapkan perayaan.
Malam itu, Jansen menemani kakeknya dan mereka menonton pesta malam tahun baru sambil bercerita tentang keseharian. Hingga setelah pukul 12, sang kakek membagikan
"Jansen!"
Di atas tempat tidur, Natasha menatap Jansen sambil tersenyum. Dia merasa sangat bahagia bisa menghabiskan malam tahun baru bersama Jansen, tapi dia merasa ada yang kurang.
Jansen yang sedang memeluk Natasha sambil berbaring, tiba-tiba teringat bahwa tahun lalu dia menghabiskan malam tahun baru bersama Elena.
"Jansen, waktu itu saat nona Gracia datang mencarimu. Bibi Sofia menguping dan mendengar bahwa kamu meminjam
uang darinya, sepertinya nominalnya dua miliar yuan. Apa itu benar?" Natasha bertanya sambil berbaring di bantal.
Jansen mengangguk sambil tersenyum masam.
Natasha tertegun dan berkata, "Apa kamu kekurangan uang? Kenapa kamu meminjam dari dia? Meskipun nominalnya banyak, tapi masih bisa dikumpulkan dari perusahaan kok!"
Jansen menatap Natasha yang sedang terbelalak dan berkata dengan serius, "Kamu bekerja keras untuk mendapatkan uang di perusahaan. Aku tidak bisa begitu saja mengambilnya, apalagi uang ini untuk Elena!"
"Elena?"
Natasha terduduk kaget.
"Walaupun sudah cerai, tapi tetap tidak bisa membiarkan dia kehilangan segalanya. Aku akan menghitung seluruh harta dan berencana untuk memberikan setengah padanya!" ucap
Jansen ringan. Jika properti itu adalah miliknya semua, dia tidak keberatan untuk memberikan semuanya kepada Elena. Lagi pula, dia tidak terlalu peduli dengan uang itu.
Namun, bagaimanapun juga, sebagian uang itu adalah milik Natasha.
"Jansen, apa pun yang kamu lakukan, aku akan selalu mendukungmu!"
Natasha terharu di dalam hatinya dan mengangguk.
Keesokan paginya, Jansen bangun sangat pagi, mengganti setelan baru dan berjalan menuju kediaman Keluarga Miller.
Dia memegang sebuah daftar nama di tangannya, yang akan dia gunakan sebagai persembahan untuk Kakek Miller.
Pada hari pertama tahun baru, situasi di kediaman Keluarga Miller masih tampak seperti sebelumnya. Pagi-pagi sekali, semua kerabat bangun dan para tetua yang dipimpin oleh
Renata sedang membagikan amplop merah berisi uang.
"Bibi Renata, kenapa hanya lima ratus yuan?"
Anak-anak dari Keluarga Miller semuanya terlihat agak tidak puas. Mereka biasanya mendapatkan uang amplop sekitar
puluhan ribu yuan dan beberapa bahkan sampai ratusan ribu yuan.
"Nak, kalau kamu berbicara seperti itu lagi, aku akan memukul mulutmu!"
Orang tua anak itu langsung memarahinya.
Renata sedikit malu, tapi tetap tertawa dan berkata, "Ini tahun baru, jangan berkata kasar, tidak usah mengambil hati kata-kata anak-anak!"
"Maaf Kak Renata, aku yang kurang tegas mendidik anak ini!"
Sebenarnya semua orang sudah tahu, kondisi Keluarga Miller tidak lagi sebaik dulu. Masih bisa mendapatkan amplop tahun baru senilai 500 Yuan saja sudah bagus!
Setidaknya rumah besar ini masih terselamatkan, masih ada tempat tinggal di Ibu kota.
Bruk!
Pada saat itu, pintu gerbang pun didobrak. Seorang pria muda berjas merah menyala masuk dengan beberapa pengikut di
belakangnya.
"Ramai juga di kediaman Miller. Apakah sedang bagi-bagi amplop tahun baru? Berikan aku satu juga dong!"
Dia menyapu pandangannya ke semua orang dan berkata seenaknya.
"Hector Bermoth!"
Seluruh keluarga Miller memandang orang-orang itu dengan tatapan kesal.
Hector adalah anggota keluarga Bermoth yang kaya dan berkuasa. Tentu saja, keluarganya sekarang menggantikan status Keluarga Miller.
Di masa lalu, Keluarga Bermoth juga pernah berhubungan sekilas dengan Keluarga Miller, mengikuti seperti seekor anjing. Mereka berusaha mendekati Keluarga Miller seperti
pecundang
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Paman Keempat, Rowen, berkata dengan dingin.
"Hehe, tentu saja untuk memberikan salam tahun baru kepada semuanya!"
Hector tersenyum licik, "Tentu saja, aku juga ke sini untuk menagih hutang. Tuan Rowen, kamu harus membayar hutangmu kepada perusahaan kami sebesar delapan juta yuan!"
Dulu, Keluarga Bermoth pernah bekerja sama dengan Keluarga Miller. Untuk menjalin hubungan yang bagus dengan Keluarga Miller, mereka memasokkan barang secara gratis.
Setelah jatuhnya Keluarga Miller, mereka mulai
memperhitungkan semua hutang-piutang dari tahun-tahun sebelumnya dan meminta Keluarga Miller untuk membayar.