
"Gracia Granitha"
Jansen tidak menolehkan kepalanya.
"Ternyata Gracia Granitha? Bisa diatur, kebetulan aku mengenal manajer Grup Aliansi Bintang. Aku bisa membantumu mencarinya."
Jordie tersenyum bangga, tapi di tengah pembicaraan, pupilnya membesar.
Gracia Granitha?
Bos Grup Aliansi Bintang?
Tidak hanya dia, para pengawal di sekitar juga tercengang.
Selanjutnya, disusul dengan suara tawa terbahak-bahak.
Gracia adalah sosok legendaris, dia terkenal sulit dilayani. Konon katanya, dia tidak pernah berhubungan lawan jenis, apalagi pemuda yang berpakaian biasa seperti ini.
"Haha, kamu sedang bercanda?"
Jordie tertawa sampai sakit perut.
Jansen berhenti, lalu menggelengkan kepalanya, "Bukankah katanya kamu bisa membantuku mencari orang ini? Kenapa tidak cari? Aku juga tahu, kamu adalah salah satu konglomerat dari delapan keluarga elit Ibu Kota. Tapi, memangnya kenapa?"
Jordie berhenti tertawa, dia langsung menyipitkan matanya.
Pria ini, ternyata dia tahu asal usulnya.
Dia mengetahui asal usul Jordie, tetapi tetap saja mengacuhkannya. Bukankah ini sengaja?
Selain itu, sebelumnya Jordie juga membual bahwa dia bisa membantu Jansen menemukan orang yang dicari. Namun, dia hanya bisa mencari bantuan dari karyawan biasa. Mencari Gracia langsung adalah pekerjaan yang cukup sulit untuknya.
Jansen bertanya balik, seolah menampar wajahnya.
"Kamu sedang membuang waktuku?"
Suara Jordie berubah menjadi rendah.
"Seharusnya, aku yang berbicara seperti itu kepadamu."
Jansen menggelengkan kepala dan lanjut berjalan.
Seluruh tubuh Jordie kembali gemetar, tiba-tiba, dia tertawa, "Mencari Gracia? Baik, cari saja, kalau kamu bisa membuat Gracia berbicara kepadamu, kamu boleh menamparku tiga kali."
Suaranya yang besar perhatian orang-orang di sekitarnya, semua orang menggelengkan kepala.
Saat mereka tahu bahwa Jansen sedang mencari Gracia, mereka hanya tertawa.
Gracia, wanita cantik ini hanya bisa dinikmati dari kejauhan. Apalagi, dia adalah konglomerat Huaxia.
Kecuali matahari terbit dari barat, orang biasa baru bisa membuat Gracia berbicara kepadanya.
"Carilah! Lihat saja apakah pengawal nona Gracia akan menghajarmu."
Jordie tersenyum dingin, "apakah kamu tidak ngaca? Hanyalah seorang rakyat biasa, malah mau menemui Gracia."
"Benar. Biasanya, orang yang bisa bertemu dengan Nona Gracia adalah orang-orang seperti Tuan Jordie. Setidaknya konglomerat Huaxia atau pejabat. Tapi, kamu?"
"Aku tahu, dia mau cari sensasi untuk menarik perhatian Nona Gracia. Sayangnya, masalah ini akan diurus polisi."
"Idiot!"
Semua pengawal ikut tertawa.
Orang-orang yang lewat melihat Jansen terus berjalan. Diam-diam, mereka merasa kasihan melihatnya.
Dengar-dengar, beberapa waktu lalu nona Gracia ada masalah, jadi pengawal yang menjaganya juga bertambah banyak. Selama tidak ada janji, semua orang yang mendekati nona Gracia akan diurus oleh pengawal. Paling ringan dikurung di kantor polisi, paling berat dipukuli.
"Oh, anak muda, memangnya tidak ada kerjaan lain? Untuk apa mencari nona Gracia? Apakah otaknya rusak?"
Bahkan kakek tua yang menyapu dari kejauhan juga menggelengkan kepalanya.
Jansen bersikap seolah tidak mendengarnya, dia terus berjalan.
Dengan cepat, ada pengawal yang menghadangnya. Kali ini adalah pengawal Gracia.
Para pengawal Gracia yang berjumlah tidak kurang dari 100 orang tampak berjaga di sekitar, ditambah, semuanya adalah pensiunan tentara. Mereka terlihat sangat dingin.
Di saat bersamaan, Gracia yang hendak masuk ke dalam pintu kaca menyadari keramaian di sini. Tiba-tiba, wajahnya yang dingin tersenyum.
Jordie tercengang selama beberapa saat, dia bergegas pergi menyambut. Gracia sedang tersenyum kepadanya.
"Jansen, kamu sudah datang?"
Namun, kalimat Gracia selanjutnya membuat Jordie tercengang.
Setelah itu, mereka melihat Gracia berjalan dan berinisiatif menyambut Jansen.
Orang-orang yang berkerumun semakin keheranan.
Gracia tampak berjalan ke hadapan Jansen, dia tersenyum sambil berkata, "Aku sudah menunggumu sejak kemarin. Tidak disangka, kamu baru datang hari ini. Ayo, ke ruanganku."
Gracia tidak hanya berinisiatif menyapa, tapi juga lebih aktif membuka mulutnya.
Matahari benar-benar sudah terbit dari barat.
"No, Nona Gracia, ada apa ini?"
Jordie memanggil dengan suara aneh, lalu berlari menghampiri, "Siapa bocah ini? Bagaimana kamu mengenalnya?"
Pukulan yang diterimanya tidaklah ringan. Bagaimanapun, selama ini dia memang mengejar Gracia, tapi Gracia selalu bersikap dingin kepadanya. Namun, Gracia malah tersenyum kepada orang biasa ini! Menyebalkan!
"Tuan Jordie, aku tidak butuh persetujuanmu untuk berteman dengan siapa pun."
Gracia berkata dengan dingin. Kebetulan, Grup Aliansi Bintang dan Keluarga Palmer ada kerja sama. Makanya, Jordie terus berjuang. Kalau tidak, mana mungkin Jordie ada kesempatan untuk berbicara kepada Gracia.
"Aku..."
Jordie tidak berani memprovokasi Gracia, jadi dia hanya bisa melampiaskan kebenciannya pada Jansen. Dia mengulurkan tangan dan tersenyum, "Haha, aku adalah Jordie Palmer. Karena kamu adalah teman Gracia, maka kamu juga adalah temanku."
Jansen melirik tangan Jordie, dia langsung mengerti maksud Jordie. Jansen pun mengulurkan tangannya.
Setelah mereka berjabat tangan, tiba-tiba, Jordie mengerahkan tenaga. Dia adalah anggota Keluarga Palmer. Sejak kecil, dia sudah mempelajari ilmu bela diri, kekuatannya sangat besar.
Di luar, dia tidak berani mengeluarkan emosinya di depan Gracia. Namun, di belakang, dia ingin membuat Jansen menyesal.
Kurang ajar, berani mempermainkanku? Apakah dia tidak tahu siapa aku?
Begitu ide ini muncul, wajah Jordie langsung membeku. Dia menyeringai dan berusaha tidak mengeluarkan suara.
Dia baru menyadari, dia tidak mungkin bisa meremas tangan Jansen. Tenaga Jansen lebih kuat dibandingkan dengan tenaganya. Tangannya seperti penjepit besi!
Sekarang, dia menyesal. Dia ingin segera menarik tangannya.
"Tuan Jordie, kamu terlalu sungkan."
Jansen berkata sambil tersenyum.
Sungkan kepalamu!
Tampak luar, Jordie masih tersenyum, tapi hatinya sedang memaki Jansen. Namun, dia tidak boleh mempermalukan diri di depan Gracia.
Hanya saja, sikap ini tidak akan bertahan lama.
"Lepaskan, sakit! Nona Gracia, dari mana kamu mengenal manusia barbar ini?"
Mana mungkin Jordie bisa bertahan. Rasanya, tulang pergelangan tangannya sudah mau patah.
"Bukankah kamu yang menantang kekuatan tanganku?"
Jansen melepaskannya sambil tersenyum, dia tidak bisa berkata-kata. Bukannya Jordie yang mulai duluan menggunakan tenaga? Sekarang malah mau menyalahkan Jansen.
"Tuan Jordie, Jansen tidak hanya temanku, tapi adalah pacarku. Mulai sekarang, jangan menggangguku lagi!"
Saat ini, Gracia berbicara dengan perlahan.
Jansen terkejut, tapi segera mengacuhkannya. Dia sudah pernah beberapa kali merasakan trik seperti ini.
"Dia adalah pacarmu?"
Pupil Jordie membesar, dia sudah tidak tahan dan mengamuk, "Nona Gracia, aku sudah lama mengejarmu. Lantas, apakah kamu tidak punya sedikit pun perasaan untukku?"
"Tidak ada."
Gracia menggelengkan kepalanya.
Jordie semakin marah, dia menunjuk Jansen sambil berteriak, "Apa bagusnya dia? Pakaian tidak bermutu, tidak berkharisma, tidak kaya, tidak punya latar belakang keluarga yang bagus pula. Katakan, apa bagusnya sampah ini dibandingkan dengan aku?"
"Tuan Jordie, jaga bicaramu! Dia bukan sampah!"
Wajah Gracia berubah menjadi dingin, "Dia memang tidak mempunyai semua yang kamu katakan itu. Tapi, kekuatan fisiknya lebih bagus daripada kamu."
"Kekuatan fisik, aku, aku, aku!"
Jordie ingin membantah, tapi saat adu kekuatan tangan tadi, dia sudah kalah. Untuk masalah kekuatan fisik, dia memang tidak bisa dibandingkan.
"Kekuatan fisiknya lebih bagus dibandingkan kamu. Di waktu tertentu, dia bisa memuaskanku. Untuk masalah ini, kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dia," kata Gracia.
Jordie hampir muntah darah, dia mengamuk, "Aku mengejarmu berkali-kali, rupanya kamu mencampakkan aku karena alasan ini? Kamu sangat mengecewakanku, ternyata kamu tidak memiliki sedikit pun perasaan untukku. Ditambah, jangan-jangan, kalian sudah melakukannya?"