
"Pelan-pelan, jangan angkat sembarangan, pinggangku patah!"
"Cepat pergi dari tempat ini!"
Keringat seukuran kacang memenuhi kening pria itu. Dia sama sekali tidak bisa bergerak dan dibawa keluar meninggalkan lokasi dengan tandu.
Tentara bayaran pun sebenarnya sudah tidak berani berhenti lebih lama lagi di tempat ini. Lengan mereka masih mati rasa akibat serangan jarum perak yang Jansen lancarkan barusan. Mereka masih bisa menggenggam senjata api, tapi teknik menembak mereka tidak akan sebagus biasanya.
Dalam kondisi seperti itu, sudah barang tentu mereka ingin cepat-cepat meninggalkan tempat mengerikan ini.
Asal tahu saja, mereka telah melakukan beberapa penyelidikan terhadap tempat ini sebelum melakukan misi. Mereka menemukan bahwa tim peneliti dari Negara Magnesium pernah masuk ke tempat ini!
Namun, pada akhirnya tim dan seluruh pasukan yang bertugas menghilang. Dan diketahui hanya ada satu orang yang berhasil keluar dengan selamat.
Bagi orang asing seperti mereka, tempat ini lebih mirip seperti istana iblis. Jika bukan karena bayaran yang diberikan Grup Teknologi Global sangat besar, mana mungkin mereka akan datang ke tempat mengerikan seperti ini!
Di sisi lain, Preston terlihat sedang memegang kompas mengamati jalan. Melihat arah yang dituju benar, dia pun menatap ke arah Jansen.
"Senior Jansen, kenapa anda melepaskan mereka begitu saja?" tanya Preston tidak mengerti.
Jansen nampak tersenyum mendengarnya. "Mereka tidak akan bisa keluar dari istana ini. Makhluk-makhluk aneh itu sudah mengincar mereka semua!" jawabnya.
Mata Preston pun terbelalak. Yaps, tepat sekali, bukankah tangan tentara bayaran terluka? Jika zombie mengincar mereka, bisa dipastikan mereka tidak akan sanggup kabur dari tempat ini.
"Jansen, sekali lagi terima kasih!"
ucap Alice pada Jansen.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?"
tanya Jansen yang memang sejak tadi merasa penasaran.
"Sebenarnya, masalahnya bermula dari sini. Dua puluh tahun lalu, ayahku pernah mendatangi tempat ini. Saat itu, semua orang tewas dan hanya ayahku sendiri saja yang bisa keluar dari sini. Tapi entah kenapa Grup Teknologi Global tahu akan hal ini dan meminta ayahku untuk memandu jalan. Hanya saja, karena ayahku berada dalam fase pemulihan, kekuatan fisiknya tidak memungkinkan untuk mendaki Gunung Kunlun, terpaksa aku yang harus menggantikan ayahku ke sini!" ucap Alice panjang lebar mencoba untuk menjelaskan.
"Kamu tahu jalan masuk ke dalam tempat ini?" tanya Preston terheran-heran.
"Dulu, ada seorang pelayan yang berasal dari Huaxia di tengah-tengah keluargaku. Leluhurnya sempat ikut andil dalam pembangunan istana itu dan meninggalkan sebuah peta. Kemudian, terjadilah perang di Huaxia. Pelayan itu pun pergi ke luar negeri dan mengabdi pada kakek buyutku di sepanjang hidupnya. Sebelum meninggal, dia memberikan sebuah peta pada keluargaku!" imbuh Alice.
Mendengar hal itu, Jansen pun tahu bagaimana situasinya, "Tempat ini tidak diperuntukkan untuk orang asing. Begini saja, bagaimana jika aku lebih dulu mengantarmu pergi dari sini!?" usul Jansen.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih, Jansen. Maaf sudah merepotkanmu!"
Alice sangat senang saat mendengarnya. Sebagai orang asing, sebenarnya dia memiliki jiwa petualang yang sangat besar. Ditambah lagi rasa penasarannya terhadap rahasia kuno yang ada di Huaxia. Saat pertama kali mendengar mengenai tempat ini, hal pertama yang ada dalam benaknya adalah ingin pergi! Tapi setelah bertemu dengan makhluk-makhluk aneh sebelumnya, dia pun merasa takut dan ingin segera pergi dari tempat ini.
"Preston, kamu tunggu aku di sini!"
ucap Jansen sembari menatap Preston.
Preston pun terlihat mengamati keadaan sekeliling.
Jujur, dia tidak mempunyai keberanian berada di tempat ini sendirian.
"Terserah, pilihan ada di tanganmu!"
jawab Jansen nampak acuh. Dia pun membawa mereka berdua keluar dari istana.
Sebelumnya, mereka menyusuri jalur samping yang ada di istana. Tapi sekarang, mereka justru melewati jalur utama di tengah aula istana.
Jalur utama yang melalui aula tengah istana seringkali menjadi tempat yang paling berbahaya. Karena seorang raja pasti akan melewati jalur utama ini untuk keluar istana dan kemudian reinkarnasi. Itu artinya, akan ada banyak makhluk aneh yang berlutut dan menyembah sang raja. Dengan kata lain, jalur utama yang melalui aula tengah akan mendapatkan pengawasan yang jauh lebih ketat.
"Kak Jansen, kompas yang diberikan sekte pada kita tidak menunjuk ke jalan ini!"
ucap Preston mencoba untuk memperingatkan Jansen.
"Akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi jika kita harus menyusuri jalur yang ada di samping istana. Kita sudah menghabiskan banyak waktu di sini, lebih baik kita lewat jalur utama saja!"
Jansen tahu mengenai larangan mengambil jalur utama. Tapi karena tidak ingin membuang banyak waktu lagi, dia pun terpaksa melewatinya.
Seiring dengan kaki yang terus melangkah, mereka pun tiba di aula utama istana. Aula utama istana memiliki ukuran yang sangat luas, tak jauh berbeda dengan alun-alun yang ada di luar sana. Lantainya pun terbuat dari logam yang tak dikenal. Dan samar-samar memancarkan cahaya biru yang bersinar di kegelapan. Selain itu, juga terdapat banyak patung dan semuanya berbentuk seperti burung bangau.
Ini merupakan sebuah penggambaran dari sebuah reinkarnasi, kehidupan yang kekal abadi!
Namun, ada sesuatu yang aneh di sini. Terdapat sebuah patung bangau yang berwarna hitam.
Dan jika memperhatikan kedua sisi aula utama istana, banyak patung yang seolah sedang dalam posisi berlutut. Di depan patung itu, juga ada banyak peti mati.
Peti mati ini milik istri dan keluarga Raja istana.
Pada zaman dahulu, terutama di keluarga besar dan negara-negara kecil lainnya. Begitu Raja wafat, orang-orang yang tidak memiliki darah keturunan istana saja yang bisa hidup. Sedangkan yang lainnya, kerabat atau semacamnya harus ikut menemani sang Raja dimakamkan.
Karena berdasarkan pemahaman orang-orang dulu, kematian bukanlah kematian yang sebenarnya. Mereka hanya berpindah ke tempat lain. Jadi, itu sebabnya anggota keluarga harus menemani dan pergi ke tempat itu untuk mengurus Raja mereka.
Contohnya seperti kaisar Qin yang ada di Huaxia. Saat beliau wafat, banyak patung terakota yang menjaganya.
Bahkan ada sebuah catatan yang mengisahkan bahwa sebenarnya kaisar Qin sudah bangkit. Tapi masih belum menemukan jalan keluar dari makamnya.
Mungkin ini bisa disebut sebagai gagalnya keabadian.
"Sepertinya... udara di sini begitu dingin!"
Suasana di sekitar sangat sunyi. Alice pun mencoba berjalan sejenak sembari memperhatikan sekeliling. Dia merasakan hawa yang sangat dingin dan aneh. Bahkan jauh lebih aneh daripada jalan yang ada di samping istana.
"Kak Jansen... apa zombie yang ada di samping istana akan datang ke tempat ini?" tanya Preston sedikit merasa takut.
"Aku rasa tidak! Pembagian status di zaman kuno sangatlah ketat. Para tukang dan kuli tidak diizinkan masuk ke dalam aula istana!"ucap Jansen nampak acuh.