
"Anak muda, kamu punya kemauan untuk maju, bagus, nenek setuju!"
Nenek langsung tersenyum dan berkata kepada Jansen, "Sekarang, Elena belum bertunangan dengan anak Keluarga Woodley, kamu masih suami Elena, jadi tinggallah dan makan di sini hari ini!"
Santapan makan ini terasa sangat menyiksa bagi Jansen dan Elena. Meskipun dengan keberadaan nenek, mereka semua tidak berani menghina dan mencela Jansen, tetapi mereka semua memberikan ekspresi wajah yang penuh kebencian kepada Jansen.
"Jansen, kamu belum makan hidangan ini, kan? abalon bersisik, abalon yang berasal dari Afrika Selatan, dan ini adalah ikan buntal Sungai Yangtze yang direbus. Tidak banyak orang yang bisa menangani ikan buntal. Itu dibuat oleh koki keluarga kami. Makanan ini diperkirakan menghabiskan gaji tiga tahunmu. Kamu harus makan lebih banyak!"
Silvia tampak menawarkan makanan dengan ramah, tetapi sebenarnya perkataan tersebut terasa sangat menghina bagi Jansen.
"Jansen, Aku lihat pakaian Elena adalah pakaian obral pinggir jalan. Nanti setelah selesai makan, kamu pergi cari Paman Keempat dan ambil sedikit uang darinya untuk belikan pakaian yang lebih layak untuk Elena. Bagaimanapun juga, Elena adalah anggota Keluarga Miller, dengan cara berpakaian yang ketinggalan zaman seperti ini, bisa mempermalukan Keluarga Miller!" ucap istri paman ke-empat.
Kata-kata mereka menusuk seperti paku.
"Terima kasih!"
Jansen menyantap makanan dengan lahap dan tidak memperhatikan tatapan penuh penghinaan di sekelilingnya. Mumpung ada makanan gratis, makan saja sampai habis supaya Keluarga Miller jatuh miskin suatu hari nanti.
Namun, sesekali Jansen menatap Jessica. Jansen akan selalu ingat dengan dendam ini.
Saat berada di Kota Asmenia, Jansen dipaksa menampar diri sendiri. Jansen menanggungnya untuk Elena, tapi sekarang sudah mencapai batasnya.
"Baiklah, aku sudah makan dan minum dengan kenyang, saatnya pulang!"
Setelah makan, Jansen memberi salam kepada nenek dan pulang.
Tindakan ini telah menimbulkan ketidakpuasan di Keluarga Miller. Mereka semua terus berbicara di belakang.
"Kalian lihat Jansen ini, dia sangat rakus tadi, dia pilih lauk yang mahal-mahal untuk disantap!"
"Hehe, ekonomi keluarganya kurang baik, oleh karena itu pasti belum pernah makan makanan selezat ini, ya wajar sekali!"
"Menurut aku, dia terus menempel dengan Elena hanya karena ingin mendapatkan uang Keluarga Miller!"
Jansen juga mendengar perkataan mereka ini, tapi dia juga sudah tidak peduli. Kalau bukan berkat kerja keras generasi sebelumnya, di antara anak-anak muda seperti mereka ini, siapa yang bisa dibandingkan dengan dirinya?
"Jansen, ini semua salahku. Terakhir kali aku membuatmu berlutut untuk mengusirmu di hari ulang tahunku, setelah itu mereka terus menghinamu karena kejadian ini!"
Elena mengantar Jansen keluar pintu.
"Saat itu, kamu hanya ditipu oleh Jessica!" ujar Jansen dengan tidak peduli.
"Jansen, Jessica dengan sengaja mencoreng namamu di Keluarga Miller. Dia mengatakan kalau kamu ini tidak ada gunanya. Sebaiknya, aku cari waktu untuk membantumu berbicara dengannya!" Elena tahu kemampuan yang dimiliki oleh Jansen saat berada di Kota Asmenia, apalagi Jansen ini adalah seorang bos yang punya harta senilai satu miliar yuan.
"Tidak apa-apa, cepat atau lambat nanti, Jessica pasti akan menyesal karena telah berbuat seperti itu!"
Jansen menghentikan Elena. Lagi pula, tidak ada gunanya menjelaskan kepada mereka, seberapa hebat pun dirinya dulu, sekarang masih belum bisa dibandingkan dengan Tuan muda dari Keluarga Woodley. Semua orang di Keluarga Miller tak akan memihak kepada Jansen.
Setelah lama berbincang dengan Elena, Jansen akhirnya pergi. Karena jaminan dari nenek, seharusnya tidak akan ada orang di Keluarga Miller yang berani mengganggu Elena. Oleh karena itu, Jansen juga merasa sangat lega.
"Kakak Ketiga, suamimu sangat keras kepala. Ada orang yang memang tidak ingin bekerja keras, hanya memikirkan cara untuk mendapatkan harta dengan usaha minimal, dan mencapai kesuksesan instan!"
Elena baru saja kembali ke rumah Keluarga Miller, datang seorang gadis cantik berlari menghampiri Elena, gadis ini bernama Naomi Miller, adik perempuan Elena.
"Aku tadinya mengagumi kakak ipar. Dia berani datang kemari dengan hanya bermodalkan keberanian. Akan tetapi, setelah Melihat dia seorang pria dewasa berlutut di depan istrinya, membuatku merasa jijik. Zaman sekarang ini, harga diri sudah tidak penting, apalagi kalau demi uang!"
Naomi termasuk salah satu dari sedikit anggota Keluarga Miller yang mengakui identitas Elena. Namun, Naomi sangat meremehkan Jansen.
Elena seakan tidak peduli dan tertawa sambil berkata, "Naomi, aku dengar kamu sekarang sudah menjadi dokter!"
"Benar!"
Naomi menganggukkan kepalanya.
"Kakak iparmu juga seorang dokter, tapi bagi dirinya, keahlianmu sebagai dokter anak tidak ada apa-apanya dibandingkan dia!" Elena berkata demikian lalu segera pergi.
"Oh! Jansen, cepat atau lambat aku akan membuka topengmu, biar kakak ketiga bisa Melihat dengan jelas kamu ini adalah pria pecundang!"
Naomi berkata dengan penuh kebencian dan semakin merendahkan Jansen.
....
Di sisi lain
"Kak Arthur, terima kasih banyak atas bantuanmu tadi!"
Jansen berjalan pulang bersama Arthur, tetapi dia masih terkejut mengetahui bahwa Arthur ternyata adalah anak Keluarga Carson di Ibu Kota.
"Terima kasih apanya, kalau bukan kamu yang menolong aku di atas pesawat, mungkin aku sudah meninggal sekarang ini!" kata Arthur sambil tertawa menggelengkan kepalanya. Arthur lanjut bertanya dengan cemas, "Oh ya, masih ada waktu setengah tahun, apa rencana kamu untuk mengubah pandangan mereka terhadap kamu?"
Sebenarnya, Arthur merasa aneh karena di mata Keluarga Miller, Jansen seperti tidak ada harganya. Namun, setelah berkawan dengan Jansen dan berhubungan dengannya, dia tahu bahwa pemuda ini bukanlah orang biasa.
Tentu saja, dibandingkan dengan anak Keluarga Woodley itu, Jansen memang masih belum ada apa-apanya. Keputusan Keluarga Miller untuk memilih tuan muda keluarga Woodley tentu dapat dimengerti.
"Masih ada waktu setengah tahun lagi, sekarang masih terlalu dini untuk tahu hasilnya!"
Pada kenyataannya, Jansen juga tidak terlalu percaya diri. Dia selalu merasa masih ada sesuatu yang kurang dalam dirinya.
"Lebih bagus begini saja, kamu ikut aku berjuang di kamp militer saja, asalkan kamu berhasil menjadi Raja prajurit, kamu pasti akan sangat berkuasa!" ucap Arthur memberinya Saran.
Jansen merenung dan menggelengkan kepalanya, "Aku baru saja datang ke Ibu Kota, semuanya masih terasa asing. Jika aku pergi menjadi tentara, maka aku akan semakin asing dengan Ibu Kota, aku rasa lebih baik tunda dulu rencana ini!"
"Benar juga!"
Kedua pria itu berjalan dan berbincang-bincang. Saat ini, sebuah jip berhenti di samping kedua pria itu. Seorang pemuda berseragam militer tersenyum dan berkata, "Ini Jansen kan? Aku orang yang disuruh oleh Penatua Jack kemari, Penatua Jack sudah datang ke Ibu Kota, dia sedang menungggumu!"
Jansen sangat gembira. Karena pertama kali datang ke Ibu Kota, dia tidak terbiasa dengan segalanya dan sedang menunggu Penatua Jack memberinya petunjuk.
"Jansen, aku tidak akan mengganggumu, Saranku tadi coba kamu pertimbangkan dulu, kalau ada perlu jangan lupa hubungi aku!"
Arthur juga tidak ingin mengganggu Jansen dan kemudian pergi.
Jansen naik mobil menuju ke tempat Penatua Jack. Tak lama setelahnya dia segera tiba di kediaman Penatua Jack. Setelah Melihat Jansen, Penatua Jack datang untuk menyambutnya secara langsung, "Haha, Jansen, aku sudah dengar masalahmu dengan Keluarga Miller. Kamu bahkan berhasil memperjuangkan agar diberi waktu setengah tahun, dan tidak sedikit pun bertikai lagi dengan Keluarga Miller. Kamu melakukannya dengan sangat baik!"
Penatua Jack sangat jelas, sungguh langka bila ada orang luar daerah yang bisa datang ke keluarga elit di Ibu Kota dan berhasil memperjuangkan sebuah kesempatan.
"Itu kebetulan saja!"
Jansen tertawa, jika bukan karena bantuan Kak Arthur, itu semua tetap akan berantakan.
"Bagaimanapun, kamu kini punya waktu selama setengah tahun dan itu sangat bagus!"
Penatua Jack menyambaut Jansen di ruang tamu dan menuangkan segelas air untuknya.
"Meskipun aku telah mendapatkan kesempatan berjuang selama setengah tahun, segala sesuatu di Ibu Kota ini masih sangat asing bagiku. Aku masih pendatang baru di sini, benar-benar tidak tahu bagaimana memulainya!"
Jansen meminum air sambil berkata, Keluarga Miller dan Keluarga Woodley adalah dua keluarga yang sangat besar, ditambah lagi di sini bukan Kota Asmenia, kalau ingin berhasil dalam waktu setengah tahun, ini benar-benar sedikit sulit.
Namun, Penatua Jack, matanya berkedip-kedip dan tersenyum, "Ibu Kota memang masih asing bagimu, tetapi kamu bukannya tanpa peluang. Sekarang orang-orang di atas sedang memperhatikan kamu, dan yang dapat kamu lakukan hanyalah menggunakan kemampuan kamu untuk mengubah pandangan mereka!"
"Kemampuan?"
Jansen mengerutkan kening.
"Ya, kemampuan medismu!"
Penatua Jack berkata dengan sungguh-sungguh, "Gunakan keahlian medis kamu untuk membuka peluang di Ibu Kota, dan ini bukan Kota Asmenia, kamu tidak bisa lagi terlalu rendah hati, kamu harus bebas melakukannya selama itu tidak melanggar hukum, walau langit akan runtuh, aku akan selalu mendukungmu!"