
"Instruktur Jansen, apakah kita sampah?"
Setelah mengobrol sebentar, Erika Rotter tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya.
Jansen menatap semua orang dan mendapati semuanya terlihat murung Jelas, kata "sampah" Eros telah memberi mereka luka yang dalam
"Di sini tidak pernah ada sampah!"
Jansen berkata dengan lemah, "Bahkan orang hebat pun tidak ahli dalam semua hal. Misalnya Dewa Pertempuran, jika kamu memintanya untuk menyembuhkan seseorang, dia pasti
tidak akan bisa. Lalu apakah dia sampah? Alasan mengapa Instruktur Eros memanggil kalian sampah adalah karena metode pelatihan mereka tidak berpengaruh pada kalian!"
"Kenapa?"
Mata semua orang berbinar.
"Karena metode latihannya ditujukan untuk Raja prajurit dan para elite, sedangkan kalian masih jauh dari tingkat ini. Metode pelatihan ini tidak hanya tidak berguna bagi kalian, tapi juga berbahaya!"
Jansen menjelaskan, "Umpamanya, seperti kalian masih belum bisa berjalan, tapi sudah mulai belajar berlari!"
"Instruktur Jansen, kau benar!"
Erika Rotter merenungkannya dan mengangguk dengan sungguh-sungguh, "Kalau begitu, kita harus bagaimana?"
"Sebenarnya, saat aku bertarung dengan kalian tadi, aku menemukan bahwa seni bela diri kalian sangat aneh. Namun bukan tentang gerakan kalian, lebih tepatnya gaya kalian!"
Jansen berpikir dan berkata, "Kalian seperti membabi buta berjuang untuk menang dan ingin mengalahkan lawan dalam satu gerakan!"
"Instruktur Jansen, bukankah tujuan bertarung adalah untuk mengalahkan lawan?" tanya Si Botak.
Jansen tidak bisa menahan tawanya, "Tujuan sih tujuan, tapi mengalahkan lawan dalam satu gerakan adalah dua hal yang berbeda. Sederhananya, semangat kalian membuatku merasa berani, kuat dan gagah, semangat kalian seperti harimau!"
"Kami adalah tentara, tentu saja semangat kami tidak boleh lemah. Selain itu Instruktur Eros pernah memberi tahu kami, bahwa dalam pertarungan tatap muka, orang yang beranilah
yang akan menang. Jika semangat kami tidak dapat menekan lawan, maka kita telah kalah setengah dari pertarungan!" Erika Rotter menjelaskan.
Jansen menggelengkan kepalanya. "Memang kamu tidak bisa kalah dari lawanmu dalam hal semangat, tetapi caranya juga bukan dengan maju membabi buta seperti itu. Misalnya,
lawanmu lebih kuat dan kau hanya berpikir untuk menghadapi kekerasan dengan kekerasan. Dengan begitu bisakah kau tak dikalahkan?"
"Kalian seharusnya membuang kelemahan kalian dan memanfaatkan kelebihan kalian. Temukan kelemahan lawan kalian dan serang!"
"Biar kuberi contoh lagi. Dalam hujan peluru di medan perang, apakah kalian akan bergegas maju begitu saja? Tidak kan, kalian pasti akan menghindarinya dan menyerang dari samping!"
"Bertarung juga sama, gunakan apa yang kalian punya, tunjukkan kelebihan kalian dan sembunyikan kelemahan kalian!"
Mendengar ucapan Jansen, Erika Rotter dan yang lainnya menjadi bersemangat.
Dulu, Eros mengajari mereka bahwa walau kalah tapi lakukanlah yang terbaik, sehingga mereka jadi membentuk kebiasaan!
Tapi ucapan Jansen telah menunjukkan poin yang penting!
"Aku mengerti!"
Erika Rotter berkata dengan gembira, "Sama seperti Dokter Calon Raja prajurit nomor satu Wilayah Militer Huaxia Utara. Dia seorang diri mengalahkan sekelompok tentara bayaran luar negeri. Dia menggunakan apa yang dia punya
dan memanfaatkan keahlian menembak jitunya. Lagi pula, jika dia hanya melawan kekerasan dengan kekerasan, dia tidak akan bisa mengalahkan seluruh kelompok tentara bayaran tersebut seorang diri!"
"Sepertinya kamu cukup tahu tentang dokter itu. Ya, itu masuk akal!" Jansen mengangguk sambil tersenyum
"Tentu saja aku tidak asing dengannya. Semua buku pelajaran menceritakannya dan aku sangat mengagumi Dokter itu. Tidak ada yang tidak bisa dia lakukan, dia pasti akan menjadi Raja prajurit!" Wajah Erika Rotter penuh dengan rasa kagum.
Jansen langsung menggelengkan kepalanya. "Raja prajurit, kurasa dia tidak bisa melakukannya!"
Jansen memang tidak tertarik dengan gelar Raja prajurit.
"Instruktur Jansen, meskipun kau adalah instruktur kami dan kami menghormatimu, Dokter adalah idola kami. Kau tidak boleh menghinanya. Dia pasti akan menjadi Raja prajurit!" Erika Rotter tampak tidak senang.
Jansen terdiam untuk beberapa saat. Dia adalah dokter itu. Menjadi Raja prajurit atau tidak, masa dirinya sendiri tidak tahu?
Dia benar-benar tidak tertarik!
"Ketua Tim, jangan berbicara menyimpang!"
Si Botak tiba-tiba menyela dan menatap Jansen, "Instruktur Jansen, aku akan melawan mereka nanti. Menurutmu apa yang harus kulakukan supaya lebih baik?"
"Sederhana saja, kamu akan tahu saat melawanku!"
Jansen berdiri dan berkata, "Ingat, jangan langsung mengeluarkan kekuatanmu. Kamu harus bereaksi pada kelemahan lawan, barulah gunakan kelebihanmu untuk menyerang!"
Sambil berbicara, keduanya sedang saling bertarung.
Buk!
Si Botak segera dikalahkan, tapi dia sepertinya merasakan sesuatu!
"Instruktur Jansen, lagi!"
Tiga jam berlalu dengan tenang. Sejumlah besar sosok tiba-tiba memasuki gerbang lapangan, Eros dan yang lainnya telah datang.
"Botak, majulah!"
Jansen menatap Si Botak dan berkata.
Si Botak menarik napas dalam-dalam dan berjalan maju.
"Botak, semangat!"
Erika Rotter dan yang lainnya sangat gugup. Lagi pula, jika mereka kalah, Instruktur Jansen harus bersujud dan meminta maaf. Mereka melibatkan Instruktur Jansen dalam masalah
ini dan tidak ingin Instruktur Jansen dipermalukan.
"Devin, keluarlah!"
Eros menyeringai dan menyuruh pria tadi maju bertarung.
Melihat Devin maju bertarung, semua orang-orang di pihak Eros tersenyum menyeringai.
Sebelumnya, Devin dengan mudah mengalahkan Si Botak. Sekarang baru tiga jam berlalu, bagaimana mungkin dapat mengubah kekalahan menjadi kemenangan!
Selain itu, tangan Si Botak terkilir. Bahkan jika dia pergi ke dokter militer untuk memulihkan tulangnya, kekuatannya pasti tidak akan sekuat biasanya.
"Botak, apa tanganmu tidak bermasalah?"
Pria bernama Devin itu mencibir. Si Botak dan kedua lengannya telah ia hancurkan sebelumnya.
"Devin, hanya wanita yang suka omong kosong!" Si Botak tampak tak acuh.
"Dasar cari mati!"
Devin berteriak dengan dingin dan menerkam Si Botak. Mereka berdua langsung berkelahi, tinju dan kaki mereka saling memukul.
Namun kali ini, Si Botak tidak segera kalah. Sesuai instruksi Jansen, ia dengan sabar mencari kelemahan lawannya.
Buk bak buk!
Lima menit berlalu dengan tenang, dari kedua orang itu masih belum ada yang kalah!
Devin sedikit kesal dan tidak sabar. Sebelumnya Si Botak telah dikalahkan olehnya. Mengapa setelah tiga jam bisa menjadi sulit begini?? Semakin dia memikirkannya, dia semakin marah. Dia merasa terhina!
Bagaimanapun kekuatannya, kecepatannya dan pengalaman bertarungnya semuanya di atas Si Botak!
Eros pun tidak tahan untuk tidak mengutuknya, "Botak, kamu terus-terusan menghindar. Kamu tentara apa bukan?"
Begitu Eros berbicara, Devin menemukan kesempatan. Akan tetapi, saat ini telapak tangan Si Botak tiba-tiba menyerong menghindari pukulan Devin. Ia membalikkan tangannya dan
mencengkram lengan Devin kemudian menariknya tiba-tiba!
"Ah!"
Lengan Devin terkilir.
Si Botak memanfaatkan situasi untuk mengejar
kemenangannya. Sebelumnya ia terus menahan diri demi menemukan kelemahan Devin!
Buk!
Tubuh nya keras sekali lagi menyerang dan mengenai bahu kiri Devin. Dengan suara "krek", lengan kiri Devin pun terkilir!
Duk Duk Duk!
Devin terus mundur hingga akhirnya pantatnya jatuh ke lantai!
Melihat Devin yang tercengang, Si Botak merasa bangga dan gembira. Dia tertawa dan berkata, "Kau lumpuhkan kedua tanganku, sekarang kukembalikan padamu. Pergilah cari dokter militer!"
"Kita menang!"
Tim Anjing Laut terus bersorak-sorai. Seperti yang diharapkan, perkataan Instruktur Jansen benar. Eros, bajingan ini, dia sama sekali tidak layak menjadi instruktur dan tidak mampu mengajar murid sesuai dengan bakat mereka!
Tanpa ragu, kemenangan Si Botak telah memberi mereka kepercayaan diri yang kuat.
Lalu melihat Eros dan yang lainnya, wajah mereka menggelap dan tidak memercayai fakta yang ada di depan mata mereka.
Eros memikirkan ini dan itu, tetapi dia selalu merasa ada yang tidak beres. Dia berteriak, "Ini tidak dihitung. Dia hanya terus-terusan menghindar, jika di medan perang dia hanyalah pembelot!"
"Hentikan omong kosongmu!"
Jansen mendengus dan menyela, "Kenali musuhmu dan dirimu sendiri untuk menang di setiap pertempuran. Kamu hanya mengajarkan mereka untuk menghadapi kekerasan dengan kekerasan. Jika kau menempatkan mereka di medan perang, mereka akan menjadi tim bunuh diri. Memang tidak mudah bagi pasukan kita untuk melatih mereka, tapi bukan artinya membiarkanmu untuk mengajari mereka mati!"
"Lalu, kau mengajarkan bahwa mereka tidak dapat kehilangan semangat serta memamerkan kekuasaan dan prestisemu yang hanya sementara. Kau melupakan tujuan mereka, yaitu untuk menang dengan cara apa pun!"
"Kau tidak pantas menjadi instruktur!"