
Wanita tua, Kak Rose dan Keisha semuanya diam di tempatnya.
Mereka sama sekali tidak bisa melihat pedang Jansen dan hanya melihat cahaya pedang, bahkan dari mana pedang itu berasal mereka tidak melihatnya!
Ini seperti sihir!
Terutama wanita tua itu, dia hampir tidak bisa
menggambarkan perasaannya.
Bagaimanapun para Tetua dari Sekte Penyihir adalah Master Teknik Xuan yang sangat terkenal dan kekuatan Tetua dari Sekte Belalang itu sebanding dengan Pemimpin Sekte ke 81!
Tetapi semuanya mati di tangan seorang pemuda!
Kekuatan ini hanya bisa digambarkan sebagai sangat hebat dan tidak terduga!
"Yang Mulia!"
Wanita tua itu berdiri dan memberi hormat kepada Jansen.
Jansen mengangguk, menatap Keisha dan berkata, "Keisha, aku bilang aku bisa membantumu!"
"Wah!"
Keisha memandang Jansen seperti orang bodoh dan langsung menangis, "Bagaimana aku tahu meskipun seni bela dirimu hebat, ternyata kamu juga bisa Teknik Xuan? Kalau aku tahu, dari awal aku akan mengajakmu untuk datang bersamaku!"
Terlihat jelas kalau Keisha khawatir.
Kemudian dia berlari ke arah Jansen memeluknya dan menangis. Air matanya membasahi bahu Jansen. Jansen diam-diam merasa malu, tanpa sadar dia teringat kata-kata Elena, tanpa daya dia menggelengkan kepalanya.
Jansen benar-benar tidak ingin berselingkuh dengan wanita lain, tetapi wanita cantik selalu menghampirinya. Bagaimana ini?
"Sudah, jangan menangis. Pulanglah denganku, masalah ibumu, aku akan membantumu menyelesaikannya!" kata Jansen menghibur.
Keisha mengangguk tapi setelah menggelengkan kepalanya dia berkata, "Jansen terima kasih, tapi masalah ibuku, aku ingin menyelesaikannya sendiri!"
Jansen mengerutkan keningnya, "Bagaimana rencanamu menyelesaikannya?"
"Aku akan pulang dengan nenekku untuk belajar keahlian darinya!"
"Mereka bukan orang biasa, Lingkungan seperti itu sangat kacau dan kamu adalah seorang pramugari, kamu punya hidupmu sendiri!"
"Aku tahu, tapi aku sudah masuk ke dalam lingkungan ini dan aku tidak mau menyerah di tengah jalan!"
Tidak peduli bagaimana Jansen menasihatinya, dengan bersikeras Keisha menggelengkan kepalanya dan akhirnya Jansen tidak bisa apa-apa.
Wanita tua yang berada sampingnya berkata, "Yang Mulia jangan khawatir, kami akan memperlakukan Keisha dengan baik. Dia menyiapkan hatinya untuk menempuh jalan yang dia pilih!"
"Keisha yang memilih jalan itu, aku tidak keberatan dengan keputusannya!"
Jansen menganggukkan kepalanya, tetapi tiba-tiba wajahnya menjadi dingin, "Jika aku tahu kalau kalian menyakitinya, aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia sekali pun!"
Tanpa sadar wanita tua dan Kak Rose bergidik dan tidak berhenti mengangguk.
"Jansen, terima kasih!"
Keisha menyeka air matanya dan mencium pipi Jansen, tersipu dan berkata, "Tunggu sampai aku berhasil teknik ini dan menyelamatkan ibuku, aku akan datang menemuimu!"
Sebenarnya dia tidak menyetujui Jansen membantunya terutama karena takdir hidupnya, dia sangat takut itu akan membahayakan Jansen.
"Baiklah!"
Jansen memegang kepalanya dan menyetujuinya. Tiba-tiba dia merasa sedikit kasihan pada Elena.
Namun saat ini dia tidak tega menolak Keisha.
"Oh ya, apa yang kamu katakan sebelumnya tentang rencana organisasi?" kata Jansen sambil menatap wanita tua itu lagi.
"Begini, ada kekuatan besar yang mengumpulkan sekte di dunia jianghu untuk bekerja sama dalam memproduksi sejenis ramuan gen. Kami juga diundang untuk mengendalikan mayat, tapi kami rasa itu akan menyebabkan masalah yang sangat besar jadi kami berhenti di tengah jalan!" kata wanita tua itu menjelaskan.
Ternyata benar, Keluarga Woodley meminta Sekte dunia jianghu untuk bekerja sama dengan mereka.
Dulu Jansen terlalu malas untuk mengurusi masalah di dunia jianghu, tapi dia berutang budi pada penatua Jack dan selalu berniat untuk membalasnya.
"Kalian tahu di mana tempatnya?"
"Soal ini, kami tidak tahu. Kami hanya tahu kalau ada 13 Pemimpin Sekte yang ikut bekerja sama!" wanita tua itu menggelengkan kepalanya, "Dan juga latar belakang kekuatan ini sangat kuat, orang biasa tidak akan bisa melawan mereka sama sekali. Ramuan yang mereka hasilkan bisa mengubah orang biasa menjadi seorang Master. Konon katanya mereka masih mengincar satu keluarga elit untuk mendapatkan seperangkat teknik kultivasi yang dimiliki keluarga elit itu!"
Wanita tua itu mengangguk, "Ramuan gen itu dapat membuat orang kehilangan akal sehatnya dan membuat orang mati menjadi hidup, tetapi dengan menggabungkan teknik kultivasi itu dapat membuat orang mati yang dihidupkan itu memiliki kesadaran, bahkan dikendalikan dan bisa memiliki pemikiran!"
"Orang dunia jianghu sangat menyebalkan!"
Jansen bertanya lagi, tetapi wanita tua itu tidak tahu teknik kultivasi keluarga elit mana, pada akhirnya Jansen hanya bisa menyerah.
"Jansen, aku pergi dulu!"
Setelah mengobrol sejenak, Keisha akhirnya pergi bersama wanita tua itu
Jansen tidak nyaman, tapi dia tetap menghormati jalan yang Keisha pilih. Dia pulang sendirian memandang malam yang tenang dan tiupan angin yang dingin, diam-diam perasaannya merasa sedih.
Walaupun Jansen malam ini sudah membantunya, tapi dia masih gagal untuk membuat Keisha tidak pergi, bisa dianggap kedatangannya sia-sia!
Tentu saja dia juga mendapatkan keuntungan, setidaknya dia bisa memastikan rekan kerja sama Keluarga Woodley.
Setelah memberi tahu penatua Jack apa yang dia ketahui, Jansen kembali ke rumah komunitas.
"Kak Natasha, kamu belum tidur?"
Di ruang tengah Jansen melihat Natasha sedang makan es krim, Jansen menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Ibukota di malam hari sangat dingin, tapi lantai di rumahnya menggunakan penghangat. Walau di luar sangat dingin, tapi di dalam rumah cukup hangat dan nyaman.
"Aku sedang menunggumu!"
Natasha masih makan es krim dan menonton TV dengan kaki terlipat.
Jansen diam-diam tidak bisa menahan dirinya melihat kaki putih dan panjang itu.
Kemudian dia melihat ruangan itu, kelihatannya sudah dibersihkan. Natasha memang seorang wanita yang mencintai kehidupannya.
"Elena di mana?"
"Pulang ke rumahnya!"
Diam-diam Jansen menghela napasnya. Sebelumnya dia benar-benar sangat marah, tetapi setelah kejadian Keisha, dia sadar kalau Elena benar.
Dia sudah menikah, tapi sering pergi bertemu dengan banyak wanita cantik, istri mana pun pasti tidak senang.
"Sebenarnya Keisha memang mengalami masalah, tapi mulai dari hari ini dia tidak akan kembali!" kata Jansen pelan.
"Jangan khawatir, aku percaya padamu!"
Kata Natasha sambil tersenyum.
Jansen mengira Natasha bertanya lebih banyak, ternyata dia sangat tenang dari awal sampai akhir. Natasha tidak mempertanyakan atau memarahinya, dia hanya diam-diam menemani Jansen.
Mungkin hanya Natasha yang bisa memahami kesulitan yang ada di hatinya.
"Andai saja Elena bisa pengertian sepertimu!"
Jansen tersenyum pahit. Lalu dia melihat ada anggur di atas meja, dia menuangnya dan meminumnya.
"Aku mengenal Elena saat masih SMA. Saat itu, dia adalah gadis paling cantik di sekolah kami. Dia sekelas denganku. Aku menyukainya pada pandangan pertama, tapi aku tahu aku hanyalah orang biasa sedangkan dia seorang putri. Aku
tidak pantas mendapatkannya!"
"Kemudian suatu hari aku terluka dan dia menyelamatkanku. Saat itu mobilnya mogok dan cuaca hari itu dingin, dia bersikeras menggendongku ke rumah sakit!"
"Sebenarnya aku selalu bermimpi. Dalam mimpi itu, Elena adalah putri dari negara kuno dan aku adalah jenderal dari negara kuno itu. Negara kuno itu binasa. Yang Mulia memerintahkan aku untuk melindungi sang putri seumur hidupku. Kemudian kami menjelajahi dunia, tetapi kami
akhirnya ditangkap oleh musuh. Lalu kami berdua mati di tangan musuh!"
"Aku tidak tahu apakah mimpi itu nyata atau tidak, sampai aku kehilangan ingatan. Kemudian aku diatur oleh ayahku untuk masuk ke Keluarga Lawrence untuk menjadi menantu mereka. Saat itu tiba-tiba aku merasa kalau pernikahan ini sudah diatur oleh surga!"
Jansen berkata sambil minum, seolah-olah dia tersenyum pahit dan juga tak berdaya, "Setelah lebih dari setahun menikah, kami sudah bertengkar berkali-kali dan berbeda pendapat berkali-kali. Aku berjuang untuk mempertahankan cinta dan pernikahan kami, tetapi terkadang aku sangat lelah. Sepertinya Elena terlalu baik, dia juga sangat cantik. Sejak kecil dia sudah memiliki sifat seorang putri. Akibatnya setelah menikah apa pun yang aku lakukan, dia merasa kalau akulah yang bersalah. Sebagai suami istri, dia selalu memimpin dan aku harus selalu menurutinya!"
"Mungkin janji dalam mimpi itulah yang membuatku bertahan, tapi itu hanyalah mimpi!"
Jansen memang terlihat lelah dan pikiran untuk menyerah muncul di benaknya.
"Adik bodoh, pernikahan mana yang tidak memiliki masalah?"
Natasha buru-buru menghibur, "Meskipun Elena sedikit keras kepala, tapi dia baik hati dan berani. Bukankah ini kamu sukai darinya?"