Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 827. Mengalihkan Lawan!


Sesungguhnya Grup Lippo Mayora yang besar ini sangat hebat mengumpulkan berbagai informasi dibandingkan dengan pemerintah. Karena tersembunyi di tengah kota dan sangat rahasia. Dia tahu dengan jelas apa yang sedang terjadi.


Tepat setelah percakapan tersebut, sebuah panggilan telepon lain masuk lagi dan merupakan panggilan dari Penatua Jack.


"Jansen, Tissa hilang!"


Penatua Jack berkata, "Hati-hati di sana. Tissa tahu banyak tentang rahasia kita. Hati-hati kalau dia membuat masalah!"


Saat ini, meskipun masih belum tahu apakah Tissa adalah musuh atau teman, tetapi menghilangnya dia yang tiba-tiba pada saat seperti ini sudah pasti ada sesuatu.


Jansen mengerutkan keningnya, memang tidak terjadi sesuatu.


Saat perjalanan pulang, semua orang masih membahas tentang H12, karena ada delapan buah yang ditransaksikan. Saat ini, Wilayah Militer Huaxia bagian utara sudah mendapatkan dua buah. Tidak tahu bagaimana dengan daerah militer yang lainnya.


Jansen ingin mengatakan tentang Tissa, tapi dia tidak ingin orang yang lainnya kehilangan fokus. Sehingga dia mencoba menahan diri.


Duar!


Saat ini, ada suara nyaring di luar koridor, dan kemudian diikuti dengan teriakan histeris yang datang setelahnya.


"Apa yang terjadi?"


Semua orang bangkit berdiri.


"Itu Macan Hitam, dia baru saja keluar!"


Ice Blade segera bergegas keluar ruangan.


Elena awalnya juga ingin mengikuti, tetapi ketika dia mengingat tugasnya, dia langsung mengambil dua kotak.


Sedangkan Tank ada di samping untuk membantu. Misi mereka adalah melindungi H12 yang telah mereka dapatkan.


Di koridor, macan hitam tengah merunduk di tanah dengan asap di tubuhnya. Itu akibat serangan ledakan bom.


"Jansen, datang dan lihatlah!"


Ice Blade menggendong Macan Hitam dan berlari ke kamar. Setelah menaruhnya di atas tempat tidur, Jansen langsung memeriksanya dan menemukan bahwa di tubuh Macan Hitam terdapat luka besar dan kecil, di kepalanya terdapat pukulan yang kuat!


"Kondisinya sangat buruk, tapi tidak dalam keadaan yang membahayakan nyawanya!"


Jansen mengeluarkan jarum perak untuk menusuk titik akupunktur Macan Hitam, dan mengeluarkan obat yang selalu dibawa olehnya untuk mengobati Macan Hitam


Awalnya dia ingin menggunakan sebuah Pil Sembilan Revolusi, tetapi pada akhirnya dia berhasil menahan diri.


Meskipun Macan Hitam terluka parah, tapi masih tidak membahayakan nyawanya. Akan sangat boros sekali jika menggunakan pil itu.


"Jansen, bagaimana keadaannya?"


Ice Blade merasa cemas hingga matanya memerah.


Bahkan Jansen melihat ada titik air mata di sudut matanya. Dia segera menenangkannya, "Jangan khawatir, nyawanya tidak berbahaya. Hanya saja ada penyumbatan di otaknya. Sepertinya dia perlu dioperasi. Sebenarnya, aku bisa mengobatinya sekarang, tapi akan memerlukan sedikit waktu!"


Setelah jeda sesaat, dia mengerutkan keningnya lagi dan berkata, "Selain penyumbatan di otaknya, tidak ada masalah dibagian lainnya, tetapi ada banyak luka di tubuhnya yang


bukan disebabkan oleh bom. Ini lebih seperti mereka diserang dengan benda tajam dan mengenai sarafnya. Sepertinya lawannya ingin dia mati kehabisan darah!"


"Siapa yang begitu kejam!"


Ekspresi membunuh langsung muncul di wajah Ice Blade.


"Tenang dulu, kita lihat apakah ada petunjuk lainnya!"


Jansen bisa memahami perasaan Ice Blade. Jika Elena terluka seperti ini, mungkin saja dia akan kehilangan akal sehatnya.


"Jansen, lihat ini!"


Saat ini, Tank berlari masuk sambil memegang pisau dengan amplop surat di atasnya.


"Tank, ini waktu yang sangat berbahaya. Kamu tidak boleh bertindak seorang sendiri tanpa adanya perintah!"


Jansen menegurnya terlebih dahulu, dia merasa masalah ini penuh dengan keanehan. Setelah mengambil amplop itu, dia melihat sebaris kalimat yang tertulis di dalamnya!


" kali ini hanya memberikan peringatan pada kalian. Lain kali tidak akan seberuntung ini. Kalau kalian memiliki keberanian, datang ke tempat makan Wankai!"


Penatua Frank yang menulis di kertas tersebut!


"Orang tua bau tanah itu?"


Semua orang melongo sejenak, dan kemudian perasaan marah menyerang mereka.


Apakah mungkin setelah Penatua Frank menerima pelajaran, dia tidak terima dan menyerang mereka!


Ice Blade mengeluarkan pedang dan berkata dengan nada dingin, "Aku harus membunuhnya!"


Aura membunuhnya begitu kuat hingga membuat mereka terkejut dan tidak berani berbicara lagi.


"Ice Blade, tenang!"


Jansen segera menghentikan Ice Blade, namun Ice Blade tidak menghiraukannya dan menepis tangan Jansen.


Jansen tidak punya pilihan selain menjatuhkan Ice Blade. Dia menekan tubuh lelaki itu ke tanah dengan menggunakan Profound Qi nya dan berkata dengan nada marah, "Ice Blade, jangan gegabah. Ada yang aneh dengan masalah ini. Sebaiknya kita cari tahu dulu!"


"Apa pun itu, aku harus membunuh orang tua itu!"


Ice Blade terus-menerus meronta.


Jansen tidak punya pilihan selain berkata, "Aku mengerti perasaanmu, tapi mungkin ini adalah siasat untuk mengalihkan kita pergi dari sini? Sasaran mereka mungkin saja adalah H12!"


Ice Blade akhirnya tenang dan mengerutkan kening.


"Mengalihkan kita?"


"Aku hanya menebak saja, sampai pada saat ini, mungkin saja kita juga sedang di awasi, jadi kita semuanya harus berhati-hati!"


Melihat Ice Blade yang mulai kembali, Jansen menariknya bangun lalu menelepon Petugas Jeki.


Setelah itu dia baru mengetahui dari petugas Jeki bahwa penatua Frank hilang!


Penatua menenangkannya dan mengatakan bahwa dia akan berusaha untuk menemukan penatua Frank dan meminta mereka tidak gegabah.


Jansen makin merasa ada yang tidak beres dengan masalah ini. Meskipun mereka memiliki sedikit perseteruan dengan penatua Frank, tetapi seharusnya penatu Frank tidak harus bersikap seperti ini.


"Jansen, Macan Hitam terluka. Aku pikir kamu lebih cocok untuk posisi ketua tim saat ini!"


Ice Blade berkata, "Kamu yang akan memimpin tim. Aku bertugas membunuh penatua Frank!"


"Biarkan aku saja pergi!"


Jansen merenung sejenak dan menghentikan Ice Blade. "Bagaimana kalau mereka sengaja membuat jebakan dan menunggumu terjebak? Setelah terjadi apa-apa denganmu, kami pasti akan mengirim tim untuk mencarimu, dan


kemudian tim tersebut akan dihabisi!"


"Jansen, kamu jauh lebih tenang dariku. Kamu cocok untuk mengambil alih situasi apa pun yang terjadi. Sebaiknya aku saja yang pergi!" ujar Ice Blade sambil menggelengkan kepalanya, dia sudah sangat yakin pada Jansen.


"Tidak bisa, karena mereka sudah berani mengundang kita ke sana, sudah pasti ada jebakan. Kekuatan ku lebih kuat darimu, jadi aku saja yang pergi!"


Jansen kembali melanjutkan ucapannya, "Kamu tinggal di sini untuk jaga Elena dan yang lainnya serta melindungi H12."


"Ini masalah Macan Hitam. Akan sangat berbahaya kalau kamu yang pergi. Aku khawatir!" Ice Blade mengerutkan kening.


Jansen tersenyum. "Macan Hitam juga ketua aku. Sesuatu terjadi padanya. Sebagai rekan satu tim sudah pasti harus mencari keadilan untuknya. Apalagi kalau lawan kita mau


mengalihkan perhatian, kalian akan dalam berbahaya dan harus melindungi H12!"


"Baiklah, kamu saja yang pergi. Kamu tenang saja pada keadaan kami. Aku akan menjaga H12 meski nyawa taruhannya!"


Ice Blade menatap Jansen dalam-dalam dan mengangguk dengan sungguh-sungguh.


Masih ada satu kalimat yang belum terucapkan di dalam hatinya, yaitu adalah melindungi Elena untuk Jansen.


Jansen mengangguk, kemudian menatap Elena dan Tank sambil berkata, "Masalah ini tidak sesederhana kelihatannya. Kemungkinan sasaran mereka adalah H12. Tapi martabat militer Huaxia juga tidak bisa hilang. Kalau mereka berani menantang kita, mereka pasti harus membayar akibatnya!"


"Aku serahkan keamanan H12 padamu. Jaga dengan segala cara!"


"Aku yang akan menyerang dan kamu yang menjaga!"


Mendengar perkataan Jansen, baik Elena maupun Tank mengangguk


Jansen segera pergi, tetapi baru saja tiba di gerbang, Elena berlari dan melepaskan kalung Mutiara Merlot dari lehernya.


"Jansen, pakai ini!"


Jansen tertegun sejenak dan menggelengkan kepalanya. "Dibandingkan denganku, kamu jauh lebih memerlukan ini. Jangan sampai mati, tunggu aku kembali!"


Elena ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia tidak pintar mengutarakannya. Dia hanya memeluk Jansen dan berbisik, "Jansen, dulu aku yang salah. Kalau kita bisa menyelesaikan misi, aku ingin tahu apakah kita bisa memulai dari awal lagi!"


"Kalau aku sudah kembali, mari kita mulai lagi dari awal!"


Jansen menepuk punggung Elena dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Melihat kepergian Jansen, Suasana hati Elena menjadi berantakan. Rasanya seperti melihat kekasihnya melangkah pergi ke medan perang. Dia dengan cepat menekan emosinya dan berkata pada Ice Blade dengan wajah acuh tak acuh, "Kita harus menjaga H12 sampai Jansen kembali nanti!"