
"Bos Gordon, bukannya hari ini kita mau bongkar tempat ini, kenapa tidak jadi?"
Seorang anak buah Gordon bertanya seperti ini kepada Gordon dengan wajah masam setelah Jansen pergi.
"Bongkar, bongkar, bongkar kepalamu!"
Gordon memarahi anak buahnya itu. Setelah ragu sejenak, dia terpaksa menelepon dan menceritakan semua kejadian itu kepada atasan.
"Nona Gracia , aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Selama pihak sana masih berada di panti asuhan ini, kita tidak bisa membongkarnya!"
"Gordon, kamu harusnya tahu kalau daerah komersial akan segera dibangun. Hanya tinggal lahan ini saja yang masih belum dibebaskan. Masalah sekecil ini saja kamu tidak bisa menyelesaikannya!"
Suara dari pembicara telepon sana terdengar agak sinis.
"Nona Gracia , aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada gunanya juga lapor polisi. Ada anak-anak di sini, kalaupun polisi datang, mereka tidak bisa mengusir paksa anak-anak itu!"
"Baiklah, begini saja, aku segera datang ke sana setengah jam lagi!"
Mendengar Nona Gracia akan segera datang, Gordon akhirnya merasa lega.
"Dasar tidak berguna, begitu banyak orang cuma menghadapi belasan orang malah kalah telak. Apa hebatnya Grup Aliansi Bintang ini!"
Silvia sengaja menyindir seperti ini karena tidak tahan lagi Melihat Gordon menelepon atasan.
Gordon juga tersinggung mendengar perkataan Silvia
ini, tetapi dia tidak berani bersuara karena takut memancing kemarahan Silvia.
"Ngomong-ngomong, mereka ini adalah anggota Keluarga Miller, sedangkan aku bukan. Aku sama sekali tidak kenal dekat dengan mereka!"
Saat ini, suara Jansen tiba-tiba terdengar dari dalam panti asuhan. Perkataan Jansen seakan menjelaskan hubungan antara dia dengan mereka berdua.
"Kalian tidak saling kenal dekat?"
Gordon terdiam sejenak dan lalu memandang Silvia dengan niat jahat. Tadinya, Gordon mencoba sabar karena takut Silvia dan Jansen memiliki kedekatan. Setelah Jansen mengatakan bahwa mereka tidak saling kenal dekat, Gordon tak lagi sungkan dengan Silvia.
"Jansen, apa maksudmu!"
Silvia memaki Jansen karena merasa Jansen sedang ingin menjebak mereka berdua.
"Bukankah kamu yang bilang kalau aku ini bukan bagian Keluarga Miller?" Suara Jansen kembali terdengar dari dalam panti asuhan.
"Omong kosong, kamu ini pecundang, kamu pengecut. Mana pantas kamu menjadi anggota Keluarga Miller?" kata Silvia dengan sombong sambil meludah.
Biar bagaimanapun Silvia adalah keturunan Keluarga Miller, meski bukan keturunan langsung tetapi statusnya tentu lebih tinggi daripada Jansen.
"Silvia, kenapa kamu bilang Jansen tidak ada hubungan dengan Keluarga Miller!"
Saat ini, Fernando yang berdiri di samping dengan gelisah mencoba menarik Silvia.
"Dasar bodoh, dia ini hanya ingin pansos dengan memanfaatkan Keluarga Miller. Aku tak akan membiarkannya berhasil!" ucap Silvia dengan marah.
"Hanya saja, kalau dia tidak ada hubungan apa pun dengan Keluarga Miller, juga tidak saling kenal dekat dengan kita, lalu bagaimana dengan masalah di depan kita ini?"
Fernando menunjuk ke depan dengan gemetar. Sudah ada banyak orang datang mendekati Silvia dan Fernando dengan memegang tongkat besi, wajah mereka semua sangat galak. Mereka berdua tidak ada hubungan keluarga dengan Jansen, tetapi selalu mengoceh di samping bahkan memaki anak buah Gordon ini tidak berguna. Mereka berdua mengira anak buah Gordon bisa ditindas.
"Ah!"
Silvia sadar dengan situasi ini dan wajahnya berubah pucat.
Mereka berdua untuk pertama kalinya sadar bahwa punya hubungan keluarga dengan Jansen ternyata sangat berguna.
Jadi, kalau begini siapa yang memanfaatkan siapa sekarang?
Mereka berdua lari terbirit-birit, meskipun belum tentu bisa kabur dari gerombolan anak buah Gordon bersenjata tongkat besi itu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil Rolls-Royce berhenti di depan panti asuhan. Pintu mobil terbuka, kemudian terlihat sepatu hak tinggi berwarna hitam dan kaki yang putih mulus turun dari mobil.
Tubuh Gordon gemetar saat menatap wanita itu sekilas, karena seumur hidup ini dia baru pertama kali ini Melihat kaki yang begitu indah.
Hanya dengan Melihat bagian kaki, semua pria pasti akan penasaran seperti apa wajah wanita tersebut.
Seorang wanita berusia kurang lebih dua puluh tahun yang berpakaian hitam perlahan turun dari dalam mobil. Rambutnya sebahu, hidungnya mancung, wajahnya cantik seperti blasteran, apa lagi kedua matanya yang indah berkilau.
Wanita ini sangat cantik, luar biasa cantik.
Hanya saja, kecantikan dan keanggunan yang luar biasa ini seolah mengusir orang-orang menjauh dan tidak berani mendekat.
Wanita ini adalah ketua dewan direksi Grup Aliansi Bintang, Nona Gracia Granitha.
Dia merupakan salah satu dari sepuluh besar orang terkaya di Huaxia, dan juga salah satu pemimpin dunia bisnis di Huaxia selama sepuluh tahun belakangan.
Usianya belum mencapai tiga puluh tahun, tetapi dia sudah menjadi seorang legenda hidup. Dia mengumpulkan kekayaan dengan kerja keras dari nol, mengandalkan bisnis perangkat lunak internet dan aplikasi ponsel. Dalam waktu singkat dia berhasil mengumpulkan kekayaan yang jumlahnya fantastis. Namun, semua cerita tentang dirinya masih menjadi misteri.
"Mana orangnya?"
Setelah berjalan turun, Nona Gracia bertanya kepada Gordon, di sampingnya juga ada seorang wanita berpakaian jas, yang kelihatan seperti pengawal pribadinya.
"Di dalam panti asuhan."
Gordon menjawab dengan kepala tertunduk dan tak berani menatap langsung mata Gracia .
Gracia mengangguk lalu masuk ke dalam panti asuhan bersama pengawal wanitanya.
Di dalam panti asuhan, Elena sedang menghibur anak-anak dan menatap Jansen dengan rasa khawatir. Elena tahu bahwa dengan menggunakan kekerasan tidak akan bisa membantu panti asuhan ini, apalagi pihak lawan memiliki dokumen dan surat kepemilikan resmi, kecuali pihak lawan bersedia melepas lahan ini.
Namun, apakah ini mungkin terjadi?
"Tidak apa-apa, aku akan mencoba meyakinkannya!" ucap Jansen sambil tersenyum.
Dua orang wanita ini lalu masuk ke dalam panti asuhan. Jansen terpesona Melihat kedatangan mereka.
Kecantikan Gracia membuat orang yang Melihatnya sulit bernapas. Elena bahkan ikut merasa takjub dengan kecantikan yang dimilikinya. Elena awalnya sangat percaya diri dengan penampilan dirinya sendiri, akan tetapi setelah Melihat Gracia , Elena sadar bahwa Nona Gracia juga punya keanggunan yang tidak kalah dibandingkan dengan dirinya.
Jansen juga terkejut dan tanpa sadar berseru, "Cantiknya!"
Tak lama Jansen pun sadar Elena cemburu, dan segera mengelap air liurnya yang sudah menetes itu.
Gracia sangat cantik, tetapi punya keanggunan yang berbeda dengan keanggunan Elena. Elena punya wajah menawan, badan yang ideal, penampilan bak bidadari. Gracia memiliki badan yang agak kurus, dan tidak sebagus Elena, tetapi keanggunan Gracia tak kalah dengan Elena dan terlihat sangat istimewa.
Keanggunan yang dimilikinya ini membuat Gracia terlihat sangat berkelas.
Jansen juga mengamati pengawal wanita yang ada di samping Gracia . Pengawal itu terlihat memiliki keterampilan bela diri yang lumayan bagus.
Gracia juga mengamati Jansen dan Elena. Gracia terpesona dengan kecantikan Elena, tetapi karena Jansen baru saja memuji kecantikannya sendiri, Nona Gracia langsung merasa geli.
Gracia mengira bahwa orang yang berani melawan Grup Aliansi Bintang adalah tokoh terkenal, ternyata baginya mereka hanya anak-anak ingusan.
"Kalian berdua, siapa yang akan bicara!"
Nona Gracia bertanya pelan.
Elena langsung menatap Jansen, dan Jansen mengangguk, "Namaku Jansen!"
"Aku tidak tertarik dengan namamu, waktuku sangat
berharga, kamu punya waktu sepuluh menit untuk berbicara. Kalau kamu gagal meyakinkan aku, maka silakan tunggu surat dari pengacara Grup Aliansi Bintang!" ucap Gracia dengan nada datar.
Gracia terlihat sombong dan tidak berperasaan.
Elena langsung menarik Jansen, dengan waktu hanya sepuluh menit, dia berharap Jansen bisa berhasil melakukannya.
Selain itu, Elena juga sudah tahu latar belakang Gracia , ketua dewan direksi Grup Aliansi Bintang, yang merupakan salah satu dari sepuluh orang terkaya di Huaxia.
Keluarga Miller juga ingin bekerja sama dengan Gracia .
Pengawal di samping Nona Gracia , terus Melihat ke jam tangan.
Namun yang mengejutkan mereka, Jansen sama sekali tidak buru-buru, dia malah minum teh terlebih dahulu.
Dasar tidak tahu diuntung.
Pengawal wanita tertawa sinis karena merasa Jansen sedang sengaja membuang-buang waktu.
Wajah Nona Gracia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dia tetap hanya memberikan waktu berbicara selama sepuluh menit, tak peduli dengan sikap Jansen. Jika waktu sudah habis, maka sudah tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan.
Gracia menilai Jansen hanya buang-buang waktu karena sebenarnya Jansen tidak tahu harus berkata apa.
Waktu pun berlalu, lima menit telah berlalu.
Setelah separuh waktu yang diberikan sudah terbuang, peluang Jansen untuk berhasil membujuk Gracia pun semakin tipis.