Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 792. Sulit Untuk Melepaskan Hubungan Dan Menghindari Kecurigaan!


Di sisi lain, Jansen membawa Veronica kembali ke rumah komunitas, lalu mengobati luka-lukanya.


Selama proses pengobatan, Veronica tidak mengatakan apa-apa, tetapi dia tidak bisa berhenti menangis.


Jansen tidak bisa menahan rasa sedihnya. Veronica adalah salah satu dari empat wanita tercantik di ibukota dan disebut sebagai wanita sempurna di mata orang-orang. Jansen berpikir bahwa kehidupan Veronica sangat baik, sama seperti seorang putri, tetapi itu hanya ilusi semata!


Keluarga Woodley lebih menghargai anak laki-laki daripada perempuan. Ketika marah, mereka sama sekali tidak menganggap Veronica sebagai putri mereka.


Tidak heran ketika Jansen ingin membunuh Aidan, Veronica tidak menentangnya. Veronica terlahir dari keluarga seperti itu, semuanya memandang rendah dirinya.


"Veronica, anggap saja ini rumahmu. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau!"


Setelah mengobati luka Veronica, Jansen menghiburnya dan mengedipkan mata pada Amanda.


Sekarang Veronica lebih membutuhkan Amanda.


Amanda mengangguk dan memapah Veronica masuk ke kamar.


Jansen duduk dengan ekspresi dingin di ruang tamu dan sekali lagi hatinya tergerak untuk membunuh Aidan. Tentu saja dia paham bahwa dengan situasi saat ini, dia mungkin akan membuat banyak keributan jika dia ingin membunuh Aidan.


Bagaimanapun juga, dia telah membunuh para Master dari Akademi Tiga Belas untuk membalas dendam. Semua itu dilakukan secara diam-diam.


Sebaliknya, semua orang tahu bahwa pihak lain pasti akan bertahan dengan baik dan mungkin memanfaatkan kesempatan untuk menyerang balik Jansen!


Kring kring kring!


Saat itu, sebuah panggilan telepon masuk, itu adalah dari Penatua Jack.


Jansen tahu mengapa Penatua Jack meneleponnya dan tidak punya pilihan selain mengangkatnya.


"Jansen, kamu benar-benar berani, kamu bahkan melawan Brandon Woodley secara langsung!"


Suara Penatua Jack terdengar seolah-olah dia terkejut dan khawatir.


Jansen mendengus, "Anjing Keluarga Woodley itu bukanlah manusia, bahkan putrinya juga dipukuli seperti itu. Aku hanya mengajarinya menjadi manusia!"


"Keluarga Woodley adalah keluarga elite dengan dukungan yang rumit. Dari dulu, sebenarnya mereka ingin membunuhmu, tapi kami menekan mereka. Sekarang kamu menantang mereka, bukankah ini memberi mereka alasan untuk


bergerak!" keluh Penatua Jack.


"Tiap orang harus menanggung konsekuensi dari tindakannya sendiri. Kalau hal ini terjadi lagi, aku akan menantangnya!"


Jansen marah dan dia berbicara tanpa belas kasihan.


Penatua Jack tertegun sejenak dan berkata sambil tersenyum pahit, "Baiklah, kali ini lupakan saja, lain kali jangan terlalu impulsif!"


Penatua Jack juga tahu bagaimana sifat Jansen. Biasanya dia mudah diajak bicara ketika dia baik-baik saja, tetapi begitu dia marah, Raja Surgawi pun tidak akan menunjukkan hormatnya.


Selain itu, apabila Jansen sudah memantapkan


keteguhannya, dia sama sekali tidak bisa mentolerir hal-hal tertentu!


"Omong-omong, dua hari lagi, pergilah ke kemiliteran untuk melapor. Kompetisi Raja prajurit akan segera dimulai!"


Penatua Jack mengubah topik.


Jansen menghela napas, "Penatua Jack, waktu itu aku bergabung dengan kemiliteran adalah untuk melawan Keluarga Miller. Sekarang masalah ini sudah berlalu, aku tidak tertarik pada Raja prajurit. Aku hanya ingin menjadi dokter!"


"Aku tahu, tapi kali ini saatnya kamu melihat pandangan lain dunia. Menjadi Raja prajurit atau tidak itu terserah kamu!"


"Baiklah!"


Jansen akhirnya menyetujuinya, tetapi suasana hatinya masih belum membaik.


Sebenarnya, Jansen yakin bisa berhasil membunuh Aidan, tetapi ada terlalu banyak belenggu dari dunia luar seperti Elena, Penatua Jack, termasuk Veronica!


Orang-orang ini takut kalau Jansen akan mendapatkan masalah. Mereka telah berulang kali mencegahnya sehingga Jansen tidak bisa berbuat apa-apa!


Di sisi lain, Elena menghentikan Mercy yang dikendarainya dan membawa kotak bekal berisi nasi goreng telur yang baru saja dia buat.


Kali ini, Elena pergi ke rumah komunitas. Sejak bercerai, dia sudah lama tidak pergi ke rumah komunitas.


Terakhir kali Jansen berbicara dengannya di telepon, nada bicaranya sudah kembali sama seperti sebelumnya. Elena tahu bahwa masalah perceraian sebagian besar sudah berakhir.


"Huh, dulu di Kota Asmenia, meskipun hubungan kami memiliki liku-liku, setiap perceraian hanyalah pembicaraan lisan saja. Saat datang ke ibukota kami malah benar-benar bercerai." Elena menghela napas.


Di Kota Asmenia, meskipun mereka bertengkar, mereka tidak pernah mencapai titik perceraian, tetapi di ibukota hubungan suami dan istri itu hancur, sepertinya hanya perasaan masa lalu yang dapat dipertahankan.


Elena juga tidak tahu mengapa ini bisa terjadi!


Akan tetapi, Elena memikirkannya dengan hati-hati dan merasa bahwa dia salah.


Keluarga Miller terlalu banyak ikut campur urusan Elena, ditambah dengan kematian Kakek, kesalahpahaman belum terpecahkan dan kontradiksi baru sudah datang lagi!


Ketika Elena mengingat mereka melawan satu sama lain dan dia menodongkan pistol ke arah Jansen, hatinya dipenuhi rasa bersalah.


"Mari kita mulai dari awal, aku tetap aku!"


Elena menghibur dirinya sendiri, dia tahu Jansen juga sudah mengikhlaskan apa yang telah terjadi. Mereka hanya tidak mempunyai momen untuk kembali bersama!


"Jansen, apakah ada kertas Bibi di situ? Kerabat Veronica ada di sini!"


Begitu Elena tiba di halaman, terdengar suara yang indah.


"Tunggu, aku akan mencarinya!"


Lalu, terdengar suara Jansen yang sedang mengobrak-abrik kotak dan lemari.


Mood Elena merosot, situasi macam apa ini!


Elena dengan cepat memasuki aula dan melihat Amanda berdiri di sana, Amanda juga terkejut ketika melihat Elena.


"Amanda, kenapa kamu di sini!" kata Elena dengan kaget.


"Aku selalu di sini!"


Amanda berkedip, dia merasa keceplosan berbicara, lalu menjelaskan lagi, "Maksudku, aku baru saja keluar dari kamar, tidak, maksudku, ah, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya!"


"Apa kamu sendirian?"


Elena bertanya dengan sabar.


"Tidak, ada Veronica juga. Sekarang Veronica tinggal di sini!"


Selesai berbicara, Amanda ingin menampar dirinya sendiri. Apanya yang tinggal? Bukankah ini membuat kesalahpahaman?


Dia mengubah topik pembicaraan dan berkata, "Jadi begini, kerabat Veronica ada di sini. Aku meminta Jansen untuk membantu mencarikan kertas Bibi!"


Setelah mengatakan itu, dia berseru lagi, "Ah, kenapa semakin aku menjelaskan malah semakin tidak jelas!"


Saat itu, Jansen keluar membawa sebungkus kertas Bibi, "Apakah sudah cukup?"


Jansen melihat Elena.


Dia langsung membeku!


Elena benar-benar kembali?


Tunggu! Tunggu!


Jansen melihat kertas Bibi di tangannya, lalu ke Amanda, lalu dia tercengang!


Benar-benar sulit untuk melepaskan hubungan dan menghindari kecurigaan!


"Tuan, sepertinya aku mengatakan sesuatu yang salah!" bisik Amanda


"Omong kosong!"


omel Jansen dengan kesal.


"Jansen, hidupmu enak ya, membawa istri siri ke tempat tinggal, dua sekaligus pula!" ujar Elena marah.


"Dengarkan penjelasanku, mereka itu..."


"Aku tahu, mereka adalah Amanda Carson dan putri musuhmu, Veronica Woodley!"


"Ini..."


Jansen tahu dia tidak bisa menjelaskannya. Dia tiba-tiba mengerutkan kening dan berkata, "Kalau memang benar pun, sepertinya itu tidak ada hubungannya denganmu, kita sudah bercerai!"


Tanpa sadar, sebelumnya Jansen sempat merasa cemas, tapi sekarang dia merasa ada yang salah. Dia sudah bercerai, mungkinkah Elena peduli padanya?


Elena mencibir, "Ya, kita sudah bercerai. Aku di sini untuk melihatmu, sepertinya kamu tidak menyukai nasi goreng telur ini lagi!"


Setelah mengatakan itu, Elena berbalik dan pergi.


Meskipun dia merasa berutang banyak pada Jansen dan ingin kembali bersama, wanita mana yang merasa senang saat melihat pria yang disukainya tinggal bersama orang lain!


Bahkan jika telah bercerai!


"Nasi goreng telur? Tunggu!"


Jansen dengan cepat mengejar Elena dan mengambil nasi goreng telur itu, "Aku sudah lama tidak memakannya, jangan disia-siakan!"


"Disia-siakan? Kamu punya dua wanita cantik di sampingmu, jangankan nasi goreng telur, nasi goreng naga pun kamu punya. Nasi goreng telurku tidak ada apa-apanya!" ujar Elena dingin.


Jansen dapat melihat bahwa Elena cemburu dan suka bercanda, lalu dia tersenyum dan berkata, "Kamu benar-benar salah paham!"


Jansen mulai menjelaskan tentang bagaimana perlakuan Keluarga Woodley kepada Veronica.