Jansen Scott, Menantu Terbaik

Jansen Scott, Menantu Terbaik
Bab. 522. Merasa Sudah Tua!


"Lalu, apa yang kamu katakan pada mereka?"


Jansen tertawa.


"Aku tidak membalas mereka. Lagi pula, aku tidak mau uang dan hal lain yang mereka tawarkan. Biarkan saja dulu mereka mempromosikan kita."


"Baik, tapi jangan terlalu cepat menarik umpan. Pancing saja dulu." Jansen menutup telepon.


Mati pun Jessica tidak akan menyangka bahwa Presdir Senior yang Jessica mohon adalah Jansen sendiri.


Bermain ke sana sini, akhirnya tetap kembali ke dalam genggaman Jansen.


"Pak Jansen, apakah kamu ada waktu? Aku ingin pergi bertemu Sheila bersamamu."


Saat ini, Naura menelepon.


Jansen berpikir sejenak, akhirnya dia setuju. Jansen bisa melihat bahwa Naura memperlakukan Sheila dengan tulus. Dia benar-benar memperlakukan Sheila seperti saudaranya.


Dengan cepat, Naura mengemudikan mobilnya dan tiba di komplek. Dia langsung bergegas menuju rumah Sheila.


Setelah membunyikan bel pintu, tidak terdengar gerakan dari dalam. Sepuluh menit telah berlalu, akhirnya pintu dibuka.


Sheila telah kembali, dia tampak lesu. Setelah Melihat Naura, jelas dia marah.


"Sheila, ada apa denganmu?"


Melihat tampang Sheila, Naura sangat cemas.


"Kamu tidak perlu mengurusku!"


Sheila marah dan ingin menutup pintu. Namun, dia malah pingsan dan terjatuh ke lantai.


"Sheila!"


Naura panik. Dia memapah Sheila, lalu ingin memanggil ambulans.


"Tidak apa-apa. Ada aku disini."


Jansen berjongkok, dia memeriksa Sheila dan berkata, "Tidak ada masalah besar. Dia hanya terpukul dan pingsan. Tubuhnya juga terluka."


"Bagaimana dia bisa terluka?"


Naura cemas hingga meneteskan air mata.


Jansen tidak banyak bicara. Dia tahu apa yang menyebabkan Sheila pingsan. Dia hanya berkata, "Masuklah dulu. Aku akan mengobatinya."


Sambil berbicara, dia menggendong Sheila ke dalam ruang tamu, lalu meletakkannya di sofa.


Naura tidak pikir panjang, dia langsung melepaskan pakaian Sheila. Tampak bekas luka, memar dan darah mengalir di sekujur tubuh. Sangat mengerikan!


Jansen mengeluarkan bubuk giok es dan mengoleskannya pada Sheila. Harus diakui, Sheila memiliki tubuh yang indah. Dada besar dengan pinggang ramping, pria mana pun pasti


tidak tahan melihatnya.


Tentu saja, dibandingkan dengan Elena dan Natasha, tubuh ini masih kalah.


Tidak lama kemudian, perlahan-lahan Sheila sadar. Setelah melihat Naura, dia marah dan berkata, "Untuk apa kamu datang? Untuk pura-pura mengasihaniku?"


"Ini Tuan Jansen, "kan? Sangat muda dan tampan Pantas saja kamu mencampakkanku. Saat itu kita sudah berjanji untuk tidak akan memercayai pria, tapi kamu? Diam-diam,


kamu mencintai pria ini!"


"Sudah selesai menertawakanku? Kalian, pergilah!"


Melihat Sheila yang marah, Naura menggelengkan kepala sambil menangis dan berteriak, "Aku tidak menertawakanmu! Aku selalu menganggap mu seperti saudaraku. Aku berasal dari desa, keluargaku tidak baik dan aku mempunyai pacar yang tidak berguna. Semua itu sama denganmu. Saat Melihatmu, aku seperti Melihat diriku sendiri."


"Jangan munafik. Sekarang, kamu sedang panjat sosial. Sedangkan aku sedang merana. Apakah kamu senang?" Sheila berteriak.


Jansen sudah tidak tahan. Dia langsung menampar Sheila.


"Sudah cukup gilanya? Kalau bukan Naura, siapa yang peduli kamu mati atau hidup? Kalau bukan karena Naura, kamu sudah dipenjara karena mengkhianati PT. Senlena dan menjebak semua orang dalam bahaya. Tapi, apakah Naura pernah membuat perhitungan denganmu?"


"Dia menganggap mu sebagai saudara, tapi apakah kamu menganggapnya sebagai saudara? Demi uang, demi masa depanmu, kamu mengkhianatinya. Apakah tindakanmu masuk akal?"


"Kalau masih bicara, aku akan menjebloskanmu ke penjara!"


Teguran Jansen membuat Sheila ketakutan sampai tubuhnya gemetar. Sheila tidak berani berbicara lagi.


"Pak Jansen!"


Naura menarik Jansen, lalu berbicara kepada Sheila, "Sheila, kita menganggap satu sama lain sebagai saudara. Kita adalah saudara seumur hidup. Aku tidak pernah mencampakkanmu."


"Saudara? Apakah aku pantas?"


Air mata Sheila terus mengalir, suaranya terdengar menyesal.


"Pantas! Kenapa tidak pantas? Menjadi saudara tidak Melihat status dan masa lalu. Yang dilihat adalah hati."


"Naura, maafkan aku, aku salah. Aku tidak seharusnya. mengkhianatimu. Aku kira aku telah menemukan orang yang tulus mencintaiku. Alhasil, dia sama saja dengan mantan kekasihku. Dia mendekatiku dengan tujuan. Kenapa aku begitu kasihan? Aku hanya ingin dicintai dengan tulus oleh seseorang."


"Kenapa semua orang menindasku?"


Sheila menangis semakin keras, seolah-olah sangat teraniaya.


Diam-diam, Jansen menggelengkan kepalanya. Orang yang malang pasti dipenuhi kebencian.


Sheila memiliki temperamen yang egois. Kalau bukan bertemu dengan Naura, mungkin dia akan semakin sengsara.


"Aku tanya, apakah orang yang kamu bilang mencintaimu adalah Jessica Miller?" tanya Jansen.


Seluruh tubuh Sheila gemetar. Dia seperti telah mendengar nama iblis. Dia menggertakkan giginya tanpa berkata apa-apa.


Melihat tampang Sheila, Naura pun memohon, "Pak Jansen, jangan tanyakan pertanyaan ini lagi, oke?"


"Tanpa dia jawab, aku juga tahu."


Jansen menjawab, lalu pergi.


Sheila menatap punggung Jansen. Tiba-tiba, dia merasa bahwa Jansen juga adalah orang yang kejam. Dia tidak lebih lemah daripada Jessica.


Sebelumnya, saat Naura membujuknya menyerahkan diri, Naura mengatakan bahwa Jansen akan melindunginya. Pada saat itu, dia merasa ucapan itu adalah lelucon


Namun, sekarang dia tidak merasa seperti itu.


Jansen tidak menghiraukan masalah Sheila. Dia pergi dengan taksi dan kembali ke Aula Xinglin.


"Dokter Jansen, akhirnya kamu kembali."


Sekembalinya Jansen, seorang pria tua berjalan


menghampirinya. Dia adalah Kepala Dokter tradisional Nasional, Master Ernest Alfie. Di sampingnya terlihat dokter negara, Alfred Wallace.


"Senang bertemu dengan kedua senior."


Jansen sangat sopan kepada mereka.


"Jangan memanggil senior. Di dunia kedokteran, tidak adalah istilah senior. Di dalam suatu komunitas, pasti ada yang akan menjadi panutan."


Master Ernest sangat sopan. Meskipun sudah berumur, suaranya masih lantang. Dia berkata dengan rendah hati, "Kedatanganku hari ini adalah untuk mempelajari keterampilan medis Dokter Jansen."


"Jangan bilang belajar. Anggap saja kita diskusi bersama."


Jansen meminta bibi nya untuk menyeduh teh. Mereka bertiga duduk di lantai 1 sambil minum teh dan bertukar pandangan mengenai pengobatan tradisional.


"Pengobatan tradisional sangat luas dan dalam. Cara terbaik adalah banyak latihan."


Setelah diskusi panjang, Jansen menghela napas dan berkata, sebenarnya, dia juga mendapatkan banyak manfaat dari berkomunikasi dengan kedua master terkenal yang salah satunya adalah Ernest Alfie.


Sebagai Kepala Dokter tradisional Nasional, sejak negara didirikan, Ernest telah Melihat banyak penyakit yang sulit disembuhkan.


Meskipun Jansen mewarisi kemampuan leluhurnya dan mengetahui tentang penyakit yang sulit disembuhkan, dia hanya mendengar tanpa menyaksikan secara langsung Dalam praktiknya, dia jauh lebih lemah dibandingkan Ernest.


Ernest teringat dengan latihan. Melihat seorang pasien yang masuk, dia pun berkata, "Dokter Jansen, kebetulan ada seorang pasien. Menurutmu, penyakit apa yang dialami pasien itu?"


"Pasien ini panas dalam. Suhu tubuhnya mudah naik. Kalau mau cepat, dia harus diberikan perawatan akupunktur. Kalau yang lambat, paling hanya bisa memberikan beberapa resep obat," kata Jansen sambil melirik pasien itu.


"Dokter Jansen, kamu yakin?"


Ernest terkejut. Di hari pertama pembukaan Aula Xinglin, dia juga berada di tempat. Dia menyaksikan Jansen mengobati orang. Pada saat itu, dia merasa penasaran.


Apalagi, kemampuan Jansen memeriksa pasien sangat cepat.


Ditambah, setiap diagnosanya pasti tepat.


"Kalau master Ernest tidak percaya, silakan pergi lihat."


"Baik, biarkan aku melihatnya."


Ernest memanggil pasien itu. Dia memeriksa denyut nadi, lapisan lidah, pupil mata dan memberikan beberapa pertanyaan.


Kesimpulan yang didapatkannya sama dengan diagnosa Jansen.


"Dokter Jansen, kamu sudah menguasai dengan sempurna cara melihat, mendengar, bertanya dan memeriksa denyut nadi dalam pengobatan tradisional."


Ernest menatapnya dengan kagum, "Aku kira melihat, mendengar, bertanya dan memeriksa denyut nadi adalah empat cara untuk mendiagnosa pasien. Tapi, kamu menunjukkan padaku bahwa keempat metode itu bisa dipisah. Cara yang kamu gunakan berasal dari zaman kuno."


Jansen menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dia mengeluarkan jarum perak untuk memberikan pasien perawatan akupunktur.


Sesaat kemudian, Ernest segera memeriksa denyut nadi pasien. Melihat denyut nadi yang kembali pulih, Ernest kembali terkejut, "Ternyata sama seperti yang Dokter Jansen katakan. Kalau mau cepat, diberikan perawatan akupunktur saja sudah cukup."


Dia harus mengakui bahwa dia sudah tua.